Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Meski adegan penyelamatan itu nyaris seperti drama di pinggir jurang, Niall dan Millie akhirnya berhasil menarik Julio naik dan menjauh dari tebing. Sayangnya luka cakaran itu terus mengeluarkan darah hingga wajah Julio semakin pucat.
Bernard melihat kondisi Julio, keningnya mengerut saat melihat darah yang membasahi tanah berumput. “Tim penyelamat butuh waktu untuk tiba. Kondisinya bisa memburuk kalau dibiarkan.”
“Biar aku saja yang merawatnya.” Suara Alicia terdengar. “Aku membawa peralatan kedokteran darurat selama perjalanan. Setidaknya aku bisa menghentikan pendarahan Pangeran Lio.”
Estevan menatapnya, tidak langsung memberi izin. “Apa kamu punya dasar perawatan darurat?”
“Ya,” jawab Alicia cepat. “Dan saya siap dihukum jika melakukan kesalahan.”
Hening sesaat. Lalu Estevan mengangguk. “Kalau begitu, lakukan yang terbaik.”
Alicia membuka kotak perawatan daruratnya. Ia meminta air, handuk bersih, dan beberapa perlengkapan lain. Gerakannya tidak canggung sama sekali, jelas sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini.
Sementara itu, para pengawal Julio mendirikan tenda darurat agar sang pangeran bisa dirawat dengan keamanan yang lebih terjamin.
Di sisi lain, Beatrice memperhatikan Alicia yang bekerja dengan penuh kehati-hatian. Jari-jemarinya cekatan, menyapu darah, menilai seberapa parah lukanya lalu menyiapkan peralatan untuk menjahit luka. Beatrice sampai tercengang.
“Jadi begini, ya … pertemuan pertama mereka,” gumamnya pelan.
“Bee, tolong pegang ini sebentar.” Alicia menyerahkan peralatan jahit untuk luka ke tangan gadis itu.
“Ah—ya, tentu!” Beatrice buru-buru mengambilnya.
Alicia lalu menatap wajah pucat Julio. Ada kekaguman samar yang tak bisa disembunyikan. “Pangeran, saya akan menaburkan bubuk pereda nyeri sebelum mulai menjahit. Kalau sakit, tolong katakan.”
Dada Julio naik turun keras, menahan nyeri sejak tadi. Namun ia tersenyum tipis. “Rasa sakit dicakar beruang tidak ada apa-apanya sama sekali. Jangan khawatir, Nona Alicia.”
“Kalau begitu, saya mulai.”
Jarum perak tipis itu menembus kulit dengan kecepatan dan ketepatan yang membuat kepala Beatrice langsung kesemutan. Meski sangat cepat, jahitan demi jahitan terbentuk rapi—lebih baik dari perkirakannya.
Tak lama setelah itu, Estevan masuk sambil mengambil baskom air bersih dari pengawal. “Apa yang harus dilakukan selanjutnya?”
“Saya harus membersihkan tanah dan sisa darah di sekitar luka agar tidak terjadi infeksi,” jawab Alicia.
Estevan hendak memanggil seorang kesatria untuk membantu membersihkan tubuh Julio, namun Alicia justru mengambil kain dan melakukannya sendiri tanpa ragu. Ia bekerja fokus, sama sekali tidak memandang ini sebagai sesuatu yang canggung. Merawat yang terluka—pria atau wanita—baginya tidak ada bedanya.
“Apakah ada yang kamu butuhkan lagi?” tanya Estevan.
Alicia menggeleng. “Tidak. Setelah tim penyelamat tiba, Pangeran harus segera dibawa untuk pemeriksaan lanjutan. Saya khawatir jahitan saya tidak sebaik dokter.”
Estevan tidak mengomentari kerendahan hatinya. Ia hanya menatap sebentar, lalu keluar tenda bersama Beatrice yang baru selesai membantu.
Di dalam tenda, Julio yang masih sadar hanya merasakan dada kirinya mati rasa. Tubuhnya lemah dan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan Alicia mengelap darah serta debu yang menempel di kulitnya. Mata keemasannya memandang wajah wanita yang begitu serius, fokus dan sama sekali tidak memiliki kegugupan.
“Namamu Alicia? Dari keluarga mana?” tanyanya pelan.
“Menjawab Putra Mahkota, saya berasal dari keluarga Marquis Vort di wilayah Western.”
“Begitu.” Julio memerhatikannya, cukup penasaran. “Kamu tidak gugup saat merawatku?”
“Tidak.” Jawabannya tegas tanpa ragu. “Saya memperlakukan semua pasien secara setara, terlepas dari status mereka. Jika saya gugup, saya tidak akan bisa merawat siapa pun dengan benar.”
Julio mengangkat alis, terkejut sekaligus terkesan. Jarang ada wanita di ibu kota yang berbicara seterang dan setegas ini. Kebanyakan justru sibuk memoles kata agar terlihat manis di hadapan bangsawan pria.
Sementara dia—putra mahkota Kekaisaran Carlos, salah satu pria yang paling diincar para wanita bangsawan, baru kali ini bertemu seseorang yang tak berusaha menyanjungnya.
Ketika Alicia mengulurkan tangan ke arah rambutnya, Julio refleks menepisnya agak kasar. “Apa yang kamu lakukan?” Nadanya keras tanpa ia sadari.
Alicia terpaku sesaat, lalu menarik tangannya kembali. “Ma-maaf, Pangeran. Ujung rambut Anda terkena darah. Saya hanya berniat mengelapnya.”
Julio terdiam. Baru setelah beberapa detik, ia batuk kecil untuk menutupi kekakuannya. “Lupakan saja. Aku … sangat menyayangi rambutku. Yang itu tidak perlu kamu sentuh.”
“Baiklah,” Alicia menunduk sedikit. Ia tidak memperdebatkan apa pun.
Julio mengembuskan napas pendek. “… Jangan salah paham. Aku tidak marah.”
“Saya tahu,” jawab Alicia lembut.
Satu jam kemudian, tim penyelamat tiba—dokter dan perawat membawa banyak perlengkapan medis. Mereka memeriksa kondisi Julio, lalu memindahkan rombongan kembali ke kamp utama untuk perawatan lanjutan. Meskipun lukanya sudah dijahit bersih, mereka tetap harus berjaga-jaga.
Namun Julio tidak tahan dengan keramaian. Jadi ia mengusir semuanya … kecuali satu, yaitu ia meminta Alicia untuk tetap merawatnya.
Ia lebih percaya pada mata jernih wanita itu ketimbang para perawat yang tampak terlalu bersemangat setiap kali mendekat.
Setelah mengganti balutan luka dan memastikan semuanya bersih, Alicia membereskan peralatannya. “Pangeran, ini sudah larut. Saya akan kembali ke tenda keluarga Vort dan datang lagi besok.”
Julio mengangguk pelan. “Terima kasih atas kerja kerasmu, Nona Alicia.”
Pipi Alicia memerah samar, tetapi ia cepat-cepat menggeleng. “Saya merawat Anda karena tanggung jawab. Itu saja.”
Ia membungkuk singkat lalu keluar dari tenda.
Begitu kepergiannya menghilang di balik kain pintu, Julio menghembuskan napas panjang. Estevan pernah bercerita sedikit tentang wanita itu. Mungkin inilah alasan mengapa dia tidak terlalu menolak untuk merawatnya, kan?
Julio membenarkan posisi tidurnya. Lentera dan lilin di meja kecil dekat ranjang dipadamkan, membuat tenda hanya diterangi cahaya redup dari luar. Setelah kehilangan begitu banyak darah, akhirnya ia bisa memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Namun belum sampai satu jam ia terlelap, suara langkah pelan yang hampir tidak terdengar, diam-diam masuk ke tendanya.
Julio mengernyit dalam keadaan setengah sadar. Demam mulai menyerangnya akibat obat pereda nyeri. Kepalanya berat, napasnya sedikit panas dan saat ia berusaha membuka mata, aroma asing menyusup ke hidungnya. Wangi yang manis dan sama sekali bukan milik obat luka mana pun.
“Pangeran Lio …,” bisik seorang wanita dari sisi ranjang.
Pikiran Julio melayang. Siapa itu?
Suara itu tidak ia kenali. Dan cara wanita itu menyebut namanya benar-benar tidak ada bedanya dengan para wanita yang selalu menggodanya selama ini.
Ia berusaha memaksa tubuhnya bergerak. Tapi efek obat bercampur dengan sesuatu yang lain membuat persendiannya seketika lumpuh. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, sementara panas menyebar dari dada ke perut, menjalar tanpa kendali.
Ia mencoba membuka mata. Seseorang benar-benar menyentuh rambutnya. Belaian yang lembut tapi membuat rasa tidak nyaman ke seluruh tubuh. Julio menggertakkan gigi, setengah sadar akan fakta bahwa seseorang telah naik ke ranjangnya.
Tubuhnya menegang hebat. Yang lebih buruk, sensasi luar biasa menyerang bagian bawah tubuhnya.
Tidak salah lagi. Dia dibius. Dan seseorang sedang mencoba memperkosanya di tengah malam.
Di mana para penjaga?! Apa mereka tidur seperti b*bi sampai tidak mendengar siapa pun masuk?
“Pangeran … apakah Anda merasa tidak nyaman?”
Suara wanita itu terdengar lembut, namun seperti memicu alarm bahaya di kepala Julio