Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: CURIGA YANG MENGHANCURKAN
#
Mereka kembali ke kapal kargo dengan tubuh penuh luka dan hati yang lebih hancur lagi. Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk yang tidak berakhir. Arjuna harus gendong Maya yang sesekali kejang, efek putus obat mulai muncul. Gadis itu berkeringat dingin, giginya gemeretak, kadang ia meraung kesakitan, kadang ia diam seperti mayat.
"Tahan, Maya. Tahan sedikit lagi," bisik Sari sambil usap keringat di dahi gadis itu. Tapi Sari sendiri hampir tidak kuat. Kakinya terluka karena pecahan kaca saat mereka lari tadi, sepatunya penuh darah.
Pixel jalan paling belakang, tidak bicara sejak mereka tinggalkan tubuh Bagas. Wajahnya pucat, matanya merah, tangannya gemetar tiap kali teringat suara tembakan, suara jeritan, suara...
Suara Bagas yang bilang ada pengkhianat.
Mereka sampai di kapal saat fajar mulai menyingsing. Langit berwarna kelabu, seperti ikut berduka untuk kematian orang baik yang terlalu banyak.
Arjuna baringkan Maya di kasur, tutupi tubuhnya dengan selimut tipis. Gadis itu menggigil hebat meski tidak dingin.
"Dia butuh dokter," kata Arjuna. "Dia butuh detoks. Kalau tidak, dia bisa mati."
"Kita tidak bisa bawa dia ke rumah sakit," jawab Pixel, suaranya datar. "Mereka pasti sudah pasang mata di semua rumah sakit. Begitu kita masuk, kita ditangkap."
"Lalu kita harus bagaimana?! Biarkan dia mati?!"
"Aku tidak bilang begitu! Aku cuma bilang kita harus pikir cara lain!"
"Cara lain seperti apa?! Kau punya kenalan dokter ilegal yang mau bantu buronan seperti kita?!"
"TIDAK! Aku tidak punya!" Pixel berdiri, tangannya terkepal. "Aku tidak punya apapun yang bisa bantu situasi ini! Aku cuma hacker bodoh yang harusnya tinggal di warnet, bukan di kapal rusak ini sambil coba selamatkan anak yang keracunan narkoba!"
"Kalau kau mau pergi, PERGI SAJA!" Arjuna berteriak, emosinya meledak. "Tidak ada yang tahan kau di sini! Pergi kalau kau pikir ini terlalu berat!"
"CUKUP!" Sari berdiri di antara mereka, tangannya terulur memisahkan. "Cukup kalian berdua! Bertengkar tidak akan selesaikan masalah!"
"Dia yang mulai!" Pixel menunjuk Arjuna. "Dia yang teriak-teriak ke aku!"
"Karena kau tidak bantu! Kau cuma berdiri di sana seperti patung!"
"Aku shock, BODOH! Aku baru lihat orang mati di depan mata! Maaf kalau aku tidak langsung bisa fungsi normal seperti robot!"
Arjuna melangkah maju, wajahnya dekat sekali dengan Pixel. "Atau mungkin kau shock karena rencana kau berhasil? Karena kau berhasil bunuh Bagas?"
Hening total.
Pixel mundur seperti ditampar. Matanya membulat. "Apa... apa yang kau bilang?"
"Bagas bilang ada pengkhianat," kata Arjuna, suaranya bergetar tapi tetap keras. "Dia bilang seseorang kasih tahu mereka kalau kita datang. Dan satu-satunya orang yang tahu semua detail rencana, yang punya akses ke sistem mereka, yang bisa kirim pesan tanpa ketahuan adalah KAU."
"Kau... kau pikir AKU yang...?" Pixel terlihat seperti baru ditusuk. "Kau pikir aku yang jual kalian?!"
"Siapa lagi?! Cuma kita bertiga! Dan aku tahu aku tidak! Sari tidak mungkin! Jadi tinggal kau!"
"ARJUNA!" Sari menarik lengannya keras. "Hentikan! Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
"Aku tahu persis apa yang aku bicarakan!" Arjuna melepas tangan Sari, tetap menatap Pixel dengan mata penuh curiga. "Bagas mati karena seseorang bocorkan rencana kita! Dan sekarang kita punya anak yang sekarat karena pengkhianatan itu! Jadi maaf kalau aku tidak bisa percaya lagi!"
Pixel menatapnya lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang terdengar seperti orang yang sudah gila.
"Kau tahu apa yang lucu?" katanya, suaranya bergetar. "Aku meninggalkan keluargaku untuk ini. Ibuku yang sakit. Adikku yang masih sekolah. Aku tinggalkan mereka semua karena aku pikir... aku pikir kita berjuang untuk sesuatu yang benar. Dan sekarang kau... kau tuduh aku pengkhianat?"
"Kalau kau tidak bersalah, buktikan!"
"BAGAIMANA AKU HARUS BUKTIKAN?!" Pixel berteriak, air matanya jatuh. "Bagaimana aku buktikan sesuatu yang tidak pernah aku lakukan?! Kau mau aku sumpah? Aku sumpah! Kau mau aku potong jari? Aku potong! Apa yang harus aku lakukan supaya kau PERCAYA AKU?!"
Arjuna terdiam. Melihat Pixel yang sekarang menangis, yang bergetar, yang terlihat begitu... begitu hancur.
"Aku..." Suara Arjuna pelan sekarang. "Aku tidak tahu..."
"Kau tidak tahu," ulang Pixel, mengusap air matanya kasar. "Kau tidak tahu apapun tapi kau langsung tuduh aku. Karena itu lebih mudah, kan? Lebih mudah salahkan orang lain daripada terima kalau mungkin kita semua membuat kesalahan."
"Pixel..." Sari melangkah ke arahnya, tapi Pixel mundur.
"Jangan. Jangan sentuh aku." Ia ambil tasnya, ambil laptopnya. "Kalian mau bukti? Ini bukti."
Ia buka laptopnya, beberapa klik cepat, lalu putar layarnya supaya Arjuna dan Sari bisa lihat.
"Ini semua akses ku. Semua riwayat. Setiap web yang aku buka. Setiap pesan yang aku kirim. Setiap detik aku online. Semua ada di sini. Cek sendiri. Cari satu, SATU bukti kalau aku hubungi The Black Serpent. Kalau aku kirim pesan ke siapapun yang berhubungan dengan Adrian. Cari!"
Arjuna menatap layar itu. Sari juga. Ada ratusan, mungkin ribuan log. Terlalu banyak untuk diperiksa satu-satu.
"Aku tidak... aku tidak tahu cara baca ini," kata Arjuna pelan.
"Tentu saja kau tidak tahu! Karena kau bukan hacker! Tapi kau tetap nuduh aku!" Pixel menutup laptopnya keras. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan kau tidak percaya aku. Tapi karena aku... aku pikir kita teman. Aku pikir kita keluarga. Ternyata begitu ada masalah, langsung yang disalahkan adalah aku."
"Pixel, aku... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..." Arjuna melangkah maju, tapi Pixel mundur lagi.
"Tidak. Kau sudah bilang apa yang kau pikir. Dan sekarang aku tahu posisi aku." Ia taruh laptopnya di meja, taruh flashdisk merah di sebelahnya. "Ini semua data. Semua yang kalian butuhkan. Aku sudah crack enkripsi tambahan tadi malam sebelum kita berangkat. Semua bukti ada di sana. Gunakan dengan bijak."
"Apa yang kau lakukan?" Sari menatapnya panik. "Kenapa kau bilang seperti mau pergi?"
"Karena aku memang mau pergi." Pixel tersenyum pahit. "Kalian tidak butuh pengkhianat di tim kalian, kan? Jadi lebih baik aku pergi sebelum aku 'khianati' kalian lagi."
"PIXEL, JANGAN!" Sari berlari, tangkap tangannya. "Kumohon. Jangan pergi. Kami butuh kau. Arjuna cuma... cuma shock. Dia tidak bermaksud..."
"Dia bermaksud. Dan kau tahu itu." Pixel melepas tangan Sari pelan. "Sari, kau orang paling baik yang pernah aku kenal. Tapi bahkan kau tidak bisa perbaiki ini. Kepercayaan sudah pecah. Dan begitu pecah, tidak bisa disatukan lagi."
Ia berjalan ke pintu. Berhenti sebentar tanpa menoleh.
"Jaga diri kalian. Dan semoga kalian menemukan pengkhianat yang sebenarnya sebelum dia bunuh kalian semua."
Lalu ia pergi. Meninggalkan mereka berdua dalam kesunyian yang mencekik.
Sari jatuh berlutut, menangis tanpa suara. Arjuna berdiri seperti patung, menatap pintu yang baru saja ditutup Pixel.
Apa yang baru saja ia lakukan?
Ia baru saja mengusir satu-satunya orang yang bisa bantu mereka hack sistem Adrian. Baru saja menghancurkan kepercayaan orang yang sudah rela korbankan segalanya untuk mereka.
"Aku... aku tidak bermaksud..." bisiknya. "Sari, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku cuma... aku cuma marah. Aku cuma..."
"Cuma apa, Arjuna?" Sari menatapnya dengan mata merah. "Cuma ingin salahkan seseorang? Cuma ingin ada yang kau tuduh karena kau tidak bisa terima kalau kita semua membuat kesalahan?"
"Bukan begitu!"
"Lalu apa?!" Sari berdiri, suaranya meninggi. "Pixel benar! Kau langsung tuduh dia tanpa bukti! Tanpa pikir panjang! Kau hancurkan persahabatan kita karena kau terlalu takut untuk hadapi kenyataan!"
"Kenyataan apa?!"
"Kenyataan kalau mungkin TIDAK ADA pengkhianat!" Sari berteriak sekarang. "Mungkin mereka cuma lebih pintar dari kita! Mungkin mereka punya sistem keamanan yang lebih canggih! Mungkin kita yang bodoh! Tapi kau tidak mau terima itu, jadi kau cari kambing hitam!"
Arjuna terdiam. Setiap kata Sari seperti pisau yang menusuk.
"Dan sekarang kita kehilangan Pixel," lanjut Sari, suaranya mulai lelah. "Kita kehilangan satu-satunya orang yang bisa hack sistem Adrian yang rumit itu. Kita kehilangan teman yang sudah jadi keluarga. Dan untuk apa? Untuk egomu?"
"Aku... aku tidak..."
"Pergi cari dia," potong Sari. "Sekarang. Pergi cari Pixel dan minta maaf. Berlutut kalau perlu. Menangis kalau perlu. Tapi bawa dia kembali. Karena tanpa dia, kita tidak punya kesempatan melawan Adrian."
Arjuna menatap Sari. Lalu ia mengangguk, berlari ke pintu.
Tapi saat ia buka pintu, ia berhenti.
Di luar, di dermaga, ada sekelompok orang. Berjas hitam. Dengan senjata.
Dan di tengah mereka, berdiri seseorang yang membuat darah Arjuna membeku.
Seorang pria tinggi, tampan, berjas mahal. Rambutnya rapi disisir ke belakang, wajahnya tersenyum lebar.
Adrian Mahendra.
Kaisar Kelam.
Monster yang mereka buru.
Sekarang ada di depan pintu mereka.
"Halo, Arjuna," katanya, suaranya lembut, hampir ramah. "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Anak dari temanku yang terbaik. Anak dari Hendrawan Surya."
Arjuna tidak bisa bergerak. Tidak bisa bicara. Cuma menatap pria itu dengan mata membelalak, jantung berdegup begitu kencang sampai terasa mau meledak.
"Dan kau pasti Sari," Adrian menatap ke dalam kapal, ke Sari yang berdiri kaku. "Anakku yang manis. Sudah lama sekali sejak terakhir aku lihat kau. Kau sudah besar ya."
"Ja... jangan panggil aku anakmu," Sari bergetar, tangannya mencari-cari sesuatu untuk dijadikan senjata. "Kau bukan ayahku. Kau monster."
"Monster?" Adrian tertawa. Tawa yang terdengar tulus, hangat, seolah ia mendengar lelucon lucu. "Sayang, aku cuma pengusaha yang mencoba bertahan hidup di dunia yang kejam. Sama seperti kalian."
"Kau membunuh ayahku!" Arjuna akhirnya bisa bicara, suaranya raung. "Kau bakar desaku! Kau bunuh ratusan orang tidak bersalah!"
"Aku melakukan apa yang harus dilakukan," jawab Adrian, senyumnya tidak hilang. "Hendrawan mengkhianatiku. Dia mencuri dariku. Dia harus dihukum. Itu hukum bisnis, Arjuna. Bukan personal."
"BUKAN PERSONAL?!" Arjuna melangkah maju tapi Adrian angkat tangannya, semua anak buahnya langsung todongkan senjata ke Arjuna.
"Hati-hati," kata Adrian lembut. "Kalian dikelilingi dua puluh orang bersenjata. Satu gerakan salah, kalian mati. Dan aku... aku tidak ingin itu. Aku ingin kita bicara. Bicara dengan kepala dingin."
"Kami tidak punya apa-apa untuk dibicarakan denganmu," kata Sari.
"Oh, tapi kita punya." Adrian masuk ke dalam kapal, anak buahnya ikuti. "Kita punya banyak sekali yang harus dibicarakan. Tentang masa lalu. Tentang masa depan. Tentang... tentang pengkhianat di antara kalian."
Arjuna dan Sari saling menatap.
"Pengkhianat?" ulang Arjuna.
"Ya. Kalian bingung kan? Bingung bagaimana kami tahu kalian akan datang ke markas itu? Bagaimana kami sudah siap menunggu?" Adrian tersenyum lebih lebar. "Karena ada yang kasih tahu kami. Seseorang yang sangat dekat dengan kalian."
"Bohong," kata Sari. "Kau cuma mau buat kami tidak percaya satu sama lain."
"Aku tidak perlu buat kalian tidak percaya. Kalian sudah melakukannya sendiri." Adrian duduk di kursi, menyilangkan kaki dengan santai. "Pixel sudah pergi, kan? Kalian usir dia karena kalian curiga dia pengkhianat. Padahal..."
Adrian tertawa lagi.
"Padahal pengkhianat yang sebenarnya masih di sini. Masih bersama kalian. Masih pura-pura menjadi teman."
Arjuna menatap Sari. Sari menatap balik.
Tidak.
Tidak mungkin.
Tapi di mata mereka masing-masing, ada benih keraguan yang mulai tumbuh.
Dan Adrian melihat itu. Melihat kepercayaan mereka mulai retak.
Dan ia tersenyum.
Karena ia tahu.
Ia tahu ia sudah menang tanpa harus menembakkan satu peluru pun.