"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bai Ruoxue yang sempurna
Bai Ruoxue duduk diam di hadapan cermin besar berbingkai kayu ukir. Pantulan dirinya terbingkai rapi di sana, seolah dunia lain berhenti hanya untuk memperhatikannya. Cahaya lampu minyak menari lembut, memantul di permukaan perunggu cermin, menciptakan bayangan hangat yang samar—namun tak mampu mengusir hawa dingin yang merayap di dadanya.
Akhirnya… ia kembali ke paviliun ini.
Tempat yang, menurut ingatan orang-orang, adalah kediaman Bai Ruoxue yang asli.
Paviliun itu sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal seorang selir kaisar. Tidak ada tawa, tidak ada suara langkah tergesa. Hanya aroma kayu cendana yang samar dan tirai tipis yang bergoyang pelan tersentuh angin malam. Semuanya terasa teratur, terlalu sempurna, seolah pemiliknya tidak pernah mengizinkan kekacauan sekecil apa pun menetap di sini.
Ia menatap dirinya sendiri di cermin.
Cantik.
Wajah itu indah dengan cara yang tenang dan dingin. Garis rahangnya lembut, matanya jernih, bibirnya tipis dengan lengkung anggun. Namun di balik kecantikan itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tak kasat mata, tapi begitu terasa.
Ada hawa sendu yang menetap di wajah itu.
Seperti sungai yang permukaannya tenang, nyaris tak beriak, tetapi di dasarnya menyimpan arus gelap yang tak pernah benar-benar diam. Wajah seorang wanita yang seolah telah melihat terlalu banyak, merasakan terlalu banyak, namun memilih untuk menyimpannya rapat-rapat, sendirian.
Wajah yang tadi membuat kaisar itu tampak… berbeda.
Ingatan itu kembali tanpa diundang.
Bagaimana ia duduk di pangkuan kaisar, tubuhnya ditarik begitu saja, begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas pria itu. Hangat, berat, dan menyesakkan. Saat itu ia terpaku, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Terlalu cepat, terlalu mendadak, terlalu intim untuk seseorang yang bahkan belum memahami posisinya sendiri di dunia ini.
Pipinya terasa panas.
Malu.
Rasa malu itu datang terlambat, tapi tetap menggigit.
Apa dia tidak tahu malu?
Menariknya begitu saja—tanpa peringatan, tanpa izin. Dan lebih buruk lagi, tubuh ini… tubuh Bai Ruoxue… tidak melawan. Tidak memberontak. Seolah sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu dengan sikap pasrah yang dingin.
“Dasar—!”
Suara itu terlepas tanpa ia sadari, pendek dan tertahan, namun cukup untuk membuat seseorang di belakangnya terlonjak kaget.
“A—ada apa, Nona?”
Bai Ruoxue tersentak kecil. Di balik pantulan cermin, ia melihat seorang gadis dayang berdiri rapi, tangannya masih memegang sisir, matanya membulat penuh kekhawatiran. Rambut panjang Bai Ruoxue yang hitam legam menjuntai di depan dada, sebagian belum tertata sempurna.
“Shuang Shuang.”
“I-iya, Nona?” Gadis itu segera menunduk sedikit, suaranya terdengar gugup.
Bai Ruoxue menghela napas perlahan. Ada sesuatu yang berputar di dadanya sejak tadi—pertanyaan yang menekan, rasa asing yang tak kunjung reda. Ia menatap pantulan mata mereka di cermin, mencoba mencari jawaban dari wajah seorang pelayan yang, entah mengapa, tampak jauh lebih mengenal dirinya daripada ia mengenal diri sendiri.
“Jawab jujur pertanyaanku, ya.”
Shuang Shuang tampak terkejut. Jemarinya yang memegang sisir berhenti sejenak. Namun hanya sesaat. Ia segera menenangkan dirinya, menarik napas kecil, lalu mengangguk dengan penuh hormat.
“Tentu saja, Nona.”
Bai Ruoxue menelan ludah. Kata-kata berikutnya terasa berat, seolah ia sedang berdiri di tepi jurang, ragu apakah harus melangkah atau mundur.
“Menurutmu… aku orang yang seperti apa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Shuang Shuang terdiam cukup lama. Matanya menatap pantulan Bai Ruoxue di cermin dengan saksama, seolah sedang menimbang setiap kata yang akan keluar dari bibirnya. Ketika akhirnya ia berbicara, suaranya pelan namun mantap, seakan apa yang ia katakan telah lama tersimpan di hatinya.
“Anda adalah seseorang yang penuh welas asih,” ucapnya perlahan. “Anda selalu memedulikan orang lain dengan kehangatan anda.”
Bai Ruoxue tidak bergerak.
“Anda orang yang baik,” lanjut Shuang Shuang, “tetapi anda tidak terbuka kepada siapa pun.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, tenang namun tajam.
“Anda selalu menampilkan segalanya dengan sempurna. Terlalu sempurna, hingga orang lain hanya bisa merasa iri.”
Sisir kembali bergerak, menyusuri rambut hitam itu dengan lembut.
“Namun, Nona… anda yang seperti itu,” suara Shuang Shuang sedikit melemah, “terkadang terasa seperti bukan manusia.”
Jantung Bai Ruoxue berdenyut pelan.
“Kaisar sering memberi anda perhatian yang tidak beliau berikan kepada selir lain,” lanjut gadis itu. “Namun anda selalu bereaksi dengan sangat formal. Dingin. Terjaga. Meskipun beliau adalah suami anda.”
Setiap kalimat terasa seperti potongan cermin lain, memantulkan sosok Bai Ruoxue yang tak pernah ia kenal.
“Anda menerima,” kata Shuang Shuang lirih, “tetapi tidak pernah benar-benar membiarkan Yang Mulia mendekat pada anda.”
Keheningan menyelimuti paviliun.
“Hal itu sering disalahpahami oleh beliau,” tambahnya. “Anda terlihat seperti seseorang yang tidak membutuhkan validasi siapa pun untuk bertahan hidup di istana sebesar ini.”
“Dan… itu membuat Yang Mulia perlahan menjadi semakin dingin kepada anda.”
Bai Ruoxue terdiam.
Dadanya terasa sesak, bukan karena sedih semata, melainkan karena keterkejutan. Shuang Shuang berbicara dengan begitu runtut, begitu yakin, seolah ia sedang menceritakan kisah seseorang yang telah ia amati selama bertahun-tahun—bukan hanya seorang selir, melainkan sebuah patung hidup yang berdiri anggun di tengah istana.
“Tetapi,” suara Shuang Shuang berubah sedikit, lebih lembut, lebih hangat. “Akhir-akhir ini anda berubah.”
Bai Ruoxue mengangkat pandangannya.
“Anda lebih menunjukkan emosi. Anda marah, malu, bingung—seperti manusia pada umumnya.”
Ada senyum kecil di wajah Shuang Shuang.
“Saya senang,” katanya tulus. “Akhirnya anda bisa membuka diri.”
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
“Tapi saya juga khawatir,” lanjutnya. “Karena perubahan seperti ini… bisa berbahaya di istana.”
Bai Ruoxue menatap dirinya sendiri lagi di cermin.
Jadi… inilah Bai Ruoxue yang asli.
Wanita yang begitu sempurna, begitu anggun, hingga kehilangan sisi manusianya. Wajah ini memang mencerminkan semua yang Shuang Shuang katakan—ketenangan, kendali, jarak yang tak kasat mata. Tak heran jika ia terlihat seperti sosok yang tidak tersentuh, tidak goyah.
Namun, jika begitu…
Di mana dirinya yang sekarang?
Mengapa ia berada di dalam tubuh wanita seperti ini?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Bai Ruoxue yang asli?
Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di benaknya, saling bertabrakan, membuat kepalanya terasa berat. Ia ingin bertanya. Ingin menjerit. Ingin mengguncang dunia ini dan menuntut jawaban.
Namun ia menahan diri.
Belum sekarang.
Terlalu berbahaya untuk terlihat tidak tahu apa-apa. Terlalu mencolok untuk seseorang yang seharusnya memahami istana ini lebih baik daripada siapa pun.
“Nona.”
Suara Shuang Shuang memanggilnya lembut.
Bai Ruoxue menatap pantulan mereka di cermin. Dua wanita yang berdiri begitu dekat, namun berasal dari dunia yang sama sekali berbeda.
“Saya juga senang,” lanjut Shuang Shuang, matanya berbinar kecil, “akhirnya anda mau terbuka kepada saya.”
“Apa maksudmu?” Bai Ruoxue bertanya pelan.
“Dulu,” jawab Shuang Shuang, “anda tidak pernah berbicara seperti ini kepada saya. Anda tidak pernah menanyakan pendapat saya.”
Ia tersenyum, senyum yang polos dan tulus.
“Anda tidak pernah memanggil saya, kecuali saya yang menghadap lebih dulu.”
Bai Ruoxue terdiam menatap senyum itu.
Hangat.
Sesuatu yang jarang ia rasakan sejak terbangun di istana ini.
Apakah ia bisa hidup sebagai Bai Ruoxue?
Wanita yang dipuja, namun tak benar-benar dicintai. Wanita yang anggun, namun kesepian. Wanita yang tampak sempurna, namun terasa kosong.
Bai Ruoxue…
Di manakah kau berada sebenarnya?
Dan mengapa kau meninggalkanku di dalam hidupmu yang begitu rumit ini?
Pertanyaan itu bergaung di dalam hatinya, tanpa jawaban.
Dan di balik cermin besar itu, seorang wanita menatap dirinya sendiri—tak lagi yakin siapa yang sedang ia lihat.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi