Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Boneka Kayu dan Rahasia Menara Bintang
Di ujung Lorong Angin Pisau, dunia seakan terputus.
Ye Chen berdiri di tepi tebing curam. Di hadapannya, terbentang jurang dasar tanpa tertutup kabut ungu pekat. Satu-satunya jalan ke seberang adalah sebuah jembatan batu selebar satu telapak kaki, tanpa pegangan, yang melengkung menghilang ke dalam kabut.
Tidak ada angin di sini. Kesunyiannya mutlak, kontras dengan lorong bising di belakangnya.
“Jembatan Penyeberangan Jiwa,” gumam Ye Chen, membaca tulisan samar di pilar batu yang lumutan di pangkal jembatan.
Dia menatap ke bawah. Kabut ungu itu bukan sekadar uap air. Itu adalah konsentrasiQi Ilusiyang sangat padat. Jika jatuh, seseorang tidak akan mati karena benturan, melainkan psikologi akan tersesat selamanya dalam mimpi buruk.
Ye Chen menyebutirPil Pemulih Qilagi. Rasa sakit di otot-ototnya mulai mereda, meski kelelahan mental masih membayangi.
“Maju atau mati,” tekadnya bulat.
Dia melangkah ke jembatan itu.
Langkah pertama, biasa saja.
Langkah banding, mulai kabur. Jembatan batu di bawah kakinya seolah bergoyang dan berubah menjadi ular raksasa.
"Ilusi rendahan."
Ye Chen. Di dalamLautan-nya,Benih Niat Pedangbersinar perak. Cahaya itu memotong ilusi visual tersebut, mengembalikan wujud jembatan menjadi batu yang kokoh.
Ye Chen berjalan dengan mantap, mengabaikan bisikan-bisikan halus yang mencoba menggoyahkan hatinya. Dia tidak berjalan cepat, tapi stabil. Keseimbangannya sempurna berkat latihan pedang berat.
Setelah lima menit berjalan dalam ketegangan, ujung jembatan akhirnya terlihat.
Sebuah pulau terapung kecil di tengah jurang.
Di atas pulau itu, tidak ada istana megah atau tumpukan emas. Hanya ada sebuah pohonBeringin Putihyang sudah mati dan kering. Di bawah pohon itu, duduk bersila sesosok makhluk.
Bukan manusia. Bukan mayat hidup.
Itu adalahBoneka Kayu (Puppet)seukuran manusia dewasa, terbuat dariKayu Roh Besiyang dipol hitam. Sendi-sendinya terbuat dari bola logam. Di tangannya, boneka itu memegang pedang kayu panjang.
Dan di dada boneka itu, tertanam pecahanPeta Kulit Binatang—potongan kedua yang dicari Ye Chen.
“Jadi kau penjaganya,” Ye Chen mencabutnyaPedang Pemecah Gunung-nya.
Begitu kaki Ye Chen menyentuh tanah pulau terapung itu, mata boneka kayu tersebut menyala merah.
KLIK... KLAK...
Suara roda gigi berputar terdengar dari dalam tubuh boneka itu. Ia berdiri dengan gerakan kaku namun cepat, debu jatuhan dari bahunya.
"Penyusup... Terdeteksi..."suara mekanis yang rusak keluar dari leher boneka itu."Level Ancaman: Pemadatan Qi Tingkat 4. Eliminasi."
HUHUUUSH!
Boneka itu menerjang.
Kecepatannya mengerikan! Tanpa awalan, tanpa ancang-ancang, ia melesat seperti anak panah. Pedang kayunya menusuk lurus ke jantung Ye Chen.
Ye Chen terkejut. "Cepat!"
Dia mengangkat pedang beratnya untuk menangkis.
AMBIL!
Suara benturan kayu melawan besi terdengar nyaring.
Ye Chen terdorong mundur tiga langkah. Tangannya kesemutan. Kekuatan fisik boneka ini setara dengan Pemadatan Qi Tingkat 8! Dan karena ia benda mati, ia tidak merasakan sakit atau lelah.
"Menarik," Ye Chen menyeringai. "Latihan target yang sempurna."
Boneka itu tidak memberi jeda. Ia memutar pedang kayunya, melancarkan serangkaian serangan tusukan dan sabetan yang presisi. Teknik pedangnya sederhana, namun sempurna tanpa celah.
Teknik Pedang Dasar: Aliran Air Mengalir.
Ye Chen kesulitan. Pedang beratnya terlalu lambat untuk menandingi kecepatan serangan boneka itu dalam jarak dekat.
Trang! Buk!
Pedang kayu itu berhasil lolos dari pertahanan Ye Chen dan memukul bahunya.
"Ugh!" Ye Chen meringis. Tulang bahunya terasa retak.
"Kalau adu teknik aku kalah, maka adu kekuatan!"
Ye Chen mengaktifkan Tubuh Guntur Asura. Listrik biru menyelimuti tubuhnya.
Dia tidak lagi mencoba menangkis setiap serangan. Dia membiarkan pedang kayu itu memukul lengan kirinya (yang dilapisi Qi pelindung), sementara tangan kanannya mengayunkan Pemecah Gunung secara horizontal untuk memotong pinggang boneka itu.
Strategi Bertukar Luka!
BUK!
Lengan kiri Ye Chen memar parah.
BLARR!
Pedang raksasa Ye Chen menghantam pinggang boneka itu.
Kayu Roh Besi itu retak besar, tapi tidak hancur. Boneka itu terpental menabrak pohon beringin kering.
Namun, sebelum Ye Chen sempat menarik napas, boneka itu sudah bangkit lagi. Retakan di pinggangnya mengeluarkan percikan api spiritual, tapi ia tidak melambat sedikitpun.
"Kerusakan 30%. Mode Pemusnahan: Aktif."
Mata merah boneka itu berkedip cepat. Ia memegang pedang kayunya dengan dua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi.
Aura di sekitar pulau itu berubah. Angin tajam mulai berkumpul di ujung pedang kayu itu.
Niat Pedang?!
Ye Chen terbelalak. Boneka ini bisa menggunakan Niat Pedang? Meskipun hanya tiruan kasar, tapi itu tetap Niat Pedang!
"Tebasan Pemecah Langit."
Boneka itu menebas. Sebuah gelombang energi pedang transparan meluncur membelah tanah, mengarah ke Ye Chen.
Ye Chen tahu dia tidak bisa menangkis ini dengan kekuatan kasar.
"Kau ingin bermain Niat Pedang? Baiklah!"
Ye Chen memejamkan mata sesaat. Di dalam jiwanya, Benih Niat Pedang bergetar. Dia menyalurkan pemahaman itu ke dalam Pedang Pemecah Gunung-nya.
Bilah hitam pedangnya dilapisi cahaya perak tipis.
"Pedang Asura: Niat Kehancuran!"
Ye Chen menebas balik secara vertikal.
BOOOM!
Dua gelombang Niat Pedang bertabrakan di tengah udara. Ledakan energi menyapu pulau kecil itu, menerbangkan debu dan daun kering.
Gelombang milik boneka itu hancur. Gelombang milik Ye Chen—yang didukung oleh Asura yang dominan—terus melaju, menembus ledakan itu.
CRASS!
Gelombang pedang Ye Chen menghantam boneka itu tepat di tengah dadanya, di tempat peta itu tertanam.
Tubuh boneka itu terbelah dua dari kepala hingga selangkangan.
Mata merahnya berkedip sekali, lalu padam.
"Tuan... Selamat..."
Suara mekanis itu mati bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk menjadi tumpukan kayu rusak.
Ye Chen jatuh berlutut, menumpu badannya dengan pedang. Napasnya memburu. Pertarungan ini singkat tapi sangat intens.
Dia berjalan mendekati rongsokan boneka itu. Di tengah dadanya yang terbelah, Peta Kulit Binatang itu melayang utuh, dilindungi oleh bola cahaya.
Ye Chen mengambilnya.
Dia mengeluarkan potongan peta pertama miliknya. Saat kedua potongan itu didekatkan...
Ziiiing!
Keduanya menyatu secara ajaib, menjahit diri mereka sendiri menjadi satu lembar peta yang lebih besar (kini 2/3 bagian).
Cahaya dari peta itu memproyeksikan sebuah gambar holografis di udara.
Sebuah menara tinggi yang menembus awan.
"Itu..." Ye Chen menyipitkan mata. "Itu Pagoda Bintang (Star Pagoda) di tengah Akademi?"
Pagoda Bintang adalah tempat kultivasi suci bagi murid inti akademi. Di bawahnya, terdapat sumber mata air spiritual yang menjaga seluruh kota.
Peta itu menunjukkan titik merah yang berkedip di Lantai Dasar Paling Bawah dari pagoda tersebut. Sebuah area yang bahkan tidak diketahui oleh Kepala Akademi sekalipun.
"Jadi warisan utamanya ada di bawah akademi..." Ye Chen tersenyum lelah. "Pantas saja Han Feng dan Han Yun tidak bisa menemukannya. Mereka mencari di tempat yang salah selama ini."
Ye Chen menyimpan peta itu. Dia kemudian memeriksa sisa tubuh boneka itu.
Di bagian kepala boneka, dia menemukan sebuah Batu Roh Tingkat Tinggi (setara 1.000 Batu Roh Rendah) yang berfungsi sebagai baterai intinya. Energinya sudah habis setengah, tapi sisanya masih sangat murni.
"Lumayan. Ini bisa kugunakan untuk menerobos Tingkat 5 nanti."
Ye Chen melihat ke sekeliling. Tidak ada jalan keluar lain selain jembatan tadi. Tapi dia tidak bisa kembali lewat jalan yang sama karena mayat Tetua Sekte Pedang Darah pasti akan memancing perhatian jika ditemukan.
Matanya tertuju pada sebuah formasi teleportasi kecil yang tersembunyi di balik pohon beringin mati.
"Semoga ini tidak membawaku ke kandang singa."
Ye Chen melangkah ke dalam formasi itu. Cahaya putih menelannya.
Keesokan Harinya. Hari Terakhir Ujian.
Di pinggir Hutan Kabut Ilusi, ribuan peserta yang tersisa mulai berkumpul kembali. Wajah mereka lelah, baju mereka kotor.
Tetua Mo berdiri di panggung pengawas, mencatat hasil perolehan token.
"Kelompok Wang Long... 50 token!"
"Wah! Banyak sekali!"
Wang Long, yang wajahnya masih bengkak dan diperban akibat dihajar Ye Chen, berdiri dengan bangga. Dia merampas token itu dari peserta lemah lain setelah dia sadar dari pingsannya. Matanya liar mencari-cari sosok "Peti Mati".
"Si Sialan itu pasti mati di Zona Terlarang. Tidak mungkin dia selamat," batin Wang Long.
Tiba-tiba, semak-semak di pinggir hutan bergerak.
Sesosok pemuda berjubah hitam yang sudah hancur berjalan keluar dengan langkah gontai. Di punggungnya, pedang raksasa hitam terekspos jelas, memancarkan aura dingin yang membuat orang di sekitarnya mundur.
"Itu dia! Si Peti Mati!"
"Dia masih hidup?"
Ye Chen berjalan lurus ke arah meja pendaftaran. Dia mengabaikan tatapan membunuh Wang Long dan tatapan terkejut Lin Xia.
"Token," kata penguji dengan nada meremehkan. "Mana tokenmu?"
Ye Chen merogoh sakunya. Dia melemparkan segenggam token giok ke meja.
Clatter!
Ada sekitar 30 token. Cukup untuk lulus dengan nilai sempurna.
"Lulus. Peringkat sementara: 5," kata penguji datar.
Tetua Mo di atas panggung menatap Ye Chen tajam. Dia bisa merasakan sisa fluktuasi energi spasial di tubuh pemuda itu.
"Dia baru saja menggunakan teleportasi jarak jauh..." batin Tetua Mo. "Dan aura pedang di tubuhnya... semakin tajam. Apa yang dia temukan di dalam sana?"
Ye Chen mengambil lencana kelulusannya: Lencana Murid Luar.
Akhirnya. Dia resmi menjadi bagian dari Akademi Bintang. Tempat perlindungan sementaranya, sekaligus tempat perburuannya yang baru.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Sekelompok orang berpakaian seragam putih-emas berjalan membelah kerumunan. Mereka memancarkan aura Pemadatan Qi Tingkat 7, 8, dan 9.
Mereka adalah Komite Disiplin (Disciplinary Committee) Akademi.
Pemimpinnya, seorang pemuda tampan dengan rambut perak, menunjuk ke arah Ye Chen.
"Tangkap dia," perintah pemuda perak itu dingin.
Dua anggota Komite Disiplin langsung maju, menahan bahu Ye Chen.
"Apa artinya ini?" tanya Ye Chen tenang, tidak melawan.
"Ye Chen," kata pemuda rambut perak itu. "Kami menerima laporan bahwa kau menggunakan senjata ilegal dan membunuh dua orang Tetua tamu dari Sekte Pedang Darah di dalam area ujian. Kau harus ikut kami ke Aula Penghakiman."
Kerumunan gempar. Membunuh Tetua?
Ye Chen menatap pemuda perak itu. Dia melihat lambang kecil di kerah baju pemuda itu: Pedang Darah Mini.
"Penyusup ada di mana-mana rupanya," batin Ye Chen.
Wang Long tertawa terbahak-bahak dari kejauhan. "Mampus kau! Tamat riwayatmu!"
Ye Chen tersenyum tipis. Senyuman yang membuat anggota Komite Disiplin itu merinding.
"Baiklah. Aku akan ikut. Tapi hati-hati... tanganku sedikit licin kalau memegang pedang."
Ye Chen dibawa pergi, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai tersangka. Namun di matanya, tidak ada rasa takut. Dia tahu, di dalam Akademi Bintang, permainan politik baru saja dimulai.
(Akhir Bab 30)