Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TARUHAN BESAR
Senin siang, kantor LokalMart terlihat berbeda.
Lantai sudah dipel bersih. Meja-meja dirapikan. Kabel-kabel yang biasanya berserakan sekarang digulung rapi. Bahkan jendela yang jarang dibersihkan sekarang lumayan jernih, meski masih ada sisa debu di sudut-sudut.
Arief datang paling pagi, jam sebelas. Dia pakai kemeja lengan panjang warna biru muda, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang sepertinya baru dipinjam dari kakaknya karena agak kebesaran.
"Gue gak pernah pake baju formal kayak gini," komentarnya sambil menarik-narik kerah kemeja yang sedikit kaku. "Berasa mau interview kerja."
Rian datang sepuluh menit kemudian, juga pakai kemeja putih dan celana bahan. Rambutnya disisir rapi, wajahnya cukur bersih.
Dina datang jam setengah dua belas, pakai blouse krem dan rok hitam selutut, rambut diikat rapi, wajahnya sudah segar lagi setelah istirahat kemarin.
"Wah, pada rapi semua," komentarnya sambil menaruh tas di meja. "Gue kira cuma gue yang bakal lebay."
Rajendra sudah ada di kantor sejak jam sepuluh, pakai kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam yang sama dengan waktu sidang. Rambutnya disisir rapi, wajahnya terlihat lebih segar meski matanya masih sedikit lelah.
"Semuanya ready?" tanyanya sambil melihat sekeliling.
Arief mengangguk. "Platform udah siap. Gue udah test lagi pagi ini. Semua lancar."
Dina membuka laptopnya. "Slide presentation udah final. Video demo udah render. Kita tinggal play aja."
Rian duduk di depan komputernya. "Database udah backup. Server udah dicek. Koneksi internet stabil. Worst case scenario kalau internet mati, kita punya hotspot backup."
Rajendra mengangguk, lalu melihat jam dinding.
Pukul setengah satu siang.
Richard akan datang jam dua.
Masih ada waktu setengah jam.
"Kita rehearsal sekali lagi," kata Rajendra. "Gue mau pastikan flow-nya smooth."
Mereka melakukan dry run lengkap.
Rajendra membuka dengan intro singkat tentang masalah e-commerce Indonesia. Dina menampilkan slide dengan data statistik. Arief demo platform secara live, mulai dari seller upload produk sampai buyer checkout. Rian menjelaskan technical architecture di backend.
Semua berjalan lancar.
Sampai di bagian terakhir, Rajendra menutup dengan proyeksi pertumbuhan dan funding ask.
Total waktu: lima belas menit.
"Perfect," komentar Dina. "Gak terlalu panjang, gak terlalu pendek. Investor suka yang efisien."
Arief meregangkan tangan. "Gue nervous. Ini pertama kali gue demo ke investor beneran."
"Lu gak sendirian," kata Rian sambil mengusap telapak tangannya yang berkeringat. "Gue juga nervous."
Rajendra menatap mereka semua.
"Dengar. Kita udah kerja keras sampe sekarang. Platform kita bagus. Ide kita solid. Yang harus kita lakuin sekarang cuma jelasin dengan jelas kenapa LokalMart itu worth it untuk di-invest. Kalian percaya sama produk kita?"
Mereka semua mengangguk.
"Kalau kalian percaya, Richard juga akan percaya. Tunjukkin confidence. Jangan ragu. Oke?"
"Oke," jawab mereka kompak.
Pukul dua lewat lima menit, pintu kantor diketuk.
Rajendra membuka pintu.
Anton berdiri di luar, tersenyum ramah. Di sampingnya, Richard Tanuwijaya dengan kemeja batik yang sama seperti waktu meeting pertama, kacamata kotak tebal, tas kulit coklat di tangan.
"Siang, Rajendra," sapa Anton. "Maaf agak telat. Macet."
"Gak papa, Pak. Silakan masuk."
Mereka masuk, melihat sekeliling kantor yang sederhana tapi rapi.
Richard tidak berkomentar tentang ukuran kantor atau kondisi ruangan. Dia hanya mengangguk pelan, seperti sedang menilai sesuatu di kepala.
"Ini tim kamu?" tanya Richard sambil menatap Arief, Rian, dan Dina yang berdiri rapi di depan meja masing-masing.
"Iya, Pak. Ini Arief, lead programmer. Rian, backend engineer. Dina, marketing lead."
Richard berjabat tangan dengan mereka satu per satu, singkat tapi tegas.
"Oke. Langsung aja. Tunjukkin apa yang kalian punya."
Rajendra mengangguk, lalu berjalan ke depan.
Anton dan Richard duduk di kursi plastik yang sudah disiapkan, menghadap ke layar proyektor kecil yang dipasang di dinding.
Rajendra mulai presentasi.
"Pak Richard, Pak Anton, terima kasih sudah mau datang hari ini. Saya akan jelasin kenapa LokalMart adalah solusi untuk masalah e-commerce Indonesia saat ini."
Slide pertama muncul di layar.
LokalMart: Marketplace untuk Produk Lokal Indonesia
"Indonesia punya lebih dari 50 juta UMKM. Tapi mayoritas dari mereka belum online. Kenapa? Karena mereka gak tahu caranya, gak punya platform yang mudah, dan gak ada yang bantu mereka digitalisasi bisnis."
Slide kedua: data pengguna internet Indonesia yang terus tumbuh.
"Di sisi lain, pengguna internet Indonesia tumbuh cepat. Tahun 2010 ada 30 juta pengguna. Tahun 2015 prediksi bisa 80 juta. Artinya, ada market besar yang belum tersentuh."
Richard mengangguk pelan, matanya fokus ke layar.
"Tapi kenapa orang Indonesia masih jarang belanja online?" lanjut Rajendra. "Karena trust issue. Mereka takut barang gak sampai. Takut kualitas jelek. Takut ditipu."
Slide ketiga: diagram masalah dan solusi.
"LokalMart solve tiga masalah utama. Pertama, payment flexibility. Kami kasih opsi COD supaya buyer gak perlu transfer dulu sebelum barang sampai. Kedua, tracking real-time. Buyer bisa pantau barang mereka sampai mana. Ketiga, quality control. Semua seller harus verifikasi, semua produk harus approval sebelum masuk catalog."
Richard mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti.
"Tunggu. COD itu high risk. Kamu harus keluar modal dulu ke seller, tapi belum tentu buyer bayar waktu barang sampai. Bagaimana kamu mitigasi risiko ini?"
Rajendra sudah siap dengan jawaban.
"Kami kerja sama dengan partner logistik yang punya sistem COD collection. Kurir ambil uang langsung dari buyer, transfer ke kami setiap hari. Kami potong fee 2 persen untuk cover operational cost dan default risk. Berdasarkan data dari kompetitor, default rate COD sekitar 5 sampai 10 persen. Kami bisa turunkan dengan sistem double confirmation. Buyer harus confirm order lewat SMS atau telepon sebelum barang dikirim."
Richard menulis sesuatu di buku catatannya.
"Logistik partner-nya siapa?"
"Setiawan Logistics. Owner-nya Pak Bambang Setiawan, mantan kepala logistik Grup Baskara. Beliau punya pengalaman puluhan tahun di industri ini."
"Kenapa dia keluar dari Grup Baskara?"
Rajendra menjawab dengan tenang, seperti yang Anton sarankan.
"Beliau dipecat karena menolak manipulasi data pengiriman. Itu bukti beliau punya integritas tinggi. Itu alasan saya rekrut beliau."
Richard menatapnya beberapa detik, seperti menilai jawaban itu.
Lalu dia mengangguk pelan.
"Good answer. Lanjut."
Rajendra melanjutkan dengan slide berikutnya, menjelaskan business model, revenue stream, dan target market.
Setelah sepuluh menit presentasi, dia memberi isyarat ke Arief.
"Sekarang tim saya akan demo platform secara live."
Arief berdiri, berjalan ke komputer, membuka browser, mengetik URL lokal.
Platform LokalMart muncul di layar, homepage sederhana dengan logo di atas, search bar di tengah, kategori produk di bawah.
"Ini homepage. User bisa langsung search produk atau browse by kategori," jelas Arief sambil klik-klik. "Misalnya user mau cari batik."
Dia mengetik "batik" di search bar, tekan enter.
Hasil pencarian muncul, menampilkan tiga produk batik dari seller berbeda, lengkap dengan foto, harga, dan rating.
"User klik salah satu produk, masuk ke detail page."
Halaman produk muncul, menampilkan foto produk lebih besar, deskripsi lengkap, informasi seller, opsi size dan warna, button "Tambah ke Keranjang".
"User bisa tambah ke keranjang, lanjut ke checkout."
Arief menambahkan produk ke keranjang, masuk ke halaman checkout, mengisi alamat pengiriman, memilih metode pembayaran: transfer bank atau COD.
"Kalau user pilih COD, sistem akan generate konfirmasi order dan kirim SMS ke nomor user untuk validasi. Setelah user confirm, order masuk ke sistem seller, dan logistik partner akan pick up barang."
Richard menatap layar dengan fokus.
"Tracking number-nya generate kapan?"
"Setelah barang di-pick up oleh kurir. Tracking number langsung dikirim ke user via SMS dan email."
"User bisa track di mana?"
Arief klik menu "Pesanan Saya", menampilkan daftar order dengan status masing-masing. Dia klik salah satu order, muncul halaman tracking dengan peta dan timeline pengiriman.
"Ini real-time. Update setiap kurir scan barcode di setiap checkpoint."
Richard mengangguk lagi, terlihat impressed.
"Siapa yang bikin sistem ini?"
"Saya dan Rian," jawab Arief. "Backend-nya pakai PHP dan MySQL. Frontend pakai HTML, CSS, JavaScript. Hosting di shared server dulu, nanti kalau scale bisa pindah ke dedicated server."
"Berapa lama bikin ini?"
"Dua bulan. Dari nol."
Richard melirik ke Anton, lalu kembali ke Arief.
"Impressive. Kalian punya background pendidikan apa?"
"Saya lulusan Teknik Informatika ITB, Pak. Rian juga."
Richard menulis lagi di buku catatannya.
Lalu dia menatap Rajendra.
"Traction sejauh ini gimana? Sudah ada seller? Sudah ada transaksi?"
Rajendra menjawab.
"Kami sudah onboard tiga seller. Pengrajin batik dari Solo, produsen tas kulit dari Bandung, petani kopi dari Toraja. Total mereka punya sekitar 50 SKU di platform. Belum ada transaksi real karena kami baru mau soft launch minggu depan untuk tester internal."
"Target hard launch kapan?"
"Agustus. Sebulan dari sekarang."
"Target seller di bulan pertama?"
"Lima belas seller. Target GMV sepuluh juta rupiah."
Richard menatapnya tajam.
"Sepuluh juta itu kecil. Kalau funding lima ratus juta, burn rate kamu sekitar 25 juta per bulan. Artinya kamu bisa survive dua puluh bulan tanpa revenue. Tapi investor gak mau tunggu dua puluh bulan untuk balik modal. Kapan kamu bisa breakeven?"
Rajendra menjawab tanpa ragu.
"Tahun kedua. Kami proyeksikan GMV tahun pertama 500 juta, commission 10 persen, jadi revenue 50 juta. Tahun kedua GMV naik jadi 5 miliar, revenue 500 juta. Operational cost tahun kedua sekitar 400 juta. Jadi net profit 100 juta."
"Asumsi GMV naik sepuluh kali lipat dalam setahun itu agresif. Dasar asumsi ini apa?"
Rajendra menjawab dengan data dari ingatannya, kehidupan pertamanya.
"Berdasarkan pertumbuhan Tokopedia dan Bukalapak di tahun-tahun awal mereka, GMV tumbuh rata-rata 300 sampai 500 persen per tahun. Kami konservatif, asumsi cuma 900 persen. Dan kami punya advantage. Fokus ke produk lokal, niche market yang belum banyak kompetitor."
Richard diam, menulis lagi.
Lalu dia menutup buku catatannya, menatap Rajendra dengan tatapan serius.
"Oke. Saya akan straight to the point. Saya suka produk kalian. Tim kalian solid. Visi kalian jelas. Tapi ada satu masalah."
Rajendra menegang, menunggu.
"Valuasi. Kamu minta 500 juta untuk 15 persen, artinya valuasi pre-money 3,3 miliar. Itu terlalu tinggi untuk startup yang belum ada transaksi sama sekali. Kompetitor kalian seperti Tokopedia dapat valuasi 1 miliar di tahun pertama mereka, dan itu setelah mereka punya ribuan transaksi."
Rajendra diam, pikiran berputar cepat.
Richard melanjutkan.
"Saya mau invest. Tapi saya mau valuasi yang lebih masuk akal. Saya tawarkan 500 juta untuk 25 persen."
Hening.
25 persen.
Artinya valuasi pre-money turun jadi 1,5 miliar.
Hampir separuh dari yang Rajendra minta.
Anton menatap Rajendra, menunggu respons.
Rajendra berpikir cepat.
Kalau dia terima, dia kehilangan kontrol lebih banyak. Anton sudah punya 10 persen. Kalau Richard dapat 25 persen, total investor pegang 35 persen. Rajendra tinggal 65 persen.
Masih mayoritas, tapi sudah mulai tipis.
Tapi kalau dia tolak, dia kehilangan funding. Dan tanpa funding, LokalMart akan jalan sangat lambat.
Dilema.
Rajendra menatap Richard dengan tatapan tenang.
"Pak Richard, saya paham concern Bapak soal valuasi. Tapi saya juga yakin dengan proyeksi kami. Kalau kami execute dengan baik, tahun depan valuasi kami bisa sepuluh kali lipat. Artinya, invest sekarang di valuasi 3,3 miliar itu murah."
Richard tersenyum tipis.
"Kamu confident. Saya suka itu. Tapi confidence bukan guarantee. Banyak startup yang confident tapi gagal. Saya butuh mitigasi risiko."
"Bagaimana kalau begini," kata Rajendra, mencoba negosiasi. "Bapak invest 500 juta untuk 20 persen. Valuasi pre-money 2 miliar. Sebagai kompensasi, saya kasih Bapak board seat dan monthly reporting."
Richard menatapnya, berpikir.
Lalu dia menatap Anton.
"Kamu gimana, Anton? Kamu sudah invest di sini. Kamu comfortable dengan valuasi 2 miliar?"
Anton mengangguk.
"Saya comfortable. Saya percaya Rajendra bisa execute."
Richard diam lagi, lama.
Lalu dia menatap Rajendra.
"Oke. Deal. 500 juta untuk 20 persen. Tapi ada satu syarat lagi."
"Apa?"
"Kalau tahun pertama GMV kalian gak capai 500 juta, saya dapat anti-dilution protection. Artinya kalau funding round berikutnya valuasinya turun, equity saya gak kena dilusi."
Rajendra diam, memproses syarat itu.
Anti-dilution protection itu standard di dunia VC. Tapi itu juga berarti kalau LokalMart gak perform, dia akan kehilangan lebih banyak kontrol di round berikutnya.
Tapi di sisi lain, kalau dia yakin bisa capai target, syarat ini gak akan masalah.
"Deal," jawab Rajendra akhirnya.
Richard tersenyum lebar, mengulurkan tangan.
"Deal. Saya akan kirim term sheet minggu ini. Legal review dua minggu. Transfer dana sebulan dari sekarang."
Rajendra berjabat tangan dengan Richard, pegangan erat.
"Terima kasih, Pak Richard. Saya gak akan mengecewakan Bapak."
"Saya harap begitu. Karena kalau kamu mengecewakan saya, saya akan sangat kecewa."
Mereka tertawa, tapi ada sesuatu di mata Richard yang bilang dia tidak sepenuhnya bercanda.
Anton berdiri, menepuk bahu Rajendra.
"Congratulations. Kamu dapat funding pertama kamu."
Rajendra tersenyum, tapi di dalam dadanya ada perasaan campur aduk.
Lega karena dapat funding.
Tegang karena sekarang ekspektasi jadi lebih tinggi.
Takut karena kalau gagal, konsekuensinya lebih besar.
Tapi lebih dari itu, ada satu perasaan yang dominan.
Determinasi.
Dia tidak akan gagal.
Tidak kali ini.
[ END OF BAB 15 ]