Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. "Rahasia Tanaman Langka"
Bintang mencari-cari Shanaya di seluruh kampus, akhirnya dia menemukan Shanaya di perpustakaan, sedang belajar untuk ujian akhir semester yang akan dilaksanakan sekitar beberapa hari kedepan. Bintang langsung menghampiri Shanaya dan duduk di sebelahnya.
"Shanaya, gue perlu bicara sama loe tentang sesuatu yang penting," ucap Bintang dengan nada yang serius
Shanaya menatap Bintang dengan penasaran, "Apa itu, Bintang?"
Bintang menarik napas dalam, "Gue baru tahu tentang kutukan leluhur gue. Semalem nyokap gue bilang kalo gue harus nikah sama gadis Jathayu yang memiliki tanaman alga dan daun keabadian. Nah gue bingung Shan dimana bisa nemuin gadis yang dimaksud sama nyokap gue itu..." ucapnya pasrah
Shanaya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tanaman alga merah dan daun keabadian? Gue juga gak tahu tentang tanaman alga merah dan daun keabadian itu, Bintang. Gue gak pernah dengar tentang itu sebelumnya..."
Bintang mengangguk, "Gue juga gak tahu banyak tentang itu. Tapi gue yakin bahwa itu ada hubungannya dengan kutukan leluhur gue..."
Shanaya memikirkan sesuatu, "Tapi, Bintang... apa loe ingat tentang mimpiku kemarin?"
Bintang mengangguk, "Mimpi loe tentang ibu loe?"
Shanaya mengangguk, "Iya. Ibu gue bilang sesuatu tentang Black Angel dan White Angel. Apa loe berpikir bahwa itu ada hubungannya dengan kutukan leluhur loe?"
Bintang merasa penasaran, "Gue gak tahu, tapi kita harus cari tahu. Gue akan coba cari informasi lebih lanjut tentang itu..."
Shanaya mengangguk, "Gue juga bakal coba ngebantu loe, Bintang..."
Tiba-tiba saja Thalia datang menyusul Shanaya dan Bintang, dengan wajah yang penasaran.
"Halo guys, ada apa? Gue lihat kalian berdua kelihatan serius banget," ucap Thalia sambil duduk di sebelah mereka
Shanaya dan Bintang saling menatap, lalu Shanaya menjawab, "Kami sedang membahas tentang sesuatu yang aneh, Thalia. Bintang baru tahu tentang kutukan leluhurnya dan dia katanya harus menikah dengan gadis Jathayu yang memiliki tanaman alga merah dan daun keabadian..."
Thalia merasa terkejut, "Apa? Itu kedengarannya seperti cerita fantasi, masa iya ada di dunia nyata? Apa benar, Bintang?"
Bintang mengangguk, "Gue juga gak tahu, tapi gue yakin bahwa itu benar. Gue udah cari informasi tentang itu dan gue berpikir bahwa itu ada hubungannya dengan mimpi loe, Shanaya..."
Thalia memikirkan sesuatu, "Tunggu, gue ingat sesuatu. Gue pernah dengar tentang keluarga Zaneta yang memiliki tanaman langka. Apa kalian berpikir bahwa itu ada hubungannya?"
Shanaya dan Bintang saling menatap, lalu Shanaya menjawab, "Gue gak tahu, tapi kita harus cari tahu. Thalia, loe bisa ngebantu kami cari informasi tentang itu kedua tanaman aneh itu gak?"
Thalia mengangguk dengan antusias, "Bisa dong, dengan senang hati, gue bantu! Gue bakal coba cari informasi tentang keluarga Zaneta dan tanaman langka itu, kita bisa gunain si Ray buat deketin Zaneta supaya buka mulut soal tanaman langka itu..."
Bintang dan Shanaya mengangguk setuju dengan rencana Thalia. "Bagus, Thalia. Gue juga bakal coba cari informasi tentang kutukan leluhur gue dan tanaman alga merah sama daun keabadian," ucap Bintang antusias
Shanaya menambahkan, "Gue bakal coba cari tahu lebih lanjut tentang mimpi gue dan apa hubungannya dengan Black Angel dan White Angel..."
Thalia mengangguk lagi, "Oke, kita harus bekerja sama untuk cari tahu kebenaran di balik semua ini. Gue gak sabar buat ngelihat apa yang bakal kita temuin nantinya..."
Ketiganya duduk sejenak, memikirkan rencana selanjutnya. Kemudian, Thalia bertanya, "Kalian berpikir Zaneta tahu sesuatu tentang ini? Gue lihat dia selalu terlihat misterius belakangan ini..."
Bintang dan Shanaya saling menatap, lalu Bintang menjawab, "Gue gak tahu, tapi kita harus berhati-hati. Gue gak mau Zaneta tahu apa yang kita cari..."
Shanaya mengangguk setuju, "Gue setuju. Gue bakal coba cari tahu lebih lanjut tentang Zaneta dan apa yang dia sembunyikan..."
Bintang, Shanaya, dan Thalia terus membahas rencana mereka untuk mencari tahu kebenaran di balik kutukan leluhur dan tanaman alga merah dan daun keabadian. Mereka sepakat untuk berhati-hati dan tidak membiarkan Zaneta tahu apa yang mereka cari.
Tiba-tiba, Zaneta muncul di depan mereka, dengan senyum misterius di wajahnya.
"Halo guys, apa yang kalian bahas kali ini? Kayaknya seru banget ya..." tanya Zaneta dengan nada yang santai tapi senyuman sinis
Bintang, Shanaya, dan Thalia saling menatap, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Mereka tidak ingin Zaneta tahu apa yang mereka cari, tapi mereka juga tidak ingin membuatnya curiga.
Bintang, Shanaya, dan Thalia langsung menjadi waspada ketika Zaneta muncul. Shanaya menjawab dengan nada dingin, "Gak ada apa-apa, Zaneta. Kita cuma ngebahas pelajaran yang telah berlalu..."
Zaneta tersenyum lagi, tapi kali ini terlihat lebih menantang.
"Pelajaran? Hmm, gue percaya. Kalian pasti ngebahas sesuatu yang rahasia, ya kan ngaku aja..."
Thalia menaikkan alis, "Loe apa gak ada urusan lain, Zaneta? Kita gak pernah ganggu loe, jadi jangan ganggu kita..."
Zaneta tertawa kecil, "Oh, gue pengen tahu aja. Tapi kalau kalian gak mau bilang, Gue gak akan maksa untuk sekarang..."
Zaneta melirik Bintang, "Tapi, Bintang, bicara tentang sesuatu. Bisa kita bicara sebentar?"
Bintang merasa tidak nyaman, tapi dia tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan Zaneta.
"Apa yang mau loe jelasi(, Zaneta?" tanyanya ketus
Zaneta melangkah lebih dekat ke Bintang, suaranya menjadi lebih rendah.
"Gue tahu loe lagi cari sesuatu, Bintang. Gue bisa bantu loe...kalo loe mau..."
Shanaya dan Thalia langsung waspada, siap untuk campur tangan jika perlu.
"Apa yang loe maksud, Zaneta?" tanya Shanaya dengan nada tajam
Zaneta tersenyum, "Gue tahu tentang kutukan leluhur loe, Bintang. Gue bisa bantu loe memecahin masalah loe...tapi dengan satu syarat..." ucapnya tampak mengintimidasi
Bintang merasa penasaran, "Syarat apa?"
Bintang menatap Zaneta dengan intens, "Syarat apa, Zaneta? Jangan main-main, gue gak punya waktu untuk itu..."
Zaneta tersenyum lagi, "Gue mau loe gabung sama kita, Bintang. Kita bisa bantu loe mecahin kutukan itu, tapi loe harus jadi bagian dari kami..."
Shanaya dan Thalia langsung protes, "Gak mungkin, Bintang! Jangan percaya sama dia!"
Bintang menggeleng, "Gak mungkin, Zaneta. Gue gak akan bergabung dengan kalian. Gue bakal cari cara lain buat mecahin kutukan ini..."
Zaneta tersenyum menantang, "Loe gak akan bisa ngelakuinnya tanpa bantuan gue, Bintang. Tapi ok lah, kalau loe mau bermain keras... gue bakal nunggu..."
Zaneta berbalik dan pergi, meninggalkan Bintang, Shanaya, dan Thalia yang masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
Bintang menarik napas dalam, "Gue gak percaya dia. Zaneta emang gak ada niat baiknya dari dulu..."
Shanaya mengangguk setuju, "Iya, kita harus berhati-hati. Zaneta pasti punya rencana lain..."
Thalia menambahkan, "Kita harus cari informasi lebih banyak tentang kutukan itu dan apa yang Zaneta mau. Gak bisa kita biarkan dia main ngancam Bintang kayak gitu..."
Bintang menggulung tangannya, "Gue siap, kita cari tahu apa yang Zaneta sembunyiin..."
Bintang, Shanaya, dan Thalia masih berdiri di tempat, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi dengan Zaneta. Tiba-tiba, Ray, Joe, Felix, dan Nathaniel datang menghampiri mereka.
"Hey, ada apa? Kami lihat kalian bertiga kelihatan serius banget," ucap Ray dengan nada penasaran
Bintang mengangguk, "Zaneta baru aja bilang kalau dia bisa bantu aku memecahkan kutukan leluhur, tapi dengan syarat gue harus gabung dengan mereka..."
Joe langsung menggelung, "Gak mungkin, Bintang! Loe gak bisa percaya gitu aja sama dia..."
Felix menambahkan, "Iya, kita harus cari cara lain. Kita gak perlu bantuan Zaneta..."
Nathaniel yang biasanya tenang, kali ini terdengar serius, "Gue setuju sama Felix. Kita harus hati-hati, Bintang. Zaneta gak akan bantu kita tanpa ada maunya..."
Shanaya mengangguk, "Kita harus cari informasi lebih banyak tentang kutukan itu dan apa yang Zaneta mau. Gak bisa kita biarin dia mengancam Bintang kayak gitu..."
Geng Garuda pun saling berdiskusi mengenai kutukan leluhur Bintang dan juga kedua tanaman langka itu dan juga gadis keturunan Jathayu yang diceritakan oleh bu Sashmita.
Bersambooo....