Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Sinar matahari pukul delapan pagi menerobos masuk dengan lancang melalui celah gorden kamar Araluna, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas sprei yang berantakan. Kamar itu masih terasa dingin karena AC yang menyala semalaman, namun suasana di atas ranjang justru terasa sangat hangat—bahkan terlalu hangat.
Arsen dan Araluna masih terlelap dalam posisi yang sangat jauh dari kata "kakak-adik". Arsen tidur terlentang dengan satu tangan menjadi bantal untuk kepala Luna, sementara tangan satunya lagi melingkar protektif di pinggang gadis itu. Luna sendiri meringkuk seperti kucing, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arsen, dengan kaki yang saling bertautan di bawah selimut tebal.
Dracin Speed and Love di dinding sudah lama mati, hanya menyisakan proyektor yang sesekali berkedip menampilkan layar biru bertuliskan No Signal.
Luna menjadi yang pertama terusik. Ia mengerang pelan, merasakan hidungnya bersentuhan dengan kulit leher yang hangat dan beraroma maskulin. Perlahan, ia membuka matanya yang masih terasa berat. Hal pertama yang ia lihat adalah jakun Arsen yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Eungh..." Luna bergumam, otaknya yang masih setengah sadar mencoba memproses situasi.
Tiba-tiba, matanya membelalak sempurna. Ia melihat ke arah jam dinding. 08:00.
"KAK! KAK ARSEN! BANGUN!" Luna berbisik dengan nada panik sambil mengguncang bahu Arsen dengan keras.
Arsen tersentak bangun, matanya langsung terbuka lebar. Sifat kakunya kembali secara instan saat menyadari ia berada di tempat yang salah pada waktu yang sangat salah [cite: 2025-12-26]. Ia langsung duduk tegak, membuat Luna hampir terlempar dari pelukannya.
"Jam berapa?!" suara Arsen serak, khas orang bangun tidur namun penuh ketakutan.
"Jam delapan! Mampus kita, Kak! Papa sama Bunda pasti udah bangun dari tadi!" Luna melompat turun dari kasur, memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Baru saja Luna menempelkan telinganya di pintu, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Itu suara langkah Papa Arga.
"Arsen? Luna? Kalian belum bangun juga?" suara Papa Arga terdengar dari balik pintu, disusul ketukan keras. TOK TOK TOK! "Ini hari libur, tapi jangan jadi pemalas. Ayo sarapan, Bunda sudah buat nasi uduk."
Arsen dan Luna saling tatap dengan wajah pucat pasi. Arsen melihat sekeliling, mencari jalan keluar. Kamar Luna berada di lantai dua, dan tidak mungkin ia keluar lewat pintu depan sekarang karena Papa berdiri tepat di sana.
"Gue lewat balkon," bisik Arsen tegas.
"Gila lo?! Itu tinggi, Kak!" balas Luna panik.
"Daripada Papa buka pintu ini pake kunci cadangan terus liat gue di kasur lo, mending gue patah kaki!" Arsen segera menyambar jaket kulitnya dan melompat menuju balkon kamar Luna yang menghadap ke arah taman samping.
Dengan gerakan tangkas—berkat latihan fisik di kampus—Arsen memanjat pagar balkon dan melompat ke dahan pohon mangga besar yang ada di samping rumah. Luna menahan napas sampai ia melihat Arsen berhasil mendarat di tanah dengan selamat dan berlari memutar menuju pintu belakang.
Lima belas menit kemudian, Araluna turun ke ruang makan dengan wajah yang dibuat sesegar mungkin, meski matanya masih sedikit sembab. Ia melihat Papa Arga sedang membaca koran sambil menyesap kopi hitamnya.
"Baru bangun, Luna? Mana kakak kamu?" tanya Papa tanpa menoleh.
"Eh, iya Pa. Tadi malem nonton drama kelamaan," jawab Luna sambil duduk di kursinya.
Tak lama kemudian, Arsen muncul dari arah dapur dengan kaos yang berbeda, rambutnya basah seolah baru saja selesai mandi kilat. Wajah kakunya kembali sempurna, seolah ia baru saja bangun dari tidurnya sendiri di kamarnya yang membosankan.
"Maaf telat, Pa. Tadi saya olahraga sebentar di belakang," ucap Arsen bohong tanpa berkedip.
Bunda datang membawa sepiring besar nasi uduk. "Tumben kalian berdua bangunnya siang barengan? Biasanya Arsen udah berisik di garasi jam tujuh pagi."
Luna hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia melirik Arsen yang sedang mengambil nasi dengan wajah datar. Di bawah meja, Luna sengaja menyenggol kaki Arsen dengan kakinya, memberikan tatapan nakal yang seolah berkata: 'Tadi pagi seru banget kan, Kak?'
Arsen terdiam sejenak, ia merasakan tendangan kecil di kakinya. Ia menatap Luna sekilas, lalu kembali fokus pada piringnya. Namun, saat Bunda dan Papa sedang mengobrol, Arsen membalas senggolan kaki Luna dengan menginjak pelan punggung kaki gadis itu, seolah memberikan peringatan sekaligus balasan atas kegilaan mereka semalam.
"Makan yang bener, Araluna. Jangan mainan kaki," tegur Arsen dengan suara kaku, tapi Luna bisa melihat sudut bibir cowok itu sedikit berkedut menahan senyum.
Meskipun ini tanggal merah dan mereka harus berakting sopan, Araluna tahu bahwa rahasia pukul delapan pagi tadi adalah milik mereka berdua. Dan baginya, tidak ada nasi uduk yang lebih nikmat daripada perasaan memenangkan hati seorang Arsen Sergio yang kaku di pagi yang cerah ini.