NovelToon NovelToon
Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Terjebak Skandal Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / One Night Stand / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Herlina

Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyaris Terjebak

Sasha memejamkan mata rapat-rapat, namun alih-alih menyerah, ia menggigit bibir bawahnya hingga rasa anyir darah menyentak kesadarannya. Di tengah kepungan hawa panas yang menyiksa, ia membayangkan wajah Gio—wajah pria yang telah memberikan segalanya untuk melindunginya. Ketakutannya perlahan berubah menjadi api amarah yang murni.

"Kau... tidak akan pernah... memilikiku lagi," desis Sasha di depan wajah Dimas.

Dimas baru saja hendak membalas dengan seringai kemenangan ketika suara dentuman yang sangat dahsyat menghantam pintu kamar. Pintu kayu jati solid itu bukan hanya terbuka, tapi seolah meledak dari engselnya.

Gio berdiri di sana.

Aura yang terpancar dari pria itu bukan lagi sekadar kemarahan; itu adalah kehancuran yang nyata. Matanya berkilat merah, napasnya menderu seperti badai yang siap meratakan apa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada kata-kata. Tidak ada peringatan. Gio menerjang maju dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata manusia biasa.

Cengkeraman Gio pada kerah kemeja Dimas begitu kuat hingga terdengar suara kain yang robek. Dengan satu sentakan maut, Gio melempar tubuh Dimas menjauh dari Sasha. Tubuh Dimas menghantam meja rias dengan keras hingga kaca kristal setinggi dua meter itu pecah berkeping-keping, menghujani lantai dengan beling yang tajam.

Dimas mencoba bangkit, namun Gio sudah berada di atasnya. Satu pukulan mentah mendarat di rahang Dimas, disusul tendangan telak di ulu hati yang membuat pria itu memuntahkan darah ke lantai marmer.

"Gio! Cukup!" Sasha berteriak parau, berusaha duduk meski tubuhnya gemetar hebat.

Gio berhenti, tapi tangannya masih mencengkeram leher Dimas, mengangkat pria itu hingga kakinya tergantung tak berdaya. Wajah Dimas membiru, namun Gio menatapnya dengan kekosongan yang mengerikan. "Aku sudah bilang padamu di bawah tadi," suara Gio terdengar sangat tenang, namun itulah yang membuatnya jauh lebih menakutkan. "Kau salah memilih malam untuk bermain-main."

Gio menghantamkan kepala Dimas ke sisa bingkai meja kayu yang kokoh hingga Dimas terkulai lemas, kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Dua pria berbadan tegap dengan seragam hitam muncul di ambang pintu, menunggu perintah.

"Bawa sampah ini ke gudang di pinggir kota. Jangan biarkan dia mati, tapi pastikan dia menyesal karena masih bernapas pagi ini," perintah Gio dingin tanpa menoleh sedikit pun.

Setelah petugas keamanan menyeret Dimas yang tak berdaya keluar, pintu ditutup rapat kembali. Kamar itu kini hanya menyisakan sunyi yang berat, bercampur aroma alkohol, parfum yang pecah, dan ketegangan yang belum tuntas.

Gio berbalik. Matanya yang semula haus darah melembut seketika saat melihat Sasha yang meringkuk di atas ranjang. Gaun merah marunnya tersingkap, rambutnya yang semula disanggul rapi kini terurai berantakan menutupi bahunya. Sasha gemetar, bukan karena takut pada Gio, melainkan karena efek obat yang kini meledak sepenuhnya di dalam aliran darahnya.

Zat kimia itu bukan sekadar membuat pusing; itu adalah stimulan agresif yang membakar setiap saraf sensorik Sasha. Ia merasa kulitnya seolah dialiri listrik. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan setiap napas yang ia ambil terasa seperti menghirup uap panas.

"Sha..." Gio mendekat, gerakannya sangat hati-hati, seolah takut akan menghancurkan wanita di depannya.

"Gio... jangan... jangan mendekat," rintih Sasha. Ia mencengkeram sprei ranjang hingga jemarinya memutih. "Dia memberi sesuatu... aku... aku tidak bisa mengendalikan diriku."

Gio berlutut di tepi ranjang. Ia tahu persis apa yang sedang dialami Sasha. Rahangnya kembali mengeras saat menyadari betapa jahatnya rencana Dimas untuk menodai martabat istrinya. Ia mengulurkan tangan, bermaksud membelai pipi Sasha untuk menenangkannya.

Namun, saat ujung jari Gio yang dingin menyentuh kulit Sasha yang membara, Sasha tersentak hebat. Ia tidak menjauh; sebaliknya, ia justru mengejar sentuhan itu. Rasa haus akan kontak fisik yang dipicu obat itu menelan akal sehatnya. Sasha menarik tangan Gio, menempelkannya ke lehernya yang panas, lalu mendesah panjang.

"Gio... tolong... aku panas sekali," bisik Sasha dengan mata yang kini berkilat sayu namun penuh tuntutan.

Hasrat protektif Gio seketika bertabrakan dengan gairah posesif yang sudah lama ia simpan. Melihat Sasha yang begitu rapuh namun sekaligus menggoda dalam balutan gaun merah yang kontras dengan kulit putihnya, membuat pertahanan Gio runtuh.

"Kau yakin?" suara Gio parau, menahan gejolak di dalam dadanya.

Sasha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik kerah kemeja Gio, memaksa pria itu untuk naik ke atas ranjang dan menindihnya. Sentuhan kulit mereka menciptakan percikan yang membakar segalanya. Bagi Sasha, Gio adalah air yang ia butuhkan di tengah gurun; bagi Gio, Sasha adalah segalanya yang ingin ia klaim sepenuhnya malam ini.

Malam itu menjadi saksi pergulatan antara cinta dan nafsu yang dipicu oleh keadaan yang ekstrem. Gio tidak lagi menahan diri. Ia mencium Sasha dengan lapar, menyalurkan semua ketakutan akan kehilangan wanita itu ke dalam sentuhan-sentuhan yang menuntut. Sasha membalasnya dengan keganasan yang sama, dipacu oleh kimiawi yang membuat setiap sarafnya menuntut lebih.

Suara desahan tertahan dan napas yang memburu memenuhi kamar presidential suite itu. Di bawah temaram lampu tidur, mereka kehilangan diri masing-masing. Gio memastikan bahwa mulai detik ini, memori tentang sentuhan kasar Dimas akan terhapus sepenuhnya, digantikan oleh dominasinya yang intens namun penuh cinta.

Waktu seolah berhenti berputar. Di luar, kota masih sibuk dengan lampunya, namun di dalam kamar itu, hanya ada mereka berdua yang sedang berperang melawan sisa-sisa racun dengan api gairah yang jauh lebih ganas.

Beberapa jam kemudian, fajar mulai mengintip dari balik tirai jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan. Keadaan kamar masih berantakan, mencerminkan badai yang baru saja lewat. Sasha tertidur dalam pelukan Gio, tubuhnya masih terasa hangat namun napasnya sudah mulai teratur. Obat itu akhirnya luruh, kalah oleh kelelahan yang luar biasa.

Gio terjaga, mengamati wajah istrinya di bawah cahaya pagi yang pucat. Ia mengusap rambut Sasha dengan penuh kasih, namun sorot matanya kembali mendingin saat mengingat wajah Dimas.

Sasha perlahan membuka matanya, menatap langit-langit sejenak sebelum menyadari keberadaan Gio di sampingnya. Ia teringat segalanya—setiap detiknya. Rasa malu sempat terlintas, namun saat melihat tatapan Gio yang begitu memuja, rasa itu menguap.

Sasha menyandarkan kepalanya di dada bidang Gio, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan kuat.

"Kau menyelamatkanku lagi," gumam Sasha pelan, suaranya masih serak.

Gio mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Sasha dengan posesif. "Aku tidak hanya menyelamatkanmu, Sha. Aku menjagamu."

Sasha mendongak, menatap mata hitam suaminya yang dalam. "Apa yang akan terjadi pada Dimas? Kau tidak benar-benar membunuhnya, kan?"

Gio terdiam sejenak, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya. Ia membelai bibir Sasha dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang membuat Sasha sadar bahwa pria lembut di depannya ini bisa menjadi iblis jika ada yang berani mengganggunya.

"Kematian terlalu mudah untuknya, Sayang," jawab Gio dengan nada datar yang mengerikan. "Aku ingin dia melihat bagaimana kita menghancurkan sisa hidupnya dari balik lubang yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan."

Sasha menghela napas, merasa sebuah beban berat akhirnya terangkat. "Terima kasih, Gio. Karena tetap menjadi dinding yang paling kokoh untukku."

Gio memiringkan wajahnya, mencium sudut bibir Sasha dengan lembut namun penuh janji.

"Aku bukan hanya dindingmu, Sasha. Aku adalah pemilikmu, dan siapa pun yang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku... mereka tidak akan pernah menemukan jalan pulang."

1
someone47
lnjut kk... Kasihan jg si sasha
Ariany Sudjana
ah gio ga punya power, istrinya dibiarkan sendiri, tanpa pengawalan, malah Dimas yang seorang penjahat, unggul di depan, karena pengawalan juga lemah, gimana sih
Lina Herlina: sabar ya kak, kan Gio sedang terluka... terima kasih komentarnya kak🙏😘 mksh ya kak dah mampir dan salam kenal kk🙏😘😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!