Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elmira
Aura ketegangan menyelimuti ruang tamu apartemen yang temaram. Arthur berdiri di dekat jendela, sementara Vans dan Elvira duduk di sofa yang dikelilingi tumpukan data digital hologram.
Elvira memutar-mutar pisau lipat dengan wajah datar. "Ayah sudah sampai di TKP menteri pertahanan. Dia menemukan jejak sihir kita di sana. Aku tahu itu... Ayah pasti bisa merasakan bahwa aura sihir itu sama seperti yang ada di tubuhnya."
Vans terkekeh dingin sambil menatap layar monitor. "Dan Ayah akan mengejar kita hanya karena rasa penasaran. Kau tahu bagaimana Black di tahun 2047 ini—dia tidak akan berhenti sampai teka-teki yang mengusik instingnya terjawab.
Arthur berbalik, menatap kedua adiknya dengan serius. "Masalahnya bukan hanya Ayah. Ayah dan Bibi Shyla sedang giat-giatnya mencari pelaku pembunuhan berantai yang beberapa bulan ini membuat kepolisian frustrasi. Begitu pun Bibi Shyla yang bekerja sebagai detektif... mereka habis-habisan memburu kita, tanpa tahu bahwa pelaku yang sebenarnya adalah anak dan keponakannya sendiri."
Elvira menghela napas panjang. "Ironis, bukan? Kita datang dari tahun 2072 untuk menyelamatkan mereka, tapi sekarang kita malah jadi target buruan mereka di tahun 2047 ini."
Vans melirik sekilas ke arah adek nya. "Kita tidak punya pilihan, El. Rodrigo juga bersembunyi di lini masa ini untuk mengumpulkan kekuatannya. Jika kita tidak membantai semua orang yang akan menjadi kaki tangannya di masa depan, kehancuran itu akan tetap terjadi. Semua ini demi keluarga kita... demi orang tua kita, Bibi Shyla, dan seluruh keluarga kita yang musnah di masa depan."
Arthur menghela nafas. "Tapi perjalanan ini tidak akan mudah. Ayah dan Bibi akan terus mengejar kita tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Bagi Ayah dan Ibu... kita bertiga bahkan belum ada di dunia ini. Kita adalah hantu dari masa depan yang mengacaukan kota mereka."
Elvira mendesah pasrah. "Biarlah mereka menganggap kita monster untuk saat ini. Selama Rodrigo mati di tangan kita sebelum dia menghancurkan segalanya, aku tidak keberatan jika harus menjadi target Ayah dan Bibi."
Pembicaraan mereka berubah menjadi lebih serius.
Arthur menyesap kopi hitamnya, matanya menatap tajam ke arah hologram denah gedung pernikahan. "Satu minggu lagi. Di tengah denting gelas sampanye dan janji suci Ayah dan Ibu, satu nyawa harus hilang. Target kita bukan sembarang pion—dia adalah benih kehancuran yang ditanam Rodrigo. Jika dia bernapas melewati malam itu, keluarga kita di masa depan hanyalah tumpukan abu. "
Vans berjalan ke dekat jendela, memainkan pisau perak yang berpendar keunguan. "Masalahnya bukan soal membunuhnya, Art. Masalahnya adalah bagaimana cara mencabut nyawanya tanpa meninggalkan jejak sihir sedikit pun. Kau tahu aturannya, satu percikan sihir, dan indra tajam Sky—maksudku Ayah—atau Kakek Langit akan langsung mengunci posisi kita. Di dimensi waktu ini, kita adalah orang asing bagi mereka. Jika tertangkap, mereka tak akan ragu menghabisi kita sebelum Rodrigo sempat melakukannya."
Elvira duduk bersila di lantai, menyebarkan butiran debu kristal yang tidak mengeluarkan cahaya. "Aku sudah menghitung polanya. Nenek Angel punya insting kuat yang bisa merasakan distorsi energi sekecil apa pun. Kita harus bermain kotor secara fisik. Tanpa mantra, tanpa telekinesis, tanpa glamour. Kita akan menggunakan racun organik yang bereaksi lambat, sesuatu yang baru akan menghentikan jantungnya saat Ayah dan Ibu berdansa pertama kali. Kita harus menjadi bayangan di antara para tamu, manusia biasa yang tidak punya kekuatan apa-apa."
Arthur menatap kedua saudara kembarnya."Persiapkan dirimu, Vans. Kau masuk sebagai orang terdekat Evelyn. Elvira, kau akan menyamar sebagai salah satu tamu tapi pastikan tidak ada yang melihat wajah mu. Aku akan memantau dari titik buta sensor kakek. Ingat, satu kesalahan kecil bukan hanya berarti kegagalan misi, tapi juga memberi kesempatan untuk mereka."
Vans tersenyum miring. "Membunuh anak buah musuh di bawah hidung keluarga sendiri tanpa ketahuan... ini akan jadi kado pernikahan yang paling rumit yang pernah ada."
Tiba-tiba, pintu geser apartemen terbuka dengan kasar. Langkah kaki kecil yang terburu-buru terdengar, diikuti suara pria dewasa yang tampak kelelahan.
Elmira berlari masuk dengan kaki kecilnya, bibirnya mengerucut. "Kak Altul! Kak Elvi! Kapan Ayah datang? Mila bosen di sini tewus! Mila mau ketemu Ayah!"
Kenzie masuk di belakangnya, kemejanya berantakan dan napasnya tersengal. "Maaf, Putra Mahkota Arthur. Saya sudah mencoba menahannya, tapi Putri Mahkota Kecil ini... dia terus merengek sejak bangun tidur. Saya hampir gila menghadapinya."
Arthur menatap Elmira, adik bungsunya yang berusia empat tahun. Matanya yang tajam melunak sesaat, namun ada gurat kesedihan di sana. Dia ingat bagaimana dia menggunakan sihirnya untuk mengunci memori Elmira tentang kehancuran keluarga mereka di masa depan, agar bocah itu tetap bisa tersenyum di tengah misi berdarah ini.
Elmira menarik-narik ujung baju Arthur, suaranya cadel dan penuh harap. "Ayah janji mau ajak Mila main bola... Kapan Ayah datang, Kak? Kenapa kita di sini tewus?"
Arthur berlutut agar sejajar dengan Elmira, mengusap kepalanya pelan. "Sabar ya, Sayang. Ayah sedang bekerja sangat jauh. Nanti, kalau tugas Ayah selesai, kita akan bertemu Ayah."
" Ayah itu laja, kenapa halus bekelja.. culuh Ayah pulang, " Elmira menduselkan kepalanya di tubuh Arthur.
Vans berbisik pelan agar tidak terdengar Elmira. "Sudah satu tahun kita mengurungnya di apartemen ini. Dia mulai curiga, Arthur. Sihir pengunci memorimu mungkin kuat, tapi instingnya sebagai anak Black tidak bisa dibohongi selamanya."
Elmira memeluk kaki Arthur, menatap kakaknya dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca. Ingatannya yang dikunci oleh sihir Arthur membuatnya tetap menjadi bocah ceria yang hanya merindukan ayahnya, tanpa tahu rumah mereka telah menjadi abu di masa depan.
Elmira merengek. "Mila bosen di sini telus! Mau jalan-jalan! Mau cali Ayah! Kak Altul jahat kalau Mila gak boleh kelual!"
Tangis Elmira mulai pecah, suaranya yang cadel memenuhi ruangan, menciptakan tekanan emosional yang lebih hebat daripada misi pembunuhan manapun bagi mereka. Selama satu tahun, mereka mengurungnya demi keamanan, tapi batas kesabaran bocah itu sudah habis.
Arthur memijat pelipisnya, lalu melirik Elvira yang tampak tidak nyaman.
Suara Arthur tegas namun lelah. "Elvira... pergilah bersama Kenzie dan temani Elmira jalan-jalan sebentar. Dia butuh udara segar sebelum dia benar-benar mengamuk."
Mata Elvira membulat seketika. Ia menatap Arthur dengan tatapan 'apa kau bercanda?'.
Elvira menaikan suaranya. "Apa?! Aku? Bersama Kenzie?"
Dia melirik Kenzie yang langsung membuang muka dengan canggung. Hubungan rumit dan dingin di antara mereka berdua membuat suasana di ruangan itu mendadak jauh lebih canggung
"Tidak! Atau kau mau anak ini menghancurkan semua barang yang ada disini.. kau tau sendiri jika dia sedang kesal kekuatan nya suka keluar mendadak." kata Arthur tegas, Elvira mendengus lalu menatap Kenzie yang masih membuang muka.
Elvira mendengus kesal, berdiri dengan malas. "Lagi-lagi aku? Ck, baiklah. Ayo, Bocah Kecil."
Elvira menarik tangan Elmira dengan gerakan yang lembut dan protektif. Kenzie mengikuti dari belakang, wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa canggung yang luar biasa dan binar kebahagiaan tersembunyi saat harus berjalan di samping Elvira.
Setelah pintu tertutup, Vans mendekat ke arah Arthur dan berbisik pelan. "Sudah satu tahun kita di sini, Arthur. Kenapa cinta di antara mereka berdua belum juga tumbuh? Padahal di masa depan yang hancur itu, mereka adalah alasan satu sama lain untuk berjuang."
Arthur tersenyum tipis. " Mungkin karena keadaan yang memaksa mereka untuk mengubur perasaan itu."
•
•
•
BERSAMBUNG