Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Dino dan Teori Jodoh yang Gagal
Sementara ketegangan di lantai 50 mencapai titik didih, di bawah sana tepatnya di dalam sebuah van butut yang di parkir ilegal di depan hidran pemadam kebakaran seorang pria sedang berjuang melawan maut versinya sendiri.
Dino sedang berkeringat dingin. Bukan karena takut pada anak buah Bramasta, tapi karena kabel jumper komputernya mendadak mengeluarkan percikan api.
"Aduh, aduh! Jangan sekarang, hei si Hitam Manis!" Dino menepuk-nepuk monitornya seolah itu adalah punggung bayi. "Kalau sistem ini mati, Ryuga dan Kiara di atas sana cuma punya modal tampang buat melawan pistol Samsul!"
Sambil menggigit kabel konektor yang terasa getir di lidahnya, Dino menatap layar satelit yang menampilkan pergerakan di ruang direksi. Ia bisa melihat melalui kamera tersembunyi yang diselipkan Kiara di kancing kemeja Ryuga.
"Lihat mereka," gumam Dino, berhenti sejenak dari aktivitas meretasnya. "Ryuga berdiri tegak begitu, Kiara di sampingnya dengan pose siap tendang... Mereka itu seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk pakai palu, tapi entah kenapa kok pas banget."
Dino menghela napas, jemarinya kembali menari di atas keyboard. "Teori jodohku selama ini kan sederhana: cari yang mirip biar nggak capek debat. Tapi mereka? Yang satu kulkas berjalan, yang satu kompor gas. Kalau digabung bukannya netral, malah jadi badai salju api."
Dino dan "Gadis Kopi"
Tiba-tiba, kaca jendela van-nya diketuk. Dino tersentak sampai kepalanya menghantam langit-langit van. Dug!
Seorang petugas keamanan gedung yang cantik setidaknya menurut standar Dino yang sudah tiga hari tidak melihat cahaya matahari berdiri di luar sambil memegang buku tilang.
"Mas, dilarang parkir di sini. Ini area steril," ucap petugas itu tegas.
Dino menurunkan kaca jendela sedikit, memasang wajah yang ia kira paling menawan padahal ada bekas jelaga di pipinya. "Mbak, saya bukan parkir. Saya sedang... melakukan riset sosiologis tentang kepadatan penduduk di basement. Nama saya Dino, ahli metadata dan... jomblo bersertifikat."
Petugas itu mengerutkan kening.
"Nama saya Siti. Dan riset Anda akan berlanjut di kantor polisi kalau tidak segera pindah."
Dino panik. Ia tidak boleh pergi.
"Tunggu, Siti! Lihat ini!" Dino menunjukkan layar monitornya yang penuh kode rumit. "Saya sedang membantu CEO Anda menangkap penjahat! Kalau Mbak mau membantu, tolong jangan tilang saya, tapi beri saya nomor WhatsApp... eh maksudnya, beri saya akses ke Wifi internal gedung yang lebih stabil!"
Siti menatap Dino dengan pandangan antara kasihan dan bingung. "Mas... Wi-Fi gedung diproteksi. Dan Mas terlihat seperti orang yang perlu mandi, bukan Wi-Fi."
Bip! Bip! Bip!
Monitor Dino berbunyi nyaring. Data dari microchip yang sempat terbakar sebagian di gudang berhasil dipulihkan lewat algoritma "brute force" yang ia jalankan semalaman.
"BERHASIL!" teriak Dino, melupakan Siti sejenak. "Kiara! Pak Bos! Data transaksi gelap sepuluh tahun lalu sudah terunggah ke layar utama ruang rapat! Sekarang!"
Dino menoleh ke Siti yang masih berdiri di sana. "Mbak Siti, lihat itu! Di layar lobi! Itu pahlawan-pahlawan kita!"
Di layar lobi Dewangga Tower, tiba-tiba muncul wajah Bramasta dan Samsul dengan daftar rekening bank rahasia di Swiss yang tercatat atas nama perusahaan cangkang. Seluruh karyawan di lobi berhenti bergerak, terpaku melihat skandal terbesar abad ini terbongkar secara real-time.
✨✨
Dino kembali menyandar di kursinya, nafasnya lega. Ia melihat Siti yang kini ikut terpaku menatap layar lobi.
"Ternyata teoriku salah, Siti," ucap Dino sok puitis. "Jodoh itu bukan soal kemiripan. Tapi soal siapa yang mau tetap tinggal disaat gedung hampir meledak dan celanamu robek di depan umum."
Siti menoleh, tersenyum sedikit. "Filosofi yang bagus, Mas. Tapi tetep, surat tilangnya saya selipkan di wiper ya. Tugas tetap tugas."
Dino melongo melihat Siti berjalan pergi. Ia menghela nafas panjang sambil meraih sisa keripik singkongnya.
"Yah, teori jodoh Ryuga dan Kiara sukses besar, tapi teori jodoh Dino tetap gagal total di babak kualifikasi," keluhnya. Namun, senyum muncul di wajahnya saat mendengar suara Kiara lewat earpiece.
"Dino, kerja bagus. Kami sudah mengamankan ruang rapat. Samsul menyerah."
"Sama-sama, Kiara," balas Dino lembut.
"Bilang pada Pak Bos, biaya ganti rugi celanaku dan biaya 'pdkt' gagal dengan Mbak Siti harus masuk ke dalam bonus akhir tahun!"
Meskipun baru saja mendapatkan nomor WhatsApp "formal" yang ternyata nomor pengaduan keamanan dari Mbak Siti, Dino tidak punya waktu untuk meratapi nasib asmaranya. Di layar monitornya, grafik unggahan data menunjukkan angka 98%.
"Ayo, sedikit lagi... si Hitam Manis, jangan batuk sekarang!" gumam Dino sambil terus memantau rekaman suara dari earpiece Kiara.
Di dalam ruang rapat lantai 50, suasana mencekam. Ia bisa mendengar suara Bramasta yang bergetar hebat. "Ini fitnah! Ryuga, kau memanipulasi data ini!"
Dino mendengus, jemarinya kembali menari. "Fitnah kepalamu botak! Ini data forensik yang sudah dicuci bersih lebih mengkilap daripada mobil sport-mu!"
Sambil menunggu sisa 2% terakhir, Dino merogoh saku jaketnya dan menemukan sebuah sketsa kecil. Itu adalah gambar yang dibuat secara iseng semalam: gambar Ryuga, Kiara, dan dirinya sendiri yang sedang makan bubur di pinggir jalan.
Dino tersenyum getir. "Kalau konspirasi ini selesai, Ryuga pasti balik jadi CEO sombong dan Kiara bakal sibuk di bengkel jam mewahnya. Terus aku? Balik jadi tukang foto kawinan yang sering ditanya 'kapan nyusul'?"
Ia menatap monitor yang kini menunjukkan status COMPLETED. Seluruh data kotor Bramasta telah terdistribusi ke 50 kantor media terbesar di Indonesia dan pihak kepolisian.
"Misi selesai, kawan-kawan," bisik Dino pada mikrofonnya. "Tapi Pak Bos, kalau nanti Anda menikah dengan Kiara, tolong jangan pakai fotografer lain. Hargaku mahal, tapi hasil jepretanku mengandung doa restu dari orang yang menyelamatkan nyawa kalian!"
🌸🌸🌸
Tiba-tiba, kaca jendela van-nya diketuk lagi. Dino mengira itu Siti yang datang membawa surat tilang tambahan, tapi saat ia menoleh, ia melihat seorang pria paruh baya mengenakan apron lusuh sambil memegang nampan berisi kopi dan gorengan.
"Mas, tadi Mbak Siti bilang Mas ini lagi 'berjuang'. Ini dari warung depan, gratis buat pahlawan gadungan," ucap bapak itu sambil terkekeh.
Dino melongo. Ia menerima kopi itu dengan tangan gemetar. "Pahlawan gadungan?"
"Iya, kata Mbak Siti, Mas ini aneh tapi niatnya baik. Diminum, Mas. Biar matanya melek lihat kebenaran."
Dino menyeruput kopi hitam itu. Pahit, pekat, tapi entah kenapa terasa jauh lebih nikmat daripada latte mahal di kantor Dewangga. Ia menatap ke arah puncak gedung yang menjulang tinggi.
"Teori jodoh mungkin gagal hari ini," gumam Dino sambil mengunyah bakwan dingin. "Tapi teori persahabatan? Skornya mutlak 10-0 untuk tim kita."
"Dino! Samsul mencoba kabur lewat helipad! Cegah akses lift darurat!" suara Kiara menggelegar di telinganya.
Dino langsung membuang bakwannya. "Oke, Siti... eh, Kiara! Akses lift darurat aku kunci dalam hitungan tiga... dua... satu... Locked! Dia terjebak di tangga, Kiara! Dia milik kalian!"
Dino menyandarkan punggungnya, keringat bercucuran namun matanya berbinar puas. "Nah, kalau begini kan keren. Dino si Ahli Meta data kembali beraksi!"
Ia melirik ke arah surat tilang yang terselip di wiper. "Siti... tunggu saja. Setelah ini, aku akan bayar tilang ini pakai mobil baru pemberian Pak Bos!"
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?