Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERAN UTAMA SUAMI
Dengan marah, Maya menelepon nomor Riko tapi tidak aja jawaban,
Saat ini ia bersama Pak Hamdan, drivernya Hania menuju apartemen Riko. Maya tau tempat tinggal dari pria itu karena Riko sendiri yang sempat mengatakannya.
"Shit! Pria brengsek! Kemana dia?!" gumam Maya.
Setelah beberapa saat di jalan, akhirnya sampai.
"Pak Hamdan, tunggu sini ya. Saya masuk dulu" ucap wanita itu.
"Iya Non" sahut Hamdan.
Maya keluar mobil dan masuk lobby mewah apartemen Riko.
Baru saja masuk, ternyata Riko baru sampai lobby juga dengan pakaian olahraga. Sepertinya hbis jogging. Hp nya sengaja ia tinggal karena tidak ingin diganggu saat lari pagi. Ia lebih memilih memakai MP4.
Tanpa curiga dan mengira Maya datang kepadanya karena sudah menyerah akan Juan.
"Mayaaa!" serunya berlari hingga sejajar dengan Maya.
Maya pun berhenti melangkah dan menatap tajam pria disampingnya. Tanpa aba aba, suara tamparan keras terdengar diantara mereka.
PLAK!!
Maya menampar pipi kiri Riko.
Pria itu memegang pipinya. Sudut bibir berdarah. Wajahnya terlihat kebingungan.
"A..apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Jangan sok tidak tau kamu hah? Kamu yang mengirim amplop misterius ke orang tuaku kan bajingan? Brengsek kamu! Daddi ku sampai masuk rumah sakit gara gara kamu" jawab Maya dengan emosi.
Banyak orang yang berada di lobby itu tapi tidak ingin ikut campur hanya bisa mencuri pandang.
Riko terlihat memang benar benar kebingungan dengan tuduhan tiba tiba dari wanita yang ia cintai ini.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria masuk ke lobby menyusul Riko.
"Ko..kamu kok ning..." belum juga selesai berbicara, suaranya tercekat saat melihat Maya.
"Loh ada Maya disini" sapa pria itu, Maya hanya melirik dan kembali memandang wajah Riko dengan tajam.
"Jika terjadi apa apa dengan daddiku, lihat aja ya aku akan rela membunuhmu dan masuk penjara" ancam Maya.
Pria disamping Riko terkejut dengan ucapan Maya.
"Apa yang terjadi ini?" tanyanya.
"Biarkan dia mengatakan apapun yang ingin dia katakan, To" jawab Riko.
Ternyata yang jogging bersama Riko pagi ini adalah Tito.
"Aku tidak ada niatan sedikit pun untuk menyakiti orang yang aku sayangi baik itu keluarganya" lanjut Riko.
"Bullshit! Kamu tidak pernah cinta sama aku, Ko! Obsesimu jahat! Dan aku menyesal telah membiarkanku tenggelam dalam obsesimu itu" sahut Maya lalu berniat meninggalkan Riko dan Tito di lobby apartemen tapi tangannya dicekal.
"Asal kamu tau, Maya. Aku benar benar tidak ada niatan untuk menyakitimu atau keluargamu" ucap Riko lalu tangannya dihentakkan oleh Maya.
Wanita itu tak menghiraukan perkataan Riko malah tetap keluar dari lobby.
Riko dan Tito melihat Maya masuk mobil lalu pergi dari kawasan apartemen.
"Gila emang lu bro! Rencananmu emang gila" celetuk Tito dan Riko malah tersenyum tipis.
"Apapun akan aku lakukan untuk membuatnya bercerai" sahut Riko lirih.
"Kamu malah buat Maya makin benci kamu" ujar Tito.
"Bencinya hanya sementara. Aku yakin dia masih mencintaiku" ucap Riko percaya diri.
"Aish! Emang sulit bilangin orang yang lagi jatuh cinta! Kayak ngomong apa batu" sindir Tito.
"Udah yok, ke apartemenmu. Kita jam 9 ada temu klien" lanjutnya sambil berjalan lebih dulu didepan dan Riko mengikuti.
Didalam mobil, Maya tak menangis lagi tapi sangat marah saat membayangkan raut wajah Riko yang innocent.
Pak Hamdan, sebagai driver pun diam saja, tidak berani memulai pembicaraan sampai pulang kerumah majikannya.
Lebih cepat dari dugaan Hania, adik iparnya sudah sampai kembali ke rumah jam set9an. Maya keluar sekitar 1 jam lebih lalu sudah kembali.
"Udah pulang" celetuk Hania, saat mereka berpapasan di ruang makan.
"Udah kak. Kak Lingg gak curiga?" tanya Maya.
"Nggak, dia sama anak anak masih main di taman belakang" jawab Hania.
"Ayo sarapan bareng" ajaknya kemudian.
"Iya kak, bentar. Mau ganti baju dulu" sahut Maya lalu berjalan ke kamarnya.
Hania mengangguk dan melanjutkan menata sarapan dibantu oleh asisten rumah tangga.
Saat Maya sampai ke kamar, dirinya langsung mengganti baju dan memandang penampilannya di kaca.
"Kenapa aku tidak bisa berkutik didepan Riko hah? Kenapa hanya tamparan saja yang keluar? Seharusnya aku pukul dia sampai babak belur" gumamnya sendiri.
"Dia menghancurkan rumah tanggaku yang memang sudah retak, dia menjadi alasan anakku diragukan dan dihilangkan ayah kandungnya sendiri. Riko benar benar brengsek!" lanjutnya.
Tak ingin berlarut2 ngomelin Riko, Maya memilih keluar kamar dan berjalan ke taman belakang melihat kakak serta kedua keponakannya bermain air di kolam.
"Akhirnya kamu keluar kamar juga, May" sapa Lingga.
"Hehe iya kak, maaf bangun kesiangan" sahut Maya.
"Tanteee, ayoo renang sama kita" ajak Isabel.
"Ayoo tante" tambah Baim.
"Dingin sayang..tante disini ajaa lihat kalian" sahut Maya yang sudah duduk di kursi panjang sisi kolam renang.
Tak lama kemudian Hania masuk di taman belakang sambil membawa handuk.
"Ayooo ayooo, udah selesai renang paginya. Udah hampir 2 jam ya kalian dalam air. Ayo mandi terus sarapan" ucap nyonya dirumah itu.
"OKE MAMI!!" seru Baim dan Isabel serentak.
Kedua anak itu benar benar menurut dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu tanpa protes.
Baim dan Isabel bergantian berlari pelan kearah ibunya untuk mendapatkan handuk.
"Hati hati masuk rumahnya, nanti kepeleset" ucap Hania.
"Siap, mam" sahut Baim dan Isabel bergantian.
Keduanya masuk ke rumah dan bertemu dengan bibi art yang ikut membesarkannya. Bibi Sofi namanya.
"Ayo mas, kamu juga segera kelar renangnya" ucap Hania.
"Iya sayang..sini handuknya" minta Lingga sambil menggunakn kode tangan terangkat untuk melambai ke arah istrinya.
"No ya! Jangan bikin gara gara loh, Mas" curiga Hania.
Lingga tersenyum tipis.
"Aaah gak asik kamu! Padahal aku mau bikin kamu ikutan basah" godanya.
"Udah pernah sekali aku kena tipu muslihatmu dan basah kuyup. Sekarang ayo kamu naik sini" sahut Hania dan Lingga menurut.
Pria itu keluar kamar mandi dan berjalan kearah Hania, tanpa aba aba dengan tubuhnya yang basah, ia memeluk sang istri.
"AAAAAKH!!! MAAASSSS!!! KAMU YA!!" teriak Hania kesal.
"Biar kita sehati sayaaang" celetuk Lingga.
Maya yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis dan memuji keromantisan kakaknya dalam hati.
"Ih! Aku basah tau!" omel Hania sambil mendoronh tubuh suaminya.
"Ayo mandi bareng" ajak Lingga.
"Hust! Ada Maya. Sana pergi mandi, Mas" ujar Hania.
Lingga tertawa.
"Hahahhahaa..aku memang suami suami takut istri. Maunya nurut aja sama kamu" sahutnya.
"Udaah sanaaaa mandi" suruh Hania sambil mendorong tubuh suaminya kearah pintu masuk kedalam rumah dari taman belakang.
Lingga pun pergi.
Maya berdiri dan berjalan kearah Hania.
"Kak, aku senang melihatmu bersama Kak Lingga sebahagia ini" ucapnya.
"Kamu tau Maya, kenapa rumah tangga itu bisa bertahan dan semakin bertumbuh berkembang menjadi bahagia?" tanya Hania.
Maya menggeleng.
"Itu karena dalam rumah tangga ada kerjasama. Kita jadi teamwork, ada suami, istri, dan anak. Bonusnya ada art, penjaga rumah, dan driver untuk menjalankan rumah tangga ini bagi yang mampu. Tapi kamu tau lagi apa yang membuatnya seperti itu dan paling utama?" tanya Hania lagi dan Maya masih belum tau jawabannya.
"Suami yang berniat untuk membahagiakan keluarganya serta mencari ridho Allah dalam berumah tangga. Semua kebahagiaan rumah tangga ini ada ditangan Mas Lingga. Dia pintar membangun suasana dirumah menjadi asyik dan seru tapi kadang kadang ya agak keras. Aku yang bertugas melunakkannya" jawab Hania.
Maya mendengar dengan seksama.
"Alhamdulillah sekali aku berjodoh dengan kakakmu. Meskipun rumah tangga kita diawal juga tidak mulus meskipun karena cinta, tapi kita bertahan" lanjut Hania.
Maya mencoba mengerti dan Hania tersenyum pada adik iparnya.
"Suatu hari nanti, kamu pasti akan merasakannya, sayang. Percayalah ada pelangi setelah badai. Kamu akan bahagia" ucap Hania sambil memeluk Maya singkat.
"Udah yok ke ruang makan. Aku juga mau ganti baju dulu, gara gara kakakmu ini aku harus ganti baju kalau gak gitu masuk angin" ajak Hania.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah.