NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Pernikahan Sederhana

#

Suara adzan Ashar mengalun lembut dari pengeras suara masjid Nurul Iman, masjid tua di sudut kampung yang catnya sudah mengelupas di sana sini. Di beranda masjid yang retak, Naura duduk di kursi plastik lusuh dengan tangan yang gemetar memegang sehelai kain putih sederhana. Kerudung sutra murahan menutupi kepalanya, bukan karena pilihan, tapi karena hanya itu yang mampu ia beli dengan uang hasil jualan gorengan ibunya selama tiga bulan.

"Naura, kamu yakin dengan pilihan kamu?" Ibu Siti, ibunya, duduk di sampingnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir. Wajahnya yang keriput karena beban hidup kelihatan semakin tua hari ini. "Zidan itu... dia baik, soleh, tapi dia nggak punya apa apa. Kalian mau makan apa besok? Mau tidur dimana?"

Naura menoleh ke ibunya. Matanya yang besar itu berbinar meski basah. "Bu, aku yakin. Zidan itu... dia beda. Dia nggak pernah sekali pun ngeluh waktu aku bilang aku nggak bisa kasih pesta besar. Malah dia yang bilang, 'Yang penting halal, Naura. Yang penting berkah.' Lelaki kayak gitu dimana lagi Bu?"

Ibu Siti menggeleng pelan sambil menarik napas panjang. "Iya sih, tapi..."

"Nggak ada tapi tapian Bu," potong Naura lembut. "Aku udah ngerasa tenang sama dia. Waktu sholat, aku selalu minta petunjuk sama Allah. Dan hati aku selalu bilang, Zidan orangnya. Titik."

Di sudut lain beranda masjid, Zidan berdiri sendiri dengan kemeja putih lengan panjang yang dipinjam dari kakaknya, Mas Hadi. Kemeja itu kebesaran sedikit di bagian pundak, tapi itu satu satunya kemeja layak yang ia punya. Celana bahan hitamnya sudah pudar warnanya, tapi sudah ia setrika sampai rapi sekali. Wajahnya yang tegas dengan jenggot tipis kelihatan tegang. Tangannya yang kasar karena kerja keras sebagai sopir angkot meremas remas kain sarung yang melingkar di pinggangnya.

"Dan, lo serius? Lo yakin?" Mas Hadi, kakaknya yang lebih tua lima tahun, menepuk pundaknya pelan. "Gue nggak meremehkan Naura ya. Dia baik, cantik juga. Tapi Dan... lo sendiri belum punya apa apa. Kontrakan aja belum pasti. Lo mau bawa istri lo kemana nanti malem?"

Zidan menarik napas dalam dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Mas, gue udah sewa kontrakan di Gang Melati. Tiga kali empat meter. Sebulan dua ratus ribu. Gue udah nabung setahun buat itu. Kasur ada, tikar ada, kompor minyak ada. Cukup lah buat awal."

"Terus kalau lo sakit? Kalau angkot lo mogok? Kalau Naura hamil?"

"Mas..." Zidan menoleh dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Gue nggak bisa jawab semua itu sekarang. Gue cuma yakin satu hal. Allah udah kasih gue Naura. Perempuan yang nggak pernah nuntut macem macem. Yang terima gue apa adanya. Yang bahkan rela nikah cuma pakai mahar seperangkat alat sholat. Perempuan kayak gitu susah, Mas. Gue harus jaga dia. Apapun yang terjadi."

Mas Hadi terdiam. Lalu mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya udah. Gue doain lo berdua. Semoga langgeng sampai mati."

Pukul empat sore, akad nikah dimulai.

Ruang utama masjid yang kecil itu hanya dihadiri sekitar dua puluh orang. Keluarga Naura sepuluh orang, keluarga Zidan delapan orang, dan beberapa tetangga dekat yang penasaran. Tidak ada dekorasi. Tidak ada bunga. Tidak ada pelaminan. Yang ada hanya karpet masjid yang sudah tipis, dan satu kipas angin yang berderit pelan di sudut ruangan.

Pak Ustadz Ahmad, imam masjid yang rambutnya sudah memutih, duduk di depan dengan mushaf usang di tangannya. "Bismillahirrahmanirrahim. Kita mulai akad nikah antara Saudara Zidan bin Samsul dengan Saudari Naura binti Siti. Maskawinnya berupa seperangkat alat sholat yang terdiri dari sajadah, mukena, dan tasbih. Dibayar tunai."

Beberapa tetangga berbisik bisik di belakang.

"Maskawinnya cuma segitu doang?"

"Iya, kasian juga ya. Miskin banget kayaknya."

"Nikah kok kayak gini. Nanti hidupnya gimana coba?"

Naura yang duduk di belakang tirai tipis mendengar semua itu. Dadanya sesak. Tangannya yang dingin ia genggam erat erat. Zahra, sahabatnya sejak kecil yang duduk di sampingnya langsung memeluk bahunya.

"Naura, jangan dengerin mereka. Mereka nggak ngerti apa apa. Yang penting kamu bahagia," bisik Zahra pelan.

Naura mengangguk pelan sambil menahan air mata yang hampir tumpah. "Aku bahagia, Zah. Aku... cuma sedih aja dengernya."

Di depan tirai, Zidan mulai mengucapkan ijab.

"Saya terima nikahnya Naura binti Siti dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dibayar tunai."

Suaranya bergetar. Tangannya gemetar saat menjabat tangan Pak Ustadz Ahmad. Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski kipas angin menyala. Bukan karena gugup. Tapi karena ia tahu betul betapa besar tanggung jawab yang baru saja ia pikul.

"Sah!" Pak Ustadz Ahmad tersenyum lebar sambil memeluk Zidan. "Selamat ya, Nak. Semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah."

Takbir berkumandang. Tapi tidak keras. Hanya suara suara lirih dari dua puluh orang yang hadir. Tidak ada sorak sorai. Tidak ada tawa ceria. Hanya doa doa tulus yang dipanjatkan dalam hati masing masing.

Naura keluar dari balik tirai dengan mata yang sembab. Zidan berdiri di depannya. Mereka saling menatap. Tidak ada senyum lebar. Tidak ada tawa bahagia. Yang ada hanya tatapan dalam penuh arti yang hanya mereka berdua yang paham.

Zidan mengulurkan tangan. Naura menyambut dengan tangan yang masih gemetar. Dan di situ, di masjid tua yang sederhana itu, di tengah bisikan bisikan sinis tetangga, mereka resmi menjadi suami istri.

Pesta pernikahan diadakan di rumah Ibu Siti yang kecil di belakang masjid. Rumah semi permanen dengan dinding triplek dan atap seng yang bocor di beberapa titik. Halaman depannya yang sempit sudah dipasang terpal lusuh untuk tempat tamu. Meja panjang dari tetangga dijajar dengan alas koran bekas. Dan di atas meja itu, hanya ada nasi putih, ayam goreng kampung yang jumlahnya terbatas, tempe goreng, sambal terasi, dan kerupuk.

"Wah... sederhana banget ya," bisik salah satu tamu sambil melirik ke kanan kiri.

"Iya, biasa lah orang susah. Mau gimana lagi."

"Tapi yang penting niat kan ya. Halal."

Naura berdiri di samping Zidan di sudut terpal, menyambut tamu yang bersalaman satu persatu. Senyumnya dipaksakan. Hatinya hancur setiap kali melihat tatapan kasihan dari orang orang. Bukan kasihan yang tulus. Tapi kasihan yang merendahkan.

Bu Mariam, tetangga sebelah yang baik hati, memeluk Naura erat erat. "Naura sayang, selamat ya. Semoga langgeng. Jangan peduli omongan orang. Yang penting ridho Allah."

"Terima kasih Bu Mariam," Naura membalas pelukan itu sambil menahan tangis. "Terima kasih udah datang."

"Iya Nak. Nanti kalau butuh bantuan apa apa, langsung bilang ke Ibu ya. Jangan malu malu."

Setelah semua tamu pulang, Naura dan Zidan duduk di kursi plastik di samping meja yang sudah berantakan. Ibu Siti sibuk membereskan piring piring dengan bantuan Zahra dan beberapa saudara. Matahari sudah mulai tenggelam. Langit jingga kemerahan terlihat indah meski suasana hati Naura sedang kacau.

"Naura," panggil Zidan pelan sambil meraih tangan istrinya. Tangannya yang kasar menggenggam lembut tangan Naura yang lembut dan dingin. "Maafin aku ya. Aku... aku nggak bisa kasih kamu pesta yang layak. Nggak bisa kasih kamu kebaya pengantin yang cantik. Nggak bisa..."

"Zidan, udah," potong Naura sambil menggeleng. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Kamu nggak salah apa apa. Aku... aku yang harusnya minta maaf. Aku nggak bisa kasih kamu keluarga yang kaya. Nggak bisa kasih kamu istri yang bisa bantu biaya nikahan. Aku..."

"Naura, dengerin," Zidan menatap matanya dalam dalam. "Aku nggak butuh istri yang kaya. Aku nggak butuh pesta mewah. Aku cuma butuh kamu. Perempuan yang ikhlas nerima aku apa adanya. Yang nggak pernah ngeluh. Yang tetap tersenyum meski aku cuma bisa kasih mahar seadanya. Itu udah lebih dari cukup buat aku."

Naura menangis semakin keras sambil meremas tangan Zidan. "Tapi aku malu, Dan. Aku malu sama orang orang. Mereka ngeliatin kita kayak... kayak kita ini lucu. Kayak kita ini kasian banget."

"Biar," Zidan menarik Naura ke pelukannya. "Biar mereka ngomong apa aja. Yang penting kita bahagia. Yang penting kita halal. Yang penting Allah ridho."

Mereka berpelukan di situ. Di tengah sisa sisa pesta sederhana mereka. Di tengah tatapan kasihan dari beberapa orang yang masih ada. Tidak peduli. Yang mereka butuhkan saat itu hanya kehangatan satu sama lain.

Malam harinya, Zidan membonceng Naura dengan motor bebek tuanya menuju kontrakan mereka di Gang Melati. Jalanan kampung yang gelap hanya diterangi lampu remang remang dari rumah rumah warga. Motor itu melaju pelan karena Zidan tahu istrinya pasti lelah.

Sesampainya di kontrakan, Naura turun dari motor dan melihat rumah kecil di depannya. Dinding kayu. Atap seng. Pintu triplek yang catnya mengelupas. Tidak ada pagar. Tidak ada taman. Hanya tanah kosong di depan dengan beberapa pot tanaman mati.

"Ini rumah kita?" tanya Naura pelan.

"Iya. Maaf ya sederhana banget. Nanti kita benerin pelan pelan." Zidan membuka pintu dengan kunci yang sudah berkarat.

Di dalam, ruangan tiga kali empat meter itu dibagi dua dengan tikar lusuh. Satu bagian untuk kasur lipat tipis dengan bantal guling seadanya. Satu bagian untuk kompor minyak, beberapa piring panci, dan rak kayu kecil untuk baju. Tidak ada lemari. Tidak ada televisi. Tidak ada kulkas. Hanya lampu lima watt yang menerangi ruangan dengan cahaya kuning redup.

Naura berdiri di tengah ruangan dengan tangan yang meremas ujung kerudungnya. Dadanya sesak. Matanya panas menahan air mata. Tapi ia tersenyum. Senyum yang dipaksakan agar Zidan tidak merasa bersalah.

"Bagus kok. Bersih juga."

"Naura, kamu nggak usah bohong. Aku tahu ini jauh dari harapan kamu." Zidan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.

"Nggak kok. Serius. Asal kita berdua, dimanapun itu surga." Naura memeluk lengan suaminya sambil menyandarkan kepala di bahunya.

Mereka duduk di kasur tipis itu sambil terdiam lama. Suara jangkrik dan katak dari selokan depan rumah terdengar keras. Bau lembab menyeruak dari sudut ruangan. Tapi mereka tidak peduli. Yang penting ada satu sama lain.

"Naura, yuk kita sholat Isya dulu. Terus kita tahajud bareng." Zidan bangkit sambil mengulurkan tangan.

Naura menyambut tangannya dengan senyum. "Iya, yuk."

Mereka berwudhu di kamar mandi mungil di belakang rumah. Kamar mandi tanpa kloset, hanya ada bak mandi semen kecil dengan air yang hijau karena jarang diganti. Setelah berwudhu, mereka sholat berjamaah di atas sajadah pemberian mas kawin tadi. Zidan jadi imam. Naura makmum di belakangnya.

Setelah sholat Isya, mereka sholat sunnah. Lalu duduk bersimpuh sambil membaca Al Quran bersama. Zidan membaca dengan suara pelan tapi khusyuk. Naura mendengarkan sambil menutup mata, meresapi setiap ayat yang dibaca suaminya.

Pukul setengah dua belas malam, mereka bangun untuk sholat tahajud. Zidan membangunkan Naura dengan usapan lembut di pipi.

"Naura, bangun sayang. Tahajud."

Naura membuka mata perlahan. Masih mengantuk. Tapi ia langsung duduk dan tersenyum. "Iya, ayo."

Mereka sholat tahajud berdampingan. Setelah selesai, mereka duduk bersimpuh sambil mengangkat tangan.

Zidan memulai doa dengan suara yang bergetar.

"Ya Allah, terima kasih ya Allah. Terima kasih Engkau pertemukan hamba dengan Naura. Perempuan baik yang Engkau titipkan ke hamba. Ya Allah, hamba tahu hamba nggak punya apa apa. Tapi hamba janji, hamba akan kerja keras. Hamba akan jaga Naura sebaik baiknya. Hamba akan jadi suami yang Engkau ridhoi. Ya Allah, jadikan kami pasangan yang Engkau cintai sampai mati. Jangan pisahkan kami kecuali dengan kematian. Aamiin."

Suara Zidan makin bergetar di akhir. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Naura yang mendengar itu langsung ikut menangis. Tangannya yang terangkat gemetar hebat. "Aamiin ya Allah. Aamiin. Ya Allah, terima kasih udah kasih aku suami seperti Zidan. Suami yang soleh. Yang sabar. Yang nggak pernah ngeluh. Ya Allah, kuatkan hamba untuk jadi istri yang baik. Istri yang nggak nyusahin. Ya Allah, berkahi rumah tangga kami. Berkahi rezeki kami. Jadikan kami hambaMu yang taat sampai mati. Aamiin."

Mereka menangis bersama di malam pertama pernikahan mereka. Bukan karena sedih. Tapi karena terharu. Karena lega. Karena bahagia meski dalam kesederhanaan yang menyakitkan.

Setelah selesai berdoa, Zidan memeluk Naura erat erat. "Aku janji ya. Aku akan sukses. Aku akan kasih kamu kehidupan yang layak. Rumah yang bagus. Makanan yang enak. Liburan yang menyenangkan. Aku janji."

Naura membalas pelukan itu sambil menggeleng. "Aku nggak butuh itu semua, Dan. Yang aku butuh cuma kamu tetap jadi Zidan yang sekarang. Yang soleh. Yang baik. Yang inget Allah. Itu aja cukup."

"Tapi aku pengen kasih kamu yang terbaik."

"Kamu udah kasih aku yang terbaik. Kamu udah jadi suami yang terbaik."

Mereka tertidur dalam pelukan dengan hati yang penuh syukur. Di kontrakan sempit itu. Di atas kasur tipis yang keras. Dengan bantal yang sudah kempes. Tapi mereka bahagia.

Bahagia dengan cara mereka sendiri.

Bahagia yang sederhana tapi tulus.

Bahagia yang tidak akan pernah mereka lupakan selamanya.

Meski nanti, jauh di masa depan, bahagia itu akan hancur berkeping keping karena keserakahan yang tidak terkendali.

Tapi di malam itu, di malam pertama mereka, mereka masih murni. Masih tulus. Masih mencintai dengan sepenuh hati.

Dan doa mereka mengalun ke langit.

"Ya Allah, jadikan kami pasangan yang Engkau cintai sampai mati."

Doa yang akan menjadi saksi bisu kehancuran mereka nanti.

Doa yang akan menghantui Zidan selamanya ketika ia menyadari bahwa ia telah menghancurkan segalanya dengan tangannya sendiri.

Tapi itu semua masih jauh.

Untuk saat ini, mereka hanya dua insan yang baru menikah, yang tidur dengan senyum di bibir dan harapan di hati.

Senyum yang tidak akan bertahan lama.

Harapan yang akan hancur dalam beberapa tahun ke depan.

Tapi mereka tidak tahu.

Mereka tidak tahu bahwa kebahagiaan sederhana ini adalah surga terakhir mereka sebelum neraka dimulai.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!