NovelToon NovelToon
Ingat Aku Meski Kau Lupa

Ingat Aku Meski Kau Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Rebirth For Love / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: jaaparr.

Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏

Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!

Donasi ke aku:
Saweria: parleti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Usaha Asha

Sudah tiga hari sejak kejadian di taman kota. Tiga hari di mana Asha berusaha menghindari Arsa dan Raya sebisa mungkin.

Ia datang ke sekolah tepat waktu agar tidak bertemu mereka di koridor, dan pulang lebih cepat dengan alasan harus membantu ibunya.

Tapi hari ini berbeda. Hari ini Asha memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Sesuatu yang mungkin akan menjadi usaha terakhirnya.

🌷🌷🌷🌷

Pagi itu, Asha datang ke sekolah dengan tekad yang sudah bulat. Ia sudah menyiapkan mental untuk apa yang akan ia lakukan.

Saat jam istirahat kedua, Asha menghampiri Arsa yang sedang duduk sendirian di kursinya. Raya sedang ke perpustakaan bersama beberapa teman lainnya.

"Arsa..." panggil Asha dengan suara yang pelan namun tegas.

Arsa mendongak dari bukunya. Wajahnya terlihat terkejut melihat Asha yang menghampirinya.

"Asha... Ada apa?" tanya Arsa dengan nada hati-hati.

Asha menarik nafas panjang. "Gw... Gw mau ngajak lo ke suatu tempat. Setelah pulang sekolah."

Arsa terdiam mendengar ajakan Asha. Di dalam hatinya, ada perasaan ragu.

"Tempat apa?" tanya Arsa dengan nada penasaran.

"Nanti lo bakal tau. Pokoknya... Pokoknya ini penting buat gw. Buat kita berdua" ucap Asha dengan tatapan yang penuh harap.

Arsa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Asha hari ini. Ada tekad yang kuat di mata gadis itu.

"Oke. Jam berapa?" tanya Arsa akhirnya.

"Setelah pulang sekolah. Gw tunggu lo di parkiran" ucap Asha dengan senyuman tipis.

Sebelum Arsa sempat bertanya lebih lanjut, Asha sudah berbalik dan kembali ke kursinya.

Cinta yang melihat itu langsung menghampiri Asha dengan wajah penasaran.

"Sha, lo ngomong apa sama Arsa?" bisik Cinta.

"Gw... Gw mau coba terakhir kali, Cin. Gw mau bawa dia ke tempat-tempat yang dulu penting buat kita berdua. Siapa tau... Siapa tau dia bisa inget" jelas Asha dengan suara yang bergetar di akhir.

Cinta menatap Asha dengan tatapan khawatir. "Sha... Lo yakin? Kalau dia tetep gak inget gimana?"

Asha tersenyum pahit. "Ya udah. Berarti gw emang harus bener-bener ngelepas dia."

🌷🌷🌷🌷

Sepulang sekolah, Asha menunggu Arsa di parkiran dengan perasaan yang campur aduk. Gugup, takut, tapi juga penuh harap.

Tidak lama kemudian, Arsa datang dengan tas punggungnya.

"Asha, kita mau ke mana?" tanya Arsa dengan nada penasaran.

"Ikut aja. Gw janji gak akan lama kok" ucap Asha sembari menaiki motornya.

Arsa ragu sejenak, tapi akhirnya ia mengangguk dan menaiki motor Asha sebagai penumpang.

Ini adalah pertama kalinya sejak lama mereka berdua bersama seperti ini. Tanpa Raya. Tanpa Cinta. Hanya mereka berdua.

Asha memacu motornya dengan kecepatan sedang. Jantungnya berdegup kencang merasakan kehadiran Arsa di belakangnya.

Dulu, Arsa selalu memeluk pinggangnya dari belakang saat mereka naik motor bersama. Tapi sekarang, Arsa hanya memegang pegangan motor dengan jarak yang begitu jauh.

'Semuanya udah berbeda ya...' batin Asha dengan hati yang sesak.

🌷🌷🌷🌷

Tempat pertama yang Asha tuju adalah sebuah cafe kecil di pinggir kota. Cafe yang tidak terlalu ramai dan memiliki suasana yang tenang.

"Cafe ini?" tanya Arsa dengan bingung saat mereka sampai.

Asha mengangguk. "Ayo masuk."

Mereka masuk ke dalam cafe dan duduk di meja dekat jendela. Meja yang sama dengan tempat mereka dulu sering duduk.

"Arsa... Lo inget tempat ini gak?" tanya Asha dengan nada penuh harap.

Arsa menatap sekeliling cafe dengan seksama. Ia mencoba mengingat, tapi tidak ada yang familiar.

"Maaf, Asha. Aku... Aku gak inget" jawab Arsa dengan suara yang penuh penyesalan.

Asha tersenyum sedih. "Tempat ini... Tempat ini adalah tempat di mana lo pertama kali ngomong ke gw kalau lo sayang banget sama gw."

Asha menunjuk ke arah sudut cafe.

"Di sana, lo pernah nangis karena gw ngambek gara-gara hal sepele. Lo bilang lo takut kehilangan gw. Lo bilang gw adalah orang yang paling berarti buat lo."

Air mata Asha mulai berkumpul di pelupuk mata.

"Lo juga pernah bilang... Kalau suatu hari nanti lo nikah, lo pengen nikah sama gw. Di cafe ini juga lo bilang itu."

Arsa merasakan dadanya sesak mendengar cerita Asha. Ia mencoba mengingat, mencoba merasakan.

Dan untuk sesaat, ia melihat bayangan samar...

Seorang gadis yang menangis. Dirinya yang berlutut di depan gadis itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Aku sayang banget sama kamu, Asha. Jangan ninggalin aku..."

Tapi bayangan itu cepat menghilang, meninggalkan Arsa dengan kepala yang tiba-tiba terasa sakit.

"Argh..." erang Arsa sembari memegang kepalanya.

"Arsa! Lo kenapa?" tanya Asha dengan panik.

"Kepala aku... Sakit..." ucap Arsa dengan nafas yang tidak karuan.

Asha langsung panik. Ia memanggil pelayan dan meminta segelas air putih.

"Minum dulu" ucap Asha sembari menyodorkan gelas ke Arsa.

Arsa minum dengan tergesa-gesa. Perlahan, rasa sakit di kepalanya mulai berkurang.

"Lo... Lo inget sesuatu?" tanya Asha dengan penuh harap.

Arsa menggeleng pelan. "Cuma... Cuma bayangan samar. Tapi langsung hilang lagi."

Asha menunduk dengan kecewa. Tapi ia tidak menyerah.

"Ayo. Gw mau bawa lo ke tempat lain" ajak Asha.

🌷🌷🌷🌷

Tempat kedua yang Asha tuju adalah sebuah toko buku kecil. Toko buku yang sudah cukup lama berdiri dan memiliki koleksi buku yang beragam.

"Toko buku ini?" tanya Arsa saat mereka sampai di depan toko.

Asha mengangguk. "Lo inget gak?"

Arsa menggeleng pelan.

Mereka masuk ke dalam toko. Bau khas buku-buku lama langsung menyambut mereka.

"Arsa... Di sini, lo pernah beliin gw novel favorit gw. Lo ngantri dua jam cuma buat dapetin novel yang limited edition itu" cerita Asha sembari berjalan menuju rak buku di sudut toko.

"Di sini juga lo pernah bacain gw puisi. Puisi yang lo tulis sendiri buat gw. Isinya tentang... Tentang betapa beruntungnya lo punya gw."

Asha menatap Arsa dengan mata yang berkaca-kaca.

"Lo juga pernah bilang... Kalau toko buku ini adalah tempat favorit lo buat ngabisin waktu bareng gw. Karena di sini lo bisa liat gw bahagia."

Arsa mendengarkan dengan seksama. Di dalam hatinya, ada perasaan hangat yang tiba-tiba muncul.

Ia menatap sekeliling toko buku dengan perasaan yang aneh. Ada sesuatu yang familiar, tapi ia tidak bisa menangkapnya.

"Asha... Aku... Aku merasa ada sesuatu. Tapi aku gak bisa inget apa itu" ucap Arsa dengan frustrasi.

Asha tersenyum sedih. "Gapapa. Gw ngerti kok."

Mereka berdua lalu berjalan keluar dari toko buku. Asha sudah mulai kehilangan harapan, tapi ia masih punya satu tempat lagi.

🌷🌷🌷🌷

Tempat ketiga dan terakhir adalah sebuah bukit kecil di pinggir kota. Tempat yang cukup sepi dan memiliki pemandangan yang indah.

Mereka naik motor menuju bukit itu. Saat sampai di puncak, Asha memarkirkan motornya dan mereka berdua turun.

"Tempat ini..." ucap Arsa dengan mata yang membulat.

Asha menoleh ke Arsa dengan penuh harap. "Lo... Lo inget?"

Arsa menggeleng pelan. "Gak. Tapi... Tapi tempat ini rasanya familiar."

Asha tersenyum tipis. Ia lalu berjalan menuju tepi bukit dan duduk di atas rumput.

"Ayo, duduk di sini" ajak Asha sembari menepuk rumput di sampingnya.

Arsa duduk di samping Asha dengan jarak yang cukup jauh.

Mereka berdua terdiam, menatap pemandangan kota yang terlihat dari atas bukit.

"Arsa... Tempat ini adalah tempat yang paling spesial buat gw. Buat kita" ucap Asha memecah keheningan.

"Kenapa?" tanya Arsa dengan nada penasaran.

"Karena di sinilah lo pertama kali bilang... Bilang kalau lo gak akan pernah ninggalin gw. Lo janji lo akan selalu ada buat gw, apapun yang terjadi."

Asha menatap Arsa dengan tatapan yang penuh kerinduan.

"Di sini juga lo pernah peluk gw pas gw nangis karena masalah keluarga gw. Lo bilang... Lo bilang kalau gw gak sendirian. Lo bilang gw punya lo."

Air mata Asha mulai jatuh.

"Dan di sini... Di sinilah terakhir kali gw ngerasain lo peluk gw dengan tulus. Sebelum... Sebelum kecelakaan itu terjadi."

Arsa merasakan dadanya begitu sesak mendengar cerita Asha. Ia menatap gadis itu yang menangis di sampingnya.

Dan tiba-tiba...

Tangannya bergerak sendiri. Tanpa sadar, ia meraih tangan Asha dan menggenggamnya.

Asha tersentak merasakan genggaman Arsa. Ia menatap tangan mereka yang saling bertautan dengan mata yang terbelalak.

"Arsa..." bisik Asha.

Arsa juga terlihat terkejut dengan apa yang ia lakukan. Tapi ia tidak melepaskan genggamannya.

"Aku... Aku gak tau kenapa aku melakukan ini. Tapi... Tapi rasanya... Rasanya aku harus melakukan ini" ucap Arsa dengan bingung.

Asha tersenyum di balik air matanya. "Lo... Lo inget?"

Arsa menggeleng pelan. "Gak. Tapi... Tapi aku merasa nyaman melakukan ini. Rasanya... Rasanya familiar."

Mereka terdiam lagi. Hanya genggaman tangan mereka yang menghubungkan mereka di tengah keheningan.

Angin berhembus pelan, membawa daun-daun kering yang beterbangan.

"Asha... Maafin aku. Maafin aku yang gak bisa inget semua moment berharga yang kita punya" ucap Arsa dengan suara yang penuh penyesalan.

Asha menggeleng. "Gak... Gak perlu minta maaf. Ini bukan salah lo."

"Tapi aku udah nyakitin kamu. Berkali-kali" ucap Arsa sembari menatap mata Asha.

"Gw tau. Tapi gw juga udah nyakitin lo. Waktu dulu, sebelum kecelakaan itu. Gw yang egois. Gw yang selalu nyari masalah" ucap Asha dengan air mata yang semakin deras.

Arsa menarik Asha ke dalam pelukannya. Asha yang terkejut hanya bisa terdiam.

"Arsa..." bisik Asha dengan suara yang bergetar.

"Aku gak tau kenapa aku melakukan ini. Tapi... Tapi aku gak bisa liat kamu nangis. Rasanya sakit banget di sini" ucap Arsa sembari memegang dadanya sendiri dengan tangan yang tidak memeluk Asha.

Asha menangis di pelukan Arsa. Pelukan yang begitu ia rindukan. Pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Aku... Aku masih sayang sama kamu, Arsa. Aku masih... Aku masih cinta banget sama kamu" isak Asha.

Arsa merasakan dadanya semakin sesak mendengar pengakuan Asha. Di dalam hatinya, ada perasaan yang tumbuh. Perasaan yang hangat dan familiar.

Tapi sebelum ia sempat memikirkannya lebih lanjut...

"Arsa!"

Suara itu membuat mereka berdua tersentak. Mereka cepat-cepat melepaskan pelukan.

Asha menoleh ke arah sumber suara dan ia melihat Raya berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah yang terkejut.

"Raya..." ucap Arsa dengan suara yang tidak percaya.

Raya berjalan mendekat dengan langkah yang ragu. Wajahnya terlihat begitu kecewa.

"Hmm... Maaf, aku... Aku gak sengaja ganggu" ucap Raya dengan suara yang bergetar.

"Lo... Lo ngapain di sini?" tanya Asha dengan nada yang sedikit defensive.

"Hmm... Aku... Aku cari Arsa. Tadi Cinta bilang Arsa pergi sama kamu. Terus aku... Aku ikutin kalian" jelas Raya dengan wajah yang menunduk.

Asha merasakan amarah yang tiba-tiba muncul. "Lo... Lo ngikutin kita?"

"Hmm, maaf. Aku cuma... Aku cuma khawatir" ucap Raya dengan suara yang semakin pelan.

"Khawatir? Atau cemburu?" tanya Asha dengan nada tajam.

"Asha, jangan gitu" ucap Arsa mencoba menenangkan.

Asha berdiri dari duduknya. "Kenapa? Kenapa gw gak boleh bilang gitu? Lo tau gak, Arsa... Ini adalah tempat terakhir yang gw punya. Tempat terakhir di mana gw bisa berusaha bikin lo inget."

Asha menatap Raya dengan tatapan yang penuh kekecewaan.

"Tapi sekarang... Sekarang lo dateng dan ngacauin semuanya!"

"Asha, aku gak bermaksud—" ucap Raya mencoba membela diri.

"Gw gak peduli lo bermaksud apa! Yang jelas lo udah ngacauin moment gw sama Arsa!" potong Asha dengan suara yang mulai nyaring.

Arsa berdiri dan mencoba menenangkan situasi. "Asha, Lea, udah... Jangan bertengkar."

Tapi Asha tidak mendengarkan. Ia menatap Arsa dengan tatapan yang penuh kekecewaan.

"Lo tau gak, Arsa... Tadi... Tadi untuk pertama kalinya sejak lo kehilangan ingatan, lo peluk gw dengan tulus. Lo genggam tangan gw. Dan gw... Gw bener-bener berharap kalau lo bisa inget."

Air mata Asha jatuh.

"Tapi sekarang... Sekarang semuanya kacau lagi. Gara-gara dia."

Raya menatap Asha dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca. "Hmm, Asha... Maafin aku. Aku bener-bener gak sengaja."

Asha menggeleng. "Udah. Gw capek."

Asha lalu berjalan menuju motornya. Tapi sebelum ia pergi, ia berbalik dan menatap Arsa untuk terakhir kali.

"Arsa... Ini adalah usaha terakhir gw. Kalau lo tetep gak bisa inget... Ya udah. Berarti emang gw harus ngelepas lo."

Setelah itu, Asha menaiki motornya dan pergi meninggalkan Arsa dan Raya di bukit itu.

Arsa terdiam di tempatnya. Dadanya terasa begitu sesak. Di satu sisi, ia merasa bersalah kepada Asha. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

Raya yang melihat Arsa terdiam langsung merasa sangat bersalah.

"Hmm, Arsa... Maafin aku. Aku... Aku gak seharusnya kesini" ucap Raya dengan suara yang penuh penyesalan.

Arsa menggeleng pelan. "Bukan salah kamu, Lea."

Tapi di dalam hatinya, Arsa tau bahwa kedatangan Raya telah mengacaukan sesuatu yang penting.

Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.

🌷🌷🌷🌷

Malam harinya, Asha berbaring di kasurnya dengan mata yang kosong. Ia sudah tidak menangis lagi.

Yang tersisa hanya rasa hampa yang begitu dalam.

Ia meraih hp-nya dan membuka galeri. Di sana ada banyak foto-foto dirinya bersama Arsa.

Foto mereka tertawa bersama. Foto mereka makan bersama. Foto mereka di bukit tempat mereka tadi sore.

Asha menatap foto-foto itu dengan senyuman pahit.

"Mungkin... Mungkin emang udah waktunya gw ngelepas lo, Arsa" bisik Asha dengan suara yang pelan.

"Tadi... Tadi untuk sesaat gw ngerasain lo lagi. Gw ngerasain kehangatan lo lagi. Tapi... Tapi ternyata itu cuma sesaat."

Asha menutup matanya.

"Gw capek, Arsa. Gw bener-bener capek."

"Mungkin ini emang saatnya gw... Gw bener-bener nyerah."

TO BE CONTINUED

🌷🌷🌷🌷🌷

Sedih banget! 😭 Asha udah berusaha keras bawa Arsa ke tempat-tempat memorable mereka, dan untuk sesaat Arsa kayaknya mulai ngerasain sesuatu...

Tapi pas moment paling penting, Raya dateng dan ngacauin semuanya! Asha akhirnya bilang ini usaha terakhirnya 💔

Kira-kira Asha beneran bakal nyerah? Dan gimana perasaan Arsa sebenarnya setelah moment tadi?

Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!

@Jaaparr

1
Maya Lara Faderik
sangat penasay..
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku
jaaparr: Siapp kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!