NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Malam itu, mansion keluarga Marius berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Aroma cerutu mahal dan parfum kelas atas memenuhi udara, menandakan bahwa tamu yang hadir bukanlah orang sembarangan.

Di antara kerumunan elite itu, Alexander Lambert Telford berdiri di sudut balkon yang gelap, memegang segelas minuman dingin yang tak disentuhnya.

Matanya, yang setajam elang Vallois, tidak pernah lepas dari sosok Amelie Roosevelt Marius.

Gadis itu tampak sangat memukau dengan gaun sutra hijau yang memeluk tubuhnya dengan sempurna,sebuah pemandangan yang membuat monster di dalam diri Alex mengamuk, menuntut hak kepemilikan.

The Nobles—Lexa, Denis, dan Jared—berdiri beberapa meter di belakang Alex, bertindak sebagai barikade agar para wanita yang ingin mendekati Alex tidak berani melangkah maju.

"Liam Miller mulai bergerak, Lex," bisik Denis sambil menyesap minumannya. "Dia nggak tahu dia lagi main-main sama maut."

Alex tidak menyahut. Rahangnya mengeras. Ia melihat Liam Miller, putra sulung keluarga Miller yang sombong, mendekati Amelie.

Liam tertawa, mencoba melontarkan lelucon, dan puncaknya, ia dengan berani meletakkan tangannya di pinggang Amelie untuk membimbingnya menuju meja prasmanan.

Plak.

Gelas di tangan Alex retak. Cairan dingin membasahi telapak tangannya, namun ia tidak merasakannya. Gairah dan amarah menyatu menjadi api yang membakar kewarasannya.

Tanpa sepatah kata pun, Alex melangkah maju. Kerumunan orang terbelah secara otomatis saat merasakan aura dingin yang mematikan dari sang pewaris Telford.

"Alex?" Amelie menoleh, matanya membelalak saat melihat Alex sudah berdiri tepat di hadapan Liam.

Liam Miller mencoba bersikap tenang. "Hei, Telford. Lo mau gabung..."

Sebelum Liam menyelesaikan kalimatnya, Alex mencengkeram pergelangan tangan Liam yang masih berada di pinggang Amelie. Ia memutarnya dengan kekuatan yang membuat Liam memekik tertahan.

"Lepas," desis Alex. Suaranya rendah, namun cukup kuat untuk membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

"Lex, lo kenapa? Gue cuma mau..."

"Gue nggak suka bicara dua kali, Miller," potong Alex. Matanya yang sedingin es kini berkilat dengan kegelapan yang murni.

"Satu inci lagi tangan lo nyentuh dia, gue pastiin tangan ini nggak bakal bisa lo pake buat jabat tangan rekan bisnis papa lo lagi."

Alex menarik Amelie ke dalam dekapannya dengan kasar namun protektif. Ia merangkul bahu Amelie dengan kuat, seolah sedang memasang segel kepemilikan di depan seluruh tamu undangan. Liam yang ketakutan segera mundur dan menghilang ke dalam kerumunan.

Deheman Alex dingin saat beberapa orang tua mulai berbisik-bisik. Ia tidak peduli pada citra. Ia hanya peduli pada miliknya.

Ia menarik Amelie menjauh dari keramaian, menuju taman belakang mansion Marius yang sunyi dan gelap.

Setelah mereka cukup jauh, Alex menyudutkan Amelie ke batang pohon ek besar.

"Gue udah bilang tadi pagi, El. Jangan bicara sama dia," suara Alex kini berubah kembali, menjadi suara yang hanya diperuntukkan bagi Amelie. Berat, parau, dan penuh dengan gairah yang tertahan.

"Alex, kamu kasar banget! Tadi itu banyak orang tua kita!" Amelie terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.

Alex tidak peduli. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Amelie, mengurung gadis itu sepenuhnya.

"Gue nggak peduli sama mereka. Gue cuma peduli sama tangan kotor dia yang nyentuh pinggang lo. Bagian ini..." Alex mengusap pinggang Amelie dengan ibu jarinya, "...cuma boleh gue yang nyentuh. Lo ngerti?"

Amelie menatap mata Alex dan ia melihat ada sesuatu yang hancur di sana, sebuah pengendalian diri yang hampir hilang. "Alex, kamu gemeteran..."

"Karena gue nahan diri buat nggak nerjang lo di sini, El!" bentak Alex pelan namun intens. "Tiap malam gue nggak bisa tidur karena bayangin lo. Dan liat cowok lain nyentuh lo... rasanya gue mau hancurin dunia ini."

Alex menunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Amelie, menghirup aroma vanila yang sangat ia rindukan. Tubuhnya yang panas menempel pada tubuh Amelie yang dingin.

"Jangan pernah kasih celah buat mereka, El. Karena kalau itu terjadi lagi... gue nggak akan cuma patahin tangan mereka. Gue bakal kurung lo di kamar gue dan nggak bakal gue kasih liat matahari sampai lo lupa cara nyebut nama orang lain selain nama gue."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!