Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Rahasia Lorong Tua Terbuka
Sore itu cahaya matahari memantul dari lantai marmer istana, menembus jendela-jendela tinggi dan menyorot lorong-lorong tua yang jarang disentuh.
Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya merah bersinar, tangan kecilnya menunjuk ke arah lorong paling jauh dari aula utama.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya fokus—ada energi berbeda yang bisa dirasakannya, seperti bisikan dari masa lalu yang memberitahu bahwa ada rahasia yang menunggu untuk ditemukan.
Liora menoleh, sedikit khawatir, “Arvella, kau ingin pergi ke lorong itu? Tempat itu lama sekali tak disentuh.”
Bayi itu menepuk kainnya, matanya merah bersinar, memberi isyarat bahwa ia ingin menjelajahi lorong tua itu.
Kael, yang sedang berdiri di dekat pintu, matanya biru menyorot dengan tajam, tersenyum samar, “Sepertinya rahasia itu bukan hal biasa. Aku harus ikut memastikan kau aman.”
Langkah mereka pelan-pelan menelusuri lorong.
Debu dan aroma kayu tua memenuhi udara, suara langkah mereka bergema lembut di dinding batu.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah pintu kayu yang retak, tersembunyi di balik tirai debu dan sarang laba-laba.
Liora menatap bayi itu, napasnya tertahan, menyadari bahwa insting Arvella tak pernah salah.
Kael melangkah lebih dekat, menahan pintu itu dengan hati-hati.
“Arvella, ini mungkin ruang lama yang menyimpan sejarah atau… rahasia kerajaan,” gumamnya.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, seakan menyetujui dan memberi sinyal untuk membuka pintu itu.
Begitu pintu terbuka, aroma lembab dan kayu tua langsung menyeruak.
Di dalam, terdapat rak-rak berdebu, buku-buku kuno, gulungan peta, dan kotak-kotak kayu yang tersusun rapi namun tak pernah disentuh.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke sebuah gulungan peta yang tampak lebih baru dibandingkan benda lain.
Kael mengambil gulungan itu dengan hati-hati, membuka peta yang menggambarkan lorong rahasia, ruang bawah tanah, dan jalur tersembunyi di seluruh istana.
“Bayi ini… sepertinya sudah tahu sebelumnya,” bisik Kael pelan, matanya biru bersinar kagum.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah menyala, tangannya menunjuk ke sudut lain ruangan, seolah memberi tahu bahwa peta itu hanya awal.
Tidak lama kemudian, sebuah suara samar terdengar dari lorong luar.
Seorang pelayan tua yang sedang membersihkan debu menyadari kehadiran mereka.
“Eh… kau tidak seharusnya di sini, Nona Arvella,” kata pelayan itu, sedikit terkejut.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangannya menunjuk Kael—tanda bahwa ia ingin Kael yang menenangkan situasi.
Kael mendekat, menunduk hormat, dan tersenyum kepada pelayan tua itu, “Tenang, kami hanya memeriksa ruangan lama ini, tidak akan mengganggu apa pun.”
Pelayan itu mengangguk, sedikit lega, tapi matanya tetap menyorot bayi yang tampak lebih dewasa daripada usianya.
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di rak paling bawah.
Kael membukanya perlahan, menemukan gulungan surat dan buku catatan kuno.
Isinya berisi catatan rahasia raja terdahulu tentang strategi politik, intrik lama, dan ramalan yang bisa memengaruhi kerajaan.
Bayi itu mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, menunjukkan bahwa ini bukan sekadar benda tua—ini bisa mengubah jalannya kerajaan jika jatuh ke tangan yang salah.
Kael menatap Arvella, matanya biru bersinar, “Arvella, kau sudah tahu apa yang harus dilakukan. Aku akan membantumu menjaga rahasia ini.”
Bayi itu mencondongkan tubuh, menggeliat puas, tangan kecilnya menunjuk ke arah pintu lorong, menandakan mereka harus pergi sebelum ada yang melihat.
Langkah mereka kembali menuju aula utama, hati-hati dan diam-diam.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah menyala, membaca energi setiap orang yang mereka lewati.
Beberapa pelayan tampak penasaran, beberapa anggota keluarga kerajaan berjalan melewati mereka, dan beberapa tamu masih berada di aula besar.
Kael berjalan di samping bayi itu, memastikan semua aman, matanya biru menyorot setiap gerakan.
Namun, tantangan tidak berhenti di situ.
Saat mereka melewati koridor panjang, sebuah suara asing terdengar dari sudut gelap: seorang sosok misterius tampak mengintip, menunggu kesempatan.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah bersinar, tangan kecilnya menunjuk Kael—tanda bahwa bahaya baru muncul.
Kael segera menatap sosok itu, tubuhnya tegang, siap menghadapi siapa pun yang mencoba mengancam.
Sosok misterius itu akhirnya muncul—seorang bangsawan yang dikenal licik, tersenyum samar namun matanya tajam menatap Arvella dan Kael.
“Sepertinya aku menemukan rahasia kecilmu,” kata bangsawan itu dengan nada penuh sindiran.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya merah menyala, tangannya menunjuk ke Kael, memberi isyarat agar segera bertindak.
Kael melangkah maju, menatap bangsawan itu dengan tegas, “Jangan sampai maksudmu merusak ketertiban istana.”
Konfrontasi singkat itu berakhir ketika Liora muncul dari lorong samping, menenangkan situasi, dan mengatur agar bangsawan itu mundur tanpa menimbulkan keributan.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya bersinar, puas—bahaya berhasil dicegah lagi.
Saat malam tiba, rahasia lorong tua itu tetap aman di tangan Arvella dan Kael.
Bayi itu mencondongkan tubuh, tangannya menunjuk ke arah gulungan peta dan surat-surat rahasia, matanya merah bersinar.
Kael menatap bayi itu, matanya biru bersinar, tersenyum tipis, “Kau bukan sekadar bayi biasa, Arvella. Kau penjaga rahasia yang tak ternilai.”