NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PULAU TANPA NAMA

Dunia terasa seperti sebuah memori yang terbakar di belakang mereka. Di Pulau Eilean na h-Oidhche—sebuah gundukan tanah berbatu di tengah Laut Utara yang hanya dihuni oleh domba-domba liar dan sisa-sisa reruntuhan biara tua—Elara menemukan jenis keheningan yang berbeda. Ini bukan keheningan rumah sakit yang steril, bukan pula keheningan apartemen London yang kesepian. Ini adalah keheningan purba, di mana suara satu-satunya yang tersisa adalah detak jantung alam yang jujur.

Satu minggu telah berlalu sejak pelarian dramatis dari dermaga Skotlandia. Di dalam sebuah gubuk nelayan yang mereka pinjam, Elara duduk di dekat jendela, memperhatikan Arlo yang sedang berdiri di tepi tebing. Arlo tidak lagi memegang gitar. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya, seolah-olah ia sedang mencoba membasuh setiap sisa distorsi yang pernah meracuni otaknya.

Di sudut ruangan, Jamie sedang berkutat dengan sebuah radio transistor tua yang baterainya hampir habis. "Marcus sudah resmi dipecat dari *Echo & Distortion*," gumam Jamie, suaranya parau. "Dewan direksi merilis pernyataan bahwa mereka tidak tahu-menahu tentang 'eksperimen suara' yang dilakukan Marcus. Dia sekarang menghadapi puluhan tuntutan hukum dari mantan artisnya. Namanya sudah tamat, El."

Elara menarik napas panjang, merasakan udara asin mengisi paru-parunya. "Bagaimana dengan kita?"

Jamie menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Internet masih membicarakan siaran itu. Kau sekarang dikenal sebagai 'The Lady of the Resonance'. Orang-orang membuat petisi untuk mendukungmu, tapi ada juga yang masih mencarimu. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana kau bertahan. Kau bukan lagi sekadar akuntan, El. Kau adalah simbol pemberontakan melawan industri."

"Aku tidak ingin menjadi simbol," bisik Elara. "Aku hanya ingin menjadi Elara yang bisa tidur nyenyak tanpa suara statis di telingaku."

Elara berdiri dan berjalan keluar, mendekati Arlo di tepi tebing. Rumput laut yang basah terinjak di bawah kakinya, mengeluarkan aroma amis yang segar. Saat ia sampai di samping Arlo, ia melihat pria itu sedang memegang sebuah batu kecil.

"Apa yang kau pikirkan, Ar?" tanya Elara.

Arlo menoleh. Matanya tidak lagi tampak seperti kaca retak. Mereka tampak lebih jernih, seperti air danau setelah badai reda. "Aku sedang memikirkan tentang frekuensi ombak di bawah sana. Selama sepuluh tahun, aku mencoba merekamnya, memodifikasinya, menjadikannya latar belakang suaramu. Aku pikir aku bisa memiliki alam melalui musikku."

Ia melemparkan batu itu ke laut. *Plung.* Suara kecil itu langsung hilang ditelan raungan ombak.

"Ternyata, keindahan itu ada karena kita tidak bisa memilikinya," lanjut Arlo. "Selama ini aku salah, El. Aku pikir cinta itu seperti rekaman yang bisa diputar berulang-ulang tanpa cacat. Tapi cinta itu sebenarnya adalah suara live—ia hanya terjadi sekali, ia punya kesalahan, ia punya nada sumbang, dan ia tidak akan pernah bisa diulang dengan cara yang sama."

Elara menggenggam tangan Arlo. "Kita sedang melakukan pertunjukan live sekarang, Ar. Dan ini adalah bagian favoritku."

Namun, di tengah kedamaian sementara itu, Elara menyadari bahwa trauma tidak hilang hanya karena musuh mereka telah jatuh. Setiap malam, ia masih mendengar Arlo mengigau dalam tidurnya, meneriakkan angka-angka frekuensi yang sudah terbakar. Setiap kali Elara mendengar suara mesin perahu di kejauhan, jantungnya seolah berhenti berdetak, takut jika itu adalah Marcus yang datang kembali.

Trauma adalah gema yang paling sulit dipadamkan. Ia memantul di dinding-dinding kesadaran kita, melemah seiring waktu, namun tidak pernah benar-benar lenyap.

Malam itu, badai kembali datang. Gubuk nelayan mereka bergetar hebat ditiup angin. Elara terbangun karena kedinginan. Ia melihat Arlo duduk di lantai, di depan perapian yang sudah mati. Arlo sedang memegang sepotong kayu arang, dan di lantai batu gubuk itu, ia mulai menggambar sesuatu.

Elara mendekat. Di lantai itu, Arlo tidak lagi menggambar rasi bintang atau grafik matematika. Ia menggambar sebuah wajah. Wajah Elara. Tapi bukan wajah Elara dari sepuluh tahun lalu, melainkan wajah Elara yang sekarang—dengan garis-garis halus di sudut mata karena kelelahan, dan ekspresi yang lebih kuat.

"Aku sedang mencoba mengingat bagaimana rasanya melihat tanpa mendengar," bisik Arlo tanpa menoleh. "Selama ini, aku hanya mendengarmu melalui speaker. Aku lupa bagaimana carany melihatmu sebagai manusia yang ada di depanku."

Elara berlutut di samping Arlo, mengambil arang itu dari tangannya. "Kalau begitu, lihatlah. Aku di sini. Tidak ada distorsi, tidak ada reverb. Hanya aku."

Mereka duduk berdekatan di tengah kegelapan pulau yang terisolasi. Di luar, dunia mungkin sedang ricuh dengan berita tentang mereka, tapi di dalam gubuk itu, mereka sedang membangun kembali fondasi diri mereka yang hancur. 104 bab ke depan tidak akan lagi tentang melarikan diri dari orang lain, melainkan tentang belajar bagaimana hidup dengan diri mereka sendiri—dengan luka-luka yang mereka bawa dan dengan keheningan yang baru saja mereka temukan.

Bab 16 ditutup dengan fajar yang menyingsing di atas Eilean na h-Oidhche. Jamie keluar dari gubuk, membawa kabar bahwa persediaan makanan mereka menipis dan mereka harus segera memutuskan: tetap bersembunyi di pulau ini selamanya, atau kembali ke dunia dan menghadapi gema yang telah mereka ciptakan.

"Kita akan kembali," kata Elara tiba-tiba.

Arlo menatapnya terkejut. "Ke mana?"

"Ke tempat semuanya dimulai," jawab Elara dengan keyakinan yang baru. "Ke Manchester. Tapi bukan sebagai hantu. Kita akan kembali untuk mengambil kembali hidup kita yang tertinggal di sana."

Keputusan itu menandai berakhirnya fase pelarian mereka. Kini, saatnya bagi Elara Vance dan Arlo untuk menata ulang simfoni hidup mereka di tengah kota yang pernah menghancurkan mereka.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!