Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-33
Hari ini adalah acara Aqiqahan si kembar tiga sekaligus syukuran nama untuk ketiganya, buah hati Kalandra dan Elisa. Mansion Mahendra kali ini bukan lagi terlihat seperti kediaman pribadi seorang konglomerat, melainkan lebih mirip venue atau pesta kebun kelas dunia yang dipadukan dengan toko perlengkapan bayi premium. Ratusan bunga lili putih dan biru pastel menghiasi setiap sudut taman, sementara tenda transparan berdiri megah untuk menyambut para kolega bisnis, pejabat, hingga keluarga jauh. Namun, di balik kemegahan itu, ada sebuah drama yang terjadi di dalam kamar utama.
"Mas... serius mau pakai warna ini?" tanya Elisa sambil menahan tawa sekuat tenaga.
Kalandra berdiri di depan cermin, menatap pantulannya dengan ekspresi pasrah yang sangat dalam. Sesuai janji taruhan dengan ayahnya di masa lalu yang diperparah oleh kesepakatan saat USG Kalandra hari ini harus mengenakan setelan jas berwarna merah muda lembut dusty pink. Berbeda dari acara kehamilan tujuh bulan sang istri yang wakru itu dia pakai beskap warna merah Fanta.
"Seorang pria sejati tidak pernah menarik kata-katanya, El," gumam Kalandra sambil merapikan dasi kupu-kupunya yang berwarna biru navy. "Tapi kalau Bimo sampai memotret ini dan mengirimnya ke grup direksi, aku pastikan dia mutasi ke divisi logistik di pedalaman Kalimantan besok pagi."
Elisa tertawa renyah, ia menghampiri suaminya dan merapikan kerah jas tersebut. "Mas kelihatan gagah, kok. Malah kelihatan lebih ramah. Anak-anak pasti bangga liat Papanya secerah ini."
Elisa sendiri tampil memukau dengan kaftan sutra berwarna krem dengan aksen bordir tangan yang sangat halus. Wajahnya tampak segar, aura keibuannya terpancar sempurna. Di belakang mereka, tiga boks bayi berjalan stroller khusus kembar tiga sudah disiapkan, di mana si Abang mengenakan setelan tuksedo mini dan dua bidadari kecilnya mengenakan gaun putih dengan bando bunga yang senada.
Di area taman, keriuhan sudah dimulai. Tuan Baskoro tampak sibuk memamerkan cucu-cucunya bahkan sebelum subjeknya muncul.
"Lihat ini, Pak Gunawan! Ini foto mereka baru lahir. Yang ini si Jagoan, hidungnya persis saya kan?" ujar Baskoro dengan suara menggelegar kepada salah satu kolega bisnisnya.
"Lho, bukannya hidungnya lebih mirip Kalandra, Pak?" canda Pak Gunawan.
"Kalandra kan anak saya! Jadi otomatis mirip saya!" balas Baskoro tidak mau kalah.
Saat pembawa acara mengumumkan kedatangan keluarga inti, seluruh mata tertuju pada pintu besar menuju taman. Kalandra muncul dengan mendorong stroller kembar tiga itu, sementara Elisa berjalan anggun di sampingnya.
Hening sejenak. Bukan karena kehadiran bayi-bayinya, tapi karena pemandangan CEO Mahendra Group yang biasanya memakai setelan hitam atau abu-abu gelap, kini tampil dalam balutan jas merah muda.
Gery, yang berdiri di barisan keamanan, membisikkan sesuatu pada Bimo. "Bim, tolong bilang gue nggak salah liat. Bos beneran jadi Pink Lagi?"
Bimo hanya menepuk keningnya. "Sstt, diem. Itu namanya cinta, Ger. Lo nggak bakal paham."
Acara syukuran berlangsung dengan khidmat. Prosesi pemotongan rambut berjalan lancar, meskipun si Abang sempat sedikit menangis karena merasa tidurnya terganggu. Saat itulah, Kalandra menunjukkan sisi ayah yang membuat para kolega bisnisnya melongo.
Tanpa canggung, Kalandra menggendong si Abang, menimangnya dengan gerakan yang sangat luwes, dan membisikkan kata-kata penenang di telinga bayi itu sambil tetap menyalami tamu.
"Ah, Pak Kalandra. Saya tidak menyangka Anda begitu lihai memegang bayi," ujar salah satu menteri yang hadir.
Kalandra tersenyum tipis, tetap tenang meski si Abang mulai menarik-narik dasi kupu-kupunya. "Mengemban san mengurus tiga bayi jauh lebih sulit daripada mengelola portofolio investasi, Pak. Di sini tidak ada analisis teknikal, yang ada hanyalah insting dan kesabaran."
Tawa pecah di antara para tamu. Citra Kalandra yang dulu dianggap sebagai mesin bisnis yang dingin kini berubah menjadi sosok manusiawi yang sangat dicintai.
Namun, ujian sesungguhnya datang di tengah-tengah acara makan siang. Bimo dan Gery yang tadinya merasa aman di posisinya, tiba-tiba dipanggil oleh Kalandra ke area privat di belakang panggung.
"Bim, Ger. Tolong jaga mereka sebentar," ujar Kalandra dengan wajah sedikit tegang. "Elisa harus ganti baju karena kena tumpahan susu, dan aku harus menemani Papa bicara dengan tamu VVIP dari luar negeri. Cuma sepuluh menit."
Gery menatap tiga bayi yang sedang bangun dan menatapnya dengan mata bulat. "Tapi Bos... gue nggak tau cara bedain mereka kalau mereka nangis!"
"Pokoknya kalau yang ini nangis di kasih dot, yang itu suka digoyang-goyang, yang satu lagi cukup dielus kepalanya. Cepat!" Kalandra langsung menghilang sebelum Gery sempat protes.
Bimo dan Gery berdiri mematung di depan tiga bayi tersebut.
"Oke, Bim. Sekarang Kita bagi tugas," ujar Gery dengan nada serius seolah sedang menyusun strategi penyergapan. "Lo urus si Abang, gue urus dua cewek ini. Kita pakai formasi bertahan."
Baru dua menit berlalu, salah satu bayi perempuan Adik Dua mulai merengek. Gery dengan panik mencoba mengelus kepalanya, tapi justru membuat Adik Satu ikut terbangun.
"Aduh, Bim! Mereka mulai kontraksi! Eh, maksud gue mulai nangis!" seru Gery.
Seorang tamu penting yang kebetulan lewat untuk mencari toilet, yang juga merupakan seorang pengusaha properti wanita yang sangat disegani, terhenti melihat pemandangan itu. Ia melihat dua pria berbadan tegap dan berwajah sangar sedang beradu argumen tentang cara memegang botol susu yang benar.
"Kalian ini... sini, biar saya bantu," ujar wanita itu sambil tertawa.
Gery dan Bimo hanya bisa nyengir malu. Ternyata, menjaga tiga bayi Mahendra adalah misi paling mustahil yang pernah mereka terima.
...----------------...
Sore harinya, setelah tamu-tamu mulai pulang, Kalandra dan Elisa duduk di kursi taman yang sudah sepi. Kalandra sudah melepas jas merah mudanya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung.
"Capek ya Mas?" tanya Elisa sambil menyandarkan kepala di bahu Kalandra.
"Lumayan. Tapi melihat wajah Papa yang bangga tadi... dan melihat kamu yang tersenyum sepanjang acara, rasanya capeknya hilang," jawab Kalandra. Ia merangkul pinggang Elisa. "Kamu tahu, tadi Pak Gunawan tanya, kapan aku kembali ke kantor secara penuh."
Elisa mengangkat kepala. "Terus Mas jawab apa?"
"Aku bilang, kantorku sekarang sudah pindah ke lantai bawah mansion, di ruang sebelah kamar bayiku. Aku akan mulai kembali secara bertahap, tapi rapat penting harus dilakukan lewat video atau mereka yang akan datang ke sini," Kalandra menatap Elisa dengan serius. "Aku nggak mau kehilangan satu momen pun, El. Terutama sekarang, saat kita baru saja mulai bisa panggil satu sama lain tanpa embel-embel formal."
Elisa tersenyum manis. "Aku suka Mas Landra yang sekarang. Mas yang berani pakai baju pink di depan menteri."
Kalandra tertawa kecil, ia mengecup kening Elisa. "Itu pengorbanan kecil. Oh iya, untuk nama mereka... akhirnya semua orang tahu sekarang."
Ya..Nama-nama itu telah diumumkan secara resmi tadi
Si Abang : Arkananta Mahendra, sang pelindung;
Si Adik satu : Aurellia Mahendra, sang cahaya;
Si Adik dua : Anindya Mahendra, sang sempurna.
"Nama mereka bagus, Mas. Terima kasih sudah memilihkan yang terbaik," bisik Elisa.
Tiba-tiba, Aris berlari menghampiri mereka sambil membawa sekotak sisa kue pesta. "Kak Landra! Kak Elisa! Lihat, Aris dapet banyak hadiah dari tamu tadi karena Aris bantuin jagain dedek bayi!"
Kalandra tertawa, ia menarik Aris ke dalam pelukan mereka. "Itu karena kamu adalah Kakak terbaik di dunia, Ris."
Malam harinya, saat seluruh mansion kembali tenang, Kalandra duduk di ruang kerjanya yang baru. Ia membuka laptop, namun matanya terus melirik ke monitor bayi yang menampilkan tiga titik kecil yang sedang tidur lelap.
Ia mengirim pesan singkat ke Bimo “Bim, besok jadwal rapat jam 10 pagi, tolong pastikan mereka tidak berisik saat lewat depan kamar bayi. Dan sampaikan ke divisi HRD, kita akan buat ruang laktasi dan tempat penitipan anak di kantor pusat. Aku baru sadar betapa sulitnya orang tua yang bekerja.”
Bimo membalas dengan cepat “Siap, Bos. Perubahan kebijakan yang luar biasa. Selamat beristirahat, Bapak Kembar Tiga.”
Kalandra menutup laptopnya. Ia berjalan menuju jendela, menatap bulan yang sama dengan yang ia lihat di malam kesalahan itu. Bedanya, dulu ia merasa hidupnya adalah garis lurus yang membosankan dan dingin. Sekarang, hidupnya adalah sebuah kekacauan yang indah, penuh dengan tangisan, popok, dan baju merah muda.
Ia melangkah masuk ke kamar, mendapati Elisa sudah tertidur pulas karena kelelahan. Kalandra menyelimuti istrinya, lalu mengecup pipinya pelan.
"Mimpi indah, Sayang. Besok petualangan kita berlanjut lagi," bisik Kalandra.
Dan di dalam boks bayi, si Abang sedikit menggeliat, seolah memberikan tanda bahwa besok pagi, orkestra tangis itu akan dimulai tepat saat matahari terbit dan Kalandra Mahendra, sang CEO yang kini telah berhati lembut, sudah siap untuk menjadi konduktor utamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca☺️🌹🥰...