NovelToon NovelToon
Black

Black

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.

Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.

Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"

Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?

----------

Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Persembunyian

Mobil yang dikendarai Kakek Zayn membelah kesunyian saat perlahan memasuki vegetasi hijau di pedalaman hutan, meski tak terlalu rimbun, tetap menyiratkan kesan terisolasi.

Ban kendaraan menderu halus di atas jalan setapak beton yang sengaja dibangun khusus, membelah barisan pepohonan yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan mereka.

Di kursi sebelah, Kevin hanya terdiam dengan tatapan kosong yang membentur kaca jendela--- wajahnya datar, menyimpan misteri yang tak terbaca seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.

Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer di bawah naungan kanopi hijau, cakrawala tiba-tiba terbuka lebar, menyuguhkan pemandangan laut biru yang membentang tanpa batas hingga ke ujung dunia.

Tepat di bibir pantai yang curam, berdiri sebuah bangunan megah nan kokoh dengan arsitektur yang memancarkan aura dominasi dan kekuatan absolut.

Keberadaannya tidaklah dibiarkan tanpa pengawasan---- sosok-sosok pria berbadan tegap dengan setelan gelap berjaga di setiap sudut strategis, memastikan privasi dan keamanan tempat itu tetap tak tertembus.

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya suara deburan ombak yang menghantam karang secara ritmis yang terdengar—sebuah melodi alam yang menjadi ciri khas sekaligus pengingat bahwa di balik ketenangan airnya, tersimpan rahasia yang tak terduga.

Begitu pintu berat itu terbuka, aroma garam laut seketika berganti dengan hembusan udara sejuk yang steril dan hening, menciptakan kontras yang ganjil dengan gemuruh ombak yang masih terdengar samar di luar.

Langkah kaki Kakek Zayn dan Kevin bergema di sepanjang lorong sunyi yang dingin, hingga sang kakek mengeluarkan sebuah pemancar kecil dari saku jasnya.

Dengan satu tekanan tombol, dinding masif di hadapan mereka bergetar pelan dan terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah laboratorium rahasia yang tersembunyi dari peradaban.

Di dalam ruangan yang berpendar cahaya biru pucat itu, tiga profesor berjas putih tampak tenggelam dalam kesibukan yang intens di hadapan sebuah struktur logam raksasa—sebuah mesin prototipe yang memancarkan aura misterius sekaligus mengancam.

Itulah proyek ambisius yang belum sempurna, sebuah mahakarya ilmiah yang dirancang bukan sekadar untuk teknologi, melainkan sebagai upaya terakhir untuk memutarbalikkan takdir dan memperbaiki kehancuran masa depan yang kian mendekat.

Profesor Heru mendekat dengan tergesa, wajahnya kusut."Tuan Zayn, Anda datang tepat waktu. Kami baru saja melakukan simulasi ke-400 hari ini, dan hasilnya tetap... nihil."

Kakek Zayn berhenti di depan sebuah mesin raksasa yang berpendar biru redup. "Enam bulan, Heru. Kita tidak punya waktu sebanyak itu sebelum 'kehancuran' yang diprediksi itu menjadi nyata. Bagaimana progresnya?"

Profesor Heru melirik Kevin dengan ragu. "Kami sudah mengikuti semua algoritma yang diberikan Kevin. Secara teori, mesin ini harusnya mampu membalikkan partikel entropi. Tapi kenyataannya? Dia kehilangan daya setiap kali mencapai titik puncak

Kevin melangkah maju, menyentuh permukaan dingin mesin tersebut. "Bukan kehilangan daya, Profesor. Dia menolak untuk stabil karena ada variabel yang tidak sinkron antara energi input dan output."

Kakek Zayn mendekati cucunya, nada suaranya merendah namun tajam. "Dan variabel itu adalah tanggung jawabmu, Kevin. Kakek membawamu ke sini bukan hanya karena kau darah keluarga kami, tapi karena kau satu-satunya otak yang bisa membaca pola masa depan ini."

Kevin berbalik, matanya tajam namun terlihat guratan kelelahan yang dalam. "Aku sudah terjebak di ruangan ini selama berminggu - minggu, Kek! Aku makan, tidur, dan bermimpi tentang mesin ini. Masalahnya bukan pada hitungannya. Masalahnya adalah mesin ini membutuhkan sesuatu yang melampaui hukum fisika yang kita kenal sekarang. Kita mencoba menghentikan kiamat dengan teknologi yang masih bayi!"

"Lalu apa yang kau sarankan? Menyerah dan membiarkan dunia terbakar?"

Kevin terhenti sejenak, suaranya melunak namun penuh penekanan. "Aku tidak bilang menyerah. Aku butuh satu kepingan yang hilang. Sesuatu yang membuat mesin ini tidak hanya 'bekerja', tapi 'merasakan' perubahan waktu. Jika aku belum menemukannya dalam enam bulan, mungkin aku memang bukan orang yang tepat."

Kakek Zayn meletakkan tangan di bahu Kevin. "Kau adalah orang yang paling tepat, Kevin. Jangan mencari jawaban di dalam buku lama. Cari jawaban di dalam kepalamu sendiri, di mana masa depan itu pertama kali kau lihat-- saat mereka menunjukkan nya."

Kevin berbalik perlahan, menatap Kakeknya dengan serius. "Sebenarnya, Kakek juga tau... hanya ada satu orang yang otaknya mampu menyinkronkan anomali ini. Hanya satu orang yang bisa melihat celah di antara angka-angka ini dan menyempurnakannya. Dan orang itu adalah Sky."

Suasana ruangan seketika mendingin. Kakek Zayn mengerutkan kening, tangannya menggenggam tongkat penyangga dengan lebih erat.

"Jangan Sky, Kevin. Jangan pernah sebut nama itu di ruangan ini." tolak Kakek Zayn sembari menggelengkan kepalanya.

"Tapi kenapa, Kek? Waktu kita tidak banyak! Masa depan yang mereka katakan itu sedang berjalan menuju kita, dan kita justru membuang satu-satunya kunci yang kita punya!"

"Karena dia belum siap! Sky masih belum mengetahui beban apa yang harus dia pikul. Membawanya ke sini berarti menariknya ke dalam badai yang belum tentu bisa dia lalui. Dia adalah kartu terakhir kita, dan Kakek tidak akan memainkannya hanya karena kau merasa buntu."

Kevin menghela nafas. "Jika aku tetap buntu, maka kartu terakhir itu pun tidak akan ada gunanya karena mesin ini hanya akan menjadi rongsokan besi di tepi pantai."

Kakek Zayn menatap cucunya dengan tatapan tajam namun penuh kekhawatiran, sementara di sudut ruangan, mesin raksasa itu tetap membisu, menyimpan rahasia kiamat yang kian mendekat.

Sementara itu, jauh dari ketegangan, suasana hangat menyelimuti Sky dan Evelyn. Sebagai pengantin baru, sisa-sisa kebahagiaan pernikahan masih terasa. Sky mengemudi dengan santai, satu tangannya menggenggam jemari Evelyn.

"Kau lelah?" tanya Sky lembut, melirik Evelyn yang tampak mengantuk di kursi penumpang.

"Hanya sedikit. Tapi aku senang kita pulang sekarang," jawab Evelyn sambil tersenyum.

Namun, senyum itu lenyap dalam sekejap.

CIIIIIIEEEEEETTTTT!

Suara ban yang bergesekan keras dengan aspal memekakkan telinga. Refleks Sky bekerja secepat kilat. Dia menginjak rem sedalam mungkin sambil merentangkan tangan kirinya dengan kuat di depan dada Evelyn, melindunginya dari guncangan hebat.

"Awas!" teriak Sky.

Di depan mereka, pemandangan kacau tersaji. Tiga mobil saling bertabrakan, menciptakan tumpukan besi tua yang berasap di tengah jalan. Mobil Sky berhenti hanya beberapa sentimeter dari bemper kendaraan di depannya.

Napas Sky memburu. Dia menoleh cepat ke arah istrinya. "Evelyn! Kau tidak apa-apa? Katakan sesuatu, kau terluka?"

Evelyn gemetar, matanya terbelalak menatap kecelakaan beruntun di depan mereka. "Aku... aku tidak apa-apa, Sky. Aku hanya terkejut." Sky mengembuskan napas lega,

Evelyn gemetar. "Sky... apa yang terjadi? Ya Tuhan, lihat mereka!"

Napas Sky menderu, mata tajam menatap kekacauan. "Tetap di sini, Evelyn. Kunci semua pintu. Jangan keluar apa pun yang terjadi."

" Berhati-hatilah Sky,"

Sky keluar dari mobil, berlari ke balik bayangan truk yang terguling. Dalam hitungan detik, sosok pemuda yang tadi mengenakan kemeja rapi menghilang. Dari balik kepulan asap, muncul sosok tegap dengan kostum hitam legam dan topeng yang menyembunyikan identitasnya.

Black...

Seorang wanita terjepit di dalam mobil yang mulai terbakar, berteriak histeris. Sang Pahlawan Bertopeng Hitam melompat ke atas kap mobil, menarik pintu yang ringsek itu seolah-olah hanya terbuat dari kertas timah.

Suara Black berat yang disamarkan. "Tenanglah. Aku di sini. Kau aman sekarang."

Di tengah kekacauan itu, Sky—dalam wujud pahlawannya—menyadari satu hal--- Kekacauan di jalanan ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

BERSAMBUNG

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Ntar kalo Elvira pny anak jgn dikasih nama Elvis y thor, makin puyeng
gaby
Namanya agak bikin bingung, beberapa mirip, Elmira, elvira, Eveleyn. Ga ada nama lain apa, bikin puyeng
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
gaby
Mantap crazyup nya thor. Smangat👍👍
gaby
Bukannya anak Rodrigo dah mati di bunuh Elvira di toilet mall. Tp ko Vania msh hdp?? Kan vania anak Rodrigo
ROGUES POINEX: Yang di bunuh Elvira anak dan Istri dari Menteri Pertahanan
total 2 replies
gaby
Msh misteri, kebahagiaan siapa yg akan mreka hancurkan?? Karena yg kliatan lg bahagia cm Sky & Evelyn. Apa mreka mau menghancurkan kebahagiaan ortu mreka sendiri??
gaby
Kayanya critanya lbh seru dr kisah Angel & Langit di Judul sebelumnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!