Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.
Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai Pertama dan Ujian yang Tak Terduga
Pintu masuk Heavens Arena terasa seperti mulut raksasa yang terbuka lebar, siap menelan siapa saja yang berani masuk. Bangunan itu menjulang setinggi 251 lantai—sebuah monumen kaca dan baja yang berkilau di bawah sinar matahari pagi Yorknew. Di depannya, ratusan orang berbaris: petarung berotot, pemuda kurus dengan mata lapar, bahkan anak-anak yang tampak terlalu muda untuk bertarung. Bau keringat, minyak tubuh, dan adrenalin sudah tercium dari luar.
Raito berdiri di antrean bersama Mira, tangan mengepal erat tali tas ranselnya. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut kalah, tapi karena ini pertama kalinya dia akan bertarung secara resmi di dunia ini. Bukan melawan perampok di kereta, bukan melawan Gon di ujian Hunter. Ini pertarungan demi uang, demi pengakuan, demi menguji “cahaya” yang masih mentah di dalam dirinya.
Mira menepuk bahunya pelan. “Tenang. Lantai 1 sampai 100 itu cuma pemula. Lawannya biasanya orang biasa yang cuma punya kekuatan fisik. Nen jarang muncul di level bawah. Kamu cukup pakai pukulan biasa dan instingmu.”
Raito mengangguk, tapi mulutnya kering. “Kalau aku kalah di lantai pertama, apa kita harus bayar lagi?”
“Tidak. Kalah di bawah lantai 200 nggak ada penalti besar. Cuma nggak naik level dan nggak dapat jenny. Kalah terus, kamu bisa coba lagi besok. Yang penting jangan cedera parah.”
Mereka sampai di meja pendaftaran. Seorang petugas berpakaian seragam hitam memindai kartu identitas sementara yang diberikan Mira (dia punya koneksi lama dari masa lalu sebagai tentara bayaran).
“Raito, pemula. Lantai 1. Pertarungan pertama dalam 30 menit. Arena C-7,” kata petugas tanpa ekspresi. “Aturan sederhana: menang kalau lawan menyerah, KO, atau jatuh keluar ring. Jangan bunuh. Jangan pakai senjata terlarang. Kalau melanggar, dilarang masuk selamanya.”
Raito menerima nomor peserta kecil yang ditempel di baju: #4782.
Mereka naik lift khusus peserta ke lantai 1. Di dalam lift, Raito melihat pantulan dirinya di dinding kaca: baju kaos hitam lusuh dari ujian Hunter, celana jeans robek, dan mata yang mulai terlihat lebih tajam dari sebelumnya. Dia tidak lagi seperti pemuda biasa yang tersesat—ada sesuatu yang berubah, meski kecil.
Lift berhenti. Pintu terbuka ke koridor panjang dengan banyak ruangan arena kecil. Suara sorak-sorai, benturan tinju, dan jeritan penonton terdengar dari segala arah. Mira mengantarnya ke Arena C-7—ruangan lingkaran berdiameter 15 meter, dikelilingi pagar kawat tinggi dan tribun kecil yang sudah setengah penuh.
Lawan Raito sudah menunggu di tengah ring: pria bertubuh kekar berusia sekitar 30-an, rambut gondrong diikat ke belakang, mengenakan rompi kulit tanpa lengan. Otot lengannya menonjol seperti tali tambang. Dia tersenyum lebar saat melihat Raito.
“Anak baru ya? Kelihatan lemah. Aku namanya Brock. Aku sudah menang 12 kali di lantai 1. Kalau kamu menyerah sekarang, aku nggak akan sakitin terlalu parah.”
Penonton tertawa kecil. Raito tidak menjawab. Dia naik ke ring, melepas sepatu seperti aturan, dan berdiri di posisi lawan.
Wasit—seorang pria botak dengan mikrofon—berdiri di tengah. “Pertarungan dimulai! Tanpa batas waktu! Mulai!”
Brock langsung maju seperti banteng. Tinju kanannya meluncur lurus ke wajah Raito. Raito menghindar ke samping, tapi angin pukulan itu membuat rambutnya berkibar. Brock tidak berhenti—dia terus menyerang dengan pukulan beruntun, kekuatan murni tanpa teknik halus.
Raito mundur, menghindar, mencoba mencari celah. Dadanya mulai panas. Aliran hangat itu muncul lagi—lebih cepat dari kemarin. Dia fokus, bayangkan cahaya mengalir ke kaki dan lengan.
Saat Brock mengayunkan pukulan hook besar, Raito maju. Dia menangkis dengan lengan kiri—bukan menahan penuh, tapi mengarahkan kekuatan Brock ke samping. Lalu, dengan tangan kanan, dia pukul perut Brock.
Pukulan itu biasa saja—tapi saat tinju menyentuh, ada hembusan cahaya kecil yang keluar dari telapak tangannya. Bukan sinar menyilaukan seperti di kereta, tapi dorongan hangat yang membuat Brock terhuyung mundur dua langkah, napasnya tersengal.
Penonton terdiam sejenak, lalu berbisik-bisik.
“Apa tadi itu? Aura?”
“Anak itu punya Nen?”
Brock menggelengkan kepala, marah. “Dasar curang! Kamu pakai Nen ya?!”
Wasit mengangkat tangan. “Tidak ada bukti pelanggaran. Lanjut!”
Brock menyerang lagi, kali ini lebih ganas. Raito menghindar, tapi satu pukulan telak mengenai bahunya. Rasa sakit menusuk seperti listrik. Dia terpental ke pagar kawat, punggungnya membentur keras.
Mira berteriak dari pinggir. “Fokus! Gunakan cahaya untuk pertahanan!”
Raito bangun lagi. Napasnya berat. Dia ingat kata Mira: “Nen bukan cuma serangan. Bisa pertahanan juga.”
Dia tutup mata sebentar, tarik napas dalam. Cahaya di dadanya mengalir ke seluruh tubuh—bukan keluar sebagai sinar, tapi seperti lapisan tipis yang membungkus kulitnya. Hangat, ringan, seperti selimut energi.
Brock menyerang lagi. Tinju besarnya mengarah ke kepala Raito. Kali ini, Raito tidak menghindar sepenuhnya. Dia angkat lengan untuk menangkis—dan saat tinju Brock bertemu lengan Raito, ada suara pop kecil. Brock terpental mundur, tangannya terasa kesemutan seperti disetrum.
“Apa-apaan ini?!” bentak Brock.
Raito maju. Gerakannya lebih cepat sekarang. Dia pukul perut Brock lagi—kali ini cahaya kecil muncul di tinju, membuat Brock meringkuk kesakitan. Lalu tendangan rendah ke lutut. Brock jatuh berlutut.
Raito berdiri di atasnya, napas tersengal. “Menyerah?”
Brock menggeleng keras, mencoba bangun. Tapi saat dia angkat tinju lagi, Raito maju sekali lagi—pukulan lurus ke dagu. Cahaya kecil meledak di titik benturan. Brock terpelanting ke belakang, mendarat telentang dengan mata terpejam.
Wasit angkat tangan. “Pemenang: Raito!”
Sorak sorai kecil pecah dari tribun. Tidak terlalu ramai—lantai 1 bukan pertarungan besar—tapi cukup untuk membuat Raito merasa… nyata.
Mira naik ke ring, menepuk bahunya keras. “Bagus! Kamu pakai Ten tanpa sadar. Itu pertahanan dasar Nen—membungkus tubuh dengan aura. Dan pukulan tadi… sedikit Enhancement dengan Transmutation. Kamu cepat belajar.”
Raito tersenyum lelah. “Aku cuma… rasanya harus begitu.”
Petugas arena mendekat, menyerahkan kartu kemenangan kecil. “Selamat. Kamu naik ke lantai 2. Hadiah 50.000 jenny. Bisa ambil di konter bawah.”
Raito memandang kartu itu. Uang pertama yang dia dapat di dunia ini dari kekuatannya sendiri.
Mereka turun dari arena. Di koridor, Raito melihat Kael berdiri di kejauhan—bersandar di dinding, memandang pertarungannya tadi. Kael mengangguk kecil, lalu berbalik pergi tanpa kata.
Mira memperhatikan. “Dia mengawasi. Hati-hati. Orang seperti dia nggak suka kalah.”
Raito mengangguk. Dia tidak takut lagi—setidaknya tidak seperti dulu.
Hari itu, dia bertarung tiga kali lagi di lantai 2 dan 3. Menang dua, kalah satu (karena terlalu capek dan aura habis). Tapi setiap kekalahan mengajarkan sesuatu: batas tubuhnya, cara mengatur napas, cara menjaga aura tetap stabil.
Malamnya, kembali ke penginapan, Raito duduk di jendela lagi. Dia latihan Inner Light—kali ini bola cahaya lebih besar, lebih stabil. Mira duduk di seberang, mengawasi.
“Besok kita naik lagi. Lantai 10 mungkin sudah ada yang pakai Nen dasar. Kamu harus siap.”
Raito mengangguk. “Aku siap. Aku nggak mau cuma bertahan lagi. Aku mau… jadi lebih kuat.”
Cahaya di telapak tangannya berpendar pelan, menerangi kamar kecil itu.
Di luar, Yorknew terus berdenyut seperti jantung raksasa yang tak pernah berhenti.
Dan Raito, untuk pertama kalinya, merasa dia mulai menjadi bagian dari denyut itu.