Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Kedamaian yang dinikmati Citra seharian itu harus berakhir tepat pada pukul dua dini hari.
Citra, yang sejak sore nekat tidur di tengah-tengah kasur king size, seketika terlonjak bangun saat telinganya menangkap deru mesin mobil sports yang memasuki pelataran mansion dengan kecepatan ugal-ugalan. Decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal terdengar nyaring membelah keheningan malam yang pekat.
Panik, Citra buru-buru menyingkir dari tengah kasur, merapikan selimut goose down yang sempat ia pakai agar tak terlihat pernah ditiduri, lalu kembali meringkuk di sudut paling pinggir ranjang zona amannya yang sempit. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napas agar pura-pura tertidur seperti biasa.
Namun, ketukan langkah kaki di lorong lantai dua kali ini terdengar sangat berbeda. Tidak ada ketukan pantofel yang tegas, berwibawa, dan ritmis. Langkah itu terdengar terseret, berat, dan sesekali diiringi bunyi gedebuk pelan seolah tubuh seseorang menabrak dinding lorong berkali-kali.
Brak!
Pintu kamar utama didorong terbuka dengan sangat kasar hingga gagang besinya membentur tembok.
Citra mengintip dari balik bulu matanya. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. Di ambang pintu, berdirilah Putra Mahesa Aditama. Namun, pria itu sama sekali tidak terlihat seperti CEO muda yang dingin, arogan, dan selalu sempurna tanpa cela. Pria yang biasanya tampil rapi bagaikan model majalah bisnis itu kini tampak luar biasa menyedihkan.
Putra terlihat sangat kacau. Jas mahalnya entah tertinggal di mana. Kemeja putihnya kusut masai dengan tiga kancing teratas sudah terlepas paksa, mengekspos dadanya yang naik turun tak beraturan. Dasinya menggantung longgar tak karuan di leher. Rambutnya yang selalu tersisir klimis ke belakang kini berantakan, jatuh menutupi sebagian keningnya yang berkeringat. Pria itu berdiri terhuyung-huyung sambil berpegangan kuat pada kusen pintu, berusaha keras menyeimbangkan tubuhnya yang limbung.
Putra melangkah masuk dengan gontai. Saat pria itu berjalan melewati sofa dan mendekati ranjang, sebuah aroma pekat langsung menyergap indra penciuman Citra.
Itu bukan aroma red wine mahal atau cerutu. Itu juga bukan aroma parfum maskulin beraroma pinus kesukaan suaminya.
Itu adalah aroma parfum wanita. Sangat manis, sangat pekat, dan luar biasa menyengat, seolah Putra baru saja tenggelam dalam pelukan wanita yang memakai parfum itu berjam-jam lamanya. Bahkan, dari jarak sedekat ini, Citra bisa melihat dengan jelas noda lipstik merah menyala yang tercetak di kerah kemeja putih Putra, sebuah bukti nyata dari kehidupannya yang liar di luar sana.
Brukk!
Alih-alih merebahkan diri di atas kasur, tubuh Putra merosot dan ambruk begitu saja di atas karpet berbulu tebal tepat di samping pinggiran ranjang. Pria itu telentang dengan lengan menutupi matanya, napasnya memburu dan berbau alkohol yang sangat tajam.
Citra perlahan bangkit dari posisinya, duduk bersila di pinggir kasur, menatap suaminya yang tak berdaya di lantai.
Tidak ada sebersit pun rasa cemburu, cemas, patah hati, atau amarah di dada Citra saat mencium parfum wanita lain atau melihat noda lipstik itu. Ia sama sekali tidak merasa dikhianati, karena sejujurnya, ia tidak peduli jika Putra menghabiskan malam dengan seratus wanita sekalipun. Boro-boro cinta, rasa hormatnya pun sudah habis tak bersisa.
Namun, rasa terkejutnya perlahan muncul saat Putra tiba-tiba mulai meracau dalam mabuknya.
"Kenapa..." gumam Putra pelan, suaranya serak dan parau, terdengar begitu rapuh berbeda seratus delapan puluh derajat dari nada angkuhnya sehari-hari.
Pria itu menggeliat gelisah di atas karpet. Tangannya meremas kerah kemejanya sendiri seolah sedang menahan sesak di dadanya yang hancur.
"Laura..." panggil Putra lirih. "Kenapa kamu tinggalin aku, Laura..."
Mata Citra sedikit membesar. Ia memiringkan kepalanya, menajamkan pendengaran di tengah keheningan kamar.
"Aku nggak mau nikah sama dia, Ra... Aku maunya sama kamu..." racauan Putra semakin tak beraturan, terdengar seperti rintihan pilu dari seorang pria yang patah hati hebat. "Laura... kembalilah..."
Di atas ranjang, Citra membeku sesaat. Otaknya yang sangat pragmatis langsung berputar cepat merangkai fakta-fakta yang berserakan menjadi sebuah kesimpulan yang utuh.
Laura. Jadi, itu nama wanita masa lalunya.
Pantas saja Putra begitu membenci perjodohan ini hingga ke ubun-ubun. Pantas saja pria itu memandang Citra dengan penuh rasa jijik dan kemarahan sejak detik pertama mereka bertemu di pelaminan. Pantas saja Putra selalu menciptakan neraka dan aturan tak masuk akal di dalam kamar ini.
Ternyata, Putra Mahesa Aditama yang selalu bersikap seperti dewa tak tersentuh itu hanyalah seorang pria menyedihkan yang dipaksa melepaskan wanita yang paling dicintainya demi mematuhi titah Pak Aditama. Putra melampiaskan semua rasa sakit hati, kekecewaan, dan kehilangannya itu kepada Citra satu-satunya target sasaran yang ia anggap lemah dan tak berdaya melawannya.
Menatap pria arogan yang kini merintih memanggil nama wanita lain di lantai kamarnya, Citra sama sekali tidak merasa kasihan. Tidak ada simpati untuk pria yang telah merendahkannya dan melempuhkannya dengan air kopi panas. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang penuh perhitungan dingin.
Melihat pria yang selalu mengagungkan kesempurnaan dan kekuasaan itu kini tergeletak merana bagaikan gelandangan patah hati di atas karpet mewahnya sendiri, memberi kepuasan tersendiri bagi Citra. Pria yang selalu menuntut kesempurnaan dan etiket kelas atas di dalam rumah, ternyata tak lebih dari seorang pecundang rapuh yang mencari pelarian murah di luar sana. Standar ganda suaminya itu benar-benar sangat menggelikan. Ini adalah balasan instan yang sangat pantas untuk pria yang tega menyiksanya tanpa ampun. Ini bukan tentang istri yang tersakiti, ini tentang menemukan kelemahan absolut sang diktator. Sebuah kepingan puzzle paling krusial baru saja jatuh ke pangkuannya secara cuma-cuma tanpa perlu ia cari. Rahasia ini adalah titik buta Putra.
Citra tidak berniat turun tangan membantu Putra naik ke atas kasur. Ia juga tidak berniat repot-repot membukakan sepatu kulit pantofel pria itu, melonggarkan dasinya, atau sekadar menyelimutinya agar tak kedinginan. Biarkan saja CEO sombong itu tertidur di lantai dengan pakaian kotor dan terbangun dengan punggung patah serta sakit kepala hebat esok pagi. Lagipula, itu belum seberapa dibandingkan dengan rasa dingin dan hinaan yang harus Citra rasakan selama berminggu-minggu.
Citra kembali berbaring di pinggir kasurnya, menarik selimut tipisnya sebatas leher. Sambil mendengarkan racauan mabuk Putra yang perlahan memudar menjadi dengkuran halus akibat pengaruh alkohol, Citra memejamkan matanya dengan pikiran yang sangat jernih.
Ia tidak lagi sekadar menjadi korban tanpa senjata. Kini, ia mengantongi sebuah nama. Sebuah kunci rahasia. Dan di saat yang tepat nanti, ia tahu persis bagaimana cara mengasah nama "Laura" itu menjadi belati tajam untuk meruntuhkan keangkuhan suaminya hingga rata dengan tanah. Ia menatap jam dinding yang terus berdetak. Pukul setengah tiga pagi. Malam ini resmi menjadi saksi bisu transisi posisinya dari sekadar pion tak berharga menjadi pemain yang akan segera membalikkan papan catur.
Mohon tinggalkan like 🙏❤
atau happy bersama lelaki lain
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih