Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 - mentor bayangan dan teknik pertama
Malam itu, setelah ujian resmi selesai, Qing Lin berjalan menyusuri koridor batu Sekte Batu Awan. Lampu minyak berbaris di sepanjang dinding, memancarkan cahaya hangat yang menembus kabut tipis dari luar. Udara di aula terasa dingin, namun tidak mengganggu ritme napasnya. Sutra Darah Sunyi masih berdenyut di dadanya, menyesuaikan diri dengan lonjakan kekuatan baru yang ia peroleh saat ujian.
“Pelan… tapi pasti,” gumamnya, suaranya hampir tenggelam di antara desiran angin malam.
Langkahnya membawanya ke taman terpencil di belakang aula. Pohon-pohon tinggi membentuk bayangan yang bergerak lembut, dan bau bunga malam memenuhi udara. Ia duduk di atas batu besar, menutup mata, dan mulai mengatur napas seperti biasa.
Qi dalam tubuhnya berputar mengikuti ritme yang telah ia pelajari sejak awal. Sutra Darah Sunyi berdenyut lebih padat, dan setiap tarikan napas terasa seperti gelombang yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Namun ia tahu, pertumbuhan kali ini tidak bisa berhenti hanya pada refleks dan ketahanan. Ia membutuhkan teknik nyata untuk memanfaatkan Sutra Darah Sunyi.
Saat itulah, bayangan muncul.
Di antara pepohonan, sosok seorang pria tinggi, mengenakan jubah gelap dengan lencana misterius, melangkah pelan. Cahaya lampu minyak menyinari sebagian wajahnya, memperlihatkan mata yang tajam dan penuh pengetahuan.
“Qing Lin,” suara pria itu terdengar lembut, namun jelas. “Aku telah mengamati perjalananmu. Kau tidak memiliki akar spiritual, tapi Sutra Darah Sunyi-mu… berbeda dari yang lain.”
Qing Lin membuka mata perlahan. Ia menatap sosok itu, polos, tanpa rasa takut.
“Siapa… Anda?” tanyanya, suaranya rendah dan tenang.
Pria itu tersenyum samar. “Panggil aku Mentor Bayangan. Aku bukan penatua resmi, bukan murid dalam. Aku seorang pengamat… dan aku melihat potensi yang luar biasa dalam dirimu. Jika kau bersedia, aku akan mengajarkanmu teknik pertama untuk mengendalikan Sutra Darah Sunyi.”
Qing Lin menelan ludah. Ia tidak pernah mendengar tentang mentor bayangan, dan tawaran seperti ini—di dunia yang keras dan penuh aturan Sekte—jarang terjadi. Namun ada satu hal yang ia rasakan: kejujuran dari sosok ini.
“Aku ingin belajar,” jawabnya polos. “Tapi… aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”
Mentor Bayangan mengangguk. “Itulah yang membuatmu berbeda. Banyak yang terobsesi dengan kekuatan, tapi kau… kau masih manusia. Itu baik. Teknik yang akan kuberikan tidak memerlukan darah orang lain. Hanya membutuhkan pengendalian napas dan qi internalmu.”
Mereka duduk bersila di tengah taman. Kabut malam menutupi sebagian cahaya bulan, menciptakan nuansa tenang dan sedikit misterius. Mentor Bayangan menutup mata, tangan kanan diangkat, dan mulai mengucapkan mantra perlahan. Qi di sekitarnya bergerak mengikuti aliran alami.
“Perhatikan gerakanku,” katanya. “Ini adalah teknik pertama: Siklus Darah Sunyi. Kau akan belajar mengalirkan Sutra Darah Sunyi ke setiap sendi, memperkuat refleks, otot, dan kekuatan tanpa melukai siapa pun. Semuanya bergantung pada fokus dan ritme napasmu.”
Qing Lin mengamati, mencoba meniru gerakan sederhana itu. Tangan bergerak, tubuh menyesuaikan diri, dan napas mengikuti irama yang ditentukan. Awalnya, tidak terjadi apa-apa. Qi dalam tubuhnya hanya berputar pelan seperti biasa.
Mentor Bayangan tersenyum tipis. “Sabar. Sutra Darah Sunyi membutuhkan waktu untuk merespons. Jangan terburu-buru. Fokus hanya pada aliran energi, bukan hasilnya.”
Qing Lin menarik napas dalam, menahan sebentar, lalu menghembuskan perlahan. Qi dalam dadanya berdenyut, Sutra Darah Sunyi mulai berputar mengikuti ritme napasnya. Seketika, ia merasakan otot di lengannya sedikit lebih kuat, refleks kakinya lebih cepat. Lonjakan itu kecil, tapi nyata.
“Aku merasakannya…” bisiknya. “Seperti… ada sesuatu yang menyatu dengan tubuhku.”
Mentor Bayangan mengangguk. “Benar. Itu hanya awal. Setiap kali kau melatih teknik ini, Sutra Darah Sunyi-mu akan mengeras, seperti logam yang ditempa perlahan. Tapi ingat, jangan terburu-buru. Kekuasaan terlalu cepat bisa merusakmu.”
Selama beberapa jam berikutnya, Qing Lin terus berlatih.
Napasnya lebih stabil.
Gerakan lebih presisi.
Sutra Darah Sunyi berdenyut selaras dengan irama napas.
Setiap kali ia hampir kehilangan fokus, Mentor Bayangan hanya menepuk bahunya perlahan, mengingatkan:
“Tenang. Kekuatan yang kau cari ada pada pengendalian, bukan agresi.”
Pada suatu titik, cabang pohon patah karena angin kencang. Qing Lin menoleh sebentar, tapi tidak panik. Tekniknya memungkinkannya tetap seimbang, dan Sutra Darah Sunyi menyesuaikan gerakan tubuhnya secara otomatis.
“Ini… lebih mudah daripada saat melawan makhluk iblis,” gumamnya. “Tapi tetap membutuhkan fokus penuh.”
Mentor Bayangan tersenyum samar. “Setiap latihan dengan teknik ini adalah ujian. Dunia akan menantimu dengan kesulitan nyata, tapi jika kau bisa menguasai Siklus Darah Sunyi, kau akan mampu bertahan tanpa bergantung pada orang lain.”
Malam semakin larut. Qing Lin duduk bersila, tubuhnya lelah, tapi pikiran tetap jernih. Sutra Darah Sunyi di dadanya berdenyut, kini lebih stabil dan padat. Lonjakan energi pertama dari teknik baru terasa nyata: refleks lebih cepat, otot lebih kuat, dan ketahanan tubuh meningkat.
Mentor Bayangan menatapnya. “Kau sudah belajar cukup untuk hari ini. Ingat, ini bukan tentang kemenangan atau kekuatan yang menakutkan. Ini tentang kontrol, kesabaran, dan penguasaan diri. Sutra Darah Sunyi akan membawamu jauh, tapi hanya jika kau tetap manusiawi.”
Qing Lin mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menutup mata, merasakan energi di dalam tubuhnya. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekuatan fisik—sebuah kesadaran baru tentang dirinya sendiri dan jalannya.
Saat ia kembali ke gubuknya, malam semakin pekat. Ia menyiapkan obat untuk bibinya, memastikan semua tertata rapi. Tapi di kedalaman dirinya, ia tahu satu hal: dunia Sekte Batu Awan kini mulai melihatnya dengan cara berbeda. Murid luar dan dalam, penatua, bahkan Mentor Bayangan, semua mulai mencatat keberadaannya.
“Aku… masih polos,” gumamnya sambil menatap langit malam. “Tapi jalanku… baru saja dimulai.”