NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Masa Lalu

Tiga hari Damian berbaring lemah di tempat tidur. Tiga hari aku merawatnya. Mengganti perban. Membersihkan luka. Menyuapi makan. Memastikan dia minum obat tepat waktu.

Dan setiap malam dia berbicara dalam tidurnya. Kata-kata yang tidak jelas. Nama-nama. Kadang teriakan. Kadang tangisan.

Aku mulai memahami mimpi buruknya. Mimpi buruk yang sama seperti punyaku. Pagi ini dia terbangun lebih baik. Wajah tidak sepucat kemarin. Mata lebih fokus.

"Aku harus ke kantor," katanya sambil mencoba duduk.

Aku langsung menahannya. "Kau belum sembuh. Dokter bilang minimal satu minggu."

"Aku tidak punya satu minggu," jawabnya. Tapi dia meringis kesakitan ketika bergerak. "Bratva tidak akan menunggu. Mereka akan pikir aku lemah. Akan menyerang lagi."

"Biar Marco yang handle."

"Marco bukan, aku. Mereka hanya takut pada aku."

Dia mencoba turun dari tempat tidur. Tapi lututnya lemas. Aku menangkapnya sebelum jatuh.

"Lihat? Kau bahkan tidak bisa berdiri," kataku sambil membantunya duduk kembali. "Bagaimana kau mau ke kantor?"

Damian mengepalkan tangannya frustasi. Urat di lehernya menonjol.

"Aku benci ini," gumamnya. "Aku benci lemah."

"Kau tidak lemah," kataku sambil duduk di sampingnya. "Tubuhmu perlu waktu untuk sembuh. Itu bukan kelemahan. Itu manusiawi."

Dia menatapku. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang rapuh.

"Aku tidak boleh manusiawi," bisiknya. "Kalau aku manusiawi, aku akan mati. Dan semua orang yang bergantung padaku akan mati."

Tanganku meraih tangannya. Menggenggamnya.

"Kau tidak sendirian sekarang," kataku. "Kau punya aku."

Damian tersenyum tipis. "Kau? Yang beberapa minggu lalu ingin membunuhku?"

"Itu dulu," jawabku. "Sekarang aku hanya ingin kau sembuh."

Dia menarikku ke pelukannya. Hati-hati dengan lukanya.

"Aku tidak pantas mendapatkan kau," bisiknya di rambutku. "Tapi aku terlalu egois untuk melepaskanmu."

Kami diam dalam pelukan itu. Sampai Marco mengetuk pintu.

"Tuan," panggilnya dari luar. "Ada dokumen penting yang butuh tanda tangan. Harus hari ini."

Damian menghela napas. "Masuk."

Marco masuk dengan folder tebal. Menaruhnya di meja samping tempat tidur.

"Ini kontrak dengan Yakuza untuk wilayah pelabuhan," jelasnya. "Kalau tidak ditandatangani hari ini, mereka akan batalkan kerja sama."

"Baik," kata Damian. "Tinggalkan di sini. Aku akan tanda tangan."

Marco mengangguk lalu keluar.

Damian mencoba meraih folder itu tapi tangannya gemetar. Luka di bahu kirinya belum memungkinkan untuk bergerak banyak.

"Biar aku ambilkan," kataku sambil berdiri. Mengambil folder itu dan menyerahkannya pada Damian.

Tapi ketika aku mengambil folder itu, ada sesuatu yang jatuh dari meja. Kunci kecil. Mengkilat di bawah cahaya pagi.

Aku membungkuk mengambilnya. "Ini kunci apa?"

Damian menatap kunci itu. Wajahnya berubah. Ada kepanikan sekilas di matanya.

"Tidak penting," katanya cepat. "Letakkan saja di meja."

Tapi justru reaksinya itu yang membuatku penasaran.

"Kunci untuk apa?" tanyaku lagi sambil menatap kunci kecil itu. Ada angka terukir di sana. 0809.

Tanggal lahirku, jantungku mulai berdebar cepat.

"Damian," panggilku pelan. "Kenapa ada tanggal lahirku di kunci ini?"

Dia diam. Menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Kembalikan kuncinya, Alexa," katanya. Suaranya berubah. Lebih dingin.

"Tidak sebelum kau jawab," kataku sambil mundur selangkah. "Kunci untuk apa ini?"

"Alexa."

"UNTUK APA?" teriakku.

Damian menutup mata. Menarik napas dalam.

"Brankas," jawabnya akhirnya. "Di ruang kerja. Di belakang lukisan ayahku."

Brankas. Dengan kode tanggal lahirku.

"Apa yang ada di dalamnya?"

"Kau tidak akan suka jawabannya."

"Katakan!"

Damian membuka mata. Menatapku dengan tatapan yang penuh penyesalan.

"Kau," bisiknya. "Yang ada di dalamnya adalah kau."

***

Aku berlari ke ruang kerjanya. Meninggalkan Damian yang berteriak menyuruhku kembali. Tapi aku tidak peduli. Aku harus tahu. Harus melihat sendiri.

Ruang kerjanya besar. Meja besar dari kayu mahoni. Rak buku memenuhi dinding. Dan di dinding belakang meja, lukisan besar seorang pria yang mirip Damian. Ayahnya.

Aku menarik lukisan itu. Di belakangnya ada brankas besi dengan panel digital. Tanganku gemetar ketika memasukkan kode. 0809. Tanggal lahirku. 8 September.

Klik.

Brankas terbuka, dan aku melihatnya. Sebuah ratusan foto tersusun dengan begitu rapi di dalam album.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil album pertama dan membukanya.

Dan dunia terasa berputar, ini foto aku. Di perpustakaan saat berusia delapan belas tahun. Persis seperti yang Damian ceritakan. Dress kuning, rambut kuncir kuda, dan sedang membaca buku tebal.

Tapi ada banyak foto dari berbagai sudut. Berbagai waktu. Aku membalik halaman, dan lebih banyak foto.

Aku di kafe, tertawa dengan teman, saat di kampus yang sedang berjalan di koridor. Di taman yang sedang duduk di bangku.

Tangan menutup mulut, seakan meredam agar aku tidak teriak. Dia mengambil foto aku di kamar, tanpa aku tahu, tanpa izin dariku.

Aku membuka album kedua. Lebih banyak lagi. Aku berusia sembilan belas tahun. Dua puluh tahun. Dua puluh satu tahun. Setiap tahun, setiap bulan, bahkan hampir setiap hari.

Ada tanggal tertulis di setiap foto, waktu, dan lokasi.

8 September 2019. Perpustakaan kota. 14:23.

12 Oktober 2019. Kafe Blue Moon. 16:45.

25 Desember 2019. Rumah. Kamar. 21:17.

Natal. Dia mengambil foto aku di kamar pada malam Natal. Ada lebih banyak lagi di dalam brankas. Flashdisk. Aku mengambil salah satu. Menyalakan komputer di meja, lalu memasukkan flashdisk itu.

Puluhan video, dan aku membuka salah satu.

Aku berusia dua puluh tahun. Di taman. Membaca buku lagi. Video diambil dari kejauhan. Tapi cukup jelas untuk melihat wajahku. Ekspresi aku. Cara aku tersenyum pada buku.

Video berlangsung tiga puluh menit. Hanya merekam aku membaca.

Aku membuka video lain. Aku di kafe dengan teman-teman. Tertawa. Bicara. Video merekam semua percakapan. Aku bisa mendengar suaraku sendiri. Jelas.

Berarti dia sangat dekat, atau dia punya alat perekam canggih, atau mungkin keduanya.

Ada folder lain. Bernama 'Detail'.

Aku membukanya, dan terlihat begitu banyak, ada puluhan dokumen. Jadwal harianku, rute yang sering kulewati, tempat favorit, makanan favorit, buku favorit, bahkan musik favoritku juga ada.

Nama teman-teman, keluarga, tetangga. Nomor telepon, alamat email, akun media sosial. Semuanya begutu detail tentang hidupku. Ada laporan harian, ditulis oleh orang yang berbeda-beda.

"Subjek keluar rumah pukul 08:15. Menuju kampus dengan bus. Duduk di kursi belakang. Membaca buku sepanjang perjalanan."

"Subjek bertemu dengan tiga teman di kafe pukul 16:00. Memesan latte dan kue keju. Percakapan tentang tugas kuliah dan rencana akhir pekan."

"Subjek pulang pukul 20:30. Makan malam dengan keluarga. Masuk kamar pukul 21:45. Lampu mati pukul 23:10."

Mereka mengawasiku, setiap hari, setiap jam, dan itu selama lima tahun, tanpa aku tahu sedikitpun. Aku merasakan mual naik ke tenggorokan, berlari ke tempat sampah dan aku muntah saat itu juga.

Tidak ada yang keluar kecuali cairan empedu. Tapi tubuh terus bereaksi. Berusaha mengeluarkan sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan. Ketakutan, kemarahan, rasa dikhianati.

"Alexa."

Suara Damian dari ambang pintu. Aku berbalik. Dia berdiri di sana. Bersandar di kusen pintu. Wajah pucat. Napas terengah. Luka pasti sakit karena dia memaksakan diri berjalan ke sini.

"Kau tidak seharusnya melihat itu," katanya pelan.

"TIDAK SEHARUSNYA?" teriakku. Suaraku memantul di dinding. "KAU MENGUNTITKU SELAMA LIMA TAHUN DAN KAU BILANG AKU TIDAK SEHARUSNYA MELIHAT?!"

Aku melempar album foto ke arahnya. Dia tidak menghindar. Album itu menghantam dadanya. Jatuh ke lantai.

"KAU MENYURUH ORANG MENGAWASIKU! MENGAMBIL FOTO AKU! MEREKAM AKU! DI RUMAHKU SENDIRI! DI KAMARKU SENDIRI!"

Air mata mengalir deras. Tapi bukan air mata sedih. Air mata marah. Sangat marah.

"KAU TAHU SEGALANYA TENTANG AKU! TEMAN-TEMAN AKU! KEBIASAAN AKU! BAHKAN WAKTU AKU TIDUR! DAN AKU TIDAK TAHU APAPUN!"

Damian hanya berdiri di sana. Membiarkan aku berteriak.

"KAU BILANG KAU JATUH CINTA PADAKU!" lanjutku. "TAPI INI BUKAN CINTA! INI OBSESI! INI KEGILAAN!"

Aku jatuh ke lantai. Tubuh lemas. Hanya bisa menangis.

"Kau bilang aku bukan boneka," bisikku. "Tapi aku sudah jadi boneka sejak lima tahun lalu. Boneka yang kau kendalikan. Yang kau awasi. Yang kau mainkan."

Damian akhirnya bergerak. Berjalan mendekat. Setiap langkah terlihat menyakitkan. Tapi dia terus berjalan. Dia berlutut di depanku. Mengabaikan rasa sakit di lukanya.

"Kau benar," katanya pelan. "Ini obsesi. Ini kegilaan. Aku gila. Sudah gila sejak hari pertama aku melihatmu."

Tangannya mencoba menyentuh pipiku tapi aku menepis.

"Jangan sentuh aku," bisikku. "Jangan pernah sentuh aku lagi."

Tapi dia tidak mundur. Tangannya tetap terangkat.

"Aku sudah merencanakan pernikahan ini sejak hari pertama aku melihatmu," katanya. Suaranya bergetar. "Sejak hari itu di perpustakaan. Aku tahu kau harus jadi milikku. Apapun caranya."

"Jadi kau membunuh ayahku."

"Ya," jawabnya tanpa ragu. "Aku membunuh ayahmu. Karena dia penghalang. Karena dia pembunuh keluargaku. Karena dengan membunuhnya, aku bisa mengambilmu."

Dia menatapku dengan mata yang penuh dengan kegilaan dan cinta yang terdistorsi.

"Aku menghabiskan lima tahun merencanakan ini," lanjutnya. "Lima tahun mempelajarimu. Lima tahun jatuh cinta lebih dalam setiap hari. Lima tahun menunggu waktu yang tepat."

Tangannya akhirnya menyentuh pipiku. Kali ini aku terlalu lelah untuk menepis.

"Dan aku akan lakukan semuanya lagi," bisiknya. "Bahkan kalau aku tahu kau akan membenciku. Bahkan kalau aku tahu kau akan melihat aku seperti monster. Karena setidaknya kau jadi milikku."

Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang erat walau pasti menyakiti lukanya.

"Maafkan aku," bisiknya di rambutku. "Maafkan aku karena aku tidak bisa mencintai dengan cara yang normal. Karena satu-satunya cara aku tahu adalah memiliki sepenuhnya. Mengendalikan sepenuhnya."

Aku ingin mendorongnya. Ingin lari. Ingin melupakan semua ini. Tapi tubuhku tidak bergerak. Hanya diam dalam pelukannya sambil menangis.

Karena bagian terburuknya bukan dia menguntitku selama lima tahun. Bagian terburuknya adalah, bahkan setelah tahu semua ini, aku masih merasakan sesuatu untuknya. Masih mencintainya, dan itu membuatku merasa lebih gila dari dia.

"Aku membencimu," bisikku di dadanya.

"Aku tahu," jawabnya.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu."

"Aku tahu."

"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu."

Dia diam, lalu pelukannya mengerat.

"Aku tahu," bisiknya. "Dan aku akan menggunakan itu. Karena aku monster egois yang tidak peduli apapun selain memilikimu."

Kami diam dalam pelukan itu. Di lantai ruang kerja. Dikelilingi oleh foto-foto dan dokumen yang membuktikan obsesinya.

Dan aku menyadari, aku tidak punya privasi sejak lima tahun lalu. Tidak punya kebebasan. Tidak punya pilihan.

Semuanya sudah direncanakan. Semuanya sudah diatur. Oleh pria yang jatuh cinta padaku dengan cara paling mengerikan.

Dan yang paling menyakitkan, aku sudah terlalu terjerat untuk kabur.

Tapi satu pertanyaan terus menghantuiku ketika aku berbaring di pelukannya malam itu: apa yang terjadi di perpustakaan itu, sehingga membuat pria ini terobsesi, sampai menghabiskan lima tahun untuk menguntitku?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah ada momen lain sebelum perpustakaan itu?

Apakah dia sudah mengenalku lebih lama lagi tanpa aku tahu? Berapa banyak lagi rahasia yang dia sembunyikan?

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!