"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Operasi Suami Idaman (Siaga Satu!)
Setelah bulan madu yang penuh romansa di Labuan Bajo, Devan Adiguna pulang dengan satu tekad baja: menjadi suami paling sempurna di muka bumi. Masalahnya, Devan adalah seorang CEO yang terbiasa memerintah ribuan karyawan, namun nol besar dalam urusan rumah tangga tanpa bantuan asisten.
Pagi itu, di kediaman mewah Adiguna, Devan terbangun lebih awal. Ia menatap Shena yang masih terlelap, lalu berbisik pelan, "Hari ini, istriku tidak boleh menyentuh pekerjaan apa pun. Biarkan suamimu yang hebat ini yang beraksi."
Misi 1: Breakfast of Champions (Atau Begitulah Rencananya)
Devan turun ke dapur dengan gagah, mengenakan celemek motif bunga-bunga milik Bi Inah yang terlihat sangat kekecilan di tubuh kekarnya. Ia membuka YouTube di tabletnya: "Cara Membuat Pancake Fluffy dalam 5 Menit".
"Gampang sekali," gumam Devan sombong.
Sepuluh menit kemudian, dapur mulai menyerupai medan perang. Tepung terigu terbang ke mana-mana—bahkan sampai ke bulu mata Devan. Saat ia mencoba membalik pancake dengan gaya chef profesional, pancake tersebut justru melayang indah dan menempel dengan sukses di langit-langit dapur.
"Sial," umpat Devan. Ia mengambil sapu, mencoba menyodok pancake itu, namun malangnya, adonan setengah matang itu jatuh tepat di atas kepalanya.
Tepat saat itu, Shena turun ke bawah. Ia terpaku melihat suaminya berdiri di tengah dapur dengan celemek kekecilan, rambut penuh tepung, dan sekeping pancake nangkring di atas kepalanya seperti topi baret.
"Mas... kamu sedang latihan jadi badut sirkus?" tanya Shena sambil menahan tawa sampai bahunya bergetar.
Devan berbalik dengan wajah serius (sebisanya). "Shena, ini adalah teknik dekorasi kepala terbaru. Dan jangan tertawa, ini pancake organik... secara teknis."
Misi 2: Mencuci Baju adalah Strategi Bisnis
Siang harinya, Devan bersikeras ingin mencuci baju Shena. "Mesin cuci ini punya kecerdasan buatan, Shena. Sama seperti sistem di kantorku. Aku pasti bisa."
Shena sudah memperingatkan, "Mas, pisahkan yang berwarna putih dengan yang berwarna."
"Iya, iya, aku tahu prinsip segmentasi," jawab Devan percaya diri.
Satu jam kemudian, Devan mengeluarkan cucian dengan wajah pucat. Blus putih sutra favorit Shena kini berubah warna menjadi merah muda cerah—hampir neon. Ternyata, Devan tanpa sengaja memasukkan kaos kaki merah keberuntungannya ke dalam mesin yang sama.
"Shena..." Devan menghampiri Shena di ruang tengah sambil membawa blus itu dengan ujung jarinya. "Ada kabar baik. Aku baru saja melakukan branding ulang pada pakaianmu. Warna putih itu terlalu membosankan, jadi aku memberikan sentuhan Pink Passion."
Shena melongo. "Mas Devan... itu blus pemberian Mama Widya!"
Devan langsung berlutut. "Aku akan beli pabrik kainnya sekarang juga kalau perlu! Jangan marah ya?"
Misi 3: Merakit Rak Buku Tanpa Instruksi
Sore hari, sebuah paket rak buku baru datang untuk studio lukis Shena. Devan menolak bantuan tukang. "Aku lulusan S2 luar negeri. Merakit rak begini cuma masalah logika spasial."
Dua jam kemudian, Devan duduk di lantai dengan tumpukan sekrup yang tersisa banyak. Rak bukunya sudah berdiri, tapi bentuknya miring ke kiri 45 derajat dan mengeluarkan bunyi "kriet" yang mencurigakan setiap kali ada angin lewat.
"Mas, kenapa raknya kelihatan seperti Menara Pisa?" tanya Shena sambil membawa es teh.
Devan mengusap keringat di dahinya (yang meninggalkan noda oli). "Ini konsep avant-garde, Sayang. Rak ini melambangkan ketidakpastian ekonomi dunia. Sangat artistik, bukan?"
Baru saja Devan berkata begitu, rak itu ambruk perlahan.
Bruk!
Devan terdiam, lalu menoleh ke arah Shena dengan wajah melas. "Oke, logika spasialku sepertinya butuh di-update. Bisakah kita memesan martabak saja untuk menghiburku?"
...****************...