Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Gagak
Malam itu, bulan seolah enggan menampakkan wajahnya, meninggalkan desa dalam kegelapan yang mencekam. Suara jangkrik yang biasanya bersahut-sahutan mendadak bungkam ketika sosok wanita berkerudung hitam menyelinap di antara rimbunnya tanaman padi. Ratih bergerak seperti bayangan, tangannya menggenggam erat botol kecil pemberian Mbah Suro.
Tepat pukul tiga pagi, saat embun mulai turun dan manusia berada dalam tidur paling lelap, Ratih sampai di pekarangan rumah Teguh. Ia merasakan getaran doa yang masih tersisa di udara, namun hatinya sudah membatu. Dengan gerakan cepat, ia menaburkan cairan merah darah gagak itu ke empat penjuru mata angin yang mengelilingi gubuk bambu tersebut.
"Bangunlah kemarahan, bangkitlah kebencian," bisik Ratih.
Seketika, aroma busuk yang tadinya berhasil diredam oleh rebusan rempah Teguh, mendadak meledak. Cairan dari Mbah Suro itu bertindak sebagai penguat (amplifier) gaib. Bau bangkai yang luar biasa menyengat, amis, dan memuakkan kini menguar dari rumah Teguh, terbawa angin malam ke seluruh penjuru desa.
Pagi yang Berdarah Fitnah
Fajar belum juga sempurna, namun balai desa sudah gaduh. Warga terbangun bukan oleh kokok ayam, melainkan oleh bau yang membuat mereka sesak napas. Bau itu begitu kuat hingga masuk ke dalam kamar-kamar penduduk, menempel di pakaian, dan merusak rasa sarapan mereka.
"Ini sudah keterlaluan! Bau ini berasal dari rumah Teguh!" teriak seorang warga sambil membawa obor.
"Si Teguh itu menyembunyikan setan! Dia membawa wabah ke desa kita!" sahut yang lain.
Sekelompok massa yang tersulut emosi dan dipengaruhi oleh energi negatif dari darah gagak berbondong-bondong mendatangi rumah Teguh di pinggir sawah. Pak Kades, yang mencoba menenangkan warga, terpaksa ikut untuk menghindari aksi main hakim sendiri.
Teguh terbangun karena gedoran pintu yang kasar. Saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat puluhan warga dengan wajah beringas. Bimo, yang sedang meringkuk di kasur kapuk, gemetar hebat.
"Teguh! Kamu sudah kami anggap orang baik, tapi kenapa kamu menyembunyikan bangkai berjalan ini di sini?!" bentak seorang warga.
"Tenang, Bapak-bapak. Bimo ini sedang sakit, dia sahabat saya."
"Sakit atau terkutuk?!" potong warga lain. "Lihat! Anak-anak kami mual, ternak kami gelisah karena bau ini! Kami tidak mau desa ini kena azab gara-gara kamu melindungi pendosa!"
Pak Kades maju ke depan, ia menutup hidungnya dengan sapu tangan. "Teguh, saya tahu kamu orang jujur. Tapi desakan warga sudah tidak bisa dibendung. Kamu boleh tetap tinggal di sini karena jasamu pada desa, tapi pria ini..." Pak Kades menunjuk Bimo dengan jijik, "...dia harus angkat kaki dari kampung ini sekarang juga. Jangan pernah kembali lagi."
Diusir oleh Darah Sendiri
Bimo berdiri dengan kaki gemetar. Ia melihat tatapan benci dari orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai pemuda berbakat. Ia melihat Teguh yang mencoba memohon namun dibentak habis-habisan oleh warga.
"Cukup, Guh... Cukup," bisik Bimo parau. "Gue nggak mau lu ikut celaka gara-gara gue."
Bimo melangkah keluar dari rumah Teguh. Massa memberikan jalan yang sangat lebar, seolah takut terkena percikan kutukan. Bimo mencoba berjalan menuju rumah bapaknya untuk terakhir kali, berharap ada sisa belas kasihan. Namun, di depan gerbang rumah, ibu tirinya sudah berdiri memegang ember berisi air cucian kotor.
BYUR!
Wanita itu menyiramkan air kotor itu ke tubuh Bimo yang sudah lemah. "PERGI KAMU! Anak tak tahu untung! Bapakmu sudah setuju, jangan pernah injakkan kaki di tanah ini lagi atau kami akan bakar kamu hidup-hidup di gudang!"
Bapak Bimo hanya mengintip dari balik tirai, menangis tanpa suara, tak berdaya melawan dominasi istrinya yang kejam. Bimo terjatuh di debu jalanan. Ia merasa dunianya benar-benar telah kiamat. Ia diusir oleh desa, diusir oleh keluarga, dan diusir dari tempat perlindungan sahabatnya.
Ratih yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum puas, tidak ada sama sekali perasaan sedih melihat Bimo di perlakukan warga kampung nya seperti itu
Kebaikan Terakhir di Tepi Desa
Bimo menyeret langkahnya menuju batas desa. Ia tidak punya arah tujuan. Dunianya kini gelap gulita. Namun, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki yang berlari mengejarnya.
"Bimo! Tunggu!"
Itu Teguh. Nafasnya terengah-engah. Ia membawa sebuah bungkusan kain dan selembar kertas kecil. Meskipun ia dilarang warga untuk mendekati Bimo, Teguh tidak peduli.
"Bim, bawa ini," Teguh menyodorkan bungkusan berisi nasi bungkus, beberapa potong pakaian kering, dan sisa uang tabungannya yang hanya beberapa puluh ribu rupiah.
Bimo menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. "Guh... lu sendiri hidup susah. Kenapa masih kasih gue uang?"
"Uang bisa dicari, Bim. Tapi nyawa dan tobatmu nggak bisa ditunda," jawab Teguh mantap. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas. "Ini alamat Padepokan Nur Ilahi di lereng Gunung Lawu. Pemimpinnya adalah Kyai sepuh yang dulu pernah menolong kakekku. Pergilah ke sana. Merangkaklah kalau perlu. Hanya di sana mungkin kamu bisa menemukan jawaban atas penderitaanmu."
Bimo memeluk Teguh dengan sangat tulus. Pelukan itu tidak lagi didasari oleh pamrih atau kesombongan, melainkan rasa syukur seorang manusia yang telah kehilangan segalanya namun masih menemukan satu hati yang tulus. Bau busuk itu masih menyengat, namun Teguh tidak melepaskan pelukannya sampai Bimo sendiri yang melepaskannya.
"Makasih, Guh. Lu satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa masih jadi manusia," isak Bimo.
"Ingat, Bim. Minta maaflah pada Ratih. Kamu harus temukan dia," bisik Teguh sebelum mereka berpisah.
Tawa di Balik Bayangan
Bimo mulai berjalan meninggalkan batas desa, menuju jalan raya yang sepi. Tubuhnya bungkuk, langkahnya pincang, dan ulat-ulat di dalam dirinya mulai terasa merayap ke arah dada, menandakan kegelisahan yang semakin menjadi.
Di balik pohon beringin besar di perbatasan desa, Ratih berdiri mengawasi adegan perpisahan itu. Ia melihat Bimo yang malang, dan ia mendengar janji Teguh. Namun, alih-alih merasa iba, Ratih justru tertawa kecil. Suara tawanya yang halus namun tajam membelah keheningan pagi.
"Hahaha... silakan pergi ke pedepokan, Bimo. Silakan cari kyai sakti," gumam Ratih dengan nada penuh kemenangan. "Tapi kamu lupa satu hal: ulat itu ada di dalam jiwamu, bukan di kulitmu. Sejauh apa pun kamu lari, kamu tetap membawa nerakamu sendiri."
Ratih merasa sangat puas. Ia telah berhasil mencabut Bimo dari akar terakhirnya. Sekarang, Bimo benar-benar sendirian di dunia ini. Tanpa rumah, tanpa teman (karena Teguh sudah tidak bisa menjangkau lagi), dan tanpa martabat.
"Akan kulihat sampai mana kamu bisa bertahan dengan bekal recehan dari teman mu itu," Ratih melangkah keluar dari balik pohon, menatap punggung Bimo yang perlahan menghilang di tikungan jalan.