Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan Yang Memuncak
Di belahan bumi lain, seorang wanita yang selama ini mengawasi Max dari balik bayangan akhirnya kehilangan kendali.
Dia adalah Chelsea Van Der Wood, putri tunggal dari penguasa berlian asal Belanda yang memiliki hubungan bisnis gelap dengan Mr. Vance. Chelsea telah dijanjikan oleh ayahnya dan ayah Max untuk menjadi pendamping masa depan Maximilien.
Di Penthouse mewahnya di Amsterdam, Chelsea Van Der Wood menatap layar tabletnya dengan mata yang menyala oleh api cemburu yang destruktif.
Foto-foto mesra Max dan Guzzel di Paris yang tersebar luas itu terasa seperti belati yang menusuk harga dirinya berkali-kali.
Chelsea telah mencintai Max sejak mereka pertama kali bertemu di sebuah simposium ekonomi di London lima tahun lalu. Baginya, Max adalah satu-satunya pria yang setara dengan status dan ambisinya.
Selama bertahun-tahun, Chelsea bersabar. Dia membiarkan Max dengan trauma sentuhannya, dia menunggu Max sembuh dalam kesunyian, yakin bahwa pada akhirnya Mr. Vance akan memberikan Max kepadanya sebagai hadiah kesepakatan bisnis.
Namun melihat Max menyentuh Guzzel, melihat Max memberikan tatapan memuja pada wanita biasa dari New York, membuat Chelsea merasa terhina.
"Siapkan jet pribadiku," perintah Chelsea pada asistennya dengan suara yang dingin dan tajam. "New York sudah terlalu berisik. Aku harus membungkam mulut wanita itu sendiri."
Dua hari kemudian, Guzzel mencoba mencari ketenangan dengan berjalan-jalan di The Shops at Columbus Circle. Meski paparazzi masih mengikutinya, dia merasa lebih aman dengan kawalan ketat yang diberikan oleh Max.
Namun, saat Guzzel sedang melihat-lihat sepatu bayi di sebuah butik eksklusif, seorang wanita dengan aura yang sangat mengintimidasi masuk ke dalam ruangan itu.
Wanita itu mengenakan setelan jas putih yang sangat rapi, sepatu hak tinggi yang tajam, dan perhiasan berlian yang berkilau menyilaukan.
Dia adalah Chelsea. Dengan langkah yang anggun namun penuh ancaman, Chelsea mendekati Guzzel yang sedang memegang sepasang sepatu bayi mungil.
"Pilihan yang buruk untuk seorang calon pewaris," suara Chelsea terdengar sangat tenang namun sarat akan hinaan.
Guzzel menoleh, mengerutkan kening. "Maaf, Anda siapa?"
Chelsea tersenyum miring, menatap perut Guzzel dengan pandangan yang merendahkan, seolah-olah apa yang ada di rahim Guzzel adalah sebuah kesalahan besar. "Namaku Chelsea Van Der Wood. Dan aku adalah wanita yang seharusnya berada di foto-foto itu, bukan kau."
Chelsea melangkah lebih dekat, membuat para pengawal Guzzel mulai waspada, namun Chelsea hanya mengangkat satu jarinya untuk memberi tanda agar mereka tidak ikut campur.
"Dengar, Delisa," Chelsea berbisik, suaranya kini penuh dengan kebencian yang murni. "Kau pikir Max mencintaimu? Kau hanyalah sebuah kecelakaan biologis yang ia gunakan untuk melawan ayahnya. Kau hanyalah alat provokasi. Max butuh wanita yang bisa memberinya kerajaan bisnis internasional, bukan wanita yang hamil karena ketidaksengajaan."
Guzzel mencoba tetap tegar, meskipun hatinya mulai bergetar. "Max sudah memberikan pengakuan publik, Chelsea. Dia mencintaiku dan anak ini."
Chelsea tertawa keras, tawa yang terdengar sangat merendahkan hingga membuat orang-orang di sekitarnya menoleh. "Cinta? Max tidak tahu apa itu cinta. Dia hanya terobsesi karena kau adalah satu-satunya wanita yang cukup murah untuk ia sentuh di tengah traumanya. Kau tidak lebih dari sekadar terapi seksual bagi seorang pria yang sakit mental. Begitu rasa penasarannya benar-benar habis, dan percayalah, itu akan terjadi dia akan kembali kepadaku, kepada dunianya yang sebenarnya."
Chelsea mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Guzzel dengan kasar. "Nikmatilah momenmu sebagai 'Lia' selagi bisa, Guzzalie. Karena begitu bayimu lahir, kau akan menyadari bahwa Max hanyalah seorang pria yang terobsesi pada kekuasaan, dan kau... kau hanyalah noda di dalam sejarah hidupnya yang akan ia hapus suatu hari nanti."
Guzzel menepis tangan Chelsea dengan keras. "Kau sangat menyedihkan, Chelsea. Kau datang jauh-jauh dari Amsterdam hanya untuk mengatakan omong kosong ini karena kau tahu kau tidak akan pernah memiliki apa yang aku miliki, hatinya."
Mata Chelsea menyipit. Aura di sekelilingnya berubah menjadi sangat gelap. "Kita lihat saja nanti. Ayahmu sudah di ambang kehancuran, dan aku memegang kunci untuk menyelamatkan Vance Corp dari kebangkrutan yang diciptakan Max. Max akan datang berlutut padaku jika ia ingin menyelamatkan ibunya dan masa depannya. Dan saat itu terjadi, aku akan memastikan kau dan bayimu menjadi sampah yang paling hina di kota ini."
Chelsea berbalik dan berjalan keluar dari butik dengan keangkuhan yang luar biasa, meninggalkan Guzzel yang kini gemetar hebat. Guzzel memegangi perutnya, rasa mual kembali menyerang.
Dia tahu Max sedang berjuang, tapi dia tidak menyangka ada kekuatan lain yang begitu besar dan jahat yang siap memisahkan mereka.
Di luar mall, Max yang baru saja tiba untuk menjemput Guzzel, melihat jet hitam berlogo Van Der Wood meluncur di jalanan New York. Jantung Max berdegup kencang. Dia tahu Chelsea telah tiba, dan dia tahu perang yang sebenarnya melawan ayahnya dan aliansi internasionalnya baru saja dimulai.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍