Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Gajah
Deg!
Seketika jantung Rani seolah berhenti berdetak, sampai akhirnya detak jantungnya berdebar tak karuan. Aroma maskulin dari parfum yang digunakan Adimas seketika memenuhi seluruh indra penciuman Rani.
Suara riuh terdengar, tamu semuanya ikut berdiri kecuali Rani yang masih mematung diam dalam duduknya.
"Cantiknya Neng Elyra, Masyaallah," ucap Mamah Rani, namun kala itu Rani masih diam di tempatnya. Dia masih berusaha mencerna ucapan Adimas barusan?
Apa itu sungguh-sungguh, atau justru hanya permainan kata saja?
"Rani, ayo berdiri lihat Elyra meni cantik kitu. Ya Allah..." Mamah Rani tak hentinya memuji, Rani seketika menatap ke arah yang ditunjuk sang Ibu dan terbelalak. Dia langsung berdiri hingga suara dari pembawa acara meminta hadirin kembali duduk dan Rani akhirnya duduk lagi.
"Kamu kenapa, Ran?" tanya sang Mamah, Rani menggelengkan kepalanya pelan.
"Bapaknya Elyra nggak datang ya? Dasar pria yang cuma mau enaknya saja! Bahkan giliran anak mau nikah saja dia tidak datang, benar-benar keterlaluan!" umpat Mamah Rani, Adimas menatap Rani yang masih diam.
"Iya, Bu. Tapi ke depannya dia sudah jadi bagian keluarga kami secara hukum. Meski dalam syariat agama tetap ayahnyalah yang harus menjadi wali, namun Elyra akan menjadi keluarga kami setelah ini. Iya kan, Rani?" tanya Adimas, Rani masih termenung. Entahlah, apa yang tadi diucapkan Adimas seperti sengatan listrik yang membuat dirinya kehilangan setengah nyawanya sendiri.
"Ran?" Adimas mengangkat tangannya di depan wajah Rani turun naik.
"Eh, apa Mas?" tanya Rani lagi, Adimas terkekeh.
"Tadi Pak Adimas bilang bila Elyra ke depannya akan jadi bagian keluarganya," ucap Mamah Rani, Rani tersenyum canggung.
"Oh, iya aku juga dengar itu dari Elyra, Mah," jawab Rani lagi, Adimas terkekeh lagi sebelum fokus ke depan.
"Mas, kamu berutang satu setengah nyawa padaku," bisik Rani, Adimas sontak menoleh, namun Rani kini sudah fokus dan tidak melamun lagi. Tatapannya tertuju ke depan memperhatikan Leon yang sedang melakukan qabul di depan wali hakim.
Setelah kata SAH bergaung di seluruh penjuru tempat itu, Rani sontak mengambil tisu dan mengusap air matanya yang hampir membasahi pipinya. Hidungnya terisak dengan senyum di bibirnya.
"Kamu menangis?" tanya Adimas, Rani menggelengkan kepalanya.
"Enggak, cuma terharu saja, Mas," jawab Rani lagi, Mamah Rani menatap Rani dengan ekor matanya.
'Dari tadi Rani tidak sopan pada Pak Adimas, Pak Adimas kan wali kelasnya. Astaghfirullah, anak ini memang harus kena sapu dulu biar bisa dengar.' Batin sang Mamah, namun memperhatikan Rani yang terisak membuat kepala sang Mamah ikut terharu.
.
.
.
Waktu sudah siang hari, acara masih belum selesai, tapi perut Rani sudah minta asupan. Prasmanan memang sudah ada, tapi tahu nggak, di sana kue yang tersedia hanya kue kecil ukuran satu sendok.
"Kalau kue segede gitu kayaknya cuma bisa jadi upil di gigiku, nggak akan sampai perut," gerutu Rani saat sang Mamah sudah membawa dua kue untuknya dan sang Mamah.
"Kalau mau makan ya ke sana saja, Ran. Kenapa diam saja?" Sang Mamah menunjuk ke arah tempat makanan berat berada dalam bentuk prasmanan.
"Mah, porsi makanku itu porsi jumbo, Mah. Kalau aku makan dengan porsiku di sini nanti aku malah buat Elyra malu, loh. Apalagi di sini kayaknya pada orang kaya semua," bisik Rani, sang Mamah terkekeh mendengarnya.
"Anak Mamah sudah besar ya, bahkan sudah tahu menempatkan adab makan sekarang," ucapnya lembut, Rani mengangkat bahunya ringan.
"Rani?" sapa seorang pria yang tak lain adalah Arya.
"Kak Arya, di sini ada warteg dekat nggak sih?" rengek Rani, namun suaranya dibuat sekecil mungkin agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Nggak ada, Ran. Ini daerah vila kelas atas. Makan sepiring saja bisa menghabiskan gajimu seminggu, loh. Kalau nggak ikut prasmanan saja?" tanya Arya, Rani menggelengkan kepalanya.
"Mending aku puasa dulu saja deh, daripada buat malu teman Kak," ucap Rani lagi, Arya terkekeh mendengar pengakuan Rani itu.
"Sejak kapan saraf malunya kesambung, Ran?" senggol Arya setengah berbisik agar tidak terdengar orang lain.
"Diam Anda, atau aku lempar sepatu nih!" gertak Rani, Arya tertawa mendengar gertakan Rani itu.
"Iya deh, buat ganjel dulu mau ikut makan nggak?" ajak Arya lagi, dengan agak terpaksa Rani pun ikut melangkah. Dia berjalan dengan elegan, mengambil makanan dengan gaya khas orang kelas atas. Hingga akhirnya dia kembali duduk di kursinya.
"Ya Allah, jadikan makanan yang secuil ini membuatku kenyang. Allahumma bariklana fiima razaqtana wa qina ‘adzaban nar." Doa Rani, dia mulai makan dengan sangat santai, elegan, dan tampak sesekali mengusap bibirnya dengan estetik.
Tinggal satu suapan lagi, dan Rani menghela napas kasar. Beneran nggak kenyang rupanya, hingga tangannya mengangkat dan siap memakan suapan terakhir.
Namun dari sampingnya, tangan besar mengambil piring Rani yang kosong dengan diam-diam. Dia menggantikan piring kosong itu dengan makanan yang sama persis seperti yang diambil Rani tadi. Selain itu ada dua potong kue besar, kue pernikahan di depan Rani.
Dari depan, Elyra yang memang sudah tahu karakter dan bagaimana porsi makan Rani mengangkat jempol, Rani makin terharu dibuatnya.
"Beneran kamu itu sahabat ter the best pokoknya," ucap Rani. Sedangkan pria yang di sampingnya hanya berdeham kecil dan memberi isyarat agar Rani mulai memakan semua makanan itu secara perlahan.
"Makasih, Mas Adimas. Cie, lagi belajar buat memenuhi sandangnya calon istri ya?" goda Rani, Adimas terkekeh.
"Kasihan saja, ada gajah makan dengan porsi semut," sindir Adimas, Rani langsung melotot tajam namun masih terlihat cantik.
"Wah, kalau calon istrinya gajah. Berarti calon suaminya juga gajah dong ya? Mas, sesama gajah kita jangan saling menghina ya," Rani nyengir kuda, Adimas melongo tak percaya ucapannya dibalikan begitu saja.
"Memang siapa calon suaminya?" tanya Adimas.
"Mas Adimas ngerti rupanya dengan apa yang aku katakan, berarti sosok yang bisa mengerti bahasa gajah, ya gajah juga kan?" Sontak saja Adimas membeku, ternyata ucapan doa sebelumnya hanya pancingan saja.
"Makanlah, gajah," sindir Adimas lagi, dia bukan benci atau apa pun, tapi lebih ke gemas saja dengan tingkah Rani.
"Iya, terima kasih, gajah," Rani mulai kembali makan dengan estetik lagi, sang Mamah yang tadi sempat pergi dulu untuk memberikan hadiah untuk Elyra kini sudah kembali duduk di samping Rani.
"Rani, Mamah kayaknya harus pulang sekarang. Nanti sore ada pengajian juga, Mamah sudah janji," ucapnya, Rani menghela napas kasar.
"Oke, Mah. Nanti Rani nyusul," ucapnya sambil salam dan mengecup kedua pipi sang Mamah.
"Iya, jangan nakal di sini. Dan jangan buat malu Elyra ya?" pinta sang Mamah, Rani tersenyum dan mengangguk. Mamahnya pun pergi dan Rani hanya mengangguk saat sang Mamah sudah berangkat bersama seorang sopir yang memang berjaga untuk mengantar tamu yang datang tanpa membawa mobil pribadi.
"Mamah sudah pulang, kamu sendiri mau pulang?" tanya Adimas, Rani tampak berpikir sejenak.
"Ya mau lah, tapi bisa nggak Mas pulangnya ke rumah Mas Adimas saja?" kekeh Rani, Adimas tertawa dan hanya menggeleng pelan.
"Boleh, mau bantu kerjain tugas rumah ya?" tanya Adimas dengan maksud lain.
"Wah, berasa beneran jadi ibu rumah tangga dong." Ternyata Rani dapat menanggapi hal itu dengan baik.
"Bukan jadi pekerja?" sindir Adimas lagi, Rani sejenak terdiam. Untuk beberapa orang ucapan Adimas itu memang terkesan merendahkan, namun Rani hanya mengangkat sudut bibirnya.
"Iya, tapi harus di-DP dulu dengan seperangkat alat salat di depan penghulu," ucap Rani tenang, masih dalam mode bercanda. Dia tampak tidak tersinggung. Namun justru, ucapannya kala itu berhasil membuat tawa Adimas kian menggema.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang