Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Not Romantic
Rutinitas perkuliahan rasanya tak akan pernah ada habisnya jika belum resmi lulus dan menyandang gelar sarjana.
Walau tubuh terasa lelah karena semalam baru pulang dari bercamping, tapi tanggungjawab yang menanti sebagai mahasiswa semseta 5 membuatnya harus memaksa untuk masuk meski enggan rasanya.
Memarkirkan motornya seperti biasa, Luca melepas helmnya terlebih dulu sebelum turun dari motor kesayangannya. Di saat yang sama, sebuah mobil jenis sedan berwarna hitam terlihat melintas di depannya dan berhenti tak jauh dari tempatnya berada.
Memperhatikan mobil itu dengan seksama, seorang laki-laki dengan balutan jas berwarna hitam terlihat keluar dari pintu pengemudi lalu membukakan pintu penumpang yang ada di belakang.
Itu Aurora ternyata. Membungkuk hormat, laki-laki itu pun kembali masuk ke dalam mobilnya lalu pergi. Sementara Aurora langsung masuk ke dalam gedung tempat dimana kelasnya berada.
***
Jam mata kuliah pertama baru saja usai, dosen yang mengajar juga sudah keluar kelas. Membereskan buku-bukunya, Luca bangkit dari tempatnya untuk menuju kantin. Tadi dia sudah memiliki janji dengan Rion untuk bertemu di sana sembari makan siang bersama.
Di tengah perjalanan, Luca tak sengaja melihat Aurora yang juga baru keluar dari kelasnya. Sepertinya dia juga ingin ke kantin karena arah langkah mereka terlihat sama.
Melangkah lebih cepat untuk menegur, namun Luca kalah cepat saat Kenzo tiba-tiba muncul dan langsung menarik Aurora begitu saja sama seperti biasanya. Tapi untungnya, kali ini Aurora berhasil memberontak dan melepas cengkraman sebelum Kenzo membawanya lebih jauh lagi.
"Lo ngapain lagi sih? Belum puas juga gangguin gue setiap hari??" Marah Aurora memberanikan diri untuk melawan. Sudah cukup selama ini dia hanya diam dan pasrah karena rasa takut yang membelenggu hatinya.
"Gue gak bakalan berhenti buat gangguin lo sebelum kita bisa balikan kayak dulu lagi." Sahut Kenzo tegas dan seenaknya.
"Jangan pernah ngarep Kenzo! Sampe kapanpun, gue gak akan pernah mau buat balikan lagi sama lo!"
"Itu artinya lo harus selalu siap kalo gue bakal ada di hidup lo setiap saat." Meraih tangan Aurora kembali untuk di tarik, Kenzo memaksa Aurora untuk ikut bersamanya.
"Lepasin Kenzo! Sakit." Pinta Aurora sedikit berteriak seraya berusaha melepaskan diri dari cengkraman Kenzo. Namun kali ini tak berhasil karena Kenzo mencekal tangannya lebih kuat daripada tadi.
"Gak! Gue gak bakalan lepasin lo!" Entah kemana Kenzo akan membawa Aurora pergi, yang jelas, langkah mereka saat ini menuju tempat parkir.
Soal mahasiswa yang melihat keduanya, mereka semua sama sekali tak terlihat peduli apalagi berniat untuk membantu Aurora. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Entah power apa yang Kenzo miliki sampai tak ada satupun orang yang berani menegur kelakuannya.
"Woi!! Lo budeg apa gimana??" Teriak seseorang menghentikan langkah keduanya dan membuat mereka spontan menoleh ke belakang.
"Kalo dia bilang lepas ya lepasin! Kenapa masih ngotot aja sih?! Jangan kasar dong sama cewek??" Ucapnya lagi seraya melepas tangan Aurora dari genggaman Kenzo dengan paksa.
"Lo lagi lo lagi. Suka banget lo jadi pahlawan kesiangan buat Aurora? Emang lo siapanya dia sampek segitunya sok jagain dia?? Pacar?" Tanya Kenzo tersulut emosi. Karena lagi dan lagi selalu ada Luca yang berhasil menggagalkan rencananya untuk membawa Aurora pergi.
Apa belum ada satupun orang yang memberitahu Luca siapa dirinya? Berani mengganggu kesenangannya itu artinya dia dengan senang hati membuat hidupnya sengsara.
"Soal siapa gue, itu bukan urusan lo. Yang jelas, lo harus mulai jauhin dia dari sekarang. Atau gak~" Tersenyum miring dan berpaling sekilas, Luca menatap Kenzo tajam memberi peringatan.
"Atau gak apa?? Gak usah sok deh lo! Lo itu cuma anak baru di sini dan belum tahu apa-apa. Jadi, gak usah macem-macem sama gue!" Sahut Kenzo memotong dan malah menantang sekaligus mengancam Luca.
"Siapa yang mau macem-macem? Gue cuma minta lo buat jauh-jauh dari Aurora. Simple." Bukannya takut, Luca Justru memperlihatkan senyum lebar berbau ledekan yang membuat Kenzo semakin kesal.
"Brengsek!!" Umpat Kenzo marah dan melayangkan pukulannya. Tapi, karena Luca dengan cepat menghindar, pukulan itu tak jadi mengenainya dan hanya membuat Kenzo terhuyung ke depan dan hampir terjatuh.
"Masih aja lo pake kekerasan. Sekarang udah gak jaman bro pake kayak gituan." Ledek Luca tertawa menatap Kenzo yang tak berhasil melayangkan pukulannya.
"Mending, lo gunain tenaga lo itu buat kegiatan yang lebih bermanfaat. Jangan buang percuma. Sayang, masih muda tapi gak bisa apa-apa." Lanjutnya memberi saran.
"Yuk Ra." Meraih tangan Aurora untuk di genggam, Luca membawa Aurora pergi bersamanya meninggalkan Kenzo di sana.
"Sialan! Awas aja. Gue pastiin dia bakalan nyesel karena udah berani sama gue." Mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, Kenzo menatap kepergian keduanya penuh kebencian lalu pergi meninggalkan tempat itu.
***
Datang dengan nampan berisi makanan dan minuman, Alice, Rion dan Audrey meletakkan itu di atas meja lalu duduk di kursi yang kosong.
"Aurora belum dateng juga?" Tanya Alice celingukan mencari temannya itu.
"Belum. Gak tau tuh nyantol kemana, lama banget." Sahut Aline mengambil bagiannya. Makan siang pilihannya kali ini steak.
"Itu dia." Beritahu Audrey menunjuk Aurora dan Luca yang baru saja memasuki area kantin dengan dagunya.
"Kok bisa barengan gitu?" Tanya Alice heran namun penasaran.
Sementara itu, Luca yang sejak tadi belum melepas genggaman tangannya akhirnya melepasnya dengan sendirinya.
"Lo mau makan apa?" Tanya Luca memberi tawaran seraya mengalihkan pandangan ke semua tempat yang menjual makanan.
"Itu aja." Tunjuk Aurora pada salah satu penjual burger setelah memikirkannya sejenak.
"Oke. Sama es teh kan?" Tersenyum dan mengangguk, Aurora mengiyakan.
Sembari menunggu Luca membeli makanan mereka, Aurora mengalihkan pandangannya ke seluruh tempat yang ada di depannya. Berharap menemukan meja kosong untuk mereka bisa makan.
Sedangkan Alice dan teman-temannya yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik keduanya justru di buat bingung karena melihat Aurora yang celingukan gak jelas.
"Dia gak liat kita?" Tanya Alice memastikan entah pada siapa.
"Kayaknya." Sahut Audrey seraya menyeruput mienya.
Mengambil HP di atas meja, Aline langsung berinisiatif menelfon Aurora untuk memberitahukan keberadaan mereka pada sang sahabat.
"Kenapa Line?" Tanya Aurora saat mengangkat panggilan itu.
^^^"Lo yang kenapa? Ngapain berdiri di situ?"^^^
"Kalian dimana?" Kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, Aurora berharap kali ini dia bisa menemukan kehadiran teman-temannya.
^^^"Meja paling ujung belakang, sebelah kiri, pojok, deket jendela."^^^
Belum mematikan panggilannya, Aline mengangkat tangannya ke atas dan melambatkannya untuk memberi Aurora tanda lebih jelas karena sang sahabat yang masih terlihat kesulitan mencari sebab saking banyaknya mahasiswa yang ada di sana.
Tersenyum lega, Aurora membalas lambaian tangan Aline seraya tersenyum sebagai isyarat jika dia sudah menemukannya.
Mematikan panggilan itu, Aurora kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana dan menunggu Luca yang kebetulan juga sudah selesai dengan pesanannya.
"Kok masih berdiri di sini?" Tanya Luca kaget juga bingung seraya melangkah mendekati Aurora.
"Gak papa, yuk." Melangkah beriringan, keduanya menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu.
Sebenarnya, Aurora sudah menawarkan bantuan untuk membawakan minuman mereka, tapi Luca menolak dengan alasan jika dia bisa melakukannya sendiri.
"Kalian berdua darimana aja? Kenapa baru dateng?" Ucap Rion yang langsung melemparkan pertanyaan. Padahal Aurora dan Luca saja belum duduk di sebelah mereka.
"Gak kemana-mana. Tadi ada sedikit insiden, makanya kita agak lama." Jawab Luca seraya menyiapkan makanan dan minuman untuk Aurora agar dia bisa langsung menikmatinya.
"Insiden apa?" Tanya Alexa.
"Biasa... Si Kenzo. Dia maksa mau bawa pergi Aurora."
"Terus, lo gak papa kan Ra? Dia gak sempet ngapa-ngapain lo kan?" Tanya Audrey khawatir.
"Untungnya gak. Tadi Luca dateng tepat waktu buat nolongin gue."
"Gue bingung sama tuh cowok. Gak ada habis-habisnya dia gangguin lo mulu. Terobsesi atau apa sih dia?" Ucap Rion menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak tau juga." Mengedikkan bahu acuh, Aurora malah menyomot kentang goreng milik Audrey yang masih belum habis.
"Tapi Ra, lo bilang bokap lo nyiapin pengawal buat lo 24 jam kan? kemana mereka?" Tanya Alexa setelah menyelesaikan makannya dan menyeruput minumannya.
"Ini area kampus Lexa, mana mungkin gue biarin mereka berkeliaran di sini."
"Kalo gitu percuma dong. Buktinya Kenzo masih bisa gangguin lo kalo lo lagi di kampus." Sahut Audrey menimpali.
"Kalo menurut gue, lo mending biarin mereka buat ada di sekitar lo. Jadi, kalo Kenzo coba-coba macem-macem, ada mereka yang bisa nolongin lo." Balas Alice memberi saran.
"Gue setuju. Biar dia juga tahu kalo lo gak bisa seenaknya dia ganggu." Ucap Alexa.
Tak menanggapi ucapan teman-temannya lebih jauh, Aurora memilih menikmati burgernya dengan tenang. Sementara Luca yang tadi memesan sushi masih belum menyentuh makanannya sama sekali. Dia justru terlihat asyik dengan pikirannya dan memandangi wajah Aurora yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Ra?" Panggil Luca seraya mengelap sudut bibir Aurora yang terkena saos dengan ibu jarinya.
"Hm?" Gumam Aurora karena dia masih mengunyah makanannya. Sama sekali tak terpesona dengan perlakuan manis yang Luca berikan padanya. Padahal, teman-temannya yang melihat hal itu sama terkejut dan tak percaya Luca berani melakukan itu pada Aurora di depan mereka.
"Nikah sama gue mau gak?"
"Huh?" Kaget mereka semua saat mendengar ajakan tiba-tiba Luca.
Bahkan, saking terkejutnya Aurora sampai tersedak karena tak menyangka jika itu yang akan dibicarakan Luca. Beruntung, Alice yang duduk di sebelahnya dengan sigap memberikan minumannya seraya menepuk-nepuk dan mengusap tengkuk Aurora pelan.
Uhuk uhuk uhuk...
"Astaga Luca.... Bisa gak sih kalo becanda itu tau tempat? Gue bisa mati keselek tau gara-gara lo." Cerocos Aurora kesal karena tenggorokannya terasa gara-gara tersedak.
"Gue gak becanda. Gue serius. Nikah sama gue yuk?" Masih dengan ekspresi yang sama, Luca kembali menyampaikan keinginannya.
"Huh??" Kaget Aurora dengan wajah cengoknya.
"Woi!! Lo ngajakin nikah kayak ngajakin beli permen." Tegur Audrey memukul kepala Luca dengan sendok karena menganggap hal itu hanya candaan belaka.
"Emang harus gimana?" Tanya Luca polos apa adanya.
"Romantis dikit lah.... Atau apa gitu? Aneh lo." Celetuk Alice kesal.
"Sayang..... Luca mana biasa kayak gitu. Dia bukan tipe orang yang suka bertele-tele." Sahut Rion menimpali seraya tersenyum dan menggelengkan kepala tak percaya dengan tingkah sahabatnya itu barusan.
"Mau gak Ra?" Tanya Luca sekali lagi. Terlihat jelas tak ada keraguan yang Luca perlihatkan dari tatapan matanya.
"Lo serius?" Mengangguk pasti, Luca tersenyum untuk lebih meyakinkan.
"Astaga. Sumpah. Gak ngerti gue sama jalan pikiran nih cowok. Lamar anak orang gak ada istimewanya sama sekali. Di kantin kampus lagi." Ucap Alexa menghela nafas pasrah dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Unik tahu Lexa. Belum ada juga kan cowok yang kayak Luca gini. Antik." Balas Aline yang justru terkesima dengan cara Luca menyatakan perasaannya.
"Ye.... Lo kata barang, antik."
"Jadi, mau gak Ra?" Untuk ketiga kalinya Luca mempertanyakan hal yang sama. Membuat Aurora kebingungan jawaban apa yang harus dia berikan.
"Harus banget gue jawab sekarang?"
"Ya gak juga sih. Kapanpun lo siap buat jawabnya."
"Brutal lo bro. Belum apa-apa udah ngajakin nikah aja. Minimal kenalan dulu atau pdkt lah..." Ucap Rion terkekeh seraya merangkul bahu Luca dan mengusapnya.
"Kan udah kenal, kenapa juga harus pdkt?"
"Wah.... Emang, temen gue yang satu ini out of the box banget."
"Kenapa langsung nikah? Gak pacaran dulu aja?" Tanya Alice penasaran.
"Kenapa harus pacaran kalo bisa langsung nikah?" Bukannya memberi jawaban, Luca Justru melempar pertanyaan yang membuat mereka geleng-geleng kepala dan tepok jidat bersama.
"Wah.... Bener-bener...." Kekeh Rion tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Kepintarannya dalam segala hal rupanya tak berbanding lurus dengan urusan percintaan.
"Menurut gue pacaran itu buang-buang waktu dan percuma." Ucap Luca mendadak serius seraya tersenyum dan melirik Rion di sebelahnya.
"Nyindir bro?" Tanya Rion yang langsung peka dengan ucapan Luca barusan.
"Gak. Tapi kalo krasa ya syukur."
"Sialan lo."
"Tapi kan dengan pacaran kalian bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain." Sahut Audrey memberikan pandangan.
"Tapi gak 100%. Kalo gak cocok ujung-ujungnya berantem atau putus. Sedangkan kalo nikah... Kita punya tujuan yang lebih jelas dan bisa selesein setiap masalah yang ada lebih bijak lagi. Jadi, keputusan yang di ambil pun bukan karena egois."
"Nikah itu sekali seumur hidup Luca. Gak bisa dianggap sepele apalagi main-main." Balas Audrey menasehati.
"Gue gak nganggep main-main kok. Gue udah siapin semuanya. Dan dari awal gue emang pengen serius sama Aurora."
"Lo, suka sama gue?" Tanya Aurora menunjuk dirinya sendiri dan Luca mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.
"Sejak kapan?"
"Dari pertama kali gue liat lo."
"Tapi gue gak ada perasaan apa-apa sama lo." Berbicara jujur apa adanya, Aurora sama sekali tak masalah jika itu akan menyakiti perasaan Luca nantinya. Daripada dia harus berpura-pura dan ujung-ujungnya kejadiannya akan seperti dia dan Kenzo. Aurora tak ingin kejadian itu kembali terulang dalam kisah hidupnya.
"Ya gak papa. Kan lo sendiri yang bilang kalo witing tresno jalaran soko kulino. Gue yakin kok suatu saat nanti lo bisa jatuh cinta sama gue." Alih-alih tersinggung, kecewa atau semacamnya, Luca justru terlihat santai dan malah memberikan senyum terbaiknya. Membuat Aurora sedikit terkejut karena Luca tahu tentang ucapannya bersama Leon saat camping kemarin dan semakin bingung bagaimana harus menyikapinya.
"Oke, udah cukup. Daripada omongan kita nambah klantur dan gak jelas kemana-mana, mending sekarang kita balik ke kelas. Gue ada makul nih bentar lagi." Ucap Alice menghentikan obrolan mereka seraya bangkit berdiri dan mengemasi barang-barangnya.
"Bener banget tuh. Yuk cabut." Sahut Audrey ikut berdiri di ikuti Aline yang duduk di sebelahnya.
Kepergian Audrey, Alice dan Aline menyisakan keempatnya di sana. Menikmati makanannya dengan tenang, Luca dan Aurora bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Sedangkan Alexa memainkan ponselnya menunggu Aurora menghabiskan makanannya. Sementara Rion, malah sibuk dengan game di hpnya.