Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Memilih Cinta
Zaki tiba di rumahnya menjelang malam, rumah itu masih sama, chat yang cerah halaman yang cukup luas dan juga beberapa mobil terparkir, langkah yang sedikit pelan akhirnya ia masuk ke dalam rumah.
Dan saat kakinya menginjak ruang tamu, tiba-tiba suara Abi menghentikan langkahnya. "Yang baru datang dari kerja," ucapnya dengan nada datar.
Zaki pun langsung menoleh ke belakang dan ternyata di sofa itu sudah diduduki Abu dan Uminya, mereka sengaja menanti mungkin karena mendapat kabar dari Om Farid.
"Dapat gaji besar? Sudah mulai berani menentang kami," kata Khalid kembali bersuara tidak keras tapi cukup menusuk hati.
"Abi," suara Zaki melembut. "Jangan seperti itu, Zaki hanya ingin berdiri diatas kaki sendiri," lanjutnya kembali.
"Berdiri di kaki sendiri," ulang Ghina dengan senyum tipis yang seolah mengejek. "Zaki, kau tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan uang, asal kau ...," kata-kata Ghina menggantung di udara.
"Umi, untuk kali ini maaf," sahut Zaki pelan. "Anisa pilihan Zaki, tidak ada yang boleh mencegah ataupun menggagalkan."
"Kamu menentang Umi," cegahnya dengan cepat.
Zaki menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Zaki tidak menentang siapapun, Zaki hanya ingin menikahi perempuan pilihan Zaki sendiri."
"Tapi tidak dengan dia, dia saja sama kita jauh berbeda Zaki," jelas Ghina seolah menegaskan, "kamu harus sadar, masih banyak gadis dari kalangan kita, kenapa kamu harus pilih perempuan itu!" gertak Ghina.
"Stop Mi!" cegah Zaki dengan nada sedikit meninggi. "Aku tidak mau melawan siapapun termasuk Umi dan Abi, aku hanya ingin memperjuangkan dia, dan jika tidak dengan Anisa." Zaki berhenti sejenak, "maka aku tidak akan menikah dengan wanita manapun," tegas Zaki.
Suasana ruang tamu mendadak membeku, perkataan Zaki barusan seperti petir yang menyambar di tengah malam. Wajah Ghina yang semula hanya menegang kini benar-benar berubah. Matanya membelalak, rahangnya mengeras. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan cepat.
“Jadi sekarang kamu mengancam orang tuamu?” suaranya bergetar, bukan pelan lagi, melainkan penuh amarah yang ditahan sejak lama.
“Zaki tidak mengancam,” jawabnya tetap berusaha tenang, meski dadanya naik turun menahan emosi. “Zaki cuma menyampaikan keputusan.”
“Keputusan?” Khalid berdiri menyusul. “Sejak kapan kamu membuat keputusan sebesar itu tanpa restu kami?”
Zaki menunduk sebentar, lalu kembali menatap kedua orang tuanya. “Sejak Zaki sadar kalau ini hidup Zaki.”
Tamparan keras mendarat di pipinya, spontan Zaki memiringkan wajahnya. Bukan terlalu kencang, tapi cukup membuat suasana semakin pecah.
“Kurang ajar!” bentak Ghina. “Kamu berubah sejak kenal perempuan itu! Dia sudah membutakanmu!”
Zaki memejamkan mata sesaat. Pipinya terasa panas, tapi hatinya jauh lebih perih mendengar Anisa terus direndahkan.
“Umi boleh marah ke Zaki,” ucapnya lirih namun tegas. “Tapi jangan hina Anisa. Dia tidak pernah mengajarkan Zaki melawan.”
“Lalu apa ini?” Ghina menunjuk wajahnya. “Kamu pulang dengan berani membantah, memilih perempuan yang jelas-jelas bukan dari kalangan kita! Apa yang dia punya?”
Zaki menelan ludah, tidak menyangka jika perbedaan yang menjadi tolak ukur keluarganya.
“Akhlak,” jawabnya singkat.
Ruangan kembali sunyi. “Dia perempuan baik, Mi. Dia tidak pernah minta apa-apa. Justru dia yang menyuruh Zaki patuh pada Umi dan Abi.”
“Cukup!” potong Khalid. “Kami tidak akan merestui hubungan itu. Titik.”
Kalimat itu jatuh seperti palu hakim, yang diketukkan tiga kali, tetap seolah keputusan tidak bisa dirubah dengan apapun.
Ghina mengangguk tegas. “Selama Umi masih hidup, Umi tidak akan pernah menerima dia sebagai menantu.”
Deg.
Ada jeda panjang. Zaki merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya, tapi bukan keyakinannya. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Kalau begitu… izinkan Zaki tetap pada pilihan ini,” ucapnya pelan. “Zaki tidak akan menikah dengan siapa pun selain Anisa.”
“Kamu pilih dia atau orang tuamu?” suara Ghina bergetar menahan murka.
Pertanyaan itu seperti pisau. Namun kali ini Zaki tidak ragu.
“Zaki tidak pernah memilih untuk meninggalkan Umi dan Abi,” jawabnya. “Tapi Zaki juga tidak akan meninggalkan perempuan yang sudah Zaki niatkan untuk jadi istri.”
Wajah Ghina memerah. “Kalau kamu tetap melangkah, jangan harap restu dari kami!”
Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena luluh, tapi karena merasa ditantang oleh anaknya sendiri, Ghina seolah tidak terima dengan keputusan yang diambil terlalu cepat itu, bahkan baru beberapa Minggu ini anaknya berjumpa dengan gadis itu.
“Mulai malam ini, tanggung sendiri semua keputusanmu,” lanjut Khalid dingin.
Zaki menunduk hormat. “Baik, Bi.”
Tanpa membalas kemarahan dengan nada tinggi, ia melangkah mundur perlahan, hatinya sesak, karena restu itu belum ia dapatkan, tapi tekadnya justru semakin bulat.
Malam itu, di bawah atap rumah yang dulu selalu terasa hangat, Zaki sadar, ia mungkin kehilangan kenyamanan. Namun ia tidak akan kehilangan keberanian.
Dan dalam diamnya, satu keputusan telah ia ambil. Ia akan melamar Anisa, dengan atau tanpa restu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di tempat yang berbeda Anisa, sudah selesai dengan pekerjaannya, dapur sudah bersih, ruangan lainnya juga sudah dibersihkan, meskipun majikan masih ada di luar negri tapi Anisa dan kedua temannya profesional dan tanggung jawab dalam pekerjaannya.
Setelah memastikan semuanya sudah aman, Anisa memutuskan masuk ke dalam kamarnya, hatinya benar-benar kacau, setelah beberapa hari mencoba untuk menghindar dari Zaki lelaki yang berhasil membuatnya nyaman dan merasa dicintai.
Dan ditengah-tengah lamunannya itu tiba-tiba saja handphone-nya bergetar, dan yang muncul nama ibunya, Anisa sempat terkejut dan ragu. "Tumben Emak telepon malam-malam seperti ini," gumamnya pelan.
Anisa pun langsung menekan tombol hijau. “Assalamu’alaikum, Mak…” ucapnya lembut.
“Wa’alaikum salam. Nisa, kamu lagi sibuk?” suara ibunya terdengar serius.
“Enggak, Mak. Sudah selesai kerja.”
Ada jeda beberapa detik sebelum ibunya kembali bersuara. “Nisa, di kampung ini ada dua pemuda yang datang ke rumah. Mereka serius mau melamar kamu.”
Anisa terdiam, kata-kata itu terasa seperti batu yang dijatuhkan tiba-tiba ke dadanya, belum saja selesai masalahnya sendiri, tapi telepon dari ibunya benar-benar membuat Anisa susah bernafas.
“Kamu pilih saja salah satu. Dua-duanya dari keluarga baik, kerjaannya juga jelas. Jangan terlalu lama menunggu yang belum tentu,” lanjut sang ibu.
Anisa menggigit bibirnya pelan.
Ia tahu siapa dua laki-laki itu. Ia tahu bagaimana perangai mereka, terlalu bebas, terlalu banyak bicara, dan jauh dari sosok yang selama ini membuatnya merasa aman.
Berbeda dengan Zaki. Zaki mungkin sedikit keras kepala, tapi dewasa. Tidak banyak janji, tapi banyak bukti.
“Mak…” suara Anisa melembut, namun kali ini ada ketegasan di dalamnya. “Anisa belum mau menikah dengan siapa pun.”
“Kenapa? Kamu masih menunggu laki-laki itu?” tanya ibunya tajam.
Anisa terdiam sesaat. Ia memang sedang menghindar dari Zaki. Ia menjauh bukan karena tak cinta, tapi karena takut menjadi penyebab keretakan hubungan Zaki dengan orang tuanya.
Namun bukan berarti hatinya kosong, dan untuk sekarang ia benar-benar tidak ingin membuka hati untuk orang baru.
“Anisa tidak mau memilih hanya karena didesak,” jawabnya pelan tapi pasti. “Kalau Anisa menikah, itu harus karena yakin. Bukan karena terpaksa.”
“Jangan terlalu tinggi memilih, Nisa,” suara ibunya mulai meninggi. “Perempuan itu tidak boleh keras kepala.”
Air mata Anisa mulai menggenang, tapi suaranya tetap terjaga. “Untuk yang ini, biarkan Anisa memilih jalan sendiri, Mak.”
Telepon itu akhirnya ditutup dengan suasana yang tak lagi hangat, Anisa terduduk di tepi ranjang kecilnya, dengan air mata yang kini mulai membasahi pipinya.
Dadanya terasa sesak, saat seperti ini menghadirkan orang baru bukanlah solusi tepat, tapi justru itu membuatnya semakin hancur.
"Aku tidak tahu ini pilihan yang tepat atau tidak, tapi setidaknya aku tidak mau menghadirkan orang baru dalam hidupku selain ....," kata-kata Anisa menggantung ditengah Isak tangisnya.
Bersambung .....
Selamat sore semoga suka ya.