Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.
(Update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: LANGIT YANG MELIHAT KEMBALI
Langit-langit batu di penginapan terasa rendah.
Chen Long duduk di tengah halaman, punggung lurus, tiga batu di depannya berbaris seperti tiga sahabat yang diam-diam berbicara. Giok hitam di kiri. Giok putih di kanan. Batu abu di tengah. Mereka tidak berdenyut lagi. Hanya... menunggu.
Xiao Feng berdiri di ambang pintu, mata masih memerah. Anak itu belum tidur sejak turun dari bawah tanah. Belum berani. Seolah jika ia memejamkan mata, semua yang terjadi akan menjadi mimpi. Dan mimpi yang baik selalu sirat saat terbangun.
"Kau bisa istirahat," kata Chen Long. Banyak menoleh.
Xiao Feng menggeleng. "Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena..." Anak itu ragu, mencari kata yang tepat. "Karena jika aku tidur, aku takut lupa. Bagaimana rasanya. Bagaimana... getarannya."
Chen Long mengangguk. Perlahan. Ia mengerti. Ia juga pernah begitu saat pertama kali merasakan dua arus di tubuhnya berputar, saat pertama kali tahu bahwa ia berbeda, saat pertama kali menyadari bahwa "berbeda" bisa menjadi "kuat".
Namun sekarang bukan waktu untuk kenangan.
Di atas, bulan merah masih ada. Tidak pindah. Tidak pudar. Seolah langit sendiri yang menancapkan mata di satu titik di bumi ini. Di tempat di mana Chen Long berdiri.
"Sunxin sudah kembali ke istana," kata Chen Long. Bukan pertanyaan.
Xiao Feng mengangguk. "Tadi pagi. Sebelum matahari terbit."
Mereka diam. Chen Long menatap tiga batu di depannya. Kemarin, batu-batu ini berbicara. Membuka sesuatu yang tertutup ratusan tahun. Namun sekarang, mereka hanya batu. Diam. Dingin. Seolah semua yang terjadi hanyalah mimpi kolektif.
Namun Chen Long tahu. Ia bisa merasakannya. Di dalam tubuhnya, sesuatu telah berubah. Dua arus yang dulu berputar di perut Yin dingin, Yang hangat kini merambat lebih tinggi. Ke dada. Ke tenggorokan. Hampir ke mata.
Seolah ada dua Chen Long dalam satu tubuh. Satu yang melihat dunia ini. Satu yang... melihat sesuatu yang lain.
Ia mengangkat tangan. Perlahan. Membiarkan jari-jarinya terbuka di udara pagi. Dingin. Lembap. Namun di balik dingin itu, ada getaran lain. Sesuatu yang datang dari atas. Dari bulan merah. Dari... pengamat.
"Ada yang menatap," bisik Chen Long.
Xiao Feng membeku. "Siapa?"
"Tidak tahu. Bukan manusia. Bukan..." Chen Long berhenti. Mencari kata. "Bukan seperti kita."
Getaran itu datang tiga kali sehari.
Pagi, saat matahari baru muncul. Siang, saat bayangan terpendek. Malam, saat bintang-bintang seharusnya paling terang namun kini kalah oleh bulan merah yang lebih besar, lebih dekat, lebih... hidup.
Setiap kali, Chen Long merasakan sesuatu. Bukan sakit. Bukan takut. Melainkan... pengakuan. Seolah sesuatu di langit sedang mencatat. Mengukur. Menilai.
Apakah ia berbahaya?
Apakah ia bisa digunakan?
Atau... apakah ia harus dihapus?
"Kau tidak tidur," suara Xiao Feng memecah lamunan.
Chen Long tersenyum. Kecil. Pahit. "Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena jika aku tidur, aku melihat."
"Melihat apa?"
Chen Long tidak menjawab langsung. Ia menatap langit-langit batu lagi. Seolah bisa menembusnya. Melihat ke atas. Ke tempat di mana sesuatu sedang menunggu.
"Dua tempat," katanya akhirnya. "Aku berada di dua tempat. Di sini, di halaman ini. Dan... di sana. Di tempat yang tidak punya nama. Tidak punya arah. Hanya... kekosongan. Dan di kekosongan itu, ada sesuatu yang menatap kembali."
Xiao Feng membeku. Wajahnya pucat. "Apa... apa yang kau lihat?"
Chen Long menatapnya. Sungguh menatap. Dan untuk pertama kalinya, Xiao Feng melihat sesuatu yang berbeda di mata Chen Long. Bukan cahaya. Bukan bayangan. Melainkan... kedalaman. Seolah mata Chen Long kini adalah jendela ke tempat yang jauh. Terlalu jauh.
"Aku tidak melihat," kata Chen Long. "Aku dirasakan. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang tua. Sesuatu yang... marah. Bukan marah seperti manusia. Melainkan marah seperti gunung yang meletus. Seperti laut yang naik. Seperti..."
Ia berhenti. Seolah kata-kata tidak cukup.
"Seperti apa?"
"Seperti hukum," bisik Chen Long. "Yang tidak bisa dibantah. Yang tidak bisa dihindari. Yang hanya... menunggu saatnya."
Sore itu, sesuatu berubah.
Chen Long sedang berdiri di halaman, mencoba membuat dua arus di tubuhnya berputar lebih lambat. Lebih tenang. Namun setiap kali ia mencoba, ada gangguan. Seperti ada yang menarik-narik benang tak terlihat dari arah atas.
Lalu, tiba-tiba, batu abu di tangannya yang selama ini hanya batu paling biasa, paling sunyi berdenyut. Sekali. Sangat keras. Sangat... takut.
Chen Long membeku.
Ini bukan getaran dari bawah. Bukan dari jaringan kuno yang telah mereka buka. Melainkan dari... sesuatu yang lain. Sesuatu yang merespons. Sesuatu yang...
"Bergerak," bisiknya.
Xiao Feng, yang sedang duduk di ambang pintu, melompat berdiri. "Apa?"
"Batu ini." Chen Long menatap batu abu di tangannya. Warna abunya kini lebih gelap. Lebih pekat. Seolah menyerap cahaya di sekelilingnya. "Ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang... datang."
Dari mana? Chen Long tidak tahu. Namun tubuhnya tahu. Dua arus di dalamnya Yin yang dingin, Yang yang hangat berputar lebih cepat tanpa ia perintahkan.
Bukan karena ia takut.
Melainkan karena... siap.
Dan kemudian, ia melihatnya.
Bukan dengan mata. Melainkan dengan... yang lain. Dengan bagian dirinya yang kini berada di "tempat kedua". Di kekosongan yang tidak punya nama.
Ada sesuatu di sana. Sesosok. Tidak jelas. Tidak utuh. Namun ada. Menatapnya. Dengan mata yang bukan mata. Dengan bentuk yang bukan bentuk.
Dan sesosok itu... tersenyum.
Bukan senyum ramah. Bukan senyum jahat. Melainkan senyum pengamat yang akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Senyum yang berkata: "Ah, di sana kau."
Chen Long terbatuk. Darah. Segumpal kecil. Jatuh ke batu di depannya. Merah. Hidup.
Xiao Feng berlari. "Tuan Chen!"
Chen Long mengangkat tangan. Menahan. "Tidak apa-apa."
"Itu darah!"
"Ya." Chen Long menatap darahnya di batu. Merah di atas abu. Hidup di atas mati. "Ini... harga. Untuk melihat. Untuk dilihat kembali."
Ia mengangkat kepala.
Menatap langit.
Bulan merah masih di sana.
Namun kini, Chen Long tahu.
Bulan itu bukan hanya tanda. Bukan hanya peringatan.
Melainkan... jembatan.
Jembatan antara dunia ini dan tempat di mana sesosok itu berdiri. Menunggu. Menyapa.
"Kita harus pergi," kata Chen Long. Suaranya datang. Terlalu datang. "Ke istana. Sebelum waktunya."
Xiao Feng membeku. "Tapi... tiga hari. Sunxin bilang..."
"Aku tahu apa yang Sunxin bilang." Chen Long berdiri. Perlahan. Tubuhnya masih gemetar. Namun matanya mata yang kini bisa melihat dua tempat sekaligus tetap tajam. "Namun sesosok itu tidak akan menunggu tiga hari. Ia datang lebih cepat. Dan jika kita masih di sini saat ia tiba..."
Ia berhenti. Tidak perlu melanjutkan. Xiao Feng sudah mengerti. Anak itu pernah merasakan. Pernah melihat. Pernah tahu bahwa ada kekuatan di dunia ini yang tidak bisa dilawan. Hanya bisa... dihindari. Sementara.
"Kemana?" tanya Xiao Feng.
Chen Long menatap tiga batu di tangannya. Giok hitam. Giok putih. Batu abu. Tiga kunci. Tiga jalan. Namun hanya satu yang benar.
"Ke tempat di mana kita bisa memilih," katanya. "Bukan dikejar. Ke tempat di mana kita bisa melihat kembali. Bukan hanya dilihat."
Ia melangkah ke pintu. Xiao Feng mengikutinya. Di belakang mereka, di halaman yang kini kosong, batu-batu yang tersisa berdenyut sekali. Sangat lemah. Sangat... sendu.
Seolah berkata selamat tinggal.
Atau: "Hati-hati. Langit tidak hanya melihat. Langit juga... menghitung."
Di atas, di tempat yang tidak punya nama, sesosok itu masih tersenyum. Namun kini, senyumnya berubah. Bukan lagi penemuan. Melainkan... penantian.
"Lari," bisiknya, suaranya tidak terdengar oleh telinga manusia. Namun terasa oleh setiap sel di tubuh Chen Long yang kini berjalan di jalan setapak menuju istana. "Lari lebih cepat. Aku suka mengejar. Aku suka... permainan."
Bulan merah berdenyut sekali. Sangat samar. Sangat... gembira.
...BERSAMBUNG ...
...****************...