NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menampar Keras Harga Diri Banyak Orang

Langkah Salma terhenti sejenak. Ekor matanya melirik ke belakang dengan gemas. Cowok ini, permintaannya banyak betul!

"Itu sih tergantung usaha lo sendiri, gue nggak mau bantu," dengus Salma. Enak saja, mau mengejarnya tapi malas usaha?

"Kalau gitu, boleh kan aku tanya bagian yang aku nggak ngerti?" Aksa Abhimana menggunakan taktik mundur untuk maju. Kalau tidak bisa minta les privat, modus minta diajari soal juga lumayan.

Salma, yang saat ini masih tertipu oleh topeng lugu yang diciptakan Aksa, tentu saja tidak bisa menebak akal bulus cowok itu. Dia mengangguk polos. "Boleh aja."

Kilatan licik karena rencananya berhasil melintas sekilas di mata Aksa, namun hilang dalam sekejap.

Sambil terus mengobrol, keduanya berjalan menuju stasiun MRT. Saat itu sedang jam pulang kerja, stasiun penuh sesak. Eskalator maupun peron dipadati lautan manusia.

Aksa terus berjalan rapat di dekat Salma, melindunginya agar tidak terdorong atau terhimpit orang lain.

Salma diam-diam memperhatikan tindakan Aksa. Di kehidupan sebelumnya, meskipun dia selalu mengejar Farel Barata, sebenarnya banyak cowok kaya yang mendekatinya. Tapi mereka rata-rata anti hidup susah, mana mungkin mau menemani Salma berdesak-desakan di kereta begini.

Aksa berbeda. Meski mulutnya kadang iseng, tindakannya selalu nyata. Saat Salma dalam bahaya, dia tanpa ragu melompat maju.

Salma mencuri pandang. Meskipun rambutnya jelek, kacamatanya setebal pantat botol, dan gayanya kampungan, garis wajah Aksa sebenarnya sangat tampan. Kulitnya juga bersih dan halus, tidak berminyak seperti remaja puber kebanyakan.

Kalau dia dandan sedikit saja, ketampanan Aksa pasti di atas Farel, batin Salma. Tapi entah kenapa, Salma malah senang Aksa tampil cupu begini. Setidaknya, belum ada cewek lain yang sadar betapa gantengnya dia.

"Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Aksa, peka seperti biasa.

Tertangkap basah, Salma memalingkan wajah canggung. "Nggak, cuma ngerasa kulit lo bagus banget."

Hati Aksa berbunga-bunga. Salma memperhatikannya sedetail itu?

"Lumayanlah, untungnya jarang jerawatan," jawab Aksa dengan senyum merendah.

Tak lama kemudian, kereta datang. Aksa menarik Salma masuk dan mencari sudut di gerbong. Dia membiarkan Salma bersandar di dinding, sementara kedua tangannya menumpu di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu, mengurung Salma sepenuhnya dalam dekapan protektif—posisi kabedon yang sempurna.

Karena kereta sangat padat, wajah Salma hampir menempel di dada Aksa. Berdiri sedekat ini membuat Salma sadar: dada bidang Aksa terasa begitu kokoh.

Suara bising di dalam gerbong seolah lenyap. Yang terdengar jelas di telinga Salma hanyalah detak jantung Aksa yang kuat dan teratur. Wajah Salma perlahan memanas.

Ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan cowok, bahkan hidungnya bisa mencium aroma mint tipis yang maskulin dari tubuh Aksa.

Salma terus terlindungi dalam pelukan itu, jadi dia tidak melihat betapa menyeramkan dan dinginnya ekspresi wajah Aksa saat ini.

Dua pria yang sejak tadi memperhatikan Salma di peron ternyata ikut masuk. Mereka mati-matian mendesak maju, mata jelalatan menatap Salma dengan nafsu menjijikkan. Mereka adalah penjahat kelamin kambuhan yang biasa beraksi di jam sibuk.

Melihat Salma dijaga ketat oleh cowok cupu, mereka meremehkan. Mereka bersiap menyelipkan tangan kotor mereka melewati celah tubuh Aksa.

Tepat saat tangan-tangan itu terulur, Aksa tiba-tiba mencengkeram pergelangan mereka dengan kuat.

"Cari mati, ya?" suaranya sedingin es kutub.

Dua pria itu tersentak kaget melihat sorot mata mengerikan di balik kacamata tebal itu. Namun karena sudah berpengalaman dan bermuka tebal, mereka bukannya malu, malah berteriak playing victim.

"Heh, bocah! Ngapain pegang-pegang?! Tolong! Ada orang gila mau nyerang penumpang!" teriak salah satu pelaku.

Temannya langsung menimpali, memprovokasi penumpang lain. "Bocah ini mau lecehin cewek, pas ketahuan malah ngamuk! Ayo bantu tangkep!"

Penumpang yang tidak tahu apa-apa mulai berbisik sinis, menuduh Aksa yang tidak-tidak. Bahkan ada beberapa cewek yang menatap senang, seolah melihat Salma kena masalah adalah hiburan.

Salma menarik lengan baju Aksa, menggeleng pelan. "Udahlah, biarin aja."

Aksa menatap mata Salma, paham kodenya. Dia menghempaskan tangan kedua pria itu dengan kasar. "Pergi!"

Dua pria mesum itu, meski mulutnya masih memaki, instingnya mengatakan cowok berkacamata ini berbahaya. Seperti menendang plat besi. Mereka pun mundur ke sisi lain gerbong.

"Kamu nggak apa-apa?" Aksa menunduk, wajahnya begitu dekat hingga napas hangatnya menyapu wajah Salma.

Salma menggeleng, wajahnya kembali merona.

Para penumpang di sekitar kembali nyinyir melihat kedekatan mereka. "Cih, ternyata pacaran di kereta? Nggak tau malu."

Salma dan Aksa memasang muka tembok, mengabaikan mereka.

Namun, dua bajingan tadi rupanya belum kapok. Gagal menyentuh Salma, tangan gatal mereka kini mengincar dua gadis lain yang berdiri terpojok di dekat mereka—kebetulan dua gadis yang tadi ikut menyindir Salma.

Pelaku memblokir jalan keluar dan mulai melakukan aksi raba-raba. Dua gadis itu menangis ketakutan tapi tak berdaya melawan tenaga dua pria dewasa.

Salma menatap dingin, diam-diam merekam kejadian itu dengan ponselnya sebagai bukti. Penumpang lain? Mereka pura-pura buta, tak ada yang berani menolong.

"Udah waktunya kasih pelajaran ke sampah masyarakat itu," bisik Salma.

Kebetulan kereta sampai di stasiun, gerbong agak lega. Salma dan Aksa berjalan kompak ke arah pelaku. Tanpa aba-aba, mereka masing-masing mencengkeram satu tangan pelaku dan memuntirnya keras.

KRAK!

Suara tulang patah terdengar renyah dan mengerikan.

"AAAAKH! TANGANKU!"

Situasi hening seketika. Dua pelaku terkapar di lantai, mengerang kesakitan, sementara dua gadis korban menangis histeris. Bukti kejahatan terpampang nyata.

Aksa menginjak dada salah satu pelaku dengan santai. "Mau ngaku salah atau mau lanjut lecehin cewek?"

Pelaku itu pucat pasi, keringat dingin mengucur.

Temannya yang tangannya patah satu menjadi nekat, bangkit dan mencoba memukul Aksa. "Bocah sialan!"

Salma bergerak lebih cepat, menangkap kepalan tangan itu. Dia tersenyum dingin. "Kalian pikir cuma ada kesemek lembek yang bisa kalian bejek-bejek?"

"Sorry ya, hari ini kalian salah pilih lawan. Kalian yang nendang plat besi!"

KRAK!

Tangan satunya lagi dipatahkan oleh Salma tanpa ampun. Jeritan babi disembelih kembali terdengar.

Salma menatap tajam ke sekeliling gerbong, ke arah penumpang yang tadi sok suci.

"Masih ada yang mau jadi pahlawan kesiangan? Gue harap kalau ada cewek di keluarga kalian yang dilecehkan, kalian punya keberanian buat ngelawan, bukan cuma jadi penonton atau malah nyalahin korban!"

"Kalian yang ngakunya 'orang baik' tapi diem aja liat kejahatan di depan mata... mending kalian ke laut aja deh!"

Kata-kata Salma menampar keras harga diri banyak orang di sana. Dua gadis korban itu makin menunduk malu, menyesal tadi sempat nyinyir pada penyelamat mereka.

"Panggil polisi," perintah Aksa datar.

Pelaku di bawah kaki Aksa langsung merengek. "Mas, ampun! Saya khilaf! Di rumah ada istri anak, jangan lapor polisi, Mas! Saya ganti rugi deh, berapa aja!"

"Jangan dilepasin!" teriak korban histeris.

Aksa menatap pelaku itu dengan pandangan merendahkan. "Kamu tuh cantik ya."

"Hah?" Pelaku bengong.

"Muka lo jelek, tapi imajinasi lo cantik banget! Ngarep lo ketinggian!"

Penumpang menahan tawa. Muka pelaku merah padam menahan malu dan marah.

Akhirnya, polisi stasiun datang dan menggelandang mereka keluar. Aksa, Salma, dan para saksi ikut turun.

Saat ditanya seorang penumpang yang penasaran melihat betapa protektifnya Aksa, cowok itu menjawab dengan kecepatan cahaya tanpa rasa malu sedikitpun.

"Iya, dia pacar saya. Cinta pertama saya juga!"

Salma hanya bisa speechless.

"Wih, mantap mentalnya, Dek. Tapi... itu kakinya kok gemeteran kenceng banget?" celetuk seorang bapak-bapak.

Salma menoleh dan nyaris menyemburkan tawa. Kaki Aksa gemetaran hebat, sangat kontras dengan omongannya yang sok jagoan.

Dasar Aksa, aktingnya totalitas banget. Udah sok garang, sekarang pura-pura ketakutan biar tetep keliatan cupu!

"Oh, ini kram, Pak. Efek tegang," jawab Aksa dengan wajah memelas yang dibuat-buat.

Di kantor polisi, drama berlanjut. Dua pelaku menyangkal habis-habisan dan menuduh mereka dijebak. Namun, begitu Salma menunjukkan video rekaman di ponselnya, wajah mereka langsung pucat pasi.

Ditambah lagi, polisi mengonfirmasi bahwa mereka adalah residivis. Tamat sudah riwayat mereka.

Keluar dari kantor polisi, langit Jakarta sudah gelap.

"Udah malem banget, orang rumah kamu khawatir nggak? Telepon dulu gih," kata Salma pada Aksa.

"Hp-ku lowbat. Pinjem hp kamu dong," pinta Aksa dengan mata berbinar licik.

Salma menyerahkan ponselnya. Aksa dengan cepat menekan nomor, membiarkannya berdering sekali, lalu mematikannya.

"Udah?" tanya Salma heran. "Cepet amat?"

"Udah kok." Aksa tersenyum penuh arti. Sebenarnya dia tahu nomor Salma dari data sekolah, tapi dia tidak pernah berani menghubungi duluan supaya samarannya tidak terbongkar.

Sekarang, dia dapat akses legal!

Salma mengecek riwayat panggilan. Nomor tak dikenal.

Otaknya bekerja cepat. Dia melirik curiga. "Itu tadi nomor lo sendiri, kan?"

"Iya," aku Aksa tanpa dosa. "Aku seneng banget akhirnya dapet nomor kamu secara resmi."

"Aku orang pertama di kelas yang punya, kan?"

"...Iya," Salma merasa baru saja masuk perangkap buaya darat, tapi anehnya dia tidak marah.

"Hehe. Yuk, aku anter pulang."

Sepanjang perjalanan pulang, Salma menyadari sesuatu. Aksa sangat asyik diajak bicara. Wawasannya luas, pandangannya tajam, sama sekali tidak seperti anak SMA biasa.

Apalagi yang berpenampilan cupu begini.

Siapa sebenarnya Aksa Abhimana ini?

Kecurigaan itu terus menghantui Salma hingga dia sampai di depan gerbang rumah mewahnya.

Dia menatap punggung Aksa yang menjauh. Di bawah sorot lampu jalan, punggung itu terlihat tegap dan memancarkan aura wibawa yang kuat.

Tidak ada lagi jejak cowok cupu yang kakinya gemetaran tadi.

Salma menggelengkan kepala dan masuk ke rumah.

Baru saja melangkah masuk, suara omelan Shintia langsung menyambutnya. "Kenapa baru pulang jam segini? Darimana aja kamu?"

"Aku tadi..."

"Si Aksa itu nempel-nempel kamu lagi ya?" potong Manda yang tiba-tiba muncul dengan wajah sok khawatir yang menyebalkan.

Membuat mood Salma langsung anjlok.

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!