kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Pagi itu, Alendra memutuskan untuk berhenti menjadi penonton di balik pilar. Dengan nyali yang dikumpulkan dari sisa-sisa keberanian semalam, ia memarkirkan motor gede kesayangannya yang sedikit berdebu di samping deretan mobil mewah kampus.
Alendra memang "Tuan Muda Suhadi," tapi penampilannya lebih mirip mekanik ganteng daripada pewaris takhta , jaket kulit, kaos polos, dan sepatu boots yang sudah sering diajak blusukan.
Alendra mencegat langkah Patricia di koridor utama yang sedang ramai. Ia membawa dua gelas kopi dari kafe kecil langganannya di gang kampus, kopi susu gula aren plastik yang menurutnya paling enak di dunia.
Alendra menghadang jalan dengan senyum termanisnya "Pagi, Patricia. Kamu kelihatan... luar biasa hari ini. Capek ya habis kuliah pagi? Ini, aku belikan kopi buat penambah semangat."
Patricia berhenti mendadak. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap gelas plastik di tangan Alendra seolah-olah itu adalah limbah beracun.
Patricia menyentuh ujung gelas dengan satu jari, lalu segera menariknya kembali "Apa ini? Kopi dalam plastik? Kamu mau meracuniku?"
"Ini kopi enak, Pat! Namanya Kopi Kenangan Mantan. Manisnya pas, kayak...". Ucap Alendra terhenti.
Patricia memotong dengan tajam "Kayak status sosialmu? Dengar ya, orang aneh. Hanya karena kita satu kampus, bukan berarti kamu bisa memberikan barang murahan ini padaku. Lihat penampilanku, lalu lihat dirimu. Kamu itu cuma cowok motoran yang hobinya nongkrong di kafe remang-remang yang ventilasinya buruk. Selera kita itu beda kasta!"
Mahasiswa lain mulai berkumpul, berbisik-bisik melihat sang Primadona Effendi sedang memberi pelajaran pada si mahasiswa motoran.
"Besok-besok, kalau mau mendekatiku, minimal pakai jas yang harganya lebih mahal dari motormu itu. Dan tolong, mandi yang bersih supaya bau aspalnya hilang. Kamu itu... cuma butiran debu di atas kap mobilku, mengerti?"
Patricia sengaja menabrak bahu Alendra saat lewat, membuat satu gelas kopi itu tumpah mengenai sepatu Alendra sendiri.
Alendra hanya bisa melongo sambil menatap sepatunya "Waduh... kena sepatu. Tapi nggak apa-apa, seenggaknya dia tahu aku punya selera kopi yang bagus."
Satu jam kemudian, Alendra sudah duduk lesehan di kafe kecil langganannya bersama teman-teman tongkrongannya yang rata-rata adalah mahasiswa kelas menengah. Ia sedang asyik makan mi instan dari mangkok aluminium.
"Gimana? Berhasil? Dapat nomor WA-nya?" tanya temannya.
Alendra menjawab ambil mengunyah kerupuk "Hampir. Dia cuma bilang aku butiran debu. Berarti aku ini kecil tapi susah hilang dari mata dia, kan? Itu tanda-tanda cinta terpendam." balas Alendra terkekeh.
"Cinta terpendam apanya! Dia itu menghinamu, Alen! Kamu itu anak pertama Tuan Afkar Suhadi! Kalau kamu mau, kamu bisa beli butik tempat dia belanja baju, lalu kamu pecat semua pelayannya biar dia nggak bisa belanja di sana!" sahut teman Alendra menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan temannya itu yang jadi bodoh karena cinta.
Alendra terkekeh "Nggak seru kalau main kartu keluarga, Bro. Aku mau dia cinta sama Alendra si cowok motor, apa adanya , bukan Alendra si kartu kredit berjalan. Lagipula, ekspresi marah dia pas lagi menghina itu... lucu banget. Matanya kayak mau keluar, tapi tetap cantik."
Tiba-tiba, mobil mewah Hilman melintas di depan kafe kecil itu. Hilman melihat Alendra yang sedang tertawa-tawa dengan mi instan di tangan. Hilman menurunkan kaca mobilnya dan memandang rendah ke arah Alendra.
"Heh, kamu! Mahasiswa kumal! Jangan pernah terlihat di radius satu meter dari adikku lagi, atau aku suruh pengawalku buat angkut motormu itu ke tempat rongsokan!"
Alendra bukannya takut, malah mengangkat gelas es teh tawar plastiknya ke arah Hilman.
"Siap, Kak Ipar! Salam buat Patricia, ya! Bilang, kopinya besok aku ganti yang pakai topping boba!"
Hilman langsung mengumpat dan menginjak gas dalam-dalam, sementara Alendra dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak di atas kursi plastik yang reyot. Mereka tidak tahu bahwa Si Butiran Debu ini sebenarnya punya kuasa untuk menjatuhkan dominasi Effendi, namun ia terlalu sibuk menikmati rasa cintanya yang konyol.
***
Beberapa bulan berlalu...Suasana di mansion mewah keluarga Effendi mendadak berubah menjadi medan perang dingin. Patricia yang biasanya menjadi pusat perhatian dengan tawa angkuhnya, kini lebih banyak terdiam di sudut balkon dengan tatapan kosong. Ia merasa takhta Ratu di rumah itu sedang terancam.
Perubahan sikap Hilman adalah pukulan telak bagi Patricia. Dulu, Hilman adalah pelindung yang akan melakukan apa pun demi senyum adiknya. Namun, setelah Hilman mengenal Rukayyah,wanita salehah yang sangat sederhana,orientasi hidup Hilman bergeser drastis. Hilman memutuskan hubungan dengan Ruby, sekretaris yang ingin Patricia dan mamanya singkirkan.
Patricia membanting tas branded-nya ke atas sofa "Kak! Kenapa Kakak sekarang jadi begini? Sejak ada wanita itu, Kakak bahkan tidak menoleh kalau aku pulang kuliah! Mana Kak Hilman yang dulu selalu membela aku?!"
Hilman menatap Patricia dengan dingin, tanpa ekspresi "Hiduplah dengan benar, Pat. Dunia ini bukan cuma soal tas dan kesombonganmu. Rukayyah adalah istriku, dan dia membawa kedamaian yang tidak pernah kamu mengerti. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan."
Kata-kata Hilman yang datar itu terasa lebih sakit daripada tamparan bagi Patricia. Ia merasa kakaknya telah dicuri oleh wanita yang ia anggap udik.
Patricia tidak tinggal diam. Ia mencari perlindungan pada mamanya Selena. Saat itu, Patricia masih meyakini Selena adalah ibu kandungnya yang sangat berkelas, dan ia tidak tahu bahwa Selena sebenarnya adalah adik kembar mama kandung Hilman yang licik . Selena memiliki dendam pribadi pada Rukayyah dan sangat mendukung kebencian Patricia.
Selena berbicara sambil menyesap jus alpukat, mengelus rambut Patricia "Tenang, Sayang. Mama juga tidak suka melihat wanita kampung itu mengatur-ngatur rumah ini. Dia pikir dia siapa bisa merubah Hilman? Kita harus menyingkirkannya sebelum dia benar-benar menguasai harta keluarga ini."
"Aku benci dia, Ma! Gara-gara dia, sekarang Kak Hilman melihatku seperti aku ini orang asing. Aku ingin dia pergi dari sini secepatnya!"
"Tentu. Kita akan buat skenario supaya Hilman melihat bahwa Rukayyah tidak sesuci yang dia bayangkan. Kita usir dia kembali ke asalnya."
***
Di kampus, Alendra yang biasanya selalu menggoda Patricia, menyadari perubahan aura gadis pujaannya. Patricia tidak lagi menghinanya dengan semangat, ia lebih banyak melamun dan terlihat tertekan.
Suatu sore, Alendra melihat Patricia sedang menangis sendirian di dalam mobilnya di parkiran kampus. Alendra mendekat, kali ini tanpa gaya konyolnya.
Alendra mengetuk jendela mobil pelan "Pat... hei. Kamu oke? Aku nggak bawa kopi plastik hari ini, cuma bawa telinga buat dengerin kalau kamu butuh."
Patricia membuka jendela sedikit, matanya sembab "Pergi, Alen! Aku nggak butuh rasa kasihan dari butiran debu sepertimu! Semua orang di hidupku berubah jadi menyebalkan!"
Alendra tersenyum tipis, tetap tenang. "Mungkin dunia nggak berubah, Pat. Mungkin cuma cara kamu melihatnya yang harus diganti. Kalau ada masalah di rumah, jangan dipendam sendiri. Itu bikin kecantikanmu berkurang 10%."
"Diam! Kamu nggak tahu apa-apa!" Patricia langsung menginjak gas dan pergi meninggalkan Alendra.
Malam itu, di kamar Selena, Patricia mulai membantu ibunya menyusun rencana. Mereka tidak tahu bahwa keputusan ini adalah awal dari kehancuran yang sebenarnya. Patricia yang manja sedang berjalan menuju lubang hitam yang akan merenggut statusnya sebagai Nona Muda Effendi".
Patricia melihat foto pernikahan Hilman dan Rukayyah dengan tatapan benci "Nikmati waktumu sebentar lagi, Rukayyah. Karena aku dan Mama akan memastikan kamu keluar dari rumah ini dengan hina."
Ia tidak sadar, bahwa pria yang ia sebut butiran debu di kampus, Alendra adalah satu-satunya orang yang nantinya akan tetap menggenggam tangannya ketika ia kehilangan segalanya, hartanya, statusnya, hingga identitas keluarganya.