Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.3
Selama dua minggu berikutnya, operasi “Dekati Taehyung Lewat J-Hope” pun dimulai. Nama operasi itu dicetuskan secara sepihak oleh Ryn Moa di dalam kepalanya sendiri, lengkap dengan bagan imajiner dan skenario ideal yang terlalu rapi untuk dunia nyata. Jika orang lain bisa melihat isi pikirannya saat itu, mereka akan menemukan papan strategi penuh panah, catatan kecil, dan tulisan “TARGET UTAMA” yang dilingkari tebal, lalu nama Kim Taehyung tertulis di sana seperti pusat semesta. Dalam rencana awalnya, J-Hope hanyalah jembatan. Jalan pintas menuju tujuan utama. Perantara yang ramah, ceria, dan dalam perhitungan Ryn Moa, tidak akan mengganggu perasaan.
Dan… berjalan tidak sesuai harapan. Jika hidup adalah drama, maka dua minggu itu adalah episode filler yang tiba-tiba berubah jadi plot utama. Hari-hari awal masih terasa aman. Ryn Moa menjalankan rencananya dengan disiplin palsu. Ia mencatat secara mental setiap interaksi, berapa kali Taehyung berada di ruangan yang sama, seberapa sering ia tersenyum pada orang lain, dan apakah tatapannya pernah singgah lagi padanya, meski hanya sepersekian detik.
Awalnya Ryn Moa hanya ingin dekat dengan J-Hope demi bisa sering berada di sekitar Taehyung. Itu murni niat awalnya. Ia duduk lebih sering di dekat J-Hope karena Taehyung kerap berada tak jauh dari sana. Ia tertawa pada lelucon J-Hope karena Taehyung juga ada di ruangan yang sama. Ia ikut diskusi kelompok karena siapa tahu, Taehyung akan bergabung. Ia bahkan sempat meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini terkendali. Bahwa ia hanya sedang memanfaatkan situasi. Bahwa perasaan tidak akan ikut campur, karena ia sudah terlalu berpengalaman dengan cinta sepihak untuk tahu batas aman.
Namun semakin lama, semakin banyak waktu yang ia habiskan dengan J-Hope, makan siang bersama, belajar kelompok, tugas bareng, dan bahkan pulang lewat gerbang yang sama. Tanpa sadar, pola itu terbentuk dengan sendirinya. Awalnya kebetulan, lalu jadi kebiasaan. Tanpa perjanjian, tanpa rencana resmi, J-Hope selalu ada di sekitar Ryn Moa. Atau mungkin sebaliknya, Ryn Moa yang selalu ada di sekitar J-Hope.
Hari-hari itu berjalan ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya hanya strategi. Terlalu nyaman untuk sekadar kebetulan. Di kantin, J-Hope selalu melambai duluan. Di perpustakaan, ia sudah menepuk kursi kosong di sebelahnya. Saat tugas menumpuk, ia mengirim pesan lebih dulu. Saat hujan turun, ia menawarkan payung tanpa banyak tanya. Hal-hal kecil itu menumpuk perlahan, seperti titik-titik air yang jatuh terus-menerus hingga membentuk genangan. Ryn Moa menyadarinya, tapi memilih mengabaikannya. Ia menganggapnya wajar. J-Hope memang orang yang seperti itu, ramah, terbuka, tidak perhitungan.
J-Hope ceria, perhatian, dan punya humor receh yang entah kenapa selalu berhasil membuat Ryn Moa tertawa. Humornya bukan humor pintar. Bukan juga humor elegan. Tapi ada sesuatu dari cara ia menyampaikannya penuh ekspresi, penuh energi, dan selalu tulus, yang membuat Ryn Moa tak bisa menahan senyum. Bahkan saat lelah atau pun saat bad mood. Tertawanya Ryn Moa berubah. Awalnya tertawa sopan. Lalu tertawa lepas. Hingga suatu hari ia menyadari, ia tertawa lebih dulu sebelum berpikir apakah lelucon itu benar-benar lucu. Kadang Ryn Moa lupa bahwa target utamanya adalah Taehyung. Ia baru tersadar saat melihat Taehyung dari kejauhan, duduk sendiri, membaca buku, atau berbincang singkat dengan teman lain. Saat itu dadanya terasa… aneh. Bukan sesak, bukan cemburu. Lebih seperti rasa bersalah kecil yang samar. Rasa bersalah karena rencana awalnya mulai kabur. Karena seseorang yang seharusnya hanya “jembatan” kini terasa terlalu nyata. Terlalu dekat.
Suatu sore, mereka duduk di bangku taman kampus. Matahari hampir tenggelam, menyisakan cahaya oranye lembut yang membuat segalanya terlihat lebih hangat dari biasanya. J-Hope mengayun-ayunkan kaki sambil memakan es krim yang sudah hampir mencair. Angin sore berembus pelan. Daun-daun bergerak malas. Suasana itu tenang, terlalu tenang untuk pikiran Ryn Moa yang sedang berisik.
“Ryn, kau tahu tidak?” kata J-Hope suatu sore. “Aku suka ngobrol sama kamu. Kamu lucu.”
Kalimat itu meluncur ringan. Tanpa tekanan. Tanpa dramatisasi. Namun efeknya… tidak ringan sama sekali. Ryn Moa tersentak, Ia berhenti mengaduk minumannya. Napasnya tersendat satu detik. Dunia seolah memperlambat geraknya sendiri. Lucu? Suka ngobrol? Apa ini tanda-tanda?. Pikirannya langsung bekerja terlalu cepat. Terlalu jauh, terlalu tidak perlu. Ia tersenyum kikuk, menunduk, dan berharap pipinya tidak terlalu merah untuk disadari. J-Hope sendiri tampak santai. Seolah baru saja mengatakan hal biasa. Seolah tidak tahu bahwa satu kalimat sederhana itu membuat sistem emosi Ryn Moa kacau total.
...⭐⭐⭐...
Malam itu, grup chat mereka kembali aktif. Teman-temannya tentu tidak tinggal diam.
Ida:
“Bagus! Ini kesempatanmu!”
Ida selalu menjadi yang paling suportif. Baginya, setiap kesempatan adalah pintu yang harus dicoba dibuka, entah di baliknya ada kebahagiaan atau kekacauan.
Windi:
“Tembak balik!”
Kalimat singkat, tegas, tanpa basa-basi. Windi adalah tipe yang percaya bahwa kejelasan lebih baik daripada menunggu.
Melly:
“Kau naksir dia juga kan?” 🤏🏻😄
Cubitan itu diiringi emotikon tertawa di layar ponsel. Melly jelas menikmati drama ini.
Ryn Moa:
“Aku… mungkin… sedikit…”
Pipi Ryn Moa memerah. Ia bahkan bisa merasakan wajahnya panas meski hanya membaca pesan.
Ody:
“Sial, benar-benar plot twist,”
Ody menutup wajah. Jika ini film, Ody adalah penonton yang tidak siap menerima perubahan alur cerita.
Arella:
“Kau pindah sekolah demi Taehyung, akhirnya malah jatuh hati ke J-Hope. Klasik sekali.”
Arella menggelengkan kepala. Nada Arella datar, tapi sarat makna. Seperti narator yang sudah tahu akhir cerita, tapi memilih diam.
Celine:
“Jangan-jangan nanti kau malah jadian sama temannya J-Hope.” 😆
Kalimat itu ditutup dengan emotikon tertawa, tapi mengandung unsur ramalan yang seharusnya tidak diucapkan. Ryn Moa langsung tertawa keras.
Ryn Moa:
“Haha! Itu tidak mungkin!”
Ia bahkan tertawa sambil mengibaskan tangan, seolah menepis kemungkinan yang terlalu absurd untuk dipikirkan. Namun Takdir sendiri seakan berkata diam-diam pada Ryn Moa atas ucapannya barusan: Pegang dulu kalimat itu.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang mencoba memahami perasaannya sendiri. Ryn Moa mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara J-Hope mengingat pesanan makanannya. Cara ia selalu berjalan di sisi yang melindungi dari lalu lalang sepeda. Cara ia mendengarkan, benar-benar mendengarkan saat Ryn Moa bercerita, bahkan hal-hal sepele. Dan yang paling mengganggu, cara Ryn Moa mulai menantikan kehadiran J-Hope. Ia menunggu pesan masuk darinya. Ia menoleh otomatis setiap kali mendengar suara yang mirip. Ia merasa ada yang kurang saat J-Hope tidak muncul di kelas. Bukan lagi sebagai “jalan ke Taehyung”, tapi sebagai… J-Hope itu sendiri. Kesadaran itu datang perlahan, seperti cahaya pagi yang masuk dari sela tirai, tidak menyilaukan, tapi cukup terang untuk membuatnya terbangun.
Sementara itu, Taehyung tetap menjadi sosok tenang di latar belakang. Sesekali melintas, sesekali terlihat, tapi tidak pernah benar-benar mendekat. Dan entah sejak kapan, setiap kali Ryn Moa melihatnya, jantungnya tidak lagi berdebar sekencang dulu. Ia masih tampan. Masih menenangkan untuk dipandang. Tapi kini, ada jarak emosional yang tak pernah Ryn Moa sadari terbentuk. Ia tidak tahu kapan pergeseran itu terjadi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan perasaan yang mulai bercabang. Yang ia tahu hanya satu, hidupnya yang tadinya rapi dalam satu tujuan, kini berubah menjadi komedi romantis dengan dua tokoh utama… dan ia tidak tahu siapa yang seharusnya ia pilih.
Dan seperti semua kisah cinta, yang baik atau buruk, takdir belum selesai bercanda.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....