"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Surat dari Imperial College London itu masih tergeletak di atas meja jati, tampak seperti sebuah tiket emas sekaligus vonis yang membingungkan. Bagi Alkan, gelar Profesor Kehormatan adalah puncak dari segala algoritma karier yang ia bangun. Namun, bagi Sasya yang baru saja melewati fase kritis pasca-pendarahan, London terasa sejauh galaksi lain.
"Dua bulan, Mas. Janin ini baru saja stabil," bisik Sasya sambil mengusap perutnya yang masih rata. Matanya menatap koper-koper yang masih tersimpan di atas lemari. "Dokter bilang aku harus bed rest. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan dalam penerbangan belasan jam?"
Alkan berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Sasya yang masih terasa dingin. "Mas sudah berkonsultasi dengan tim spesialis. Kita tidak akan terbang dengan kelas ekonomi biasa. Mas akan menggunakan seluruh tabungan Mas untuk memastikan kamu bisa berbaring sepanjang jalan. Ada layanan medis pendamping jika perlu."
"Tapi kenapa harus sekarang, Mas?"
Alkan menatap Sasya dalam-dalam. "Karena di sini, bayang-bayang konsorsium itu masih ada. Di London, keamanan riset Mas dijamin oleh negara, dan kamu akan mendapatkan fasilitas kesehatan terbaik dunia. Mas ingin menjauhkan kamu dari semua noise di kampus ini, Sya. Mas ingin kita mulai 'log' baru di tempat yang tidak ada yang mengenal kita sebagai 'Dosen dan Mahasiswa'."
Seminggu sebelum keberangkatan adalah masa paling sibuk bagi Alkan. Ia tidak lagi mengurus jurnal, melainkan mengurus izin medis (fit to fly). Ia mengubah ruang tengah rumah menjadi semi-klinik sementara untuk memantau kondisi Sasya setiap jam.
"Mas... Mas nggak capek?" tanya Sasya saat melihat Alkan masih sibuk memeriksa dosis vitamin dan penguat kandungan dalam tas medis kecil mereka pada pukul satu malam.
Alkan menoleh, tersenyum tipis dengan mata yang tampak sayu. "Lelah itu variabel yang bisa ditekan, Sya. Keamanan kalian adalah prioritas utama."
Malam itu, Alkan tidak membiarkan Sasya tidur sendiri. Ia naik ke tempat tidur, menarik Sasya ke dalam pelukannya dengan sangat protektif. Sejak kejadian bentakan itu, Alkan seolah memiliki sensor baru; ia menjadi sangat peka terhadap setiap desah napas Sasya.
Di tengah rencana keberangkatan yang menegangkan, gairah di antara mereka tidak padam, justru berubah menjadi sesuatu yang lebih meditatif dan mendalam. Alkan tahu Sasya sedang dalam masa bed rest, maka ia sangat menjaga setiap gerakannya.
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang mulai dikemasi, Alkan mencumbu Sasya dengan kelembutan yang luar biasa. Tidak ada gerakan kasar, hanya sentuhan-sentuhan pelan yang seolah sedang membaca setiap inci tubuh Sasya sebagai puisi paling indah.
Alkan menciumi perut Sasya dengan takzim, membisikkan janji pada janin di dalamnya bahwa mereka akan baik-baik saja di negeri orang. Sasya merespons dengan tarikan napas pendek, jemarinya menyisir rambut Alkan. Panas yang mereka ciptakan malam itu adalah panas yang menenangkan—sebuah penyatuan yang bertujuan untuk memberikan kekuatan batin bagi Sasya sebelum menghadapi perjalanan jauh.
Sentuhan Alkan terasa seperti proses "sinkronisasi" terakhir sebelum mereka pindah ke "server" yang baru. Ada rasa haru yang menyelusup di antara setiap ciuman panas mereka, sebuah ikatan yang kini tak hanya melibatkan dua raga, tapi juga satu nyawa kecil yang sedang mereka perjuangkan.
Hari keberangkatan tiba. Alkan menyewa ambulans pribadi hanya untuk mengantar Sasya dari rumah ke bandara Soekarno-Hatta agar Sasya tidak perlu duduk terlalu lama. Di bandara, kursi roda sudah menunggu.
Saat mereka melewati imigrasi, Alkan melihat sosok Bu Sarah dari kejauhan. Wanita itu tampak lesu, berdiri di dekat gerbang fakultas yang sedang melakukan kunjungan lapangan. Sarah menatap Alkan dan Sasya, lalu menundukkan kepala. Tidak ada lagi serangan, tidak ada lagi sinisme. Hanya ada pengakuan atas kekalahan.
Alkan tidak berhenti. Ia terus mendorong kursi roda Sasya menuju Gate internasional.
"Siap, Sayang?" tanya Alkan saat mereka sudah berada di dalam kabin First Class yang luas.
Sasya menggenggam tangan Alkan erat saat mesin pesawat mulai menderu. "Selama Mas yang jadi pilot hidupku, aku siap mendarat di mana pun."
Pesawat mulai lepas landas, menembus awan Jakarta yang kelabu. Sasya memejamkan mata, merasakan tangan Alkan yang tak lepas mengusap perutnya. Di ketinggian 35.000 kaki, mereka meninggalkan semua luka, sabotase, dan air mata.
London menunggu mereka dengan udara dinginnya, tapi Sasya tahu, ia punya penghangat paling sempurna di sampingnya. Namun, sebuah tantangan baru muncul tepat saat pesawat baru terbang dua jam: Sasya mendadak mengalami kram perut yang hebat.
"Mas... perutku... sakit sekali," rintih Sasya dengan wajah yang mulai pucat pasi.
Alkan langsung menekan tombol darurat untuk memanggil pramugari. "Panggil tim medis pesawat! Sekarang!"