NovelToon NovelToon
Kilatan Waktu

Kilatan Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: Ami Greenclover

Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mian atau Mia?

*prangg!

Suara gaduh terdengar. Suara itu membuat Dania dan Mia yang sedang tidur tiba-tiba terbangun dan langsung terduduk.

“Jangan!!!”

Mia berteriak.

“Apanya yang jangan?!”

Dania memukul lengan Mia. Mia heran mengapa dia masih berada di dalam kamarnya.

“Huuh, ku kira kita lagi di tempat itu.Soalnya aku tadi hampir saja masuk ke mimpi itu lagi”

“Aku juga sama! Untungnya kita gak balik lagi ke tempat itu.”

“Tapi, suara apa itu?”

“Iya ya… suara apa itu?”

Mereka keluar dari kamar. Suara itu berasal dari dapur, jadi mereka pergi ke dapur.

Meoww…

Ternyata itu Johan, kucing kesayangan Mia.

“Johan, kau ngapain?”

Mia bertanya, dan kucing itu hanya mengeong. Ternyata kucing itu masuk melewati ventilasi udara dan mendarat di atas rak piring, itulah yang menyebabkan bunyi yang mengagetkan itu tadi.

Mia menggendong Johan. Johan adalah kucing yang Mia temukan saat Mia pergi ke kantor BPJS yang ada di Mempawah. Johan memiliki nama lengkap Johan Leonard De Vries, umur Johan saat ini menginjak hampir 5 tahun. Johan berbeda dari kucing lainnya, walaupun wajahnya mirip seperti kucing mujaer pada umumnya tapi tingkah Johan amat sangat berbeda. Johan sangat penurut, ketika Mia memanggilnya dia akan menjawab dan dia juga akan menghampiri Mia. Johan juga sangat cerdas, dia memang sedikit nakal namun dia tergolong kucing yang pantang menyerah dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Namun, ayah Mia sering mengeluh karena tingkah nakal Johan, saking pintarnya Johan dapat membuka ember pakan ikan yang tersegel rapat dan membuat ayah Mia mengomel setiap hari. Ember pakan itu tidak mudah dibuka, bahkan oleh manusia sekalipun sulit. Namun, Johan bisa melakukannya dengan mudah, itulah yang membuat ayah Mia sering menggelengkan kepalanya.

Mia dan Dania kembali ke kamar dengan membawa Johan. Saat berada di dalam kamar Johan menggerang.

“Kenapa Johan?”

Dania bertanya.

“Paling dia lihat cicak.”

Namun, gerangan Johan semakin mengeras. Gerangan dia terdengar seperti sedang berkelahi dengan kucing lain, namun di kamar itu hanya ada Johan. Johan melihat ke arah pintu sambil menggerang dan sesekali berdesis. Jika dilihat dari postur dan tingkahnya, Johan seperti sedang menghadapi sesuatu, dia bahkan tak berpindah dan masih berdiri di atas kasur di depan Mia dan Dania.

“Kenapa Johan?”

Merasa ada yang aneh dengan kucingnya, Mia berdiri dan melihat ke sekitar. Mia tak menemukan apapun. Namun, ada yang aneh… setiap kali Mia melangkah, Johan akan melangkah dahulu dan Johan selalu berada di depan Mia. Johan tampak seperti sedang menjaga Mia. Semakin jauh Mia melangkah, semakin kuat gerangan Johan. Hingga tiba-tiba Johan berlari seperti mengejar sesuatu.

“Johan!”

Mia memanggilnya. Namun, Johan tidak menghiraukan Mia dan terus berlari sambil menggerang dan berdesis. Hingga Johan tiba di depan pintu dia baru berhenti. Kemudian Johan berjalan ke arah Mia dan bermanja di kakinya.

“Johan kenapa?”

Mia menggendong Johan sambil membawanya kembali ke kamar. Saat melewati ruang tengah, Mia melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Mia segera kembali ke kamarnya.

“Johan bobok disini ya…”

Mia memberikan bantal dan selimut untuk Johan.

“Johan ngejar apa?”

Dania bertanya.

“Gak tau, gak ada apa-apa tadi.”

“Oh… paling ngejar tikus.”

“Iya kali ya…”

“Udahlah, ayo tidur lagi…”

“Oke.”

Setelah malam itu, Mia dan Dania tidak pernah bermimpi pergi ke zaman kuno itu lagi. Entah apa yang mematahkan mimpi tersebut. Namun, Johan yang biasanya pergi bermain keluar rumah sekarang tak pernah lagi bermain jauh. Dia akan selalu pulang pada pukul 7-8 malam dan akan pergi pada pagi hari. Biasanya Johan menghabiskan waktu bermain di sawah bersama ayah Mia.

Hari ini ada pertandingan sepakbola antar desa. Mia dan Dania berencana untuk pergi menonton pertandingan.

“A Fan!”

Mia memanggil sepupunya Xufan atau yang biasa dia panggil dengan sebutan “A Fan” yang berada di dekat lapangan.

“Mia, tumben nonton bola?”

“Sekali-sekali lah nonton bola, hehe… oh iya, hari ini desa kita ngelawan desa Dugu ‘kan?”

“Iya, jangan lupa dukung tim aku ‘ya.”

“Tentu!”

Mia dan Dania membeli beberapa makanan untuk menonton pertandingan.

“Pertandingannya udah mulai kah?”

“Belum.”

“Terus, kenapa itu udah pada di lapangan?”

“Mereka latihan, Mia…”

“Oh…”

“Eh! Beli sosis yuk!”

“Ayuk!”

Mereka membeli banyak makanan, Mia juga tak lupa membelikan makanan untuk A Fan.

“Yuk kita duduk di tepi lapangan biar kelihatan.”

“Boleh!”

Mereka segera mencari tempat yang strategis.

“A Fan! Mau gak?!”

Mia melambai pada A Fan yang sedang berlatih. A Fan menghampiri Mia.Mia memberikan makanan itu pada A Fan, A Fan memakan 5 buah sosis yang Mia berikan untuknya. Setelah itu A Fan kembali melanjutkan latihannya.

“Itu tim lawan ya?”

Dania menunjuk ke tim dengan nomor punggung 5.

“Iya, lihat bajunya beda dengan tim kita.”

Mia dan Dania menonton para tim yang sedang berlatih sambil memakan sosis bakar yang mereka beli. Mereka fokus menonton, sampai pada suatu ketika sebuah bola tanpa sengaja melesat ke arah Mia.

“Aaa!”

Mia teriak. Dia memejamkan matanya, namun dia tak merasakan bola menghantam wajahnya. Mia membuka satu matanya.

“Eeee? Berhenti?”

Mia membuka kedua matanya dan melihat ada tangan yang menahan bola itu dari belakang. Mia menengadahkan kepalanya.

“Mian!”

Seorang pemuda cengengesan saat melihatnya. Ternyata itu adalah pemuda yang ia temui di pasar beberapa waktu lalu. Mia bengong. Pemuda itu langsung duduk di sampingnya. Pemuda itu melemparkan bola itu kembali ke lapangan sambil berteriak.

“Woi! Main bolanya hati-hati! Jangan sampe kena pacarku!”

Mendengar itu teman-teman pemuda itu langsung bersorak dan mengejek mereka berdua.

“Aneh…”

Mia dengan kesal duduk sedikit menjauh dari pemuda itu. Namun, pemuda itu walaupun sudah diabaikan oleh Mia tetap saja dia ingin berada di dekat Mia.

“Bang, mau nomor WA-nya gak?”

Dania berbicara dengan pemuda itu. Pemuda itu dengan sigap langsung berdiri dan berlari.

“Kok malah lari?”

Dania bingung.

“Orang aneh.”

Mia tampak kesal.

Tak lama pemuda itu kembali berlari menghampiri mereka sambil membawa ponsel. Ternyata pemuda itu tadi mengambil ponselnya terlebih dahulu. Pemuda itu langsung membuka aplikasi Whatsapp dan menyodorkan nya pada Dania.

“Mana?”

Pemuda itu bertanya sambil tersenyum.

“Jangn, jangan.”

Mia mencegah Dania memberikan nomor Whatsapp nya pada pemuda itu.

“Mian,boleh lah…”

Pemuda itu membujuk Mia.

“Mian, Mian, siapa Mian?”

Wajah Mia tampak kesal.

“Kalau bukan Mian…terus siapa?”

Pemuda itu bertanya.

“Mia, nama dia Mia.”

Dania menjawab.

“Oh… nama kamu Mia, maaf ya Mian aku salah sebut nama kamu.”

Pemuda itu lagi-lagi salah menyebut nama Mia.

“Ish.”

Mia kesal.

“Imutnya…”

Pemuda itu duduk di samping Mia, dia memperhatikan wajah Mia yang sedang kesal itu.

“Aduh!!”

Mia menarik telinga pemuda itu.

“Kamu itu kenapa sih?!”

“Cieeeeee!! Kiw kiw!”

Teman-teman pemuda itu yang berada di lapangan kembali mengejek mereka berdua.

“Kalian cocok!”

Dari kejauhan A Fan memberikan jempolnya.

Wajah Mia memerah, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!