NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PENGHANCUR KETENANGAN

  karena rasa syukur, mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dan berbahaya.

​Namun, momen intim itu hancur ketika ponsel Revan di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari Bimo, membawa kabar yang akan menghancurkan ketenangan mereka:

​[Bos, Adrian bebas. Orang tuanya menggunakan koneksi tingkat tinggi. Dia dalam perjalanan pulang.]

​Revan menjauhkan wajahnya, rahangnya seketika mengeras kembali menjadi baja. Kehangatan yang baru saja tercipta menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan.

Berita pembebasan Adrian menghantam apartemen itu seperti badai di hari yang tenang. Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, sebuah tim pengacara papan atas yang disewa Hendrawan Adiwijaya berhasil menemukan celah hukum. Mereka mengklaim bahwa video siaran langsung Bimo adalah pelanggaran privasi medis dan bukti tersebut diperoleh melalui jebakan yang tidak sah secara prosedural.

Dengan jaminan miliaran rupiah dan surat pernyataan bahwa Adrian bertindak di bawah tekanan "ancaman fisik" dari Revan, sang dokter emas itu melenggang keluar dari kantor polisi.

Revan membanting ponselnya ke atas meja kayu di ruang kerja. Napasnya pendek, matanya merah karena kurang tidur. Di ambang pintu, Valerie berdiri mematung, memegang dua cangkir teh yang kini bergetar di atas nampan.

​"Dia bebas, Mas?" tanya Valerie lirih. Suaranya pecah.

​Revan tidak menjawab. Ia berbalik, wajahnya mengeras menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia merasa gagal. Janjinya untuk memusnahkan ancaman itu hancur oleh tumpukan uang mertuanya sendiri.

​"Mas..." Valerie mendekat, meletakkan teh itu di meja dengan tangan gemetar. "Lihat aku."

​Revan perlahan mengangkat wajahnya. Saat tatapan mereka bertemu, Valerie melihat sisi Revan yang belum pernah ia lihat: kerapuhan. Pria yang selalu tampak seperti benteng baja itu kini terlihat hancur karena rasa bersalah.

​"Lehermu masih diperban karena dia, Erie," desis Revan serak, suaranya sarat dengan kebencian pada dirinya sendiri. "Dan aku membiarkan dia berjalan bebas di luar sana. Aku seharusnya tidak melepaskannya hari itu. Aku seharusnya..."

​"Jangan katakan itu," potong Valerie. Ia memberanikan diri melangkah masuk ke ruang pribadi Revan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang halus menyentuh buku-buku jari Revan yang memutih karena mengepal terlalu kuat. "Kalau kau melakukan hal buruk padanya, kau tidak ada bedanya dengan dia. Aku tidak butuh algojo, Mas. Aku butuh kamu."

​Sentuhan Valerie seperti siraman air dingin pada api yang membara. Revan terpaku. Ia menatap jemari kecil istrinya yang melingkari tangannya yang kasar. Ia justru membalikkan telapak tangannya, menggenggam balik tangan Valerie—pelan, seolah takut gadis itu akan hancur jika ia meremasnya terlalu kuat.

​"Kenapa kau tidak marah padaku?" tanya Revan rendah. "Aku membawamu ke dalam bahaya. Aku gagal menjagamu."

​Valerie tersenyum tipis, sebuah senyuman sedih namun tulus. Ia membawa tangan besar Revan ke pipinya, membiarkan kulitnya merasakan kehangatan telapak tangan suaminya. "Selama sembilan belas tahun, orang tuaku memberiku emas tapi membiarkanku kelaparan akan rasa aman. Tapi kau... kau memberiku luka di leher ini karena kau sedang bertaruh nyawa untukku. Aku lebih memilih luka ini daripada kembali ke rumah itu."

​Revan merasakan dadanya sesak. Ketertarikan yang selama ini ia tekan atas nama tanggung jawab dan perbedaan usia, kini mulai merayap naik menjadi sesuatu yang lebih dalam. Ia menarik Valerie mendekat, hingga dahi mereka bersentuhan. Bau cat minyak yang selalu menempel pada Valerie bercampur dengan aroma parfum maskulin Revan yang berat.

​"Aku akan memperketat penjagaan," bisik Revan di depan bibir Valerie. "Kau tidak akan keluar dari apartemen ini tanpa aku. Tidak untuk kampus, tidak untuk apa pun. Kau mengerti?"

​"Posesif sekali, Pak Dosen," goda Valerie pelan, mencoba mencairkan suasana meski jantungnya berdegup kencang.

​Revan tidak tertawa. Ia menatap mata Valerie dengan intensitas yang mematikan. "Ini bukan tentang aturan, Erie. Ini tentang aku yang tidak sanggup membayangkan dunia ini tanpamu di dalamnya. Jika sesuatu terjadi padamu, aku akan benar-benar menjadi monster yang mereka takutkan."

Dua minggu berlalu sejak pembebasan Adrian. Secara mengejutkan, keluarga Adiwijaya mendadak senyap. Hendrawan mengirim pesan singkat melalui pengacaranya bahwa Adrian akan "berobat" ke luar negeri untuk sementara waktu guna mendinginkan suasana. Meski Revan tetap waspada dan tidak menurunkan penjagaan Bimo, apartemen lantai dua belas itu mulai terasa lebih seperti rumah daripada tempat persembunyian.

Pagi itu, di meja makan, suasana terasa canggung. Revan sedang merapikan dasinya di depan cermin kecil dekat dapur. Valerie memperhatikannya sambil mengoles selai pada roti, gerakannya melambat saat matanya tanpa sadar terpaku pada garis rahang tegas suaminya.

Apa dia melakukannya hanya karena tugas? batin Valerie. Ia sering merasa tidak percaya diri. Ia hanya seorang mahasiswi yang penuh masalah, sedangkan Revan adalah pria mapan dengan masa depan gemilang. Valerie takut, kebaikan Revan hanyalah bentuk kasih kasihan seorang pengawal pada majikannya.

"Erie, rotinya sudah hampir hancur kau oles terus," tegur Revan datar, meski sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum.

Valerie tersentak, wajahnya memerah. "Ah, maaf. Aku sedang... memikirkan tugas kuliah."

Revan berjalan mendekat, mengambil tas kerjanya. Sebelum pergi, ia berhenti tepat di samping Valerie. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengusap puncak kepala Valerie dengan sangat lembut. "Aku akan menunggumu di parkiran kampus sore nanti. Jangan pulang dengan siapa pun."

Sentuhan singkat itu meninggalkan rasa hangat yang bertahan sampai Valerie tiba di kelas Seni.

Pagi itu, Valerie melangkah memasuki studio lukis kampus dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

"Valerie! Sini, aku sudah siapkan tempat untukmu!"

Seorang gadis dengan rambut pendek bob dan kacamata bulat besar melambaikan tangan dengan semangat. Dia adalah Karin, satu-satunya mahasiswa yang tidak mempedulikan status "mahasiswi bermasalah" yang sempat melekat pada Valerie. Karin adalah tipikal gadis yang ceria, namun memiliki ketakutan luar biasa terhadap segala bentuk otoritas, terutama dosen hukum yang akhir-akhir ini sering terlihat di area gedung Seni.

"Kau tahu tidak?" Karin berbisik misterius saat Valerie mulai menyiapkan paletnya. "Si 'Iblis Pemangsa Nilai' itu kulihat lagi di kafetaria tadi. Kenapa sih Pak Revan itu sering sekali berkeliaran di area kita? Apa dia sedang mencari mangsa untuk diberi nilai E?"

Valerie hampir saja menjatuhkan kuasnya. "Mungkin dia hanya... sedang ada urusan dengan dekanat, Karin."

"Duh, tapi auranya itu, lho! Seram sekali," Karin bergidik, memeluk bahunya sendiri. "Ganteng sih, iya. Tapi kalau disuruh memilih antara jomblo seumur hidup atau jadi pacar dia, aku lebih baik jomblo! Bayangkan saja, pria sekaku itu kalau pacaran pasti isinya cuma membahas pasal-pasal pidana. Tidak akan ada kata sayang, yang ada mungkin cuma 'pembelaan terdakwa'."

Valerie menahan tawa, membayangkan Revan yang semalam menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk memilihkan jenis susu yang paling sehat untuk diminum Valerie sebelum tidur.

"Dia tidak seburuk itu kalau kau mengenalnya lebih dekat," gumam Valerie pelan.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!