NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Timur dan Kapal yang Tak Terduga

“Kapten! Kapal ini masih bisa berlayar nggak? Atau kita harus berenang ke pulau mistis itu?”

Xiao Feng berteriak dari dermaga kayu yang sudah lapuk, tangannya melambai ke arah perahu nelayan kecil yang bergoyang-goyang di ombak pelabuhan timur. Angin laut bercampur bau ikan asin dan garam menusuk hidung. Matahari pagi baru naik setengah tiang, tapi pelabuhan sudah ramai: nelayan menurunkan jaring, pedagang berteriak menjajakan garam dan rempah, dan beberapa pendekar berjubah berbisik di pojok-pojok gelap.

Kapten perahu adalah seorang pria tua berjanggut putih acak-acakan, kulitnya gosong terbakar matahari, melihat Xiao Feng dengan mata menyipit.

“Xiao Feng? Kau lagi? Terakhir kali kau naik kapalku, kau bawa masalah dari sekte angin liar. Sekarang bawa apa? Dewi dan dua saudara kembar?”

Xiao Feng menyeringai lebar sambil melompat ke dermaga. “Kali ini lebih parah, Kapten Liu. Kami lagi dikejar Sekte Es Hitam. Butuh kapal cepat ke arah timur laut. Bayarannya dua kali lipat.”

Kapten Liu menggaruk janggutnya, matanya beralih ke Shen Yi, Lian'er, dan Shi Jun yang berdiri di belakang. Saat melihat Lian'er, meski sudah ditutupi tudung mantel, dia langsung menunduk hormat setengah takut.

“Aura teratai sungguhan. Baiklah. Naik. Tapi kalau ada yang kejar, aku nggak tanggung jawab kalau kapal ini karam.”

Shen Yi maju selangkah, suaranya tenang. “Terima kasih, Kapten. Kami nggak mau bikin masalah. Cuma butuh sampai dekat kabut abadi. Sisanya kami urus sendiri.”

Kapten Liu mengangguk singkat. “Masuk. Angin lagi bagus. Berlayar sekarang juga.”

Mereka naik ke kapal kecil itu. dek kayu yang licin karena lumut dan air laut, layar cokelat usang yang sudah banyak tambalan. Lian'er naik terakhir, tangannya memegang lengan Shen Yi sebentar untuk menjaga keseimbangan saat kapal bergoyang.

“Shen Yi, laut ini dingin sekali,” bisiknya pelan. “Aku merasakan energi es hitam samar-samar. Mereka mungkin sudah tahu kita ke sini.”

Shen Yi memegang tangannya erat. “Pegang terus kalau perlu. Hangatnya masih ada.”

Xiao Feng sudah duduk di buritan, kakinya selonjor. “Kapten, berapa lama sampai kabut abadi?”

Kapten Liu menarik tali jangkar sambil menjawab. “Dua hari kalau angin kencang. Tiga kalau tenang. Tapi kabut itu, nggak semua kapal bisa masuk. Banyak yang hilang. Kalian yakin mau ke sana?”

Shi Jun berdiri di sisi kapal, memandang ke laut. “Kami yakin. Pulau Teratai Mistis adalah satu-satunya tempat yang bisa hilangkan kutukan ini.”

Kapten Liu mendengus. “Kalian anak muda sekarang terlalu berani. Dulu orang bilang pulau itu ujian hati. Bukan kekuatan.”

Shen Yi tersenyum kecil. “Mungkin itu bagus buat kami. Kami nggak punya kekuatan besar. Cuma hati yang mau selamatkan satu sama lain.”

Lian'er memandang Shen Yi, matanya lembut.

“Kau selalu bilang begitu.”

Kapten Liu menarik tali layar. Kapal mulai bergerak pelan meninggalkan dermaga. Angin laut langsung menyambut, membuat layar mengembang.

Beberapa menit kemudian, saat pelabuhan sudah menjauh, Xiao Feng tiba-tiba berdiri. “Ada yang salah.”

Semua langsung waspada. Dari arah dermaga yang baru mereka tinggalkan, terlihat tiga perahu kecil berlayar cepat mengejar. Jubah hitam berkibar di angin, topeng perak terlihat samar di kejauhan.

“Sekte Es Hitam,” gumam Shi Jun, tangannya sudah di gagang pedang.

Kapten Liu mengumpat pelan. “Mereka cepat sekali. Kalau mereka dekat, kapal ini nggak tahan serangan es hitam.”

Shen Yi memandang Lian'er. “Nona, bisa pakai teratai buat halangi mereka?”

Lian'er mengangguk. “Bisa. Tapi aku butuh waktu. Energi laut ini dingin sekali, kutukanku mulai aktif lagi.”

Shen Yi langsung memegang kedua tangan Lian'er. “Pegang saya. Gunakan hangat ini.”

Aliran hangat mengalir kuat. Lian'er menutup mata, kelopak teratai mulai muncul di sekitar kapal. Bukan serangan, tapi perisai tipis berputar yang membuat ombak terasa lebih tenang di sekitar mereka.

Xiao Feng melompat ke buritan. “Kapten, percepat! Aku bantu dorong kalau perlu!”

Kapten Liu menarik tali lebih kencang. Layar mengembang penuh. Kapal melaju lebih cepat, tapi perahu pengejar semakin dekat.

Shi Jun maju ke haluan. “Aku tangani yang depan. Kalau mereka naik kapal, aku potong satu per satu.”

Tiba-tiba, es hitam muncul dari perahu terdepan. Seperti tombak es yang melesat ke arah kapal mereka. Xiao Feng berteriak, “Awas!”

Lian'er membuka mata. Perisai teratai berputar lebih cepat, menangkis tombak es itu. Es retak dan jatuh ke laut, menciptakan gelembung besar.

Shen Yi tetap memegang tangan Lian'er, wajahnya tegang. “Nona… tahan ya. Jangan paksa terlalu keras.”

Lian'er mengangguk, napasnya tersengal. “Aku baik-baik saja. Karena kau di sini.”

Perahu pengejar semakin dekat. Salah satu pemburu melompat, tubuhnya ditopang es hitam seperti papan seluncur. Pemburu itu menuju dek kapal mereka.

Shi Jun langsung bergerak. Pedang teratai birunya menyala, menebas pemburu itu sebelum mendarat. Tubuh pemburu jatuh ke laut, es di sekitarnya mencair karena energi teratai.

Xiao Feng tertawa. “Bagus, Saudara Shi! Mulai belajar dari Tabib Shen nih, nggak sombong lagi!”

Shi Jun mendengus. “Tutup mulutmu dan bantu!”

Dua pemburu lagi melompat naik. Xiao Feng menyambut mereka dengan pedang anginnya—gerakan cepat dan lincah. Satu terpotong lengan, satu lagi terdorong mundur.

Lian'er melepaskan serangan kecil: kelopak teratai seperti panah yang menarget perahu pengejar. Satu perahu terbelah dua, tenggelam dalam sekejap. Yang lain mundur, tapi masih mengejar.

Kapten Liu berteriak. “Kabut mulai terlihat! Kalau masuk kabut, mereka nggak berani ikut! Pulau itu punya perlindungan sendiri!”

Shen Yi memandang ke depan. Di ufuk, kabut putih tebal mulai terlihat seperti dinding awan yang mengapung di atas laut.

“Masuk kabut!” teriak Shen Yi.

Kapten Liu menarik kemudi. Kapal berbelok tajam, memasuki kabut. Pandangan langsung tertutup putih. Suara ombak teredam, angin terasa lebih dingin.

Pengejar berhenti di batas kabut. Mereka tak berani masuk. cerita tentang kapal hilang di kabut abadi sudah terlalu banyak.

Xiao Feng menghela napas lega. “Selamat! Kita lolos.”

Lian'er melepaskan perisai teratai, tubuhnya limbung. Shen Yi langsung menyangganya.

“Nona, istirahat dulu. Duduk.”

Lian'er bersandar ke bahu Shen Yi, napasnya pendek. “Terima kasih Shen Yi. Tanpa hangatmu aku mungkin tak bisa tahan.”

Shen Yi mengusap punggungnya pelan. “Kita hampir sampai. Pulau itu pasti punya jawaban.”

Shi Jun mendekat, memandang kabut di sekitar.

“Kabut ini aneh. Seperti hidup. Aku merasakan energi teratai di mana-mana.”

Kapten Liu mengangguk dari kemudi. “Itu perlindungan pulau. Hanya yang ditakdirkan yang bisa masuk. Kalau nggak… hilang selamanya.”

Xiao Feng duduk di dek, menyeka keringat. “Jadi sekarang apa? Kita terapung di kabut sampai pulau muncul?”

Kapten Liu tersenyum tipis. “Bukan. Pulau itu akan muncul kalau kalian layak. Ada ujian pertama, hati yang murni harus memimpin.”

Semua terdiam. Kabut semakin tebal. Kapal bergerak pelan, seolah ditarik sesuatu.

Tiba-tiba, suara pelan terdengar dari kabut. Seperti bisikan angin, tapi jelas.

“Siapa yang datang mencari Air Teratai Abadi?”

Suara itu datang dari segala arah.

Lian'er bangkit pelan, masih bersandar ke Shen Yi. “Kami datang untuk hilangkan kutukan abadi. Untuk mencairkan es yang mengikat jiwa.”

Suara itu tertawa pelan. “Banyak yang datang dengan alasan sama. Tapi hanya satu yang lolos. Tunjukkan hati kalian.”

Kabut mulai berputar. Gambar samar muncul di depan mereka. seperti cermin kabut.

Di cermin itu, muncul bayangan masa lalu Lian'er: Bai Yun yang membeku di pelukannya, ratusan tahun kesepian di istana atas.

Lian'er tersentak. “Ini ujian.”

Cermin berganti ke Shen Yi: dia kecil, ditemukan di keranjang bambu, dibesarkan Guru Chen, hidup sendirian di gunung, tapi selalu tersenyum saat merawat orang sakit.

Shen Yi tersenyum kecil. “Itu masa lalu saya.”

Cermin berganti lagi ke Shi Jun. masa kecilnya di sekte, tekanan ayahnya, kesombongan yang dia pakai sebagai tameng, tapi di dalamnya ada kerinduan akan saudara yang hilang.

Shi Jun menunduk. “Aku selama ini salah.”

Terakhir, cermin menunjukkan mereka berempat sekarang. saling lindung, saling percaya, tanpa pamrih besar.

Suara itu berbicara lagi. “Hati kalian… cukup murni untuk masuk. Tapi ujian sebenarnya ada di pulau. Siapkan diri.”

Kabut perlahan menipis. Di depan, muncul pulau kecil berbentuk teratai raksasa, dikelilingi danau kristal yang berkilau. Di tengah pulau, sebuah kuil putih berdiri megah, dengan prasasti kuno yang menyala samar.

Kapten Liu menarik napas panjang. “Kalian sampai. Aku nggak bisa ikut lebih jauh. Pulau ini hanya untuk kalian.”

Shen Yi memandang Lian'er. “Siap?”

Lian'er mengangguk, tangannya menggenggam tangan Shen Yi erat. “Bersama.”

Shi Jun dan Xiao Feng mengangguk. Mereka turun dari kapal ke pantai berpasir putih yang hangat anehnya.

Saat kaki mereka menyentuh tanah pulau, kabut menutup lagi di belakang. Kapten Liu dan kapalnya menghilang.

Di depan mereka, pintu kuil terbuka pelan. Suara itu terdengar terakhir kali.

“Selamat datang di Pulau Teratai Mistis. Ujian hati murni dimulai.”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!