Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sejak malam pertengkaran itu, Alecio memilih menjauh dengan cara yang paling dingin, diam. Namun, juga jarak antara dua orang yang sama-sama keras kepala. Alecio tidak lagi muncul di hadapan Sandrina. Tidak ada tatapan dingin. Tidak ada perdebatan, tidak ada tatapan tajam yang mengintimidasi, tidak ada kalimat pendek penuh perintah, dan tidak ada benturan. Yang ada hanya jarak. Dan jarak itu terasa lebih menyakitkan daripada amarah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Alecio memanggil Patrick dan Max ke ruang kerjanya. “Aku ingin kamar Sandrina dipindahkan,” ucapnya singkat.
Patrick mengangkat alis. “Ke mana?”
“Sayap kiri kastil.”
Alecio mengangguk. “Tempat yang jarang dipakai. Lebih tenang.”
Max langsung menoleh. “Bagian lama?”
“Entahlah.”
Patrick memahami tanpa perlu penjelasan. Alecio sedang menjaga jarak. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk menahan dirinya sendiri.
“Pastikan keamanannya tetap terjaga,” tambah Alecio pelan. Nada suaranya berbeda, lebih terkendali.
Seolah-olah perempuan itu dipindahkan bukan hanya dari kamar lamanya, tetapi juga dari lingkar kehidupannya.
Keputusan memindahkan Sandrina ke sayap kiri kastil dilakukan tanpa drama. Sayap kiri kastil berbeda dengan bagian utama. Bangunannya lebih tua, dengan jendela tinggi dan lorong panjang berlantai marmer kusam. Beberapa lukisan lama tergantung di dinding, warnanya mulai pudar dimakan waktu. Di sana hanya ada beberapa pelayan tua yang bertugas membersihkan ruangan-ruangan kosong dan merawat perabotan lama.
Ketika Sandrina dibawa ke kamar barunya, ia mengerutkan kening. “Ini seperti museum,” gumamnya.
Namun kamar itu luas dan terang. Jendelanya menghadap taman kecil yang jarang dikunjungi. Setidaknya tidak ada aura intimidasi seperti di dekat kamar Alecio.
Pelayan-pelayan tua menyambutnya dengan senyum hangat. Ada Rosa, wanita berambut putih dengan wajah penuh keriput ramah. Ada Gianni, pria sepuh yang jalannya sedikit membungkuk. Mereka berbicara cepat dalam bahasa Italia.
Sandrina berdiri di ambang kamar barunya dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apakah ini bentuk hukuman atau justru kebebasan kecil.
Ketika seorang wanita tua berambut putih menyambut Sandrina dengan senyum hangat dan ucapan, “Benvenuta, cara.”
“Apa artinya?” bisik Sandrina pada Max.
“Selamat datang,” jawab pria itu singkat sebelum pergi.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih sunyi, tetapi tidak sepenuhnya sepi. Rosa dan Gianni, dua pelayan tua yang bertugas di sayap kiri, tampak senang dengan kehadiran Sandrina. Para pelayan tua itu menyukainya, walau sering kebingungan dengan campuran bahasa Indonesia, Inggris, dan Italia seadanya yang keluar dari mulutnya.
Suatu pagi, Rosa menunjuk sapu dan berkata, “Scopa.”
Sandrina menirukan, “Skopa?”
Rosa tertawa. “Scopa!”
“Skopa!”
Gianni ikut tertawa.
Sandrina ikut tertawa meski tidak yakin apa yang lucu. Ia mulai mencatat kata-kata sederhana di buku kecil. Porta \= pintu, Finestra \= jendela
Acqua \= air, Grazie \= terima kasih.
Mereka sering tertawa melihatnya mencoba menirukan kata-kata Italia dengan pelafalan yang kacau. Ketika Rosa menunjuk jendela dan berkata, “Finestra,” Sandrina mengulanginya dengan ragu, membuat Gianni terkekeh geli.
“Aku akan bisa bicara lancar suatu hari nanti,” gumam Sandrina dalam bahasa Inggris yang sederhana, meski tahu mereka tidak sepenuhnya memahami ucapannya.
Bahasa menjadi jembatan kecil di antara mereka. Setiap kata baru yang ia pelajari terasa seperti kemenangan kecil. Ia mulai bisa menyusun kalimat sederhana, meminta air, mengucapkan terima kasih dengan benar, bahkan bercanda seadanya. Tawa pelan sering terdengar di lorong tua itu, menghadirkan kehidupan di sudut kastil yang selama ini terasa mati.
Namun di balik keceriaannya, Sandrina tidak berhenti berpikir. Ia memperhatikan jadwal penjaga yang sesekali berpatroli. Ia menghitung jarak dari taman kecil ke gerbang samping. Ia mencatat dalam ingatan setiap pintu yang jarang dibuka. Ia belajar bahasa bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk bersiap.
Suatu sore, ketika Sandrina sedang membantu Rosa melipat kain, ia bertanya hati-hati, “Porta itu ke mana?” Ia menunjuk pintu besar di ujung lorong.
Rosa menggeleng cepat. “Vecchio magazzino. Gudang lama. Tidak dipakai.”
“Chiave?” tanya Sandrina lagi.
Gianni tertawa kecil. “Sempre chiusa. Selalu terkunci.”
Sandrina tersenyum tipis. Selalu terkunci berarti ada kuncinya.
Di sisi lain kastil, Alecio menjalani hari-harinya dengan wajah yang semakin sulit dibaca. Ia jarang berbicara di luar urusan bisnis. Ketika Patrick melaporkan bahwa Sandrina terlihat lebih tenang di sayap kiri, ia hanya mengangguk tanpa komentar.
“Dia sering bersama para pelayan tua,” tambah Patrick suatu malam. “Belajar bahasa.”
Alecio menatap berkas di tangannya lebih lama dari yang seharusnya. “Pastikan keamanan tetap ketat,” ujarnya akhirnya, suaranya datar.
Alecio tidak pernah mendekati sayap kiri, tetapi sesekali berdiri di jendela lantai atas yang menghadap taman kecil. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok bercadar duduk di bangku batu, berbicara dengan tangan yang bergerak penuh semangat saat mencoba mengucapkan kalimat baru. Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat dadanya terasa aneh, campuran lega dan kehilangan.
“Masih dijaga. Tidak ada pergerakan mencurigakan.”
Alecio mengangguk pelan. “Tetap awasi. Dari jauh.”
Patrick ragu sejenak sebelum bertanya, “Kau tidak ingin menemuinya?”
Tatapan Alecio mengeras. “Tidak.”
Jawaban itu singkat, tetapi jelas ada sesuatu yang belum selesai di dalam dirinya. Setiap kali bayangan wajah Sandrina muncul di pikirannya, mata yang berani melawan, lalu tangisan yang membuatnya tersadar, dadanya terasa sesak. Ia terbiasa menghadapi musuh bersenjata, tetapi rasa bersalah tidak bisa ditembak mati.
Alecio sadar jarak ini perlu. Ia sadar ia hampir menjadi seseorang yang tidak ingin ia lihat. Namun, menjaga jarak tidak serta-merta menghapus kehadiran Sandrina dari pikirannya. Ia tahu jarak itu perlu. Bukan untuk menghukum Sandrina, melainkan untuk mencegah dirinya sendiri kehilangan kendali lagi.
Sementara itu, di taman kecil sayap kiri, Sandrina memandang langit senja dan mengucapkan kalimat yang baru dipelajarinya dengan pelan.
Rosa tersenyum dan membenarkan pelafalannya.
Sandrina mengulanginya lagi, kali ini lebih yakin.
Sandrina ingin pergi dari kastil itu. Suatu hari nanti, ia yakin akan menemukan caranya.
Sore itu, tanpa sengaja, langkah Alecio membawanya ke balkon lantai dua yang menghadap taman kecil sayap kiri. Dari sana ia melihat Sandrina duduk di bangku batu bersama Rosa. Gadis itu menggerakkan tangan dengan semangat, mencoba menyusun kalimat.
“Io voglio… andare,” ucap Sandrina perlahan.
Rosa membenarkan pengucapannya. “Andare.”
Sandrina mengulanginya lagi, lebih yakin. “Io voglio andare.”
Alecio menegang mendengar kalimat itu. Ia tidak perlu fasih berbahasa Italia untuk memahami artinya.
“Aku ingin pergi.”
Alecio berdiri di sana cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan balkon tanpa suara.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu