NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Kayla

Alana turun dari taksi. Wajahnya datar, dingin, tak sedikit pun menampakkan emosi. Punggungnya tegak, langkahnya stabil dan mantap. Elegan seperti biasa.

Alana berjalan menuju sebuah rumah di tepi jalan. Dari tempatnya, Alana melihat sebuah motor baru saja keluar dari gerbang rumah itu. Wajah pengendaranya tertutup helm fullface.

Alana membuka gerbang tanpa bicara dan masuk ke halaman.

Kayla yang sedang berdiri di teras rumah terlihat terkejut ketika melihat kedatangan Alana, tapi ekspresinya cepat berubah menjadi cerah.

“Hai, Na,” sapanya ceria. 

Alana tidak membalas. Dia hanya berjalan mendekat dengan tatapan yang tidak berubah.

Begitu berhenti tepat di depan Kayla, Alana menoleh sedikit ke arah gerbang. “Tadi siapa?” tanyanya dingin.

Kayla berkedip, lalu tersenyum biasa saja. “Sepupu gue,” jawabnya. 

“Lo kesini… ada apa?” tanya Kayla, mulai bingung.

“Main,” jawab Alana singkat.

Kayla mengangguk, meskipun jelas merasa aneh. Alana jarang, atau hampir tidak pernah, datang ke rumahnya tanpa alasan.

Kayla mengajak Alana masuk ke dalam. Mereka menuju kamar Kayla. Sementara Kayla pergi ke dapur mengambilkan minuman, Alana berdiri di tengah kamar, pandangannya perlahan menyapu seluruh ruangan.

“Minum dulu, Na.” Kayla kembali dengan segelas es teh.

Alana menerimanya tanpa senyum. Dia duduk di tepi kasur dengan gerakan tenang, menyilangkan kakinya.

Alana menatap es teh di tangannya cukup lama.

“Kenapa?” tanya Kayla.

Alana menggeleng pelan. 

“Bokap lo gimana keadaannya?” tanya Alana pelan, namun dingin. 

“Udah lebih baik.”

Kayla melirik es teh di tangan Alana yang sama sekali tidak Alana minum.

Alana mengangguk sekali. Lalu dia meletakkan gelas es teh ke meja kecil di samping kasur. Jemarinya mengetuk sisi gelas, iramanya pelan.

“Lo pasti tahu apa yang terjadi sama gue,” ucap Alana. 

Kayla diam sejenak sebelum berkata dengan pelan, “gue tahu, Na. Gue… turut prihatin. Sorry gue belum sempet datengin lo, gue… kemarin gue sakit.”

Alana mengangkat wajah, menatap Kayla dengan tenang. Wajah Kayla bersih dan segar, tidak tampak seperti orang yang baru sakit.

Alana tersenyum tipis, sinis. “Lo prihatin sama gue?”

Kayla mengangguk.

Senyum Alana melebar sedikit, semakin sinis. Tatapannya berubah tajam. “Udah cukup basa basinya.” 

Suaranya merendah, datar tapi tajam. “Kenapa lo lakuin itu?”

Kayla terdiam. Jantungnya berdetak cepat. “Lakuin… lakuin apa?”

“Kayla.” Nama itu keluar perlahan, seperti peringatan halus tapi mematikan. “Gue tahu lo nggak sebodoh itu.”

Alana berdiri. Tubuhnya tegap, bahunya lurus. Tangannya terlipat di depan dada saat dia berjalan pelan menyusuri kamar Kayla, setiap langkahnya stabil.

Dia berhenti di meja belajar, menyentuh bingkai foto Kayla bersama boneka salju. Jemarinya menelusuri permukaannya perlahan. “Lo nggak mungkin bisa lihat winter, tanpa gue.” 

Alana bergerak lagi, membuka lemari pakaian Kayla, meneliti baju-baju mahal yang digantung di dalamnya. 

“Baju-baju ini… sebagian besar gue yang beli buat lo.” 

Alana menatap Kayla lagi, tatapannya turun ke badan Kayla Alana mendesis halus. “Bahkan baju yang lo pakai sekarang, itu dari gue.”

Alana menutup pintu lemari itu perlahan, tanpa suara. Tangannya kembali bersilang, posturnya sempurna. Tatapannya yang tajam mengintimidasi Kayla.

“Make up, skincare, ponsel, laptop, bahkan makan siang dan liburan lo, itu semua gue yang bayarin.”

Alana menarik napas, tatapannya tidak pernah lepas dari Kayla. “Lo bilang kondisi bokap lo udah mendingan. Lo lupa siapa yang bayarin biaya operasi bokap lo yang ratusan juta itu?” 

Alana tertawa kecil. Pendek, dingin, dan sinis.

Dia diam sejenak. Senyumnya hilang seketika. Alana melangkah mendekati Kayla yang masih duduk di tepi ranjang, berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun selain ketajaman.

“Harusnya lo sadar diri,” ucap Alana lembut tapi penuh penekanan.

“Hidup lo yang nyaman sekarang… nggak akan pernah ada tanpa gue.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat, seakan sengaja diarahkan tepat ke dada Kayla.

Kayla mendongak, tatapannya membara. Kedua tangannya terkepal keras di samping tubuh.

Alana memiringkan sedikit kepalanya, sinis. “Kenapa? Lo nggak terima sama fakta itu?”

Kayla tidak menjawab. Hanya napasnya yang terdengar lebih berat. Dadanya bergerak naik turun tidak stabil.

“Lo pikir gue nggak akan tahu?” 

Suaranya turun satu oktaf, datar namun tajam. “Gue inget, Kay. Gue inget semuanya.”

Alana berhenti tepat di depannya. “Lo campurin apa ke wine gue sebelum midnight ceremony?”

Kayla menelan ludah. Rahangnya mengeras.

Alana masih menatapnya tanpa kedip. “Satu lagi. Suara yang diputar di Awarding Night, itu ucapan gue ke lo. Cuma lo yang tahu soal itu.”

Kayla menggertakkan giginya. Kayla mengepal tangan lebih keras. Lalu, perlahan, dia bangkit dari tepi ranjang. Wajahnya merah, marah, dan panik yang coba ia tekan bersamaan.

“Iya! Itu emang gue!” teriak Kayla.

Alana tersenyum kecil. Dia memang menunggu pengakuan itu keluar dari mulut Kayla sendiri.

Alana tidak berkedip. Tatapannya tidak berubah sedikitpun.

Kayla mendekat. Mata Kayla menatap Alana nyalang, menyimpan kemarahan yang sudah lama dipendam.

“Sekarang lo ngerasa paling benar karena udah kasih semua itu?!” seru Kayla marah. “Nggak usah munafik, Na!”

Kayla menunjuk dada Alana, lalu dirinya sendiri, gerakannya gemetar. “Buat apa lo bawa gue liburan dan belanja? Biar gue bisa bawain semua barang-barang lo!” 

Napas Kayla semakin berat, tubuhnya sedikit mencondong ke depan. “Buat apa lo bawa gue setiap lo pergi?! Biar ada yang ambilin setiap barang lo yang jatuh ke lantai! Biar tangan gue yang kotor buat lakuin perbuatan buruk lo. Gue bisa jadi pembantu lo! Biar lo bisa selalu kelihatan bersinar di depan gue! Iya, kan?!”

Napas Kayla memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Matanya menatap Alana nyalang, seakan siap untuk menerjang Alana.

Alana mendengus pelan. “Gue bayar lo mahal buat lo lakuin hal sekecil itu.”

Kayla tersenyum getir, pahit.

“Dari awal lo emang nggak pernah anggap gue temen lo, Na!”

Alana memiringkan sedikit kepalanya, menertawakan cara pikir Kayla. Alana melangkah pelan. Jemarinya menyentuh rak buku Kayla dengan santai. 

“Padahal lo cuma perlu tetep diem di belakang gue, dan hidup lo akan nyaman tercukupi. Tapi lo malah milih sakit hati dan mempertanyakan hal remeh seperti… temen?” tanyanya seolah mengejek. 

Alana mendekati Kayla lagi, tersenyum tipis. “Temen itu sebuah hubungan yang saling menguntungkan, Kayla. Tapi sekarang, gue ngerasa sangat dirugikan.”

Kayla menggertakkan gigi. “Lo emang nggak punya hati, Na.”

Alana tertawa pendek yang terdengar lebih seperti ejekan. “Nggak usah ngomongin soal hati. Itu sama sekali nggak penting.”

Tawanya mereda. Senyumnya hilang. Suaranya kian merendah semakin tajam. “Dan kalau soal hati…” 

Alana mengangkat tangan. Jemarinya menyentuh rambut Kayla, mengusapnya perlahan. Tapi sentuhan itu mampu membuat seluruh tubuh Kayla menegang. 

“Siapa yang lebih nggak punya hati?”

Tangan Alana mencengkram kedua pipi Kayla. Kepala Kayla dipaksa mendongak, wajahnya terkunci di antara jari-jari Alana.

Tatapan Alana menusuk lurus ke mata Kayla. “Gue atau lo?”

Alana menghempaskan wajah Kayla ke samping. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat kepala Kayla terpaksa mengikuti arah dorongannya. Kayla terhuyung kecil, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.

Alana memalingkan wajah. Dia mengatur emosinya yang mulai tersulut. Baru setelah beberapa saat, Alana kembali menatap Kayla. 

Tatapannya berbeda. Lebih dingin. Lebih jernih. Lebih berbahaya.

“Camkan ini baik-baik.” 

Alana melangkah satu langkah mendekat. Kayla otomatis mundur setengah langkah, tubuhnya menempel ke dinding. “Hidup lo akan menderita… jauh lebih menderita daripada saat lo belum ketemu gue.”

Alana menundukkan kepala sedikit, tatapannya tepat mengunci mata Kayla. “Karena lo udah berani melewati batas terlalu jauh.”

Alana menatap Kayla cukup lama. Matanya yang dingin seolah ingin mengukir segala rasa kecewa dan kemarahan ke dalam ingatan Kayla. 

Tanpa sepatah kata lagi, Alana memalingkan wajah. Dia berbalik badan, langkahnya menuju pintu kamar, namun tiba-tiba terhenti. Tatapannya terpaku pada gelas es teh yang masih berdiri di atas nakas, tetesan air dingin perlahan menetes di sisi gelas.

“Lo nggak perlu kasih gue minuman lagi,” ucap Alana dengan suara rendah.

Alana berjalan keluar. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam penuh amarah. Dia berjalan cepat keluar dari rumah itu. 

Begitu sampai di halaman depan, pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir rapi di depan rumah Kayla. Dari mobil itu, tiga pria berbadan besar turun dengan langkah mantap. Mata mereka langsung tertuju pada Alana, kemudian sedikit menunduk, menunjukkan hormat. 

Alana melirik ke belakang sebentar, lalu melangkah lagi tanpa ragu melewati tiga orang itu.

Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah Kayla.

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!