Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN BELAS: SIMFONI KERUSAKAN
Suara hujan yang menghantam jendela kaca besar di ruang kerja Orion kini terdengar seperti tepuk tangan riuh yang mengejek nasib Seraphina. Di dalam ruangan yang kedap suara itu, hanya ada dua suara yang mendominasi: napas Orion yang memburu seperti serigala yang baru saja menemukan mangsanya, dan isakan tertahan Seraphina yang beradu dengan gesekan kain sutra yang tersingkap. Orion tidak lagi menahan diri. Dominasinya telah mencapai titik didih, dan ia ingin memastikan bahwa malam ini Seraphina benar-benar hancur dalam pelukannya.
Pria itu mencengkeram pinggul Seraphina dengan kekuatan yang luar biasa, jari-jarinya yang besar menekan kulit lembut gadis itu hingga meninggalkan jejak kemerahan yang nyata. Ia menarik tubuh Seraphina ke arahnya, membuat permukaan meja kayu mahoni yang keras bergesekan kasar dengan punggung Seraphina.
"Dengar suara itu, Seraphina?" Orion berbisik dengan suara yang sangat rendah dan parau di telinga gadis itu. Ia memberikan sedikit tekanan di sana, membuat Seraphina merintih. "Itu adalah suara kehancuranmu. Dan aku menyukai setiap detiknya."
Orion memposisikan dirinya di antara kedua paha Seraphina yang bergetar hebat. Dengan satu gerakan yang sangat kasar namun terkendali, ia memastikan tidak ada lagi jarak di antara mereka. Gesekan antara pakaian mereka yang masih melekat menciptakan suara yang sangat intim dan menyesakkan. Seraphina hanya bisa memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya sampai berdarah untuk menahan jeritan yang ingin meledak.
"Jangan menyembunyikan suaramu dariku!" bentak Orion pelan namun penuh otoritas. Ia mencengkeram dagu Seraphina, memaksanya untuk menatap matanya yang berkilat liar. "Aku ingin mendengar setiap rintihanmu. Aku ingin mendengar betapa kau membenciku sekaligus membutuhkan kekuatan ini."
Tanpa peringatan, Orion memulai pergerakan pertamanya. Plak! Suara benturan kulit yang keras bergema di ruangan sunyi itu saat ia menghantamkan tubuhnya ke depan.
PLOK PLOK PLOK
"AAAAHHH! SA-SAKIT... TUAN!" Seraphina menjerit, suaranya pecah dan melengking, memenuhi setiap sudut ruangan. Tubuhnya melengkung tinggi di atas meja, punggungnya menegang seperti busur panah. Air mata membanjiri wajahnya, namun ia tidak bisa melarikan diri dari cengkeraman Orion yang bagaikan penjara besi.
"Hah... hah... Ohh ahhh ya, teriaklah namaku!" Orion mendesah dengan suara yang sangat berat, ia tidak memperlambat gerakannya sedikit pun. Dug! Dug! Suara meja kayu yang bergetar hebat akibat tekanan tubuh Orion menciptakan irama yang mengerikan. "Katakan betapa sakitnya ini, Seraphina! Katakan betapa kau tidak berdaya di bawah ku!"
"O-Orion... hiks... nngghhh... hentikan... ku-kumohon..." Seraphina merintih di sela-sela napasnya yang tersengal. Setiap gerakan Orion terasa seperti robekan baru di jiwanya yang sudah terluka. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, ada sebuah getaran aneh yang mulai merayap di saraf-sarafnya—sebuah reaksi biologis yang sangat ia benci namun tidak bisa ia kendalikan.
"Mmhhnnggg... ahhh... s-sakit... t-tapi... ahhh!" Seraphina tidak sengaja mengeluarkan desahan yang lebih lembut, sebuah suara yang segera ditangkap oleh telinga tajam Orion.
Orion menyeringai dengan cara yang sangat jahat. "Kau mendesah, jalang kecil? Kau mulai menyukainya, bukan?" Ia mempercepat gerakannya dengan ritme yang semakin brutal. Plak! Plak! Plak! Suara tubrukan kulit mereka semakin nyaring, bercampur dengan suara cairan alami yang keluar akibat gesekan yang terus-menerus. "Rasakan ini! Rasakan bagaimana aku mengisi setiap celah kosong di hidupmu yang malang!"
PLOK PLOK PLOK
"AAAAHHH! AHHH! NNGGHHH! TIDAK... AHHH... ORION!" Seraphina menggelengkan kepalanya dengan liar di atas meja. Keringat mulai membasahi dahi dan seluruh tubuhnya, membuatnya tampak sangat rapuh namun memikat dalam penderitaannya. "S-sakit... hiks... ahhh... m-mohon... le-lebih... nggghhh... t-tidak! Maksudku hentikan!"
"Kau bahkan tidak tahu apa yang kau inginkan sendiri!" Orion menggeram, ia mencengkeram rambut Seraphina, menariknya ke belakang hingga leher gadis itu mendongak sempurna. Ia menanamkan gigitannya di sana, tepat di atas denyut nadi Seraphina yang berpacu gila. "Tubuhmu mengatakan 'ya', Seraphina! Kau ingin aku menghancurkanmu sampai kau tidak bisa berdiri lagi!"
Bruk! Orion menghantamkan tubuhnya lebih keras lagi, membuat vas bunga kecil di ujung meja bergetar dan hampir jatuh. Irama pergerakan mereka semakin tidak terkendali. Ruangan itu kini dipenuhi oleh suara-suara yang sangat cabul: suara napas yang terengah-engah, suara isakan tangis, dan suara benturan fisik yang konstan.
"Nngghhaaahhh... a-aku... ahhh... aku benci... nggghhh... Orion... ahhh... hiks... s-sangat... ahhh... s-sangat... nggghhh!" Seraphina menjerit saat merasakan sensasi yang semakin memuncak. Ia meremas kemeja Orion yang sudah berantakan, mencari pegangan di tengah badai hasrat dan rasa sakit yang sedang menghantamnya.
Narasi internal Orion terasa semakin gelap dan mendidih. "Ya, hancurlah bersamaku! Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa mencintai pria lain, karena hanya aku yang bisa memberikanmu kehancuran yang seindah ini. Kau adalah kanvasku, dan aku akan melukis setiap inci tubuhmu dengan rasa sakit dan nikmat yang akan kau bawa sampai mati."
Orion tidak membiarkan Seraphina beristirahat. Ia membalikkan tubuh Seraphina dengan kasar hingga kini gadis itu menelungkup di atas meja mahoni. Ia menekan punggung Seraphina dengan dadanya, mengunci setiap ruang gerak yang mungkin ada.
"Lihat ke depan, Seraphina! Lihat pantulanmu di kaca itu!" bisik Orion dengan sangat kejam. Di depan mereka, jendela kaca besar memantulkan bayangan mereka yang sedang bergulat dalam kegelapan. "Lihat betapa hinanya kau sekarang. Putri kesayangan ibuku sedang merintih di bawahku seperti hewan yang sedang dijinakkan."
"Ahhh... hiks... ja-jangan... nngghhh... Tuan... ahhh... mo-mohon... ahhh... ahhh!" Seraphina menutup matanya, tak sanggup melihat bayangan dirinya sendiri yang tampak begitu menyedihkan. Namun, setiap kali ia mencoba menutup mata, Orion memberikan dorongan yang lebih kuat. Dug!
"Katakan kau milikku!" perintah Orion, suaranya kini terdengar seperti guntur yang memecah keheningan.
"A-aku... ahhh... nngghhh... aku milikmu... hiks... ahhh... Orion!" Seraphina menjerit dengan keputusasaan yang memuncak. Pikirannya seolah-olah meledak menjadi ribuan kepingan cahaya putih saat ia mencapai titik puncak yang menyakitkan. Tubuhnya mengejang hebat, jari-jari kakinya meringkuk, dan napasnya seolah berhenti seketika.
Orion tidak berhenti sampai di situ. Ia memberikan beberapa dorongan terakhir yang sangat brutal sebelum akhirnya ia pun mencapai puncaknya sendiri. Dengan raungan yang terdengar sangat primitif, ia membenamkan wajahnya di leher Seraphina, menumpahkan segala hasrat dan kemarahannya ke dalam diri gadis itu.
Keheningan kembali menyergap ruangan itu sesaat setelah badai mereda. Satu-satunya suara yang terdengar adalah detak jantung mereka yang masih berpacu kencang dan rintik hujan yang mulai mengecil di luar. Seraphina terbaring lemas dengan wajah menempel pada permukaan meja yang dingin, tubuhnya masih sedikit bergetar karena syok dan kelelahan yang luar biasa.
Orion perlahan menarik diri, menatap punggung Seraphina yang dipenuhi oleh tanda-tanda kemerahan dan butiran keringat. Tidak ada rasa kasihan di matanya, hanya ada kepuasan yang dingin. Ia merapikan pakaiannya dengan sangat tenang, seolah-olah ia tidak baru saja melakukan tindakan yang menghancurkan jiwa seseorang.
"Ingatlah malam ini, Seraphina," ucap Orion sambil mengambil gelas minumannya yang masih tersisa sedikit. "Setiap kali kau menatap ibuku, setiap kali kau tertawa di kampus, ingatlah rasa sakit yang kau rasakan di atas meja ini. Karena itulah identitasmu yang sebenarnya sekarang."
Seraphina tidak menjawab. Ia tetap diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi kayu mahoni. Ia merasa seperti sebuah objek yang baru saja selesai digunakan dan kini dibuang begitu saja. Di dalam kegelapan ruang kerja itu, Seraphina menyadari bahwa sangkar emas ini tidak hanya mengurung fisiknya, tetapi juga sedang membunuh jiwanya secara perlahan namun pasti.