NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:703
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu dan Luka yang Diperdalam

Suasana pagi di rumah mungil itu tetap sama; pengap dan penuh ketegangan yang tertahan. Hilman baru saja selesai mencuci piring sisa semalam—tugas yang seharusnya menjadi milik Andini namun selalu berakhir di tangan kasarnya yang pecah-pecah. Sementara itu, Andini duduk di sofa ruang tamu dengan kaki bersilang, asyik mengamati pantulan dirinya di layar ponsel yang baru saja bergetar.

Sebuah notifikasi muncul di layar. Nama yang sudah bertahun-tahun tenggelam kini mencuat kembali ke permukaan: Reno Ardiansyah.

Jantung Andini berdegup kencang. Reno adalah mantan kekasihnya saat ia masih di bangku SMA dan awal kuliah—pria yang dulu ia puja karena ketampanannya dan gaya hidupnya yang glamor. Mereka putus karena Reno harus melanjutkan studi ke luar negeri, atau begitulah alasan yang Andini terima saat itu. Tak lama setelah Reno pergi, tekanan ekonomi dan paksaan orang tua membuat Andini akhirnya menikah dengan Hilman, pria tua yang menurutnya adalah "pilihan darurat".

Dengan tangan sedikit gemetar, Andini membuka pesan itu.

"Hai, Din. Apa kabar? Aku baru kembali ke Jakarta minggu lalu. Tadi tidak sengaja melihat profilmu di Instagram. Kamu masih secantik dulu, bahkan lebih menawan sekarang. Aku dengar kamu sudah menikah... aku harap pria beruntung itu memperlakukanmu seperti ratu."

Andini menggigit bibir bawahnya. Matanya kemudian melirik ke arah dapur, di mana Hilman sedang membungkuk, mencoba membersihkan saluran pembuangan air yang tersumbat. Hilman mengenakan kaos yang lubang di bagian ketiaknya dan celana pendek yang warnanya sudah pudar. Bau sabun cuci piring murah dan aroma keringat pagi suaminya mulai memenuhi ruangan.

"Pria beruntung?" gumam Andini sinis. "Ratu?"

Ia menatap kembali foto profil Reno. Pria itu tampak berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit, mengenakan setelan jas slim-fit yang mahal, jam tangan mengkilap, dan senyum yang memancarkan aura kesuksesan. Kontrasnya begitu tajam hingga membuat Andini merasa mual.

"Mas!" teriak Andini tiba-tiba.

Hilman tersentak, kepalanya sedikit terbentur pipa bawah wastafel. Ia keluar dari dapur sambil menyeka tangannya yang basah ke celananya. "Iya, Dek? Ada apa? Mau dibuatkan teh?"

Andini berdiri, menatap Hilman dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan pandangan menghina. "Lihat dirimu, Mas. Lihat penampilanmu. Apa kamu nggak malu? Jam segini masih bau got, baju compang-camping. Kamu tahu nggak siapa yang baru saja menghubungiku?"

Hilman mengernyit, mencoba tetap tenang meski dadanya terasa sesak—efek dari penyakitnya yang kian hari kian parah. "Siapa, Dek?"

"Reno. Reno Ardiansyah. Mantan pacarku yang dulu kamu anggap 'anak ingusan' itu. Sekarang dia sudah jadi direktur di perusahaan properti besar. Dia baru pulang dari luar negeri. Dia tanya bagaimana kabarku," Andini membusungkan dadanya, seolah-olah kesuksesan Reno adalah miliknya.

Hilman terdiam. Ia ingat nama itu. Pria yang dulu membuat Andini menangis berhari-hari saat meninggalkannya. "Oh... baguslah kalau dia sukses. Semoga dia tetap rendah hati."

"Rendah hati? Itu kalimat orang gagal, Mas!" bentak Andini. "Harusnya kamu itu berkaca! Reno seusiamu mungkin sudah punya gedung sendiri, sementara kamu? Seusia ini masih jadi buruh yang kalau pingsan saja bikin malu istri! Kamu tahu apa yang dia bilang? Dia berharap aku diperlakukan seperti ratu."

Andini tertawa pahit, tawa yang penuh kebencian. "Ratu mana yang rumahnya bocor kalau hujan? Ratu mana yang suaminya cuma bisa kasih kalung perak murahan? Kalau dulu aku menunggu Reno dan nggak terburu-buru menikah dengan pria tua sepertimu, hidupku sekarang pasti bergelimang kemewahan, bukan bergelimang debu pabrik!"

Hilman memegangi tepian meja, mencoba menstabilkan tubuhnya yang mendadak lemas. Kata-kata Andini jauh lebih menyakitkan daripada serangan batuk darahnya. "Mas tahu Mas banyak kekurangan, Andini. Tapi Mas nggak pernah membiarkan kamu kelaparan. Mas kerja siang malam supaya kamu bisa beli barang-barang yang kamu mau..."

"Barang yang aku mau? Tas sepuluh juta itu? Itu pun aku harus mengemis dan kamu harus akting pingsan dulu! Reno pasti bisa belikan aku sepuluh tas seperti itu tanpa harus drama!" Andini kembali menatap ponselnya, jemarinya lincah membalas pesan Reno.

"Kabar baik, Ren. Tapi ya... hidupku tidak semanis fotoku di Instagram. Pria 'beruntung' itu ternyata hanya pria tua yang membosankan. Senang kamu sudah kembali."

Dalam hitungan detik, balasan Reno masuk kembali. "Maaf mendengarnya, Din. Kamu terlalu berharga untuk hidup membosankan. Bagaimana kalau besok siang kita makan siang di restoran di daerah SCBD? Aku ingin melihat langsung apakah kecantikanmu itu nyata atau hanya filter kamera."

Mata Andini berbinar. Ia merasa seperti mendapat napas baru. "Mas, besok siang aku keluar. Aku butuh uang lagi untuk salon. Aku mau creambath dan manicure. Aku nggak mau ketemu Reno dengan penampilan seperti ibu rumah tangga kelas bawah."

"Besok Mas belum gajian, Dek. Uang yang kemarin benar-benar habis untuk biaya klinik Syifa dan tabungan sekolahnya," jawab Hilman jujur.

"Cari! Pinjam ke temanmu atau ke bosmu! Aku nggak peduli!" Andini berjalan menuju kamar, namun ia berhenti sejenak di depan Hilman. "Lihat baik-baik wajahku ini, Mas. Ini adalah wajah wanita yang seharusnya bersanding dengan pria sukses seperti Reno. Setiap detik aku bersamamu adalah kerugian bagi kecantikanku."

Brak! Pintu kamar tertutup rapat.

Hilman terduduk di kursi dapur yang goyah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata yang jarang ia keluarkan kini merembes di sela-sela jarinya yang kasar. Ia tidak cemburu pada Reno dalam artian lelaki pada umumnya. Ia merasa gagal karena cintanya yang tulus ternyata tidak memiliki nilai tukar di mata Andini jika dibandingkan dengan harta.

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet kulit yang sudah tipis dan terkelupas. Di dalamnya hanya ada foto Andini saat mereka baru menikah tujuh tahun lalu—saat itu Andini masih mau tersenyum padanya, meski tipis. Di balik foto itu, Hilman menyimpan secarik kertas kecil berisi catatan deposito rahasianya.

Angka di sana sudah mencapai Rp950.000.000. Tinggal sedikit lagi mencapai target satu miliar yang ia janjikan pada dirinya sendiri untuk masa depan Syifa dan Andini.

"Sedikit lagi, Andini... sedikit lagi aku akan memberimu 'kerajaan' itu. Tapi sepertinya, kamu sudah menemukan 'raja' baru sebelum aku selesai membangunnya," bisik Hilman pilu.

Malam itu, Hilman tidak bisa tidur. Ia terbatuk-batuk hebat di ruang tamu, namun ia membekap mulutnya dengan kain handuk agar tidak terdengar ke kamar. Saat ia menjauhkan handuk itu, warnanya sudah berubah menjadi merah pekat. Napasnya terasa berat, seperti ada cairan yang merendam paru-parunya.

Sementara itu, di dalam kamar yang gelap, Andini sedang asyik bertukar pesan dengan Reno. Reno mengirimkan foto mobil sport barunya, membuat Andini semakin merasa bahwa Hilman adalah penghalang bagi kebahagiaannya.

"Ren, kamu tahu tidak? Suamiku bahkan tidak tahu cara memakai dasi dengan benar. Dia pria yang sangat menyedihkan," tulis Andini, diiringi emoji tertawa.

Reno membalas, "Kasihan sekali kamu, Din. Tenang, besok aku akan buat kamu merasa seperti wanita paling spesial di dunia."

Andini tertidur dengan senyum di bibir, membayangkan makan siang mewah dan pelarian dari kemiskinan yang ia benci. Ia tidak tahu bahwa Reno sebenarnya sedang terlilit masalah keuangan dan hanya mencari "mangsa" baru untuk meminjam uang dengan modal tampang dan mobil sewaan.

Dan ia sama sekali tidak peduli bahwa di luar kamar, pria yang selama tujuh tahun memberinya makan dengan peluh dan darah, sedang duduk di lantai sambil memegangi dadanya, berjuang hanya untuk satu tarikan napas agar bisa melihat matahari esok pagi—hanya untuk bisa mengantar istrinya menemui pria lain yang ia anggap lebih "sukses".

Keesokan paginya, Hilman bangun dengan wajah yang sangat pucat, bahkan bibirnya mulai membiru. Namun, ia tetap memaksakan diri bangun lebih awal. Ia menyemir sepatu Andini, menyetrika baju yang akan dipakai Andini untuk bertemu Reno, dan meletakkan uang dua ratus ribu rupiah di meja rias—uang yang ia dapatkan dengan menjual jam tangan peninggalan almarhum ayahnya ke tukang loak tadi subuh.

"Ini uang untuk salonmu, Dek," kata Hilman saat Andini bangun.

Andini menyambar uang itu tanpa melihat wajah suaminya yang sudah seperti mayat hidup. "Cuma dua ratus? Ya sudahlah, cukup buat blow rambut saja. Mas, nanti siang nggak usah jemput aku. Aku pulang diantar Reno. Dia nggak boleh lihat motor bututmu itu, bisa jatuh harga diriku!"

Hilman hanya mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Dek. Jangan pulang terlalu larut, Syifa butuh ibunya."

Andini pergi dengan terburu-buru, meninggalkan aroma parfum yang wanginya seolah mengejek kemiskinan rumah itu. Hilman berdiri di depan pintu, menatap punggung istrinya yang menjauh. Ia tahu, pengkhianatan emosional Andini sudah dimulai. Namun bagi Hilman, mencintai Andini berarti memberikan segalanya, termasuk membiarkan dirinya diinjak-injak asalkan Andini tetap berada di jangkauannya.

"Tuhan... beri aku sedikit waktu lagi. Sampai angka itu genap satu miliar," doa Hilman dalam hati sebelum ia berangkat ke pabrik dengan tubuh yang sudah kehilangan separuh nyawanya.

Peta pengkhianatan telah terbentang, dan Andini sedang berjalan riang di atasnya, tanpa tahu bahwa di ujung jalan itu bukan kemewahan yang menantinya, melainkan jurang penyesalan yang tak berdasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!