NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Konflik etika
Popularitas:424k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

“Mama, minggu depan ada lomba mewarnai di Mal Mega. Aku diminta Bu Guru untuk mewakili sekolah,” ucap Gita begitu masuk rumah dengan napas sedikit terengah, tas kecilnya masih tergantung miring di bahu.

Kirana yang sedang membereskan sisa bahan masakan di dapur langsung menoleh. Tangannya yang memegang pisau berhenti di udara. Wajahnya seketika berubah cerah, seolah kabar itu meniupkan angin segar ke dalam rutinitasnya yang padat.

“Serius?” Kirana berjongkok, menatap mata putrinya yang berbinar. Ia menangkap kilau bangga yang tak bisa disembunyikan dari wajah kecil itu. “Mama bangga sekali sama kamu.”

Gita mengangguk cepat, rambutnya ikut bergoyang. Senyumnya lebar, polos, dan jujur. “Bu Guru bilang gambarku paling rapi. Warnanya juga katanya hidup.”

Kirana tertawa kecil, lalu mengusap kepala Gita lembut. “Karena yang mewarnai anak mama yang hebat.”

Ucapan itu membuat dada Gita mengembang. Ia berdiri lebih tegak, seolah pujian sederhana itu adalah piala paling berharga.

Sejak dulu, Gita memang punya ketertarikan pada dunia menggambar. Dia bisa duduk berjam-jam hanya untuk mengisi kertas kosong dengan imajinasinya. Dinding kamar mereka penuh dengan coretan gambar. Pensil warna sering habis, patah, atau tinggal setengah. Namun, Gita tak pernah mengeluh. Ia selalu menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang bagi orang dewasa sering kali luput.

“Apa perlengkapan mewarnai masih ada?” tanya Kirana sambil berdiri dan menyingkirkan pisau ke tempat semula. “Kalau sudah tidak lengkap, kita beli lagi.”

Gita menggaruk pipinya malu-malu. “Pensil warnanya sudah pendek-pendek, Ma. Kalau dipakai suka nyelip di jari.”

Kirana terkekeh kecil. “Kalau begitu, kita memang harus beli.”

Sore itu, setelah warung sederhana Kirana tutup, mereka bersiap pergi. Kirana mengganti celemek dengan pakaian sederhana, blus polos dan celana panjang. Gita berganti dari seragam TK menjadi gaun kecil bermotif bunga, rambutnya diikat dua dengan pita mungil.

Di perjalanan menuju mal, Gita tak berhenti bercerita. Tentang lomba itu. Tentang teman-temannya yang ikut seleksi tapi belum terpilih.

“Gambar yang aku buat kemarin di sekolah juga dikasih nilai bintang lima sama bu guru. Katanya sangat bagus,” ucap Gita dengan penuh semangat.

“Di gambarnya ada Mama?” tanya Kirana sambil menyalakan mesin motor.

“Ada,” jawab Gita mantap. “Mama tanam bunga sambil senyum.”

Kirana tersenyum, meski dadanya terasa menghangat dan perih di saat bersamaan. Ia memalingkan wajah sesaat, memastikan suaranya tetap stabil. “Mama senang sekali dengarnya.”

Sejak perceraian itu, hidup Kirana berputar sepenuhnya pada satu titik, yaitu Gita. Ia menutup rapat luka-luka lamanya, berusaha berdiri tegak demi anak itu. Ia belajar tersenyum di saat lelah, belajar tenang di tengah badai, belajar menelan kecewa tanpa suara. Namun, luka tidak pernah benar-benar hilang.

Hubungan Gita dengan Rafka, ayahnya, tak lagi sama seperti dahulu. Dulu, Gita selalu menunggu ayahnya pulang di depan pintu. Kini, setiap nama Rafka disebut, wajah kecil itu sering berubah murung.

Setiap kali Rafka mengajak jalan-jalan, Gita selalu punya alasan. Entah itu capek atau mengantuk. Kadang beralasan sedang tidak enak badan atau ingin bersama Mama. Kirana tak pernah memaksa. Ia tahu, luka anak kecil sering kali lebih dalam daripada orang dewasa, tetapi dipendam di dalam hatinya karena tidak tahu cara mengungkapkan perasaannya itu.

Rafka hampir setiap hari menghubungi Kirana. Alasannya selalu sama, ingin berbicara dengan Gita. Ketik diajak berbicara di seberang sana sering hanya dibalas anggukan malas atau jawaban singkat dari Gita.

Uang bulanan tetap Rafka kirim tanpa pernah absen. Tapi Kirana tahu, uang tak pernah bisa menggantikan rasa aman yang dulu hancur.

Di tengah keramaian mal, Gita terlihat begitu bahagia. Ia berlarian kecil ke arah toko alat tulis, menunjuk berbagai pensil warna dengan mata berbinar.

“Mama, yang ini ada seratus warna!” seru Gita takjub.

Kirana tertawa kecil. “Kalau kamu suka, ambil saja. Kita beli.”

Gita memilih dengan sangat serius. Ia membandingkan warna satu per satu, menempelkan kotaknya ke dada seolah takut direbut orang. Kirana memperhatikannya dengan rasa haru yang sulit dijelaskan. Di balik tawa itu, ia tahu hidup tak selalu ramah pada anak sekecil ini.

Saat itulah sebuah suara memanggil. “Kirana!”

Kirana menoleh. Seorang perempuan melambaikan tangan dengan wajah familiar. Meli.

“Meli?” Kirana tersenyum lebar dan langsung memeluk sahabat lamanya itu. “Ya ampun, lama banget nggak ketemu.”

“Iya. Kamu makin kurus, Ki,” ujar Meli sambil tersenyum hangat.

“Kamu juga,” balas Kirana ringan.

Meli datang bersama suaminya dan dua anaknya. Rizal, anak sulungnya, terlihat tak sabar menunggu.

“Kalian lagi jalan-jalan juga?” tanya Kirana.

“Iya. Rizal ulang tahun kemarin. Dia minta hadiah main ke Timezone,” jawab Meli sambil terkekeh.

“Sesekali menguras isi dompet untuk membahagiakan anak nggak apa-apa,” ujar Kirana ringan. “Asal jangan keseringan.”

“Tuh, Bang, dengar,” sahut Meli sambil melirik suaminya. “Kata Kirana, boleh asal jangan keseringan.”

Suami Meli hanya tertawa kecil.

Kirana tahu kehidupan sahabatnya itu tak mudah. Suami Meli bekerja sebagai buruh pabrik dengan gaji kecil. Meli sendiri harus ikut bekerja demi menutup kebutuhan, apalagi dengan mertua yang selalu meminta bagian setiap bulan.

Obrolan mereka sempat ringan, sampai Meli terdiam sejenak. Tatapannya berubah ragu.

“Ki ....” panggil Meli, suaranya merendah. “Rumah orang tua kamu dijual, ya?”

Kirana tertegun. Dunia seolah berhenti sesaat. “Hah? Yang benar?”

“Iya. Sudah beberapa hari lalu. Bahkan sekarang sudah ditempati orang lain.”

Jantung Kirana berdegup keras. Rumah itu adalah tempat ia tumbuh, menangis, terluka. Tempat ia sering merasa tak pernah cukup baik dibandingkan Kinanti. Setiap sudutnya menyimpan kenangan pahit yang tak pernah benar-benar ia ceritakan pada siapa pun.

“Sepertinya orang tua kamu nggak kuat dengar gunjingan orang tentang Mbak Kinanti,” lanjut Meli pelan. “Bu Maya kelihatan kurus banget, Ki. Kayak orang kehilangan semangat hidup.”

Kirana menunduk. Dadanya terasa sesak. Ada rasa sedih, marah, sekaligus pasrah yang bercampur jadi satu.

“Waktu aku bilang mau hubungi kamu, mereka malah marah. Bahkan ngancam aku,” lanjut Meli dengan nada kesal.

Kirana tersenyum getir. Ia sudah mencoba berkali-kali menghubungi orang tuanya. Nomornya diblokir. Datang ke rumah pun berakhir diusir. Kini, rumah itu bahkan sudah tak ada lagi.

“Mama?” Gita menarik tangan Kirana pelan. “Mama nggak apa-apa?”

Kirana berjongkok dan memeluk putrinya erat. “Nggak apa-apa, Sayang.”

Kirana menutup mata sejenak. Dalam pelukan kecil itu, Kirana mengerti satu hal, kalau ada beberapa pintu dalam hidup memang harus tertutup rapat. Bukan karena ia kalah, tetapi karena ia memilih melangkah ke arah hidup yang lebih tenang.

Saat menggenggam tangan kecil Gita, Kirana tahu, selama ia masih bisa tersenyum demi anaknya, selama ia masih bisa bangkit setiap pagi dengan tekad yang sama, ia belum benar-benar kalah. Ia mungkin kehilangan rumah masa lalu, tetapi ia sedang membangun rumah yang baru di hati seorang anak yang mempercayainya sepenuh jiwa.

1
Naufal Affiq
lebih baik kamu jujur ara,kasihan gita,
Nar Sih
bnr arra ,lebih baik jujur ,biar gita juga tante mu bisa bantu mslh mu,
Sugiharti Rusli
ayolah Ara, kamu jangan terus bersembunyi dan diam saja saat sang sepupu kena fitnah tentang photo usg, karena toh suatu saat kehamilan kamu juga ga bisa disembunyikan lagi sih,,,
Sugiharti Rusli
dan si Vira juga kekeuh mengaku bukan dia, terus kenapa IP penyebar pertama dari no hp nya🙄🙄🙄
Sugiharti Rusli
meski sekarang Gita tahu dari Kaisar siapa pemilik akun yang menyebarkan fitnah terhadap dirinya, tapi dia juga belum habis pikir sih kalo itu sahabatnya sendiri
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya Gita malah curhat ke sepupunya yang sebenarnya pemilik photo usg itu,,,
Sugiharti Rusli
kan yang menemukannya di kost an Gita hanya mereka dan entah tujuan apa disebar kan hasil usg yang diklaim milik Gita,,,
Sugiharti Rusli
kalo dipikir memang yang patut dicurigai yang menyebarkan fitnah yah salah satu sahabat Gita sih,,,
martiana. tya
Gita kan calon dokter.... ayolah sedikit peka
martiana. tya
Gita kenapa ngga peka ya....
Noor hidayati
siapa yang nyebarin gosip itu ya,kalau vira kekeh ga ngerasa melakukan fitnah terhadap gita
Agunk Setyawan
dulu emaknya kinanti sekarang Ara anaknya bikin ulah Mulu meski pun Ara g sengaja tetep aja bikin riweh
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
harusnya kamu jujur Ara daripada Gita dan Kirana tahu dari orang lain,pasti mereka menyangka kamu yang memfitnah Gita dengan sengaja menjatuhkan foto USG dikontrakkannya🥹
Dew666
💜💜💜💜
efridaw995@gmail.com
jujur saja Ara biar ada solusi nya
Oma Gavin
kalau bukan vira pasti perempuan lain yg iri sama kedekatan gita dan kaisar serta ingin menghancurkan persahabatan mereka dgn ancaman ke vira sehingga mau tidak mau vira yg menyebarkan dan pastinya perempuan itu punya rahasia vira sehingga vira tidak bisa berkutik
Nar Sih: mungkin juga begitu oma
total 1 replies
Yuliana Tunru
ayo ara jujur pada gita biar ada yg nolong setdk x kau tak merasa sendiri kakiqn saudara gita pasti bantu yg kuat ya ara
Tasmiyati Yati
kenapa gak saling terbuka sih biar saling membantu
Ita rahmawati
pasti ketemu raja LG kmu Ra kalo kerja SM mama ratu
Aprisya
semoga jodoh kalian kakak adik, raja n kaisar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!