NovelToon NovelToon
Menantu Ibu

Menantu Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Kontrak kerja Tya di pabrik garmen akan segera berakhir. Di tengah kalut karna pemasukan tak boleh surut, ia mendapat penawaran jalur pintas dari temannya sesama pegawai. Di hari yang sama pula, Tya bertemu seorang wanita paruh baya yang tampak depresi, seperti akan bunuh diri. Ia lakukan pendekatan hingga berhasil diajak bicara dan saling berkenalan. Siapa sangka itu menjadi awal pilihan perubahan nasib. Di hari yang sama mendapat dua tawaran di luar kewarasan yang menguji iman.
"Tya, maukah kau jadi mantu Ibu?" tanya Ibu Suri membuyarkan lamunan Tya.
"HAH?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Serba Terpisah

Diaz mendecak kesal sambil berkacak pinggang karena Tya lelet datang. Tetapi kemudian matanya yang termasuk kategori sipit semakin menyipit melihat perempuan yang ditunggunya melangkah ragu dan berhenti di ambang pintu yang terbuka lebar dengan sikap yang aneh. "Ngapain matanya pakai ditutup segala?"

Tya segera memutar badan ke arah luar. Pikirnya agar mudah lari jika situasi berbahaya. "Aku nggak mau lihat adegan dewasa. Mas Diaz kelupaan handuk dan minta diambilin kan? Aku nggak bisa. Nggak tahu nyimpennya di mana. Mas Diaz belum ngajak room tour. Untuk sekarang ambil sendiri dulu ya, Bos. Pakai celana dulu kan bisa. Nanti nyuruhnya kalau aku udah tahu letak-letak barangnya."

Diaz melipat bibir karena tiba-tiba ingin tersenyum geli. Pada siapapun ia suka terang-terangan menunjukkan kekesalan jika tidak sigap memenuhi permintaannya. Tapi kali ini tingkah polos Tya memupus salah satu sifat bossy-nya itu.

"Tya, meskipun niat kita kawin-kawinan, tapi secara agama dan negara kita kawin beneran. Jadi kau bebas lihat diriku luar dalam." Diaz menyeringai sambil berjalan mendekati Tya yang membelakanginya. Sengaja menjahili.

"Oh tidak. Aku yang nggak mau. Interaksi kita yang normal-normal aja, Mas. Aku aja akan tetap pakai jilbab di hadapan Mas Diaz."

"Terserah kau. Sekarang buka mata! Kau pikir aku lagi mandi apa. Ini bukan kamar mandi." Diaz memutar bahu Tya sehingga berhadapan. "Buka mata atau aku cium nih. Satu...dua..."

Tya segera menurunkan tangan kanan yang dipakai untuk menutup mata. Mata dibuka perlahan karena takut melihat penampakan sesuai pikiran kotornya. Lega. Ternyata Diaz masih berpakaian lengkap. "Heee...maaf. Kirain ini kamar mandi."

Diaz geleng-geleng kepala. "Ikutin aku!"

"Oke, boss." Tya mengekori langkah Diaz sambil menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan yang sama luasnya dengan kamar tidur.

Inikah yang namanya walk in closet kayak di novel-novel CEO yang aku baca. Ini sih dua ruangan total seukuran rumahku. Huhu...

"Ini lemari bajumu. Kata Ibu isinya udah lengkap semua. Cek aja. Itu lemari kau juga. Isinya tas, sepatu, sama aksesoris dan parfum di lacinya. Selain dua lemari yang aku sebutkan ini, kau nggak boleh buka-buka lemari lain. Karna itu isinya barang-barangku semua. Paham?"

Tya mengangguk. "Siap paham."

"Ayo kita ke kamar mandi!"

"Eh eh. Pelanggaran, Mas." Tya mundur dua langkah sambil menyilangkan kedua tangan di dada.

"Kau mikir apa sih. Aku mau tunjukkan peralatan mandi. Peralatan mandi cowok dan cewek beda. Jangan sampai kau salah pakai punyaku."

"Oh...tadi tuh bilang yang jelas dong." Tya meringis. Segera mengikuti langkah Diaz menuju pintu yang dekat dengan lemari kaca yang isinya beberapa tas dan sepatu wanita.

Saat pintu dibuka, merupakan lorong yang terdapat wastafel untuk cuci muka dan gosok gigi. Tya mendengarkan penjelasan Diaz dengan seksama yang menunjukkan letak perlengkapan mandi. Kemudian masuk ke kamar mandi yang lantainya bersih dan kering sambil menunjukkan perbedaan sabun agar jangan sampai salah pakai.

"Kau juga boleh pakai bathtub. Asal bekas pakainya kembali bersih. Ada yang mau ditanyakan nggak?"

"Ada, Mas. Tapi mau tanyanya di luar nggak mau di sini. Urusan kamar mandi udah beres kan ya?"

"Belum. Aku mau pipis." Diaz menyentuh kancing celana.

"Eits, jangan dulu buka celana. Tunggu aku keluar dulu." Tya lari terbirit-birit keluar dari kamar mandi.

Diaz tertawa kecil. Seru juga ngerjain dia.

***

Diaz menghampiri Tya yang duduk di sofa panjang yang ada di walk in closet. Duduk di ujung kiri dan menatap Tya yang sudah lebih dulu menatapnya.

"Mas Diaz, kenapa peralatan untukku mesti ada lengkap di kamar Mas Diaz ini. Bukankah aku mau dikasih kamar khusus dimana pas Pak Hilman giliran mengunjungi istri kedua, aku bisa pindah."

"Di rumah ini ada tiga pembantu sesuai tugasnya masing-masing. Ibu bilang, kalau kita nggak sekamar, pembantu bisa curiga dan ngegosip. Ibu khawatir ada pembantu yang laporin ke keluarga durjana. Bisa berantakan rencana kita. Terpaksa kita harus tinggal sekamar. Tapi jangan khawatir, aku sering ke luar kota. Nggak akan tiap malam tidur sekamar."

"Masuk akal," gumam Tya yang hanya bisa didengar sendiri. "Tapi aku nggak mau tidur satu ranjang, Mas. Aku di sofa ini aja, pengen beda ruangan."

Diaz diam dengan kening mengkerut dalam. Tengah menimbang-nimbang.

"Khusus kamar ini biar aku yang bersihkan. Jangan ada ART yang masuk. Alasannya udah nikah pengen lebih privasi. Bisa kan, Mas?"

"Oke. Ini sofa bed. Kalau kurang lebar tinggal direbahkan." Diaz menepuk-nepuk sofa berwarna abu tua. Terkadang saat jenuh datang, ia suka merebahkan badan di sofa yang empuk itu hingga terlelap. Jadi tidak buruk jika akan dipakai tempat tidur Tya.

"Tapi jangan kaget kalau aku ke sini malam-malam karna pengen ke kamar mandi. Jadi jangan dikunci."

"Ya....asal jangan macam-macam aja, Mas."

"Sudah kubilang aku tahu batasan. Aku mau tiduran." Diaz bangkit dari duduknya bersiap meninggalkan Tya seorang diri.

"Mas Diaz, satu pertanyaan lagi."

"Apa lagi?"

"Arah kiblat mana? Kalau di tempat baru suka bingung aku." Tya tersenyum miring.

"Ke sana." Diaz menunjukkan arah. "Mau tanya apa lagi? Aku dah ngantuk semalam kurang tidur."

"Sementara cukup dulu. Silakan keluar!" Tya mengarahkan tangannya ke arah pintu.

"Heh. Enak aja ngusir." Diaz mendelik tapi kemudian pergi dengan membiarkan pintu tetap terbuka.

Tya buru-buru menutupkan pintu. Yang dilakukannya kemudian membuka lemari dua pintu berukuran lebar yang katanya berisi seluruh pakaian lengkap untuknya. Terpana. Satu kata yang mewakili ekspresi saat ini. Pintu kiri isinya tumpukan pakaian terlipat rapi berikut pakaian dalam. Pintu sebelah kanan isinya pakaian yang digantung berikut koleksi jilbab serta perlengkapan salat.

"Duh, Bu Suri benar-benar menyiapkan segala sesuatu totalitas. Aku nggak boleh mengecewakannya." Gumam Tya yang kemudian mengeluarkan mahar dari dalam tasnya. "Pantesan ngasih mahar logam mulia 45 gram, lah punya tambang emas sendiri."

Usai satu jam melalui siang menjelang sore dengan rebahan santai di ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya, Tya membuka pintu dan mengintip mencari keberadaan Diaz. Tampak pria yang jadi suaminya itu dalam posisi terlentang di ranjang dengan mata terpejam.

Kayaknya aman kalau aku mandi sekarang.

Tya bergegas mengambil baju ganti dari dalam lemari. Masuk ke kamar mandi dengan tak lupa mengunci pintu. Kesegaran terasa meski mandinya dengan cepat. Usai mandi yang diakhiri dengan berwudhu, ia memakai pakaian baru berupa gamis rumahan warna krem dengan motif floral bunga mawar warna pink. Waktunya menggelar sajadah untuk melaksanakan salat Ashar.

"Astaghfirullah, set...eh ups." Tya membekap bibirnya dengan telapak tangan. sungguh-sungguh terkejut saat melipat sajadah sambil berputar ke belakang. Ada Diaz tengah berjongkok.

"Mas, sejak kapan ada di belakang aku?"

1
Anin Zaida
alon alon pasti kelakon ya maz kudizzzz 😄😄😄😄😄
icha
pokoknya semua karya author me Nia, GK ada yg gagal semua AQ suka🫰
Anin Zaida
heeeehhh udh molai remes gemezzzz🤣
Anin Zaida
si omes jadi bejo kan maass😄🤭
far~Hidayu❤️😘🇵🇸
Alhamdulillah baca setelah selesai solat Isyak dan terawih
Isfan Isfan
sbenarnya tya jg sama"mau cm masih ragu dm diaz takutnya klo udah dserahkan semua lahir batinnya diaz kayak ayah hilman,
tp kayaknya sih diaz kayak ibu suri setia & baik hati
Tasmiyati Yati
sebenarnya Diaz sdh gak tahan tapi menghargai Tya yg belum siap
Afifah Sukino
baca 3x kok g bosen2
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
keknya gak bisa nunggu seminggu lagi deh langsung gaspol malam ini
gulali
waduh...mmg lelaki itu pinter bgtt ya ngerayu nya
smga Tya kuat imannya,kalo gak kuat gpp kok dah halal jg🤭🤭
bsk kalo ibu dalang sdah plag dri umroh,psti sneg bgtt liat Diaz&Tya makin lgket😍😍
Deshanita S
ayo tia ibadah itu fahala nya besar buat istri jalanin aja kaya air mengalir
Ulin Nuhaha
lanjut lanjut👏👏😄🤗🤣
Ulin Nuhaha
tahan......sebentar lagi bisa buka puasa🤗😝
Ulin Nuhaha
ehem ehem Perempuanku yg kucinta dan ku sayang melting g tuh tya🤗
Cici moci
uwahhhhhhhh,,, salah waktu baca dech,,a kan AQ ngebayangin nya gimana gitu ini.... mana lagi puasa.🤭🤭🤭
Nur aprilia adiah
ah ya ampun baru pemanasan aja udah bikin dah Dig dug seeerr tth .. apakah yg akan terjadi sama mereka akan kah mereka Bisa menahan rasa kejolak yang ada hihi Tya tubuh mu aja udah menimbulkan kan reaksi tuh saat Diaz memeluk mu..aaahh tth kamu mah suka di gantung bisa ae bikin kami semua penasaran deh
Nur aprilia adiah
Tya tubuh mu udan pasrah di sentuh ayang ..tapi hati mu masih ragu sama Diaz ya tya
Nur aprilia adiah
modus mu bang...bisa ae
Nur aprilia adiah
wah wah menang banyak tuh mas diaz😄
Rahmawati
duh tya ngapain nunggu seminggu kl km juga sebenarnya udah cinta sm mas diaz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!