NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat
Popularitas:38k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Gagak

Malam itu, bulan seolah enggan menampakkan wajahnya, meninggalkan desa dalam kegelapan yang mencekam. Suara jangkrik yang biasanya bersahut-sahutan mendadak bungkam ketika sosok wanita berkerudung hitam menyelinap di antara rimbunnya tanaman padi. Ratih bergerak seperti bayangan, tangannya menggenggam erat botol kecil pemberian Mbah Suro.

Tepat pukul tiga pagi, saat embun mulai turun dan manusia berada dalam tidur paling lelap, Ratih sampai di pekarangan rumah Teguh. Ia merasakan getaran doa yang masih tersisa di udara, namun hatinya sudah membatu. Dengan gerakan cepat, ia menaburkan cairan merah darah gagak itu ke empat penjuru mata angin yang mengelilingi gubuk bambu tersebut.

"Bangunlah kemarahan, bangkitlah kebencian," bisik Ratih.

Seketika, aroma busuk yang tadinya berhasil diredam oleh rebusan rempah Teguh, mendadak meledak. Cairan dari Mbah Suro itu bertindak sebagai penguat (amplifier) gaib. Bau bangkai yang luar biasa menyengat, amis, dan memuakkan kini menguar dari rumah Teguh, terbawa angin malam ke seluruh penjuru desa.

Pagi yang Berdarah Fitnah

Fajar belum juga sempurna, namun balai desa sudah gaduh. Warga terbangun bukan oleh kokok ayam, melainkan oleh bau yang membuat mereka sesak napas. Bau itu begitu kuat hingga masuk ke dalam kamar-kamar penduduk, menempel di pakaian, dan merusak rasa sarapan mereka.

"Ini sudah keterlaluan! Bau ini berasal dari rumah Teguh!" teriak seorang warga sambil membawa obor.

"Si Teguh itu menyembunyikan setan! Dia membawa wabah ke desa kita!" sahut yang lain.

Sekelompok massa yang tersulut emosi dan dipengaruhi oleh energi negatif dari darah gagak berbondong-bondong mendatangi rumah Teguh di pinggir sawah. Pak Kades, yang mencoba menenangkan warga, terpaksa ikut untuk menghindari aksi main hakim sendiri.

Teguh terbangun karena gedoran pintu yang kasar. Saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat puluhan warga dengan wajah beringas. Bimo, yang sedang meringkuk di kasur kapuk, gemetar hebat.

"Teguh! Kamu sudah kami anggap orang baik, tapi kenapa kamu menyembunyikan bangkai berjalan ini di sini?!" bentak seorang warga.

"Tenang, Bapak-bapak. Bimo ini sedang sakit, dia sahabat saya."

"Sakit atau terkutuk?!" potong warga lain. "Lihat! Anak-anak kami mual, ternak kami gelisah karena bau ini! Kami tidak mau desa ini kena azab gara-gara kamu melindungi pendosa!"

Pak Kades maju ke depan, ia menutup hidungnya dengan sapu tangan. "Teguh, saya tahu kamu orang jujur. Tapi desakan warga sudah tidak bisa dibendung. Kamu boleh tetap tinggal di sini karena jasamu pada desa, tapi pria ini..." Pak Kades menunjuk Bimo dengan jijik, "...dia harus angkat kaki dari kampung ini sekarang juga. Jangan pernah kembali lagi."

Diusir oleh Darah Sendiri

Bimo berdiri dengan kaki gemetar. Ia melihat tatapan benci dari orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai pemuda berbakat. Ia melihat Teguh yang mencoba memohon namun dibentak habis-habisan oleh warga.

"Cukup, Guh... Cukup," bisik Bimo parau. "Gue nggak mau lu ikut celaka gara-gara gue."

Bimo melangkah keluar dari rumah Teguh. Massa memberikan jalan yang sangat lebar, seolah takut terkena percikan kutukan. Bimo mencoba berjalan menuju rumah bapaknya untuk terakhir kali, berharap ada sisa belas kasihan. Namun, di depan gerbang rumah, ibu tirinya sudah berdiri memegang ember berisi air cucian kotor.

BYUR!

Wanita itu menyiramkan air kotor itu ke tubuh Bimo yang sudah lemah. "PERGI KAMU! Anak tak tahu untung! Bapakmu sudah setuju, jangan pernah injakkan kaki di tanah ini lagi atau kami akan bakar kamu hidup-hidup di gudang!"

Bapak Bimo hanya mengintip dari balik tirai, menangis tanpa suara, tak berdaya melawan dominasi istrinya yang kejam. Bimo terjatuh di debu jalanan. Ia merasa dunianya benar-benar telah kiamat. Ia diusir oleh desa, diusir oleh keluarga, dan diusir dari tempat perlindungan sahabatnya.

Ratih yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum puas, tidak ada sama sekali perasaan sedih melihat Bimo di perlakukan warga kampung nya seperti itu

Kebaikan Terakhir di Tepi Desa

Bimo menyeret langkahnya menuju batas desa. Ia tidak punya arah tujuan. Dunianya kini gelap gulita. Namun, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki yang berlari mengejarnya.

"Bimo! Tunggu!"

Itu Teguh. Nafasnya terengah-engah. Ia membawa sebuah bungkusan kain dan selembar kertas kecil. Meskipun ia dilarang warga untuk mendekati Bimo, Teguh tidak peduli.

"Bim, bawa ini," Teguh menyodorkan bungkusan berisi nasi bungkus, beberapa potong pakaian kering, dan sisa uang tabungannya yang hanya beberapa puluh ribu rupiah.

Bimo menatap uang itu dengan mata berkaca-kaca. "Guh... lu sendiri hidup susah. Kenapa masih kasih gue uang?"

"Uang bisa dicari, Bim. Tapi nyawa dan tobatmu nggak bisa ditunda," jawab Teguh mantap. Ia kemudian menyerahkan secarik kertas. "Ini alamat Padepokan Nur Ilahi di lereng Gunung Lawu. Pemimpinnya adalah Kyai sepuh yang dulu pernah menolong kakekku. Pergilah ke sana. Merangkaklah kalau perlu. Hanya di sana mungkin kamu bisa menemukan jawaban atas penderitaanmu."

Bimo memeluk Teguh dengan sangat tulus. Pelukan itu tidak lagi didasari oleh pamrih atau kesombongan, melainkan rasa syukur seorang manusia yang telah kehilangan segalanya namun masih menemukan satu hati yang tulus. Bau busuk itu masih menyengat, namun Teguh tidak melepaskan pelukannya sampai Bimo sendiri yang melepaskannya.

"Makasih, Guh. Lu satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa masih jadi manusia," isak Bimo.

"Ingat, Bim. Minta maaflah pada Ratih. Kamu harus temukan dia," bisik Teguh sebelum mereka berpisah.

Tawa di Balik Bayangan

Bimo mulai berjalan meninggalkan batas desa, menuju jalan raya yang sepi. Tubuhnya bungkuk, langkahnya pincang, dan ulat-ulat di dalam dirinya mulai terasa merayap ke arah dada, menandakan kegelisahan yang semakin menjadi.

Di balik pohon beringin besar di perbatasan desa, Ratih berdiri mengawasi adegan perpisahan itu. Ia melihat Bimo yang malang, dan ia mendengar janji Teguh. Namun, alih-alih merasa iba, Ratih justru tertawa kecil. Suara tawanya yang halus namun tajam membelah keheningan pagi.

"Hahaha... silakan pergi ke pedepokan, Bimo. Silakan cari kyai sakti," gumam Ratih dengan nada penuh kemenangan. "Tapi kamu lupa satu hal: ulat itu ada di dalam jiwamu, bukan di kulitmu. Sejauh apa pun kamu lari, kamu tetap membawa nerakamu sendiri."

Ratih merasa sangat puas. Ia telah berhasil mencabut Bimo dari akar terakhirnya. Sekarang, Bimo benar-benar sendirian di dunia ini. Tanpa rumah, tanpa teman (karena Teguh sudah tidak bisa menjangkau lagi), dan tanpa martabat.

"Akan kulihat sampai mana kamu bisa bertahan dengan bekal recehan dari teman mu itu," Ratih melangkah keluar dari balik pohon, menatap punggung Bimo yang perlahan menghilang di tikungan jalan.

1
Rembulan menangis
makin seru ya thor ,
Rembulan menangis
thor ,mkasih telah mmbuat si bimo ketipu rupnya si sari tdak punya sari murni lg sarinya sudah gk ory 🤣
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭 iya kak mklum sinden tempo dlu
total 1 replies
Akbar Aulia
bimo,kamu itu jelmaan kucing ya🤭 punya nyawa 9 lolos terus
Halwah 4g: hehehehejejhje...kyaknya iya ka
total 1 replies
dzafara dza
kapan tobatnya sih thor nih si Bimo🤣
Ineke Susanti: mungkin nanti klo tumbalnya dh lengkap baru deh tobat🤭
total 2 replies
Anjany
kpn Bimo kena batunya Thor.
Halwah 4g: biasaaaa ka..kek para pejabat korup..susah matinya..🤭
total 1 replies
Taramia
emang sudah bukan manusia kan si Bimo
Halwah 4g: 🤭🤭 spertnya bukan ka
total 1 replies
Taramia
emang dasarnya jahat si Bimo mah
Rembulan menangis
thor yg pngantin gendoruwo kok blm juga up sih
pnasaran lanjutanya
Halwah 4g: ooohhhh..ada yg baca ya ka..q pikir sepi GK ada yg baca..jdi q blm up..hehehehe...ok hbis isya q up buanyakkkkkkkkkkk 🤭
total 1 replies
Nia Rahmi
bnr2 sdh jd setan dlm wujud manusia si bimo ini
Halwah 4g: nyata kaaa...berarti klo setan mau di wjutin tuh jadinya salah satunya Bimo hihihihi....
total 1 replies
Yeni Yulita
meskipun bimo berubahpun tak kan hilang jiwa psikopatnya
Halwah 4g: mnurut psikologis orng ktanya gtu,klo dh kecanduan sekli yg menyimpang,akan susah buat berubah ka 🤭
total 1 replies
dzafara dza
panjang nih kayaknya ceritanya
Halwah 4g: gak ka, pngen segera di tamatkan 🤭
total 1 replies
Kustri
gengsi kegedean, rasain sakit hati ratih yg diubah jd siksaanmu🤣
Kustri
rasakno, enak tho😂
dzafara dza
di tunggu kehancuran bimi nih thor
Lintang
hadeh, kalo emang dari awal punya sifat asli yg tidak baik, pasti mau sekeras apapun orang membimbing nya ke jalan kebenaran, pasti ujung-ujungnya sifat asli nya itu lah yang menghalangi nya
Lintang
gila, pengen bertaubat ada aja ya rintangannya? Wkwkw
Nia Rahmi: iya begitu emg dlm kehidupan nyata..tanpa adanya bimbingan seorg guru maka jln menuju taubat akn susah dicapai
total 1 replies
Lintang
ujian bimo berat banget ya? Pengen balik ke jalan yg benar ada aja rintangannya hehee
dzafara dza
luar biasa keren
dzafara dza
author pinter banget bikin cerita👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka..love u bertubi-tubi 🤭
total 1 replies
dzafara dza
aku ikut tegang ngebayangin kalau aku ada disana gimna dengan keimanan setipis tisu ini astagfirullah
Halwah 4g: 🤣 klo Thor pasti dah guling2..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!