💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Triple Alatas dan Nugroho itu terdiam, bagaikan patung yang membeku di tengah ruang keluarga yang megah. Hukuman itu menggantung di udara, terasa berat dan tak terhindarkan. Kebahagian yang baru saja mereka rasakan, digantikan oleh penerimaan yang pahit. Cia, hampir saja menitikkan air mata buaya, siap memohon ampun dengan segala daya tariknya. Vano, sang sulung yang tenang, menyembunyikan kekesalannya di balik ekspresi datar. Sementara Varo, sang penghibur, mencoba mencairkan suasana dengan senyum yang terasa hambar.
"Ya sudahlah ..." desah Cia, suaranya nyaris tak terdengar. "Kita terima saja nasib anak kosan." Ia membayangkan hari-harinya tanpa bisa menyetok koleksi Action figure-nya lagi.
Vano menghela napas panjang, menyetujui dengan nada pasrah. "Iya. Semoga kita bisa bertahan hidup tanpa itu semua itu," gumamnya, pasrah.
Varo menyeringai, mencoba menyuntikkan semangat ke dalam suasana yang suram. "Anggap saja ini detoksifikasi dari kemewahan! Kita akan belajar menghargai hal-hal kecil dalam hidup. Seperti ... udara segar dan sinar matahari!"
Ratu dan Nathan, yang mengawasi drama kecil itu dengan seksama, saling bertukar pandang. Mereka melihat secercah penyesalan di mata anak-anak mereka, meski tersembunyi di balik rasa kesalnya. Mereka berharap dengan ini mereka bisa lebih disiplin dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
"Bagus," ujar Ratu, suaranya kini melembut. "Mama dan Papa senang kalian mengerti. Sekarang, istirahatlah. Ingat, ini pelajaran berharga."
Dengan langkah berat, trio Alatas itu meninggalkan ruang keluarga, pikiran mereka dipenuhi dengan rencana-rencana darurat untuk bertahan hidup di tengah krisis finansial yang mendadak.
Mereka memang merindukan menjadi remaja biasa dengan menyembunyikan identitasnya. tapi tidak dengan keterbatasan finansial, apalagi mereka harus bertahan dalam sebulan dengan potongan uang jajan dan tanpa kartu kredit yang biasanya menemani hari-harinya.
Terlahir menjadi pewaris dari dua nama keluarga terpandang sekaligus, tentu tidak pernah merasakan yang namanya kesusahan, semua keinginan mereka terpenuhi.
Cia mulai memikirkan menjual beberapa barang branded-nya, Vano menghitung sisa tabungannya, dan Varo mencari ide-ide kreatif untuk menghasilkan uang tambahan.
________&&_______
Di saat Cia dan dua saudara kemabarnya sedang merenungkan nasib mereka selama sebulan ke depan, tanpa uang jajan dan kartu kredit.
Sementara itu, di kamarnya yang mewah, Aksa sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Bayangan Ratu dan Cia, atau lebih tepatnya, entitas misterius yang terbagi dalam dua sosok, menghantuinya. Ia berusaha mengusir mereka, namun semakin ia mencoba, semakin kuat daya pikat mereka.
"Ck! Apa ini?" gerutunya sambil memijat pelipisnya. "Kenapa aku jadi seperti orang bodoh yang terobsesi pada dua gadis sekaligus?"
Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan labirin yang rumit, dan hanya Ratu dan Cia yang memegang kunci untuk keluar. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Biasanya, ia selalu bisa mengendalikan emosinya dan fokus pada tujuannya. Tapi kali ini, ia merasa kehilangan kendali.
Akhirnya, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya, membiarkan angin malam membelai wajahnya yang tampan. Ia menatap jauh pemandangan malam di hadapannya, dengan kemerlap lampu kelap-kelip menghiasi malam. Cahaya rembulan dan bintang menyinari wajahnya dari atas sana. Namun, keindahan malam itu tidak mampu meredakan gejolak di hatinya.
"Argh!" Aksa menggeram frustrasi. "Aku harus tahu siapa mereka. Apa yang mereka sembunyikan?" Ia mengepalkan tangannya erat-erat, merasa tekadnya semakin membara. Ia tidak akan menyerah sampai ia mengungkap misteri ini.
________&&_________
Pagi menyingsing dengan kejam, memaksakan Cia, Vano, dan Varo bangun satu jam lebih awal dari biasanya. Mereka harus menukar mimpi indah dengan kenyataan pahit, membersihkan halaman belakang mansion yang luas sebelum kesekolah.
"Ini benar-benar siksaan!" keluh Cia, suaranya serak karena baru bangun tidur. Ia membayangkan harus menyapu halaman yang luas selama seminggu, hal yang tak pernah ia sentuh sebelumnya.
Vano menghela napas, mencoba bersikap pragmatis. "Mau bagaimana lagi? Kita harus menyelesaikan ini secepat mungkin," ujarnya, sambil melirik jam tangannya, mereka tak punya banyak waktu untuk mengeluh.
Varo menyeringai, mencoba menyuntikkan semangat ke dalam suasana yang suram. "Jangan khawatir, kita akan mengubah ini menjadi pesta! Musik, dansa, dan membersihkan halaman! Siapa tahu kita bisa menemukan harta karun tersembunyi di sana!"
Namun, ketika mereka melihat halaman belakang yang luas dan berantakan, semangat mereka langsung merosot drastis. Daun-daun kering berserak memenuhi halaman, sampah berserakan di mana-mana, dan rumput liar tumbuh tak terkendali.
"Sejak kapan taman belakang jadi sekotor ini, perasaan biasanya selalu bersih dan rapi!" heran Varo merasa ada yang janggal.
"Ini ... tidak mungkin selesai dalam sehari," keluh Cia, nyaris putus asa. Ia membayangkan dirinya terkurung di halaman belakang selama berhari-hari, menjadi budak kebersihan yang malang.
Vano menghela napas, mencoba mengatur strategi. "Kita harus membagi tugas. Cia, kamu menyapu daun-daun. Varo, kamu memungut sampah. Aku akan mencabuti rumput liar." Ia berharap pembagian tugas ini akan membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan efisien.
Mereka mulai bekerja dalam diam, hanya suara sapu dan gemerisik dedaunan yang menemani. Keringat mulai membasahi wajah mereka, membuat pakaian mereka terasa lengket dan tidak nyaman. Otot-otot mereka mulai terasa sakit dan kaku, dan tangan mereka mulai lecet karena gesekan alat-alat kebersihan.
"Gue tidak tahan lagi," keluh Cia setelah beberapa menit menyapu, sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang memerah. "Tangan gue sudah mau copot."
Vano berhenti sejenak dan menatap Cia dengan prihatin. "Istirahatlah sebentar. Gue akan bantu lo nyapu," ujarnya, mengambil alih sapunya.
Varo menyeringai, mencoba menghibur Cia dengan cara yang unik. "Jangan khawatir, Cia. Gue akan menyanyikan lagu untuk menyemangati lo!" Ia mulai bernyanyi dengan suara keras dan sumbang, membawakan lagu-lagu pop yang sedang hits dengan lirik yang diubah menjadi tentang membersihkan halaman.
Cia tertawa terbahak-bahak mendengar suara Varo yang fals dan liriknya yang konyol. Meskipun ia merasa lelah dan kesal, ia tidak bisa menahan tawanya. Ia merasa bersyukur memiliki saudara seperti Varo, yang selalu bisa membuatnya tertawa dalam situasi apa pun.
Dengan dukungan dari kedua saudaranya, Cia kembali bekerja dengan semangat baru. Mereka saling membantu, menyemangati, dan bahkan saling meledek, mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi sedikit lebih menyenangkan ala triple Alatas dan Nugroho.
Vano membantunya menyapu daun-daun yang sulit dijangkau, Varo memungut sampah-sampah yang menjijikkan, dan Cia menghibur mereka dengan cerita-cerita lucu dan celotehan abstudnya.
Akhirnya, setelah bekerja keras, halaman belakang itu bersih dan rapi. Ketiga saudara itu terhuyung kelelahan, dan tubuh mereka terasa pegal semua. Namun, mereka juga merasa bangga dengan pencapaian mereka. Mereka telah membuktikan kepada diri mereka sendiri bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang sulit jika mereka bersatu dan bekerja keras.
"Kita berhasil!" seru Varo, merangkul kedua saudaranya dengan erat. "Kita adalah tim yang tak terkalahkan!"
Cia tersenyum lebar, merasa bangga dengan diri mereka sendiri. "Kita memang tim yang hebat," ujarnya, sambil mengacungkan jempolnya.
Vano mengangguk setuju, merasa terharu dengan kekompakan dan solidaritas yang telah mereka tunjukkan hari ini. "Ini bukti bahwa kita bisa melakukan apa saja jika kita bersatu," ujarnya, dengan nada bijak.
Dengan langkah gontai, mereka kembali ke dalam mansion, merasa lapar, lelah, tetapi juga puas. Mereka telah belajar sesuatu yang berharga hari itu, kerja keras, kerjasama, nilai sebuah tanggung jawab, dan betapa pentingnya memiliki saudara yang saling mendukung.
Bersambung ...
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,