Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - JEBAKAN MULAI MENYEMPIT
SEMINGGU KEMUDIAN - KANTOR MAHENDRA GROUP
Akselia sedang memeriksa jadwal keamanan Arjuna ketika Ratih masuk dengan wajah pucat.
"Selia, ada masalah."
Akselia langsung berdiri. "Masalah apa?"
"Pak Arjuna, dia baru dapat telepon dari klien Singapura. Proyeknya dibatalkan sepihak. Mereka bilang... dapat penawaran lebih baik dari perusahaan lain."
Jantung Akselia langsung tahu. "Kevin Pratama?"
Ratih mengangguk lemah. "Kemungkinan besar. Pak Arjuna sekarang di ruangannya. Dia..." Ratih menelan ludah, "...dia sangat marah."
Akselia langsung menuju ruang Arjuna. Di dalam, dia menemukan Arjuna berdiri di jendela, tangan mengepal keras di sisi tubuh.
"Pak..."
"Kevin menyogok mereka." Arjuna tidak menoleh. Suaranya rendah, berbahaya. "Dia tawarkan harga lebih murah dan akses ke pasar Eropa. Sesuatu yang tidak bisa aku tandingi."
"Masih ada cara lain, Pak. Kita bisa..."
"Tidak ada cara lain!" Arjuna berbalik, wajahnya merah menahan amarah. "Proyek itu sudah aku persiapkan enam bulan! Semua modal sudah masuk! Kalau batal sekarang, aku rugi miliaran!"
Akselia belum pernah melihat Arjuna semarah ini. Pria yang biasanya tenang dan terkontrol sekarang terlihat seperti akan meledak.
"Kevin harus dihentikan," lanjut Arjuna, berjalan mondar-mandir. "Dia sudah terlalu jauh, terlalu banyak orang yang dia injak. Termasuk aku."
"Kita punya bukti, Pak. Rekaman, foto..."
"Bukti itu tidak cukup!" Arjuna memukul meja keras. "Dia punya koneksi di mana-mana! Polisi, jaksa, media... semua bisa dia beli! Kalau kita laporkan sekarang, bukti kita akan hilang sebelum sampai ke pengadilan!"
Akselia terdiam. Arjuna benar, Kevin terlalu kuat untuk dijatuhkan dengan cara konvensional.
"Lalu apa rencana Bapak?" tanyanya pelan.
Arjuna menatapnya lama. Lalu duduk di kursi, menghela napas panjang. "Aku tidak tahu, Selia. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu harus berbuat apa."
Akselia melihat kekalahan di mata Arjuna. Dan sesuatu di dalam dirinya bangkit... amarah yang sudah lama mengendap.
"Saya tahu," katanya pelan tapi tegas.
Arjuna mengangkat kepala. "Apa?"
"Saya akan dekati Kevin lebih dalam, saya akan buat dia percaya pada saya. Dan saat dia lengah, saya akan ambil semua yang dia punya."
"Selia, itu terlalu berbahaya..."
"Pak Arjuna." Akselia menatap bosnya dengan tatapan penuh keyakinan yang kuat. "Saya punya urusan pribadi dengan Kevin Pratama. Urusan yang jauh lebih dalam dari sekadar bisnis. Dan sekarang, setelah dia serang Bapak seperti ini... urusan saya dan urusan Bapak jadi satu."
Arjuna menatapnya penuh selidik. "Urusan pribadi apa?"
Akselia menarik napas. Saatnya buka sedikit kartu.
"Kevin Pratama pernah hancurkan hidup saya. Setahun lalu. Dia pakai saya, buang saya, dan..." suaranya bergetar sedikit, "...karena dia, saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga."
Arjuna tidak bertanya lebih lanjut, dia cukup pintar untuk mengerti.
"Jadi ini memang soal balas dendam," katanya pelan.
"Ya. Tapi sekarang bukan cuma untuk saya, tapi untuk Bapak, untuk Diana. Untuk semua orang yang Kevin hancurkan." Akselia melangkah lebih dekat. "Biarkan saya lakukan dengan cara saya. Saya akan masuk ke hidupnya, saya akan buat dia jatuh cinta. Dan saat dia sudah terlalu dalam, saya akan hancurkan dia dari dalam."
Arjuna menatapnya lama. "Kamu yakin bisa lakukan itu tanpa terluka sendiri?"
"Saya sudah terluka, Pak. Tidak ada lagi yang bisa Kevin lakukan untuk sakiti saya lebih dari yang sudah dia lakukan."
Hening beberapa detik.
"Baiklah," kata Arjuna akhirnya. "Lakukan, tapi hati-hati. Kevin bukan orang bodoh, kalau dia curiga..."
"Dia tidak akan curiga, saya akan pastikan itu."
***
SORE HARI - KAFE DEKAT KANTOR KEVIN
Akselia duduk di kafe dengan pemandangan langsung ke gedung Pratama Corporation. Dia sengaja memilih tempat ini, tempat yang Kevin sering lewati setelah pulang kantor.
Dan seperti yang diprediksi pukul enam sore, Kevin keluar dari gedung, sendirian. Tanpa Karina.
Akselia pura-pura fokus pada laptop di hadapannya. Laptop pinjaman dari Diana yang penuh dengan file palsu, supaya terlihat seperti sedang kerja.
Kevin berjalan melewati kafe. Lalu berhenti, mundur beberapa langkah. Kemudian masuk begitu melihat Selia ada di sana.
"Selia?" suaranya terdengar terkejut tapi senang. "Kebetulan sekali."
Akselia mengangkat kepala, pura-pura kaget. "Kevin. Halo."
"Boleh aku duduk?"
Akselia ragu sebentar, cukup lama untuk terlihat tidak terlalu antusias. Lalu mengangguk. "Silakan."
Kevin duduk di hadapannya, memesan kopi espresso. "Kamu sering ke sini?"
"Kadang-kadang, kalau butuh tempat tenang untuk kerja."
Kevin melirik laptop. "Kerja apa? Bukankah tugasmu cuma jaga Arjuna?"
"Saya juga bantu administrasi ringan. Jadwal, laporan keamanan, hal-hal seperti itu."
Kevin mengangguk, tersenyum. "Rajin sekali, Arjuna beruntung punya kamu."
"Saya yang beruntung punya bos yang baik."
"Bos yang baik?" Kevin tersenyum miring. "Atau bos yang sedang rugi proyek besar gara-gara aku?"
Akselia menatapnya tajam. "Kamu bangga dengan itu?"
"Bangga? Tidak... Itu cuma bisnis." Kevin bersandar santai. "Arjuna harus belajar bahwa di dunia ini, yang kuat yang menang. Bukan yang baik."
"Dan kamu pikir kamu kuat?"
"Aku tahu aku kuat." Kevin menatapnya langsung. "Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku kuasai."
"Apa?"
"Kamu."
Akselia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, tapi dia pertahankan wajah datar. "Aku bukan benda yang bisa dikuasai, Kevin."
"Aku tahu itu, makanya aku tertarik." Kevin meraih tangannya di atas meja, sentuhan lembut tapi intens. "Selia, aku serius. Aku mau kenal kamu lebih dalam. Aku mau..."
Akselia menarik tangannya. "Kamu punya tunangan, Kevin. Dan selingkuhan, mungkin lebih dari satu. Kenapa kamu pikir aku mau jadi bagian dari kumpulan itu?"
Kevin terdiam. Lalu dia tertawa kecil, tawa yang terdengar... menyerah? "Kamu tahu tentang Bella?"
"Semua orang tahu kalau mereka memperhatikan."
"Aku akan putus dengan Bella," kata Kevin tiba-tiba. "Dan aku akan batalkan pertunangan dengan Karina."
Akselia tersentak... benar-benar terkejut kali ini. "Apa?"
"Kamu dengar? Aku akan akhiri semuanya, demi kamu." Kevin menatapnya dengan tatapan yang terlihat... tulus? "Aku tidak pernah seserius ini pada siapa pun, Selia. Bahkan tidak pada Karina, tidak pada Bella. Kamu... kamu beda."
Ini terlalu cepat, terlalu mudah. Pasti ada jebakan yang Kevin sembunyikan.
"Kenapa?" tanya Akselia pelan. "Kenapa tiba-tiba?"
"Karena aku lelah main-main. Aku lelah dengan hubungan palsu, aku mau sesuatu yang nyata." Kevin meraih tangan Akselia lagi, kali ini lebih erat. "Dan aku rasa, aku bisa dapat itu darimu."
Akselia menatap tangan Kevin yang menggenggamnya. Tangan yang sama yang dulu memeluknya dengan lembut, tangan yang sama yang membuangnya tanpa ampun.
Dia harus bermain pintar sekarang.
"Aku..." dia pura-pura ragu, "...aku tidak tahu, Kevin. Ini terlalu cepat, terlalu... rumit."
"Aku akan selesaikan semua kerumitannya, kamu cuma perlu kasih aku kesempatan." Kevin tersenyum, senyum yang dulu selalu berhasil melelehkan Akselia. "Satu kesempatan, itu saja yang kuminta."
Akselia diam lama, pura-pura berpikir. Lalu perlahan dia mengangguk.
"Satu kesempatan," katanya pelan. "Tapi kalau kamu mengecewakan aku..."
"Aku tidak akan." Kevin menggenggam tangannya lebih erat. "Aku janji."
Janji... Kata yang sama yang Kevin ucapkan setahun lalu.
Sama seperti setahun lalu, semua itu bohong. Tapi kali ini, Akselia yang bermain dengan kebohongan. Dan dia akan pastikan Kevin merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan.
Bahkan lebih.
***
MALAM HARI - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia menatap ponselnya, pesan dari Diana.
[Kevin batalkan pertemuan dengan Karina malam ini. Katanya ada urusan mendadak, ini gara-gara kamu kan?]
[Ya, dia bilang mau putus dengan Bella dan batalkan pertunangan.]
[SERIUS?! Selia, ini luar biasa! Dia benar-benar tergila-gila padamu!]
[Atau dia cuma akting, aku belum percaya sepenuhnya.]
[Entah akting atau tidak, ini kesempatan emas. Terus dekati dia, buat dia jatuh lebih dalam. Lalu kita serang saat dia paling lemah.]
Akselia menatap percakapan itu, lalu menatap refleksinya di jendela gelap.
Siapa dia sekarang?
Akselia yang dulu mencintai Kevin? Atau Selia yang berpura-pura mencintai Kevin untuk menghancurkannya?
"Aku Akselia Kinanti," bisiknya pada refleksi. "Dan aku tidak akan lupa."
Tapi bayangan keraguan semakin besar.
Dan untuk pertama kalinya, dia takut pada dirinya sendiri. Takut pada sejauh mana dia bisa pergi demi balas dendam.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?