Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di luar ruang perawatan, Indri masih duduk termenung dengan perasaan campur aduk antara bahagia akan menjadi tante dan cemas melihat dokter masuk ke kamar Aruna.
Sementara itu, di dalam ruangan, suasana mendadak menjadi sangat dingin dan serius.
Dokter itu duduk di samping Aruna, wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan yang sama seperti sebelumnya.
Ia menghela napas panjang sebelum membuka map hasil laboratorium.
"Ada apa, Dok? Apa ada masalah dengan kandungan saya?" tanya Aruna dengan suara yang mulai bergetar.
Dokter menatap mata Aruna dengan teliti.
"Kandungan Anda sejauh ini aman. Tapi, apakah ada gejala lainnya yang Anda alami selain mual?"
Aruna terdiam sejenak, lalu menunduk. "Mata saya sering kabur dan pusing hebat, Dok. Terkadang semuanya mendadak gelap selama beberapa detik."
"Dari hasil tes tadi, sepertinya Anda mengalami kelainan saraf mata yang cukup serius dan harus segera melakukan transplantasi mata," ucap dokter itu dengan nada berat.
"Apakah Anda pernah mengalami kecelakaan hebat yang mengenai kepala Anda sebelumnya?"
Aruna menganggukkan kepalanya perlahan, ingatannya kembali pada masa-masa kelam di tangan Sisil dan penderitaan di masa lalu.
"Pernah, dulu ada paku yang menancap di kepala saya, tepat di area belakang mata."
Dokter mengangguk lemah. "Itulah penyebabnya. Trauma itu merusak saraf secara perlahan, dan tekanan karena kehamilan Anda saat ini mempercepat proses kerusakannya."
Dunia Aruna seolah runtuh. Ia baru saja mendapatkan harapan hidup baru, namun kini kegelapan mengancamnya.
Ia menoleh ke arah pintu, takut Christian atau Papa Adrian mendengar pembicaraan ini.
"Dok, tolong rahasiakan ini dari semua keluarga saya. Cukup saya dan Anda yang tahu," pinta Aruna dengan nada memohon.
"Tapi, Anda harus menjalani operasi secepatnya. Jika tidak, dalam beberapa bulan ke depan Anda akan mengalami kebutaan total," tegas dokter tersebut.
Aruna menggelengkan kepalanya dengan kuat, air mata mulai menggenang.
"Dok, aku sedang mengandung. Operasi besar seperti itu membutuhkan anestesi dan obat-obatan keras yang bisa membahayakan bayi saya. Aku tidak mau operasi. Aku tidak mau kehilangan anak ini."
"Nyonya Aruna, risikonya terlalu besar—"
"Tolong, Dok!" potong Aruna sambil menggenggam tangan dokter itu.
"Biarkan saya menikmati masa-masa ini. Tolong rahasiakan ini. Jika Christian tahu, dia akan memaksaku operasi dan mengorbankan anak kami. Aku mohon..."
Dokter tersebut hanya bisa menatap Aruna dengan iba.
Di satu sisi ada tugas medis, di sisi lain ada pengorbanan seorang ibu yang luar biasa.
Akhirnya, sang dokter hanya bisa mengangguk pelan, meski dengan hati yang sangat berat.
Aruna menghapus air matanya dengan cepat saat mendengar suara langkah kaki Christian di luar.
Ia harus memasang topeng lagi, menyimpan rahasia gelap ini di tengah cahaya kebahagiaan yang sedang dirayakan keluarganya.
Suara roda kursi roda berdecit pelan di koridor rumah sakit yang sunyi.
Dokter memberikan instruksi tegas kepada perawat untuk membawa Aruna ke ruang pemeriksaan khusus yang berada di lorong yang berbeda dari ruang rawat inap.
Indri yang sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri saat melihat iparnya didorong keluar.
"Kak Aruna? Mau ke mana? Perasaan baru saja dokter kandungan keluar, kok sekarang dibawa lagi?"
Aruna memaksakan senyum, meski tangannya meremas pegangan kursi roda dengan sangat kuat karena rasa pening yang kembali menyerang.
"Sebentar, Ndri. Kamu di sini saja ya, jangan beri tahu Mas Christian dulu. Hanya ada pemeriksaan tambahan kecil."
"Tapi Kak..."
"Cuma sebentar, Ndri," potong Aruna lembut sebelum perawat mendorongnya menjauh.
Di dalam ruang periksa yang gelap dan tertutup, dokter spesialis mata menggunakan alat pemindai laser untuk melihat lebih dalam ke saraf mata Aruna.
Wajah sang dokter tampak sangat tegang saat menatap layar monitor.
"Kondisinya lebih buruk dari yang saya duga," ucap dokter itu sambil duduk di depan Aruna.
"Bukan hanya trauma saraf akibat luka lama, tapi ada tumor yang mulai tumbuh di belakang kedua mata Anda. Paku yang dulu pernah menancap di kepala Anda memicu pertumbuhan jaringan yang tidak normal ini."
Aruna terkesiap, napasnya terasa berhenti.
"Tumor, Dok?"
"Iya. Apa yang saya katakan tadi masih berlaku, bahkan lebih mendesak. Anda harus memulai perawatan kemoterapi ringan atau operasi pengangkatan secepatnya. Jika tidak, tumor ini akan menekan saraf pusat Anda."
Aruna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya pecah, jatuh membasahi bajunya.
"Tidak, Dok. Obat-obatan itu akan membunuh bayiku. Saya tidak akan melakukannya."
"Tapi Anda akan kehilangan penglihatan Anda selamanya, Nyonya Aruna! Bahkan ini bisa mengancam nyawa Anda sendiri."
"Saya mohon, rahasiakan ini," bisik Aruna sambil terisak.
"Jangan biarkan Christian atau Papa Adrian tahu. Saya ingin bayi ini lahir dengan selamat, meskipun saya tidak akan pernah bisa melihat wajahnya nanti."
Dokter itu terdiam, tak berdaya menghadapi keras kepala seorang ibu.
Dengan berat hati, ia membiarkan perawat membawa Aruna kembali. Aruna segera menghapus air matanya dengan tisu, mengatur napas agar tidak terdengar sesak, dan memperbaiki tatanan rambutnya.
Saat perawat mendorongnya kembali ke depan ruang perawatan, Indri langsung menghampiri.
"Kak? Ada apa sebenarnya? Kenapa lama sekali?"
Aruna mendongak, mencoba memfokuskan pandangannya yang mulai berbayang pada wajah Indri.
"Hanya pemeriksaan biasa, Ndri. Dokter bilang tekanan darahku sedikit naik, jadi harus diperiksa lebih teliti. Bukan masalah besar."
Indri menatap mata Aruna dengan penuh selidik, namun Aruna segera memalingkan wajahnya. Di dalam hati, Aruna tahu bahwa jam pasir kehidupannya dan penglihatannya sedang berjalan mundur.
Langkah kaki Christian terdengar terburu-buru di koridor.
Wajahnya tampak berseri-seri, tangannya menjinjing sebuah kantong plastik berisi asinan buah segar yang masih dingin.
Aroma cuka dan buah-buahan tropis langsung tercium saat ia membuka pintu kamar perawatan.
"Sayang, akhirnya aku menemukan asinan buahnya! Aku harus berkeliling ke tiga tempat hanya untuk memastikan buahnya masih segar dan bumbunya tidak terlalu menyengat untukmu," ucap Christian dengan nada riang, semangat seorang calon ayah yang ingin memberikan yang terbaik.
Aruna yang baru saja kembali ke ranjangnya menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan rasa perih di matanya yang baru saja ditetesi obat pereda nyeri secara sembunyi-sembunyi.
"Terima kasih, Mas," jawab Aruna dengan senyum tipis. Ia mencoba meraih plastik itu, namun tangannya sempat meleset beberapa sentimeter sebelum akhirnya menyentuh tangan Christian.
Christian sempat tertegun sesaat melihat koordinasi tangan istrinya, namun ia segera menepis pikiran buruk itu.
Ia menganggap Aruna masih sedikit lemas karena pingsan tadi.
Christian kemudian duduk di pinggir ranjang, dengan telaten membuka wadah asinan dan menyuapkan sepotong mangga muda ke mulut Aruna.
"Enak?" tanya Christian lembut.
Aruna mengangguk, meski sebenarnya rasa asam itu tidak sanggup menghilangkan rasa getir di hatinya akibat vonis dokter tadi.
"Segar sekali, Mas."
Di sudut ruangan, Indri percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aruna.
Ia menghela napas lega, rasa curiganya luntur seketika melihat Aruna tampak tenang-tenang saja mengobrol dengan kakaknya.
"Tuh kan, Kak Christian, Kak Aruna cuma butuh asinan ternyata. Tadi aku sempat panik pas dia dibawa perawat lagi, tapi katanya cuma cek tekanan darah," celetuk Indri sambil tersenyum lebar.
Christian menoleh ke arah adiknya. "Lain kali kalau ada pemeriksaan tambahan, kamu harus ikut menemani sampai ke dalam, Ndri. Jangan biarkan dia sendiri."
"Siap, Bos!" jawab Indri dengan gaya hormat.
Aruna hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka.
Ia merasa bersalah karena telah membohongi orang-orang yang begitu mencintainya.
Di bawah selimut, tangannya meremas kain sprei dengan kuat.
Pandangannya ke arah Christian kini mulai sedikit berbayang, wajah suaminya yang tampan itu terlihat seperti lukisan cat air yang terkena tetesan air—mulai kabur di bagian tepinya.
'Maafkan aku, Mas. Biarlah aku menanggung kegelapan ini sendirian, asalkan buah cinta kita bisa lahir dengan selamat,' bisik Aruna dalam hatinya yang hancur.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat