NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Sahabat dalam Luka

Kantor penerbitan "Lentera Hati" biasanya menjadi tempat perlindungan bagi Nida. Aroma kertas baru, deru mesin cetak di kejauhan, dan tumpukan naskah yang menunggu untuk disunting selalu berhasil membuat Nida lupa sejenak pada hiruk-pikuk dunia. Namun hari ini, ruangan kerjanya terasa sempit, seolah dinding-dinding kaca itu perlahan menghimpitnya. Di depannya duduk Arini, sahabat sekaligus editor senior yang telah menemani perjalanan karier Nida sejak buku pertamanya. Arini adalah orang yang paling tahu bagaimana Nida berjuang dari nol, namun ia adalah orang terakhir yang tahu tentang badai yang sedang menghancurkan hidup sahabatnya itu.

Nida baru saja meletakkan hasil laboratorium itu di atas meja. Keheningan yang tercipta setelahnya terasa begitu pekat, hanya interupsi suara AC yang menderu pelan. Arini menatap kertas itu, lalu menatap Nida, lalu kembali ke kertas itu lagi. Matanya yang biasanya jenaka kini basah.

"Nida... ini tidak lucu. Kamu sedang membuat plot untuk novel barumu, kan?" suara Arini bergetar, mencoba mencari celah untuk menyangkal kenyataan.

Nida menggeleng lemah. Senyumnya tipis, sarat dengan kelelahan yang tak terlukiskan. "Aku berharap begitu, Ar. Aku berharap ini hanya imajinasi yang bisa kuhapus dengan tombol *backspace*. Tapi sel ini nyata. Dia sedang berpesta di dalam tubuhku, merampas waktuku sedikit demi sedikit."

Arini bangkit dan langsung memeluk Nida. Isak tangisnya pecah di bahu Nida yang kini terasa lebih menonjol tulangnya. "Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu masih masuk kantor? Kenapa kamu tidak bilang padaku sejak bulan lalu saat kamu mulai sering ijin sakit?"

"Karena aku tidak ingin dikasihani, Ar. Aku ingin tetap menjadi Nida yang produktif sampai akhir," bisik Nida sambil mengusap punggung sahabatnya. "Tapi aku butuh bantuanmu sekarang. Bukan untuk urusan medis, tapi untuk urusan... masa depan Fandy dan anak-anak."

Nida kemudian menceritakan segalanya. Tentang rencananya mencarikan istri untuk Fandy, tentang kriterianya yang ketat, dan tentang sosok Hana yang baru saja ia temui. Arini melepaskan pelukannya, menatap Nida dengan pandangan tidak percaya—pandangan yang sama yang diberikan Fandy saat pertama kali mendengar ide itu.

"Kamu gila, Nid! Benar-benar gila!" Arini menyeka air matanya dengan kasar. "Kamu sedang sakit, kamu butuh dukungan suamimu sepenuhnya, tapi kamu malah menyuruhnya melihat wanita lain? Bagaimana kalau Fandy benar-benar jatuh cinta pada wanita itu saat kamu masih berjuang? Kamu tidak takut sakit hati?"

"Sakit hati karena cemburu jauh lebih ringan daripada sakit hati melihat anak-anakku tumbuh tanpa ibu yang salehah, Ar," Nida menjawab dengan ketegasan yang membuat Arini terdiam. "Aku butuh kamu untuk memuluskan jalanku. Aku ingin kamu mengatur pertemuan-pertemuan 'profesional' antara Fandy dan Hana. Mas Fandy sedang keras kepala, dia menolak mentah-mentah. Tapi kalau itu dibungkus dengan urusan naskah atau proyek yayasan, dia tidak akan bisa mengelak."

"Nida, aku tidak yakin bisa melakukan ini. Aku merasa seperti sedang membantu seseorang untuk selingkuh, meskipun itu atas izin istrinya sendiri," protes Arini.

"Ini bukan perselingkuhan, Arini. Ini adalah suksesi. Tolong aku. Kamu sahabatku satu-satunya yang paham betapa aku sangat mencintai keluargaku. Bantu aku melindungi mereka dari Anita."

Nama Anita cukup untuk membuat Arini menghela napas. Arini tahu betul siapa Anita Sasmira; ia pernah bertemu wanita itu di beberapa acara peluncuran buku Nida dan langsung merasa ada aura negatif yang terpancar. "Baiklah... aku akan coba. Tapi aku tidak janji Fandy tidak akan mengamuk jika dia tahu ini semua adalah skenariomu."

Sepulangnya dari kantor, Nida mendapati suasana rumah semakin menegang. Di ruang tamu, ia melihat Fandy sedang beradu argumen di telepon dengan Mama Rosa. Suara Fandy terdengar tinggi, sesuatu yang jarang terjadi.

"Ma, aku sudah bilang, aku tidak butuh Anita untuk mengatur rumahku! Nida masih sanggup, dan aku bisa menyewa orang lain kalau perlu!" teriak Fandy sebelum menutup telepon dengan kasar.

Begitu melihat Nida masuk, Fandy langsung menghampirinya. "Lihat, Nida. Ini yang terjadi karena kamu membiarkan celah itu terbuka. Mama terus-terusan mendesakku agar Anita pindah ke sini untuk 'membantu'. Dia bilang ini permintaanmu juga secara tersirat. Benar begitu?"

Nida menghela napas, ia duduk di sofa dengan lemas. "Aku tidak pernah bilang begitu, Mas. Tapi aku memang bilang pada Mama kalau aku butuh bantuan. Mungkin Mama menyalahartikannya."

"Jangan bohong padaku, Nida! Kamu membiarkan Mama menekan aku agar aku terbiasa dengan kehadiran Anita, supaya nantinya aku menyerah dan menerima ide gilamu itu, kan?" Fandy berdiri di depan Nida, dadanya naik turun karena emosi. "Kamu menggunakan Mama untuk memojokkan aku!"

"Demi Allah, Mas, tidak!" Nida berdiri, mencoba mengimbangi tinggi suaminya meski kepalanya berdenyut hebat. "Aku justru takut pada Anita! Itulah sebabnya aku ingin kamu melihat Hana. Karena Hana adalah satu-satunya benteng yang bisa menghalangi Anita masuk ke sini!"

"Aku tidak butuh benteng! Aku butuh kamu, Nida! Hanya kamu!" Fandy memegang kedua bahu Nida, mengguncangnya pelan seolah ingin menyadarkan istrinya dari mimpi buruk. "Kenapa kamu tidak mengerti? Aku lebih baik hidup sendiri selamanya daripada harus melihat wanita lain duduk di kursimu, memakai mukenamu, dan tidur di sampingku!"

Di tengah perdebatan panas itu, Syabila muncul dari balik pintu kamar. Wajahnya sembap, matanya memerah. Ternyata ia telah mendengar sebagian besar percakapan orang tuanya. "Ayah... Ibu... apa benar Ibu mau pergi?" suaranya bergetar, kecil dan rapuh.

Nida dan Fandy seketika terdiam. Kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak padam, berganti dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Nida berlari memeluk Syabila, namun putrinya itu justru menjauh.

"Kenapa Ibu sibuk cari pengganti? Apa Ibu sudah tidak sayang pada kami? Apa kami hanya barang yang bisa Ibu titipkan pada siapa saja?" tangis Syabila pecah. Ia lari kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.

Fandy menatap Nida dengan pandangan yang sangat menusuk. "Lihat apa yang kamu lakukan, Nida. Kamu bukan hanya menghancurkan hatiku, tapi kamu mulai menghancurkan hati anak-anakmu. Apakah ini yang kamu sebut menyiapkan masa depan?"

Fandy mengambil kunci mobilnya dan keluar rumah tanpa pamit. Deru mesin mobil yang menjauh meninggalkan Nida dalam kesunyian yang mencekam. Nida jatuh terduduk di lantai ruang tamu. Rasa sakit di perutnya kembali datang, kali ini disertai dengan pendarahan ringan yang membuatnya sangat lemas. Namun, luka di hatinya jauh lebih hebat. Ia merasa gagal di hadapan semua orang: sebagai istri, ia dianggap menghina suaminya; sebagai ibu, ia dianggap membuang anaknya.

Ia meraih ponselnya, menelepon Arini dengan napas tersengal. "Ar... tolong aku. Segalanya jadi berantakan. Syabila tahu segalanya."

Malam itu, Arini datang ke rumah Nida, membawa ketenangan yang sangat dibutuhkan. Ia membantu Nida membersihkan diri dan membujuk Syabila keluar dari kamar. Arini menggunakan kepiawaiannya sebagai editor untuk "menyunting" narasi di depan Syabila, menjelaskan bahwa ibunya sedang berjuang karena sangat mencintai mereka, bukan karena ingin membuang mereka.

"Syabila, ibumu hanya sangat takut. Takut kalau suatu saat dia tidak bisa memelukmu lagi, tidak ada orang yang se-shalehah dia yang menjagamu. Dia sedang mencari penjaga surga untukmu, Nak," ujar Arini lembut sambil mengelus rambut Syabila.

Nida hanya bisa melihat dari kejauhan, hatinya hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa rencananya, meski bertujuan mulia, telah menimbulkan luka yang dalam. Namun, ketika ia melihat profil Hana di media sosialnya malam itu—melihat foto Hana yang sedang menggendong anak yatim di panti asuhan—tekad Nida kembali mengeras.

"Aku mungkin dibenci sekarang, tapi kelak mereka akan mengerti," bisik Nida pada kegelapan.

Konflik ini semakin memuncak ketika keesokan harinya, Anita datang lagi ke rumah dengan membawa pengacara keluarga. Ternyata, Mama Rosa sudah mulai merencanakan sesuatu yang lebih jauh: mencoba memasukkan Anita sebagai wali sah bagi anak-anak Fandy jika terjadi sesuatu pada Nida, dengan alasan Nida sudah tidak stabil secara mental akibat penyakitnya.

Nida menyadari bahwa ia tidak punya waktu lagi untuk berdebat dengan Fandy. Ia harus bertindak cepat. Dengan bantuan Arini, ia mulai menjadwalkan pertemuan pertama antara Fandy dan Hana di sebuah acara amal yayasan literasi minggu depan. Nida akan memastikan mereka bertemu, meski ia harus menyeret dirinya sendiri dalam kesakitan yang luar biasa. Baginya, ini bukan lagi sekadar mencari istri untuk suaminya, ini adalah perjuangan menyelamatkan keluarganya dari cengkeraman ambisi Anita yang mulai menampakkan taringnya.

Malam itu, Nida menulis di buku catatan cokelatnya: *Maafkan Ibu, Syabila. Suatu hari nanti, kamu akan bersyukur karena ada Hana di sampingmu, bukan Anita yang akan merusak duniamu.* Air matanya jatuh tepat di atas nama Hana, mengaburkan tinta hitam itu, seolah menyatukan takdir mereka dalam genangan luka.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!