Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 209
Arena Utama – Babak 16 Besar (Perang Tim).
Langit di atas Planet Arena menjadi gelap, bukan karena mendung, melainkan karena niat membunuh yang begitu pekat hingga menutupi cahaya bintang.
Sorak-sorai penonton mencapai puncaknya. Ini adalah pertandingan yang paling dinanti: Pertempuran Memperebutkan Nama.
Di sisi kiri: Tim Asura (Shi Hao, Tie Shan, Shu Ling, Luo Tian). Di sisi kanan: Tim Klan Asura Bintang (Dipimpin oleh Xing).
Klan Asura Bintang adalah ras petarung legendaris di Alam Semesta Luar. Mereka terlahir dengan tubuh setinggi tiga meter, kulit merah tembaga, dan (bagi bangsawan) memiliki empat lengan. Mereka hidup untuk perang dan mati untuk perang.
Xing, sang kapten, berdiri di depan timnya. Keempat lengannya memegang empat senjata berbeda: Kapak, Pedang, Tombak, dan Gada Berduri.
Aura Xing berada di ranah Dewa Sejati (True God) Tahap Awal. Tekanan yang dia pancarkan membuat lantai arena retak bahkan sebelum dia bergerak.
"Pencuri nama," geram Xing, suaranya seperti guntur yang mengguncang dada. Dia menunjuk Shi Hao dengan gadanya.
"Hari ini, aku akan mencuci penghinaan ini dengan darah kalian. Aku akan mematahkan setiap tulang di tubuh kalian, lalu menggantung mayat kalian di gerbang planet ini sebagai peringatan."
Di seberangnya, Shi Hao menguap lebar.
Shi Hao justru berjalan mundur, lalu duduk bersila di atas sebuah batu hiasan di pinggir arena.
"Tie Shan," panggil Shi Hao santai.
Tie Shan (Raksasa Batu) maju selangkah. Tubuh granitnya bergetar. Bukan karena takut, tapi karena resonansi Qi Tanah yang dia kumpulkan secara ekstrem.
"Ya, Tuan Feng!"
"Orang berkulit merah itu bilang fisik mereka adalah yang terkuat di alam semesta," kata Shi Hao sambil menopang dagu.
"Aku tidak setuju. Menurutku, batu lebih keras dari daging."
"Pergilah. Uji hasil latihanmu. Jangan mundur selangkah pun, atau aku akan menghancurkanmu sendiri."
Tie Shan menelan ludah. Dia menatap Xing dan tiga prajurit Asura lainnya (yang semuanya berada di ranah Kesengsaraan Besar).
"Siap laksanakan!"
Tie Shan melangkah ke tengah arena sendirian.
Penonton terkejut. "Apa?! Tim Asura mengirim satu orang batu melawan seluruh tim Klan Asura? Mereka sudah gila!"
Xing menyeringai meremehkan. "Kau mengirim samsak tinju? Baik. Ba-Tu, hancurkan kerikil itu."
Salah satu anak buah Xing, seorang Asura bernama Ba-Tu (Ranah: Kesengsaraan Besar Puncak), melompat maju. Dia memiliki otot yang mengerikan dan memegang palu perang raksasa.
"Mati kau, Batu Pecahan!" teriak Ba-Tu.
Ba-Tu melompat tinggi, palu perangnya dialiri Qi Darah yang korosif, menghantam ke bawah ke arah kepala Tie Shan.
Tie Shan tidak menghindar. Dia tidak menggunakan perisai energi.
Dia mengingat kata-kata Shi Hao: Kau bukan perisai. Kau meteor.
Tie Shan menghentakkan kakinya.
"Tubuh Gunung Menabrak Bintang!"
Alih-alih bertahan, Tie Shan meluncur maju, menabrakkan bahunya langsung ke arah dada Ba-Tu yang sedang melayang turun.
DUAR!
Palu Ba-Tu menghantam punggung Tie Shan, membuat retakan besar di tubuh batunya. TAPI... Bahu Tie Shan menghantam dada Ba-Tu dengan momentum yang tak terbendung.
KRAAAK!
Suara tulang rusuk Asura yang hancur terdengar mengerikan.
Ba-Tu, prajurit ras petarung terkuat, memuntahkan darah segar bercampur pecahan organ dalam. Tubuhnya terpental mundur seperti layang-layang putus, menabrak dinding arena hingga tubuhnya tertanam di sana.
Hening.
Tie Shan terengah-engah, serpihan batu jatuh dari punggungnya yang retak akibat hantaman palu tadi. Tapi dia masih berdiri tegak.
"Satu," hitung Tie Shan kaku.
Wajah Xing berubah dari meremehkan menjadi murka.
"Sampah tidak berguna!" teriak Xing pada anak buahnya yang kalah.
Xing melangkah maju. Lantai bergetar di setiap langkahnya.
"Lumayan untuk sebuah batu. Tapi mari kita lihat berapa lama kau bisa bertahan melawan Dewa Sejati."
Xing menghilang.
Kecepatannya di luar nalar Tie Shan.
BUK!
Tie Shan bahkan tidak melihat serangannya. Dia hanya merasakan perut batunya meledak.
Xing sudah berdiri di depan Tie Shan, satu tinjunya tertanam dalam di perut Tie Shan.
"Ugh..." Tie Shan memuntahkan lahar dingin.
"Terlalu lambat," bisik Xing.
BAM! BAM! BAM! BAM!
Keempat lengan Xing bergerak seperti baling-baling maut. Kapak menebas bahu. Gada menghantam lutut. Tombak menusuk dada. Pedang menyayat leher.
Dalam sekejap, tubuh Tie Shan hancur berantakan. Lengan kirinya putus. Lutut kanannya hancur menjadi kerikil. Tubuhnya penuh lubang.
Tie Shan jatuh berlutut.
Penonton menutup mata, ngeri melihat pembantaian sepihak itu.
"Menyedihkan," ludah Xing. Dia mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi untuk memenggal kepala Tie Shan. "Inilah perbedaan antara tiruan dan yang asli."
"Tamatlah riwayatmu."
Kapak itu turun.
Namun... Kapak itu tidak pernah sampai.
Sesuatu menahannya.
Tangan batu Tie Shan yang tersisa (tangan kanan) menangkap bilah kapak itu. Telapak tangannya berdarah dan retak, tapi cengkeramannya sekeras inti bumi.
Tie Shan mendongak. Wajah batunya hancur separuh, tapi satu matanya masih menyala dengan tekad gila.
"Tuan Feng... bilang..." desis Tie Shan, suaranya parau.
"JANGAN... MUNDUR!"
Tie Shan tidak mencoba melepaskan kapak itu. Dia justru menarik kapak itu, menarik tubuh Xing mendekat padanya.
Xing terkejut. "Apa?!"
Dengan jarak sedekat itu, Tie Shan menundukkan kepalanya dan...
DUG!
Tie Shan menanduk wajah Xing dengan kepala batunya sekeras mungkin.
Hidung Xing patah. Darah dewa mengucur dari wajah sang Kapten Asura. Xing terhuyung mundur selangkah karena kaget dan sakit.
Seluruh arena terdiam. Seorang Kesengsaraan Besar baru saja melukai wajah Dewa Sejati?!
"KAU!!!" Xing meraung, matanya merah menyala karena penghinaan mutlak ini.
Aura Dewa Sejati Xing meledak penuh. Langit berubah merah darah. Dia bersiap mengeluarkan teknik pemusnah massal untuk menghapus Tie Shan menjadi debu.
"Seni Asura: Empat Lengan Penghancur Dunia!"
Tie Shan tersenyum pasrah. Dia sudah mencapai batasnya. Dia sudah melakukan tugasnya.
Tuan Feng... aku tidak mundur...
Saat serangan pemusnah itu turun...
TING.
Sebuah jari telunjuk yang ramping dan bersih muncul di depan wajah Tie Shan, menahan keempat senjata Xing sekaligus.
Hanya satu jari.
Energi penghancur dunia milik Xing terhenti mendadak, seolah menabrak dinding tak kasat mata dari dimensi lain.
Angin berhenti berhembus.
Shi Hao sudah berdiri di depan Tie Shan. Jubahnya berkibar pelan. Wajahnya datar, tapi matanya menatap dingin.
"Cukup," kata Shi Hao pelan.
Dia melirik Tie Shan di belakangnya.
"Kau melukai wajah Dewa Sejati dengan tubuh batumu. Kau lulus, Tie Shan. Istirahatlah. Nana akan menyatukan kembali tubuhmu."
Shi Hao kemudian menoleh ke depan, menatap Xing yang sedang gemetar menahan kekuatan jari Shi Hao.
"Kau bilang Asura Asli memiliki fisik terkuat?"
Shi Hao menyentil senjata Xing.
TRANG!
Xing terpental mundur sepuluh langkah, tangannya kesemutan hebat.
Shi Hao mengeluarkan pedang Leviathan Asuranya. Aura pedang itu beresonansi, menciptakan bayangan Iblis Asura purba di belakang Shi Hao—bayangan yang jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih mengerikan daripada aura Xing.
"Mari perbaiki ucapanmu," kata Shi Hao, melangkah maju.
"Asura bukan soal ras. Asura bukan soal darah."
"Asura adalah gelar bagi mereka yang berjalan keluar dari neraka dengan tumpukan mayat musuh sebagai tangganya."
Shi Hao mengarahkan pedangnya ke leher Xing.
"Dan hari ini... aku akan mengajarimu definisi Asura yang sebenarnya."
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛