NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pelanggan pergi,hutang menumpuk

Pagi di Kota Sagara terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit masih menggantungkan awan kelabu, seolah enggan benar-benar memberi terang. Di balik etalase kaca Toko Manisan Wijaya, Bima berdiri memandangi jalan yang lengang. Sesekali, kendaraan melintas, tapi jarang ada yang berhenti.

Bel kecil di pintu hampir tak berbunyi.

Hari-hari yang dulu dipenuhi antrean kini hanya menyisakan kesunyian panjang. Rak-rak permen yang biasanya cepat kosong kini tetap penuh, warnanya cerah namun terasa hampa. Setiap permen seolah menjadi saksi bisu dari reputasi yang perlahan runtuh.

“Dulu jam segini kita sudah harus menambah stok,” gumam ibu Bima pelan, sambil merapikan bungkus-bungkus manisan yang masih tersusun rapi.

Ayahnya hanya mengangguk, matanya menatap lantai. Kerutan di dahinya semakin dalam, seolah setiap garis menyimpan kekhawatiran yang tak terucap.

Bima merasakan dadanya terhimpit. Ia tahu, badai ini bukan hanya soal nama baik, tetapi juga soal bertahan hidup. Tanpa pelanggan, roda usaha tak akan berputar. Dan tanpa perputaran, kehancuran hanyalah soal waktu.

Siang itu, seorang pemasok bahan baku datang. Wajahnya tampak kaku, senyumnya dipaksakan.

“Pak Wijaya,” katanya hati-hati, “saya harus bicara soal pembayaran bulan lalu.”

Ayah Bima terdiam sesaat. “Saya tahu. Kami belum bisa melunasinya. Tapi beri kami waktu sedikit lagi.”

Pemasok itu menghela napas. “Saya mengerti, Pak. Tapi dari atas juga ada tekanan. Kalau sampai minggu depan belum ada kejelasan, kami terpaksa menghentikan pasokan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu. Bima mengepalkan tangan. Jika pasokan dihentikan, produksi akan berhenti total. Dan jika produksi berhenti, toko ini benar-benar tamat.

Sore harinya, telepon di rumah berdering tanpa henti. Tagihan listrik, cicilan mesin produksi, sewa gudang, hingga utang bank—semuanya menunggu untuk dibayar. Setiap panggilan seolah menarik seutas benang dari kesabaran mereka, sedikit demi sedikit, hingga hampir putus.

Ibu Bima mulai menghitung ulang pengeluaran, memotong hal-hal kecil yang dulu dianggap biasa seperti lauk sederhana, mematikan pendingin ruangan di beberapa ruangan, bahkan menunda pembelian obat rutin untuk ayahnya.

“Tidak apa-apa,” kata ayah Bima saat mengetahui hal itu. “Aku masih kuat.”

Namun Bima tahu, itu hanya kata-kata penghibur. Tubuh ayahnya semakin mudah lelah, langkahnya tak lagi setegap dulu.

Malam itu, Bima duduk di kamar, menatap buku catatan keuangan yang penuh angka merah. Setiap baris terasa seperti vonis. Utang menumpuk, pemasukan nyaris nol, dan masa depan tampak kabur.

Ia memijat pelipisnya, mencoba berpikir jernih. Menyerah bukan pilihan, tapi bertahan juga terasa seperti berenang melawan arus deras tanpa pelampung.

Keesokan harinya, sebuah kejadian kecil menusuk hatinya.

Seorang bocah laki-laki berdiri di depan toko, memandangi permen di etalase dengan mata berbinar. Bima tersenyum dan membukakan pintu.

“Ayo masuk,” ajaknya ramah.

Namun bocah itu menggeleng. Ia menoleh ke ibunya yang berdiri tak jauh. Sang ibu menarik tangan anaknya dengan ragu.

“Kita beli di tempat lain saja,” bisiknya, cukup pelan namun tetap terdengar.

Bima terdiam. Senyumnya membeku. Ia mengangguk sopan, meski dadanya terasa nyeri. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun kini runtuh hanya oleh bisikan fitnah.

Di saat-saat seperti itulah, keputusasaan paling mudah menyusup.

Namun, di tengah keterpurukan itu, secercah perlawanan tumbuh. Bima mengusulkan ide untuk menjual manisan secara daring, menawarkan diskon besar, dan membuat paket donasi ke panti asuhan. Ia berharap langkah itu bisa menggerakkan kembali simpati publik.

Ayah dan ibunya sempat ragu. “Kita sudah kekurangan dana,” kata ibu Bima. “Bagaimana kalau justru makin rugi?”

“Kita tidak sedang mencari untung,” jawab Bima pelan. “Kita sedang mencari kepercayaan.”

Mereka akhirnya setuju.

Hari-hari berikutnya, Bima bekerja tanpa lelah. Ia memotret produk, menulis cerita di balik setiap jenis manisan, dan membagikannya di media sosial. Ia tak lagi hanya menjual permen, tetapi juga kenangan, kejujuran, dan harapan.

Perlahan, beberapa pesanan masuk. Tidak banyak, namun cukup untuk membuat mereka bernapas sedikit lega. Beberapa pelanggan lama mengirim pesan dukungan, mengatakan mereka sengaja memesan untuk membantu.

Di sisi lain, utang tetap menumpuk. Setiap malam, Bima menghitung ulang pemasukan dan pengeluaran, mencoba mencari celah untuk bertahan satu hari lagi.

Ia mulai bekerja sambilan dengan membantu toko kelontong, mengantar pesanan, bahkan membersihkan gudang tetangga. Semua demi menambah sedikit uang. Tubuhnya lelah, pikirannya penat, tapi tekadnya tak surut.

Suatu malam, ia duduk di teras rumah, memandangi langit yang bertabur bintang. Angin membawa aroma tanah basah. Di kejauhan, suara kota terdengar samar.

“Kalau ini ujian, semoga kami lulus,” bisiknya.

Di balik kesunyian, Bima menyadari satu hal: kehilangan pelanggan dan menumpuknya utang memang menyakitkan, namun yang paling berharga belum hilang—harapan.

Selama mereka masih percaya pada kebenaran dan berani melangkah, selalu ada peluang untuk bangkit. Meski jalan di depan gelap dan berliku, Bima memilih terus melangkah, membawa beban keluarga di pundaknya, dengan keyakinan bahwa setiap malam pasti berakhir oleh fajar.

Dan tanpa ia sadari, tekanan finansial ini akan memaksanya mengambil keputusan besar, keputusan yang akan mengubah arah hidupnya selamanya.

Malam itu, Bima tak bisa memejamkan mata. Suara detik jam dinding terdengar lebih nyaring dari biasanya, seolah menghitung waktu yang tersisa sebelum segalanya runtuh. Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan berbagai kemungkinan, sebagian begitu menakutkan hingga membuat dadanya terasa sesak.

Di atas meja belajarnya, terbuka sebuah amplop cokelat berisi surat peringatan dari bank. Batas waktu pembayaran tercetak jelas, seperti garis merah yang memisahkan masa lalu dan masa depan. Jika lewat dari tanggal itu, aset keluarga mereka terancam disita.

Bima menggenggam amplop itu erat-erat. Selama ini, ayah dan ibunya selalu berusaha melindunginya dari beban keuangan. Tapi kini, ia tahu, saatnya ia memikul tanggung jawab lebih besar.

Pagi menjelang dengan cahaya pucat. Bima bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur. Ibunya sedang menjerang air, wajahnya tampak letih namun tetap berusaha tersenyum.

“Belum tidur?” tanya sang ibu lembut.

Bima menggeleng. “Bu, kita harus bicara.”

Mereka duduk berhadapan di meja makan yang sederhana. Bima menceritakan isi surat dari bank, juga kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Ibunya mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengusap mata yang mulai basah.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya ibunya akhirnya.

Bima menarik napas panjang. “Aku ingin menjual motor dan tabungan kuliahku. Setidaknya itu bisa menutup sebagian utang.”

Ibu Bima terkejut. “Tidak. Itu masa depanmu.”

“Masa depan itu tidak ada artinya kalau kita kehilangan rumah dan toko,” jawab Bima tenang, meski hatinya bergejolak. “Aku bisa cari jalan lain untuk kuliah nanti.”

Pembicaraan itu terhenti saat ayah Bima masuk ke dapur. Mendengar rencana Bima, ia langsung menggeleng tegas. “Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan semuanya.”

“Tapi, Yah....”

“Cukup,” potong ayahnya. “Tugas orang tua melindungi anaknya, bukan sebaliknya.”

Keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang benar-benar menang dalam perdebatan itu, hanya kesedihan yang kian menebal.

Siang harinya, Bima bertemu dengan Nara di sebuah kedai kopi kecil. Ia menceritakan kondisi keuangan keluarganya tanpa menyembunyikan apa pun. Nara mendengarkan dengan wajah serius.

“Kita harus mempercepat pengumpulan bukti,” katanya. “Semakin lama kasus ini menggantung, semakin besar kerugian yang kalian alami.”

“Aku tahu,” jawab Bima. “Tapi waktu kita sedikit.”

Nara terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Ada satu opsi. Berisiko, tapi bisa membuka jalan.”

“Apa itu?”

“Melakukan wawancara eksklusif dengan media nasional. Kita bongkar semuanya sekaligus.”

Bima terperangah. “Itu berbahaya. Kalau kita salah langkah, reputasi kami bisa hancur selamanya.”

“Justru karena itu, kita harus sangat siap,” balas Nara. “Jika berhasil, opini publik bisa berbalik. Sponsor dan pelanggan mungkin kembali. Tapi jika gagal…”

Nara tidak melanjutkan. Namun Bima tahu, kata “gagal” itu berarti kehancuran total.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Bima berkecamuk. Ia menimbang-nimbang risiko dan harapan. Setiap pilihan terasa seperti melangkah di atas tali tipis di atas jurang.

Malamnya, ia duduk bersama ayah dan ibunya di ruang tengah. Udara terasa berat. Dengan suara pelan, Bima menyampaikan rencana wawancara itu.

Ayahnya menatapnya lama. “Kamu siap menghadapi segala kemungkinan?”

Bima mengangguk. “Aku lebih takut melihat kita hancur perlahan daripada mencoba satu langkah besar.”

Ibunya menggenggam tangan Bima erat. “Apa pun yang terjadi, kami bersamamu.”

Keputusan itu pun diambil.

Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk persiapan. Dokumen disusun rapi, bukti-bukti diperiksa berulang, dan kronologi peristiwa ditulis sedetail mungkin. Nara melatih Bima dan ayahnya menjawab pertanyaan sulit, mengantisipasi serangan balik, dan menjaga emosi di depan kamera.

Di sela-sela latihan, Bima kerap merasa ragu. Ada malam-malam di mana ia hampir membatalkan segalanya. Namun setiap kali melihat wajah lelah orang tuanya, tekadnya kembali menguat.

Hari wawancara pun tiba.

Studio televisi nasional itu terasa dingin dan asing. Lampu-lampu besar menyilaukan mata. Mikrofon dipasang di kerah baju mereka. Detak jantung Bima terdengar di telinganya sendiri.

Saat kamera menyala, ia tahu, tidak ada jalan mundur.

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir. Tentang fitnah, tentang tekanan politik, tentang kerugian finansial. Bima menjawab dengan jujur, menahan gemetar di suaranya. Ayahnya menambahkan penjelasan dengan keteguhan yang menggetarkan.

Di akhir sesi, pewawancara bertanya, “Apa yang paling Anda harapkan dari semua ini?”

Bima menatap kamera. “Kami hanya ingin kebenaran didengar. Tidak lebih.”

Wawancara itu tayang malam itu juga. Di rumah, mereka menonton dalam diam. Setiap detik terasa seperti satu jam.

Reaksi publik datang bagai gelombang. Pesan dukungan, tawaran bantuan, dan permintaan klarifikasi berdatangan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bima merasakan harapan yang nyata.

Namun, ia juga tahu, keputusan besar ini baru awal dari pertarungan panjang. Pihak lawan tidak akan tinggal diam.

Dan di balik secercah cahaya yang mulai tampak, bayang-bayang ancaman baru perlahan merayap, menunggu saat yang tepat untuk kembali menerkam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!