"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mata Emas dan Sumpah yang Tersisa
Di dalam kabin helikopter yang menderu menuju Jakarta, suasana mendadak menjadi sangat ganjil. Alana yang tadinya sibuk meronta di pelukan Arkan, kini mematung dengan mata membulat. Ia menatap Mochi—kucing oren yang sudah bersamanya sejak masa-masa sulit di kontrakan—yang kini duduk tegak di atas kursi kulit mewah.
Mata Mochi, yang biasanya berwarna kuning kehijauan standar kucing rumahan, kini bersinar dengan warna emas murni yang berpendar redup di tengah kegelapan kabin. Kucing itu tidak mengeong, ia hanya menatap Alana dan Arkan secara bergantian dengan tatapan yang terlalu cerdas untuk seekor hewan.
"Mas... Mas Arkan, lihat deh. Mochi kok kayak habis pakai kontak lens dari toko perhiasan?" bisik Alana, suaranya bergetar. Sisi "julid"-nya mencoba keluar, tapi rasa ngeri jauh lebih mendominasi.
Arkan mengerutkan kening, ia mendekatkan wajahnya untuk memeriksa. "Mungkin cuma pantulan lampu indikator helikopter, Lana. Jangan mikir yang aneh-aneh."
"Pantulan gimana?! Lampu helikopter warnanya merah sama hijau, Mas! Ini emas! Emas batangan!" Alana mencoba menyentuh Mochi, namun kucing itu justru menghindar dengan gerakan yang sangat tangkas, lalu melompat ke meja kecil tempat tablet Arkan berada.
Cakar Mochi menekan layar tablet yang masih menampilkan berita kematian Kakek Waluyo. Dengan satu ketukan yang sengaja, layar itu beralih ke sebuah aplikasi terenkripsi yang bahkan Arkan sendiri tidak tahu ada di dalam perangkatnya. Muncul sebuah simbol: Seekor Phoenix yang melilit sebuah kunci.
"Simbol itu..." Ariel, yang duduk di kursi seberang, langsung mencondongkan tubuhnya. "Itu simbol proyek rahasia yang dikembangkan Ibu Larasati dan Ayah Malik dulu. Proyek 'Sentinels'."
"Proyek apa lagi sih, Mas Ariel?! Kenapa keluarga kita hobinya bikin proyek yang namanya kayak judul film pahlawan super?" Alana memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing lagi.
"Sentinels adalah sistem pengawasan biologis," jelas Ariel, matanya tak lepas dari Mochi. "Ibu pernah bilang padaku kalau data yang tertanam di kepalamu, Lana, butuh 'kunci aktivasi biologis' untuk bisa diakses secara penuh. Kunci itu harus sesuatu yang selalu ada di dekatmu, sesuatu yang tidak dicurigai oleh siapa pun. Sesuatu yang memiliki DNA yang sudah dimodifikasi."
Alana melongo, menatap Mochi dengan tatapan tak percaya. "Jadi... Mochi ini bukan kucing sembarangan? Dia... kucing robot? Kucing hasil lab?!"
"Bukan robot," sahut Larasati yang sejak tadi terdiam di pojok kabin. "Mochi adalah kucing asli, tapi dia adalah subjek pertama yang menerima implan mikroskopis berisi data sensorik. Dia bukan hanya pelindungmu, Alana. Dia adalah saksi bisu dari setiap rahasia yang pernah diucapkan di dekatmu. Mata emasnya adalah tanda bahwa sistem enkripsi global 'The Board' sudah sepenuhnya berpindah ke kendali kalian."
Mochi mengeong pendek, lalu kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Mata emasnya perlahan kembali ke warna normal.
Sesampainya di Jakarta, Arkan tidak membawa mereka ke apartemen, melainkan ke sebuah kediaman rahasia milik Pramudya Corps yang memiliki sistem keamanan tingkat bunker nuklir. Kematian Kakek Waluyo di penjara telah menciptakan kekosongan kekuasaan di dunia bawah tanah, dan Arkan tahu bahwa hiu-hiu kecil akan segera berdatangan untuk berebut sisa-sisa daging.
"Kita tidak bisa santai-santai, Lana," ucap Arkan saat mereka berada di dalam lift menuju lantai bawah tanah. "Kematian Kakek itu bukan bunuh diri. Sianida itu gaya khas kelompok 'The Remnant', faksi garis keras 'The Board' yang tidak setuju dengan kebijakan moderat Julian Black."
"Aduh Mas, baru aja narapidana utamanya mati, udah ada faksi baru lagi? Ini musuh kita sistemnya multi-level marketing ya? Mati satu tumbuh seribu?!" gerutu Alana sambil tetap menggendong Mochi (yang sekarang ia pegang dengan sangat hati-hati, takut salah tekan tombol).
"Maka dari itu, kita harus segera mengaktifkan Dana Perwalian Global secara penuh," Ariel menyela. "Lana, permata biru yang kamu dapatkan di pantai tadi... itu adalah bagian terakhirnya. Kita butuh sidik jari Arkan, data memori Alana, dan sensor biometrik dari... kawan kecil kita ini."
Mereka memasuki sebuah ruangan putih yang dipenuhi layar monitor raksasa. Di tengah ruangan, terdapat sebuah podium kaca dengan slot yang pas untuk permata biru "The Blue Phoenix".
Alana mengeluarkan kalung permata itu dari balik bajunya. "Oke, kita lakuin ini sekarang. Aku mau hidup tenang. Aku mau makan seblak tanpa takut ada sniper di atas genteng tukang seblaknya."
Proses aktivasi dimulai. Arkan meletakkan tangannya di atas pemindai. Alana berdiri di sampingnya, mengenakan helm sensorik ringan yang akan membaca pola gelombang otaknya. Mochi diletakkan di atas podium, tepat di samping permata biru.
"Mulai," perintah Ariel.
Layar-layar di ruangan itu mulai berkedip cepat. Data mengalir seperti air bah. Alana kembali merasakan tekanan di kepalanya, namun kali ini terasa lebih sejuk, seperti air pegunungan yang mengalir menyapu kotoran. Bayangan-bayangan hitam tentang Kakek Waluyo dan Julian Black perlahan memudar, digantikan oleh peta-peta pembangunan panti asuhan, sekolah, dan rumah sakit di seluruh pelosok negeri.
"Proses 80%..." gumam Ariel.
Tiba-tiba, alarm ruangan berbunyi merah. Bip! Bip! Bip!
"Ada interupsi eksternal!" teriak Ariel, jarinya menari cepat di atas keyboard. "Seseorang mencoba membajak aliran dana ini di detik-detik terakhir! Mereka menggunakan kunci akses darurat milik... Ayah Malik?!"
"Apa?!" Alana membuka matanya secara paksa. "Ayah?! Bukannya Ayah sudah sadar?!"
Di layar monitor utama, muncul wajah Malik. Namun, ini bukan Malik yang mereka temui di sumur tua semalam. Ini adalah rekaman video yang tertunda, sebuah pesan yang disetel untuk muncul hanya saat Dana Perwalian diaktifkan.
"Alana, Arkan... Jika kalian melihat ini, berarti aku sudah berhasil melewati fase manipulasiku. Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku katakan secara langsung karena Kakek selalu mengawasiku," ujar sosok Malik di video itu. "Dana Perwalian ini memiliki satu 'protokol penghancur'. Jika dana ini jatuh ke tangan yang salah, atau jika aku merasa kalian tidak sanggup memikul bebannya, aku sudah menyiapkan kode untuk menghapusnya secara permanen. Tapi ada satu orang yang bisa menghentikan protokol ini."
Video itu bergetar, lalu menampilkan sesosok pria yang sangat familiar bagi Alana. Pria itu memakai seragam guru sekolah dasar, tampak sangat bersahaja, dan sedang memegang sebuah buku cerita.
"Itu... Pak Bambang? Guru SD aku?!" Alana hampir pingsan. "Mas Arkan! Mas Ariel! Kenapa guru SD aku yang hobinya ngajar nyanyi lagu daerah ikut terseret ke dalam konspirasi ini?!"
"Cari Bambang," lanjut suara Malik. "Dia bukan sekadar guru. Dia adalah penjaga terakhir kunci nurani. Tanpa persetujuannya, Dana Perwalian ini hanya akan menjadi angka-angka mati yang tidak bisa dicairkan."
Layar kembali gelap. Proses aktivasi terhenti di angka 99%.
Hening melanda ruangan tersebut. Arkan menghela napas panjang, lalu menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lana... guru SD kamu itu... sekarang di mana?" tanya Arkan pelan.
Alana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terakhir aku dengar, dia pensiun dan buka warung kelontong di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi. Namanya Desa Sukomulyo."
Ariel menutup laptopnya dengan suara keras. "Bagus. Dari London, ke Bali, lalu sekarang kita harus naik gunung lagi buat nyari guru SD yang pegang kunci nurani? Alana, keluarga kita ini beneran harus dapet penghargaan 'Pelancong Paling Stress' sedunia."
"Dih, Mas Ariel jangan protes! Mas kan yang pengen ikut!" balas Alana. "Tapi tunggu dulu... kalau Dana ini nggak cair sekarang, berarti panti asuhan aku..."
"Tetap aman untuk sementara, tapi kita tidak bisa melakukan pembangunan besar-besaran," sahut Arkan. Ia mengambil jaketnya kembali. "Siapkan tim. Kita berangkat ke Yogyakarta malam ini juga."
Saat mereka sedang bersiap-siap meninggalkan markas, Mochi tiba-tiba berlari menuju sudut ruangan yang gelap dan mulai menggeram—suara yang belum pernah didengar Alana sebelumnya. Dari balik bayangan, sebuah sosok melangkah keluar.
Dia memakai setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya sangat mirip dengan Arkan namun versinya jauh lebih tua dan lebih menyeramkan. Pria itu adalah Adiwangsa Arkananta, ayah kandung Arkan yang selama dua puluh tahun ini dikabarkan tewas dalam kecelakaan bersama Larasati.
"Halo, Arkan. Halo, Menantuku yang manis," ucap Adiwangsa dengan suara bariton yang menggetarkan ruangan. "Terima kasih sudah membukakan pintu menuju Dana Perwalian. Sekarang, kumpulkan barang-barang kalian. Kita punya reuni keluarga yang sudah tertunda terlalu lama."
Alana melongo, tangannya gemetar menunjuk ke arah pria itu. "MAS ARKAN! ITU... ITU PAPA MAS?! TADI KATANYA MATI! INI KENAPA JADI ZOMBIE BERJAS SEMUA SIH KELUARGA MAS?!"
semoga Alana bisa melewati ini semua