NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17~Janji yang tumbuh di bawah bintang

Sudah hampir setahun sejak Taman Langit diresmikan.

Setiap kali aku lewat di sana, aku selalu melihat seseorang duduk di kursi kayu itu — entah pasangan muda, entah anak kecil bersama orang tuanya, entah orang tua yang sedang membaca koran.

Dan setiap kali melihat mereka, aku selalu tersenyum, karena aku tahu: taman itu tidak hanya menceritakan kisahku dan Raka, tapi juga kisah siapa pun yang percaya bahwa cinta bisa tumbuh di tempat yang sederhana.

Aku kini bekerja sebagai asisten guru biologi di salah satu sekolah swasta kecil di Jakarta.

Rasanya lucu — dulu aku belajar tentang daun, akar, dan proses tumbuh; sekarang aku mengajarkan hal yang sama sambil tersenyum, karena setiap kata terasa punya makna lebih dalam.

Raka juga berkembang pesat di pekerjaannya.

Proyek taman yang kami buat menjadi titik balik dalam kariernya. Kini ia menjadi arsitek muda yang mulai dikenal. Tapi di balik semua kesibukannya, dia tetap Raka yang sama — orang yang selalu sempat menanyakan,

“Udah makan, Ly?”

“Tanaman di jendela kamu tumbuh nggak?”

“Jangan lupa istirahat, ya.”

Hal-hal kecil yang dulu mungkin terasa biasa, tapi sekarang jadi hal yang aku syukuri setiap hari.

Sore itu, setelah mengajar, aku duduk di taman sekolah sambil memeriksa hasil ulangan murid-muridku.

Langit mulai berwarna oranye. Suara bel sepeda terdengar dari jauh, dan aku spontan menoleh.

Seseorang datang membawa dua gelas minuman dingin — siapa lagi kalau bukan Raka.

“Untuk guru favorit anak-anak,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.

Aku tersenyum. “Dan untuk arsitek paling sibuk di kota Jakarta.”

Dia duduk di sebelahku. “Kamu tahu nggak, Ly? Tiap kali aku lewat sekolah ini, aku selalu inget waktu kita masih SMA.”

Aku tertawa kecil. “Jangan bilang kamu kangen pelajaran matematika.”

Dia menggeleng cepat. “Aku kangen kamu yang dulu suka nyengir tiap guru nyuruh maju ke depan.”

Aku menatapnya pura-pura kesal. “Aku nyengir karena takut, bukan senang.”

“Justru itu lucunya,” katanya sambil tertawa.

Kami terdiam sejenak, menikmati suasana sore yang damai. Angin meniup rambutku pelan, dan Raka memandangku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah.

“Ly,” katanya pelan, “aku selalu suka lihat kamu di tempat kayak gini — tempat yang penuh kehidupan.”

Aku tersenyum kecil. “Karena aku tumbuh di antara hal-hal hidup. Tanaman, anak-anak, dan… kamu.”

Dia tersenyum lebih lebar. “Aku termasuk dalam kategori hidup juga, ya?”

Aku pura-pura berpikir. “Kadang sih kamu lebih mirip matahari. Datang pagi-pagi, bikin hangat, tapi juga bisa bikin keringetan kalau kelamaan.”

Dia tertawa keras sampai beberapa anak yang lewat menoleh penasaran. “Aku terima. Asal kamu jangan jadi awan yang ngilang tiba-tiba.”

Aku menatapnya. “Nggak, Rak. Aku janji.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tapi entah kenapa terasa dalam.

Janji — kata yang sederhana tapi berat. Kami sudah membuatnya sejak lama, dan hari demi hari kami belajar menjaga arti di baliknya.

Beberapa bulan berlalu.

Kehidupan kami berjalan cepat. Aku sibuk dengan tahun ajaran baru, sementara Raka semakin dalam dengan proyek barunya: taman vertikal di salah satu gedung perkantoran besar.

Kami masih sering bertemu, tapi waktunya semakin sempit.

Suatu malam, aku menunggu di taman kami — Taman Langit.

Langit dipenuhi bintang, dan lampu taman memantulkan cahaya lembut ke kolam kecil di tengahnya.

Aku memegang dua gelas cokelat panas — satu untukku, satu untuknya.

Namun waktu berlalu, jam menunjukkan pukul delapan malam, dan dia belum datang.

Pesanku belum dibalas. Teleponku juga belum diangkat.

Aku mencoba menenangkan diri, tapi bayangan masa lalu — waktu kami pernah terpisah jarak — kembali muncul.

Akhirnya, sekitar pukul sembilan, ponselku bergetar.

Raka: “Ly, maaf banget. Aku masih di lokasi. Ada masalah di struktur taman vertikalnya. Aku janji, kalau semua udah aman, aku nyusul.”

Aku mengetik cepat:

Alya: “Nggak apa-apa, Rak. Fokus aja dulu. Aku ngerti.”

Tapi setelah kukirim, aku hanya menatap layar lama.

Angin malam berembus, dan aku tersenyum kecil sambil berkata pada diri sendiri,

“Aku ngerti, tapi aku kangen.”

Beberapa hari kemudian, Raka akhirnya menemuiku.

Dia terlihat lelah, tapi matanya penuh semangat.

“Maaf banget, Ly,” katanya sambil duduk di kursi taman. “Aku tahu kamu nunggu waktu itu.”

Aku menatapnya, tersenyum. “Aku nggak marah. Aku tahu kamu lagi ngejar impian kamu.”

Dia menatapku dalam. “Tapi aku juga nggak mau kehilangan momen-momen kecil sama kamu. Aku takut lupa rasanya tenang.”

Aku menatap langit senja di atas kami. “Rak, hidup nggak akan berhenti berubah. Tapi tenang itu bukan tempat, bukan waktu. Tenang itu kamu tahu kamu dicintai, meski orangnya lagi jauh.”

Dia menatapku lama, lalu menghela napas lega. “Kamu tahu, Ly, kamu selalu ngomong kayak orang yang ngerti isi pikiranku.”

Aku tersenyum kecil. “Mungkin karena aku udah denger versi hatimu sejak SMA.”

Dia tertawa pelan. “Berarti kamu udah hafal lagunya.”

Aku mengangguk. “Dan aku masih suka nadanya.”

Beberapa minggu kemudian, proyek Raka selesai lebih cepat dari jadwal.

Dia mengajakku ke taman vertikal yang baru selesai itu — gedungnya tinggi, dengan dinding penuh tanaman yang menjuntai seperti air terjun hijau.

“Cantik banget…” kataku pelan saat kami berdiri di bawahnya.

Raka menatap hasil karyanya dengan bangga. “Kamu tahu, Ly, waktu aku ngerancang taman ini, aku inget kata-kata kamu — ‘cinta juga harus kuat pas gelap’. Makanya aku bikin pencahayaan alami biar tanamannya bisa hidup meski sinar matahari nggak langsung nyentuh.”

Aku menatapnya kagum. “Kamu beneran ingat?”

Dia menatapku balik. “Aku ingat semua hal yang kamu bilang. Karena setiap kata kamu selalu jadi bagian dari desain hidupku.”

Aku tertawa kecil. “Kamu tuh, bisa aja.”

Dia tersenyum lembut. “Nggak, Ly. Aku serius. Taman ini, buatku, simbol janji. Janji bahwa aku bakal terus tumbuh, terus belajar, dan terus kembali — ke kamu.”

Aku menatapnya lama, dan kali ini aku yang menggenggam tangannya duluan.

“Dan aku janji juga, Rak. Aku bakal terus percaya, bahkan pas kamu terlalu sibuk buat ngomong. Karena aku tahu, cinta kita nggak butuh kata setiap hari. Dia cukup tumbuh lewat tindakan.”

Raka menatapku — mata kami saling berbicara tanpa suara.

Dan di antara dinding hijau yang menjulang tinggi, aku tahu: janji kami masih hidup, seperti daun-daun itu.

Malamnya, setelah pulang, aku duduk di balkon kos.

Langit penuh bintang. Aku menatap gelang hijau di tanganku yang kini warnanya sudah semakin pudar, tapi masih kuat melingkar.

Aku tersenyum. “Dia tetap di sini,” bisikku. “Kayak janji kita.”

Aku mengambil buku catatan kecil dan menulis sesuatu di halaman kosong:

“Cinta itu bukan tentang berapa lama bertahan, tapi berapa sering kita memilih untuk tetap tinggal.

Karena setiap hari yang kita pilih untuk mencintai — itulah bentuk janji paling nyata.”

Waktu terus berjalan.

Raka dan aku tumbuh — bukan lagi dua remaja yang mencari arah, tapi dua orang yang belajar berjalan beriringan, kadang cepat, kadang pelan.

Kami masih sering ke Taman Langit setiap akhir pekan.

Suatu malam, di bawah bintang-bintang yang terang, kami duduk di kursi kayu itu lagi.

Taman terasa sepi, tapi hangat.

“Ly,” kata Raka tiba-tiba, “kamu tahu nggak kenapa aku kasih nama taman ini ‘Langit’?”

Aku menoleh. “Karena langit luas?”

Dia menggeleng pelan. “Karena langit itu satu-satunya hal yang bisa dilihat semua orang dari mana pun mereka berada.

Waktu aku di Surabaya, aku sering liat langit dan mikir, ‘Alya pasti juga lagi liat ini’. Jadi meski kita jauh, aku nggak pernah ngerasa sendirian.”

Aku menatapnya lama. “Dan sekarang?”

Dia tersenyum lembut. “Sekarang aku liat langit bukan buat nyari kamu, tapi buat bersyukur — karena akhirnya kamu di sini.”

Aku tersenyum, mataku berkaca. “Kamu tahu, Rak… kadang aku pikir, kalau bukan karena hujan-hujan waktu itu, mungkin kita nggak akan sampai sejauh ini.”

Dia menatapku. “Mungkin iya. Tapi aku percaya, hal-hal besar selalu mulai dari kebetulan kecil.”

Aku tertawa pelan. “Kayak dijodohin waktu SMA?”

Dia mengangguk sambil tertawa. “Dan berakhir dengan janji di bawah bintang.”

Kami saling menatap.

Hening sesaat, lalu dia berkata pelan, “Ly, aku belum tahu kapan waktunya tepat. Tapi aku tahu satu hal — aku nggak akan berhenti nulis cerita sama kamu.”

Aku menatap bintang di langit, lalu kembali menatapnya. “Kalau gitu, aku janji satu hal juga.”

Dia menatapku penasaran. “Apa?”

Aku tersenyum. “Aku nggak akan berhenti percaya, bahkan kalau cerita kita nggak selalu mudah.”

Raka mengangguk, lalu menggenggam tanganku erat.

Dan di bawah langit malam itu — dengan bintang, angin, dan kenangan yang berputar di antara kami — aku tahu: janji yang kami buat bukan sekadar kata-kata.

Itu bagian dari hidup yang tumbuh bersama kami.

Cinta ini bukan lagi tentang siapa yang datang duluan atau siapa yang menunggu lebih lama,

tapi tentang dua hati yang memilih untuk saling temani,

hari demi hari, di bawah langit yang sama.

✨ Bersambung ke Bab 18

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!